LOGIN"Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya."
Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasalnya, hubungan tiga tahun yang dijalani hancur hanya karena rekaman resolusi standar berdurasi dua menit. Telunjuk gadis itu menekan bel tidak sabaran dalam keadaan tubuh yang gemetar. "Ya, tunggu seben—Valerie?" Seorang laki-laki berkacamata berdiri di daun pintu. Meskipun dalam keadaan setengah sadar, Valerie dapat memastikan bahwa pria itu adalah ayah dari mantan kekasihnya. Pria itu memandang penuh tanya, "Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak membawa payung?" Tanpa menunggu jawaban, pria bernama Arthur itu menarik tangannya ke dalam. "Duduk." Dengan sisa kesadarannya, Valerie berhasil mencapai sofa ruang tamu sesuai perintah si tuan rumah. Gadis itu memilih duduk sambil memeluk tubuh basahnya tanpa memedulikan di mana keberadaan Arthur yang menghilang dari pandangannya. "Ini." Sebuah tangan, dengan kemeja yang tergulung hingga siku, terjulur ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Valerie langsung mengambil dan menyelimuti tubuhnya. "Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini? Apa Arsen menyuruhmu datang?" Laki-laki itu kembali menghilang tanpa menunggu jawaban darinya dan kembali membawa sebuah cangkir. Pengharum kayu cendana bercampur dengan aroma daun teh menyeruak memenuhi ruangan. "Kau bisa demam dengan keadaan seperti ini." Arthur mendekat. Tangan besarnya bergerak membelai pelan rambut Valerie menggunakan handuk kering, selama beberapa detik hingga laki-laki itu mencium bau alkohol yang menguar dari si rambut pirang. "Kau mabuk?" "T-tidak." "Kau, iya." Kepala gadis itu menggeleng patah-patah. Arthur memutar matanya malas. Pantas saja dia merasa janggal dengan sikap gadis itu yang enggan merespon ucapannya. "Ya, ya! Kau hanya salah memilih air putih saja." Pria itu menghela napas berat, "Berapa banyak yang kau minum? Astaga, tunggu di sini aku akan mencarikan baju ganti." Laki-laki itu beringsut pergi setelah menyadari tubuh gadis di depannya menggigil kedinginan. Valerie sendiri hanya diam, tak berkutik merasakan kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Detik setelahnya, ia sama sekali tak mendengar atau pun merasakan apapun. Bisikan untuk menutup mata menggodanya menuju alam mimpi. *** Derasnya suara hujan berdenggung di telinga Arthur. Pria itu kembali ke ruang tamu dengan pakaian bersih miliknya hanya untuk menemukan sang tamu yang tergeletak di atas sofa. Ia mendekat menepuk pelan bahu kecil yang dilapisi handuk. "Valerie, bangun. Ganti dulu pakaianmu." Tangan besarnya mengguncang pelan tubuh si gadis. "Sekarang apa yang harus kulakukan?" gumamnya ketika mendapati sang gadis yang tak merespon sentuhannya. Arthur melepas kacamatanya. Bisa saja ia membiarkan gadis itu tertidur dalam keadaan basah kuyup tapi yang benar saja. 'Apa dia harus mengganti bajunya?' Pikiran itu malah mengantarnya kepada dilema tak berkesudahan. Tak mungkin Arthur menelanjangi gadis muda—well, yang sedang masuk ke fase 'confusion' intoksikasi. Laki-laki itu akhirnya memutuskan berjongkok di samping gadis itu. Tangan kekarnya diselipkan pada bagian belakang leher si perempuan untuk didudukkan. Untungnya, cara itu berhasil membuat Valerie terbangun. "Hei, kau harus bergan—" Suara bass milik Arthur terpotong oleh aksi sang gadis yang menabrakkan bibirnya dan mulai mengesap bibir bawah si tuan rumah. Selama beberapa detik merampas, ciuman itu seakan merampas kesadaran pria berusia 45 tahun tersebut. Rasa dingin sekaligus hangat membungkus bibir bawahnya tak lama disusul gerakan tipis, tapi berhasil membuat darahnya berdesir. Arthur segera mendorong bahu Valerie. Matanya yang masih membola menelisik ekspresi tidak terima dari sang gadis. "Apa aku seburuk itu?" 'Tidak sungguh.' Itu jawaban yang akan keluar dari Arthur, jika saja lidahnya tidak mendadak kelu. Namun, apa boleh buat, jeda diantara mereka cukup setidaknya sampai Valerie tiba-tiba melepas handuk di punggungnya, disusul dengan bajunya. "Hei, hei! Jangan dibuka!" Arthur mencekal kedua tangan gadis itu. Napasnya tersenggal dengan telinga memerah. Rahangnya mengeras tanpa dia sadari. "Kenapa? Karena aku tak semenarik itu?" "Bukann! Bukan begitu—hei, kau mabuk, ingat?" Arthur memberi sentakan kecil di bahu gadis itu. Pria itu berdecak kesal, memaki dalam hati. 'Mana ada orang mabuk yang tahu dia mabuk, bodoh!' Valerie hanya berkedip pelan lalu kembali membuka atasannya. "Hei! Stop, jangan lakukan ini. Lihat aku!" Arthur menepuk pelan pipi sang gadis, "Kau tidak boleh membuka asal pakaianmu di depan—Jangan!" Dengan gerakan cepat tangannya membekap bibir si gadis sebelum kembali menyentuh dirinya. Pria itu menunduk lega setelah berhasil menahan pergerakan Valerie. Namun, ketika merasakan sesuatu yang hangat mengalir di tangannya. Arthur segera mengalihkan perhatiannya. Ia tertegun, refleks menarik tangannya dari bibir si gadis. "Oh, maafkan aku, Valerie? Apa aku terlalu kencang?" Gadis itu tidak menjawab apapun, hanya isakan yang keluar dari bibirnya. Arthur meremas rambutnya frustrasi. Kenapa malam-malam begini dia malah mendapat cobaan aneh di luar nalar seperti ini. Tangannya bergerak mengelus surai gadis itu, berusaha menenangkan. Bukannya reda, tangis Valerie justru makin keras. Ia menunduk dengan bahu bergetar. "Apa kau begitu membenciku?" gumamnya di sela isak. Arthur tertegun. “A-aku? Tidak, tentu tidak.” “Kau membenciku hingga kau selingkuh?” lanjutnya. “T-tidak, aku tidak—eh?” Pria itu mengerjap, baru menyadari arah pembicaraan. “Arsen selingkuh darimu—sebentar! Apa kau mengira aku Arsen?!" "A-arsenn?" isakan gadis itu berhenti. Kepalanya terangkat menatap pria di hadapannya. Suara tamparan menggema meninggalkan Arthur yang terkesiap sambil meninggalkan bekas memerah pipinya. "Apa salahku! Kenapa kau mengkhianatiku setelah semua yang kita lewati!" Valerie mencengkram kerah bajunya. Arthur menelan ludah kasar, "Hei, coba tenang. Kau masih mabuk." Perlahan mencoba melepaskan cengkeraman di leher tapi tak berhasil karena gadis itu malah menubruknya hingga terjatuh. Arthur kini terlentang dalam posisi terkungkung. Jantung pria itu berdebar kencang saat sang gadis duduk tepat di bagian terlarangnya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan desisan tapi malah mengirimkan sinyal yang salah. Aroma vodka menusuk penciumannya bersama dengan benda kenyal yang mendorong masuk ke dalam mulutnya. Tak hanya itu, tubuh si gadis menempel rapat di atasnya. Dapat Arthur rasanya air dari pakaian Valerie merembes, menyentuh kulitnya. Matanya terpejam seketika tubuh gadis itu bergerak. Dengan sisa kewarasannya, Arthur memalingkan wajahnya. Ciuman berhasil terputus tapi Valerie justru menambah gebrakan dengan melepas pakaian. "Apa selama ini kau tak pernah menyukaiku? Makanya kau selingkuh?" Tatapan sayu dari gadis di atasnya meruntuhkan benteng pertahanan terakhir yang Arthur punya. Laki-laki itu mendorong Valerie, membalik posisi mereka, sebelum kembali menyatukan bibir mereka. Laki-laki itu melumat rakus bibir bawah Valerie. Napas keduanya terengah-engah tapi Arthur tak ingin melepas tautan bibir mereka. Tangannya melepas pakaian basah yang setengah terbuka, mengekspos tubuh bagian atas Valerie yang lembab oleh air hujan. Rasa dingin menjalar ke telapak tangan Arthur yang menyusup ke punggung Valerie dan melepaskan pengait dalaman. Jemarinya meremas pelan salah gundukan yang ada di dada Valerie dengan lembut. "Shh!" desis Arthur sambil melepaskan tautan bibirnya. Netranya menatap ke arah Valerie yang sibuk meraup oksigen dengan wajah memerah dan berantakan. Leher jenjang gadis itu terlihat mengkilap, menggodanya untuk meninggalkan jejak. "Ahh!" desah Valerie ketika merasakan tangan Arthur meremas dadanya tiba-tiba. Arthur menarik sudut bibirnya ke atas menikmati pemandangan di depannya. Tangannya menyentuh dagu Valerie, menuntun gadis itu menatapnya. "Kau yakin dengan ini?" tanya Arthur memastikan. Valerie menatapnya tanpa menjawab. Tangan gadis itu bergerak menyusuri permukaan perutnya dan berhenti di bagian privat miliknya, lalu meremasnya pelan. Desahan lolos dari bibir Arthur, setengah kesadaran laki-laki itu masih berusaha untuk menghentikan aksi mereka. Namun, Valerie yang kembali memanggut bibirnya dan mengelus miliknya dari balik celananya menjadi alasan yang kuat untuk menyelesaikan aksi mereka. Arthur mendorong tubuh Valerie kembali terlentang, melucuti pakaian yang ada di badannya. Setelahnya, kembali menyatukan bibir mereka dalam pangutan yang menuntut. Tak ingin membuang banyak waktu, Arthur melepaskan penutup tubuh terakhir yang ada di Valerie. Memainkan jemari panjangnya ke dalam area sensitif gadis itu. Valerie mendesah pelan merasalan pergerakan yang dilakukan Arthur. Bahkan, dibawah pengaruh alkohol, gadis itu masih bisa merasakan kehangatan Arthur yang memompa tubuhnya ke dalam dirinya. Sentuhan dan sesapan yang dilakukan pria itu membuatnya melayang. Suara hujan di luar sana tak lagi terdengar ataupun rasa dingin akibat air, tak lagi membuatnya kedinginan. Arthur mampu menggantikannya dengan kenikmatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Sepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu
"Tidak." Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar. "Aku mohon—" "Tidak sekarang." Potongnya cepat. Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang? "Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu. Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah d
"Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini." Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya. "Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur. Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?" "Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..." Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya. Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak. "Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya. Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?" Gadis itu me
"Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasaln
Selama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun. Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain. Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi. Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana. Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut. Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak







