Share

4. Co(incident)ce

Author: Aléruby
last update Last Updated: 2025-10-18 22:59:11

"Tidak."

Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar.

"Aku mohon—"

"Tidak sekarang." Potongnya cepat.

Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang?

"Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud.

Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas.

Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu.

Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah dengan urusan Arthur yang tak kunjung dapat dienyakkan dari kepalanya, persiapan menjalani koas. Gadis itu tak mau menambah beban pikirannya hanya karena seorang mantan yang hendak memberi penjelasan.

Namun, niat itu harus kandas begitu seseorang menariknya dan membawanya ke mobil. Valerie hanya mendengus pelan saat tahu siapa yang menyeretnya tak sabaran.

Tanpa harus melihat pun, ia yakin itu pasti Reyla, sahabat karibnya sejak kecil.

"Bisakah kau memperlakukanku lebih manusiawi?" Valerie memutar matanya, malas dengan kelakuan sahabatnya.

Keduanya kini sudah berada di dalam mobil milik Reyla yang tengah melaju membelah jalanan.

"Sejak kapan kau manusia?"

Valerie mengulum bibir bawahnya singkat, "Sialan."

Gadis itu bungkam beberapa detik mengamati jalanan sebelum kembali bertanya, "Bukankah kau seharusnya sudah ke Denmark sekarang?"

Reyla memutar setir tanpa menoleh ke arahnya, "Bukankah kau seharusnya menjelaskan kemana dirimu semalam?"

"Tsk! Bisakah kau berhenti mengulang pertanyaanku, sialan."

"Tsk! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu setelah membuatku gila mencarimu semalam!" balas Reyla dengan suara keras.

Valerie menekan bibirnya rapat-rapat setelah memalingkan wajah.

"Hei, jawab."

"Astaga ..." Dia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya ketika merasa otot pipinya yang tegang.

"Apa? Apa yang terjadi? Katakan jangan membuatku mati penasaran."

"Valerie!' sentak Reyla.

Tak lama suara decitan ban berbunyi, laju mobil berhenti seketika. Tubuh keduanya terhuyung ke depan.

Valerie mencengkram tali sabuk pengamannya kemudian dengan cepat ia memukul pelan lengan sahabatnya.

"ARE YOU OUT OF YOUR MIND!?"

"Just fucking answer it. Daripada kau hanya diam menatap ke arah lain!"

Keduanya saling melempar tatapan tajam. Valerie menjadi orang pertama yang memutuskan untuk mengalah.

"Aku ke rumah Arsen." ucapnya sambil menundukkan kepala.

"Kau menemui bajingan itu—apa ini, hickeys? Kau kembali dengannya!? Kau gila?" Reyla menekan bekas memerah di lehernya.

Mata Valerie melebar, ia segera memegang leher, menutupi bekas itu.

"Ada hickeys? Aku tak melihatnya tadi." gumamnya pelan.

Valerie memegangi dahinya ketika sang sahabat dengan tiba-tiba menyentil keningnya. "Apa masalahmu!" sungutnya.

Wajah Reyla terlihat memerah, "Masalahku? Ini masalahmu, Valerie! Yang benar saja kau kembali dengan laki-laki peselingkuh itu—"

"Aku tidak kembali dengannya, sialan!" Potongnya cepat, dada gadis itu bergerak naik turun mengatur pernapasannya sebelum kembali bicara, "Aku ke rumahnya tidak menemui Arsen—"

"Lalu apa, sialan! Kau pikir aku bodoh."

Dengan kesabaran yang mulai menipis, jari Valerie memilih untuk menarik ujung rambut Reyla hingga gadis itu memekik kesakitan, "Dengarkan dulu, bodoh!"

Ia melepaskan pegangannya di rambut sahabatnya, lalu berdecak kecil menatap Reyla yang mengusap-usap kulit kepalanya.

Valerie menelan ludah kasar sebelum berbisik, "Aku tidur dengan ayahnya."

Kendaraan berlalu lalang, klakson bersahut-sahutan karena lalu lintas yang cukup padat. Keadaan di mobil Reyla sendiri hanya di isi keheningan setelah Valerie membuka suaranya. Kedua gadis itu sibuk dengan pikirannya masing-masing tanpa repot memikirkan suara-suara dari luar mobil yang terparkir di pinggir jalan.

"Kau apa?" tanya Reyla selesai berpikir untuk beberapa detik.

"Kau tak salah dengan. Aku tidur dengan ayah Arsen."

"Kau apa?"

Valerie mengabaikan gadis itu dan mencari air minum di tasnya. Gerakannya terhenti sejenak begitu mendengar Reyla terbahak-bahak. Ia menenggak air di dalam botolnya.

Reyla mendorongnya pelan, air di botolnya tumpah membasahi celana jeansnya.

"Hei!"

"Aku tak menyangka, kau punya pemikiran seperti itu." balas sahabatnya itu di sela-sela tawa, tanpa merasa bersalah.

Keningnya berkerut "Pemikiran apa?"

Reyla menutup bibir menggunakan telapak tangannya tidak percaya.

"Kau tahu, ada tren baru belakang ini. Persis sepertimu sekarang."

"Apa aku tak mengerti?"

"Break my heart, i'll go date your father! ... Hah! aku tak percaya kau melakukan itu. Aku banggamu—Aw! Kenapa kau memukulku!" Reyla mengusap dahinya.

Valerie memijat dahinya pelan, "Bukan seperti itu ... ini lebih ke ... insiden."

"Huh, maksudmu?"

Dia melepas gigitan di bibirnya, "Awalnya aku memang ingin menemui Arsen tapi berujung Arthur yang membukakan pintu. Kau yang biasa terjadi saat mabuk, 'kan? Terakhir kali aku ingat, aku masih duduk di atas sofa dan besoknya aku terbangun di pelukan ayah Arsen."

"Damn ... that's fucked up." komentar Reyla.

"Ini benar-benar membuatku gila..." jemari Valerie menelusup ke kulit kepalanya lalu menarik helaian rambut yang ada.

"Hei, tenanglah. Hal seperti ini biasa terjadi saat mabuk." Reyla mengelus bahunya pelan.

"Kau tahu parahnya apa ..." Dia mengerang pelan, "Dia tidak mau melupakan kejadian itu."

Bukannya bersimpati menenangkan, tawa Reyla pecah memenuhi seisi mobil. Bahkan, dapat Valerie lihat beberapa orang di sekitar mereka menoleh ke arah mobil.

"Berhenti, orang-orang menatapmu."

"Oh, God! Sorry." Temannya itu menggelap air matanya. "Sorry, lanjutkan. Lalu apa yang terjadi sekarang."

Valerie mencebikkan bibirnya, "Tentu aku akan melupakannya."

"Kau yakin? Ekspresimu sangat berbanding terbalik dengan ucapanmu."

"Bisakah kita ganti topik yang lain? Dan kenapa kita malah berhenti di pinggir jalan?"

"Oh, iya. Kau mau cari kafe atau semacamnya?"

"Ya."

"Kalau begitu turun."

"Kau membuangku?"

Reyla memutar matanya malas, tangannya menyentuh rahang Valerie lalu digerakkan ke arah coffee shop terdekat. "Kau lihat itu ... sekarang turun."

Keduanya turun menuju ke kedai itu dan langsung memesan. Setelah itu mereka duduk berhadapan di meja sebelah jendela yang memperlihatkan pemandangan mobil Reyla.

Mereka sibuk dengan pesanan mereka, tapi Valerie bisa merasakan tatapan memindai dari temannya itu.

"Ngomong-ngomong, hari ini pembagian tempat koas, kan? Kau dapat di mana?"

"Mm, sebentar aku lupa namanya." Dia mengeluarkan kertas dari tasnya. "Cromer Hospital."

"Cromer hospital?" ulang Reyla pelan dengan alis yanh saling bertaut.

"Hmm..." Valerie menyuapkan cake vanillanya ke mulut.

"Bagaimana pendapatmu tentang ayah Arsen?"

Tangan Valerie bergerak menepuk pelan dadanya setelah mendengar pertanyaan dari Reyla.

"Kenapa kau membahas itu lagi, aku kan sudah bilang—"

"Apa kau tahu ... Arthur bekerja di rumah sakit itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   5. Punishment

    Sepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   4. Co(incident)ce

    "Tidak." Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar. "Aku mohon—" "Tidak sekarang." Potongnya cepat. Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang? "Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu. Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah d

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   3. Getaway

    "Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini." Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya. "Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur. Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?" "Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..." Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya. Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak. "Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya. Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?" Gadis itu me

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   2. Drunk and Crazy

    "Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasaln

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   1. Graduation Party Gifts

    Selama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun. Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain. Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi. Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana. Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut. Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status