Share

3. Getaway

Author: Aléruby
last update Last Updated: 2025-10-16 22:42:19

"Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini."

Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya.

"Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur.

Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?"

"Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..."

Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya.

Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak.

"Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya.

Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?"

Gadis itu menghentikan gerakan menyeruput teh kamomil. "AKU?! Kapan?"

Pria di depannya sibuk mengibaskan tangan ke mulutnya. "Semalam ... sebelum kita sex."

Valerie merasakan napasnya mendadak berhenti. Cara Arthur yang santai—terlalu santai menanggapi sangatlah tidak lazim. Dia merasa darahnya berdesir oleh empat kata yang diucapkan dengan nada datar tidak peduli.

Lensa cokelat mudanya terpaku ke arah Arthur yang sibuk meniup makanannya dan langsung membuang muka saat pria itu menoleh ke arahnya.

Batinnya menjerit mengumpatkan makian yang tidak lulus sensor karena reaksi tubuhnya.

"Ehh, jadi kau malu." Valerie merasakan tiupan di telinganya. Dia langsung berdiri dari kursi, menutupi daun telinganya.

"Kau gila!"

Suara kekehan dari Arthur memenuhi ruangan mendengar pekikkan dari sang gadis, "Heh, harusnya aku yang malu di sini dan kau tahu ... ya, kau benar aku sedikit gila." ucapnya dengan mengedipkan mata.

"Itu bukan sesuatu yang harus kau banggakan."

"Memang." Mug berisi kopi yang tinggal setengah diletakkan kembali.

Valerie membenarkan lengan kemeja kebesaran milik Arthur yang dia pakai. Bibirnya mencebik kesal tapi laki-laki itu malah menyunggingkan senyum yang sialnya terlihat nenawan.

"Di mana pakaianku semalam?"

Arthur menunjuk ruangan dengan garpunya.

"Kita melakukannya di sofa ruang tamu?" ucapnya tidak percaya.

"Awalnya, sampai kau mengeluh lantainya keras."

Matanya terpejam erat dengan tangan berkecak pinggang, "Bisakah kau—ah! Lupakan!"

Valerie memilih untuk menelan ucapannya dan segera mengambil semua barang-barang miliknya yang tersebar di ruang tamu itu. Dia menggigit bibirnya pelan, mempercepat gerakannya.

Setelah rampung memungguti barangnya, Valerie kembali menemui laki-laki itu.

"Terima kasih—"

"Oh, kau sudah menerimanya."

"Tidak! Ah—terserah. Terima kasih sudah membantuku semalam. Terima kasih sudah memberiku baju ..." Ia menelan ludah kasar, "Jadi ... ayo kita lupakan yang terjadi. Semuanya, ok?"

Ia menekan bibirnya, menatap laki-laki itu dengan penuh harap. Tangannya memeluk erat barang bawaannya.

"Tidak mau."

Laki-laki itu berdiri dari kursinya. Tubuhnya menjulang membuat tulang leher Valerie bergerak ke belakang, mengingat perbedaan tinggi badan gadis itu yang hanya sebatas bahu Arthur.

"Apa maksudmu?"

"Kau mendengarnya. Aku. Tidak. Mau."

"Kenapa tidak?" Melihat langkah kaki mendekatinya, Valerie perlahan berjalan mundur, "Hei, apa yang kau lakukan!"

"Mengantarmu tentu saja. Ayo.'

Laki-laki itu segera berjalan melewatinya.

"Sebentar, aku belum selesai bicara."

Valerie mencekal pergelangan tangan Arthur, "Kita harus melupakan kejadian ini!" ucapnya dengan nada memohon.

Arthur berhenti. Ia memandangi Valerie yang terlihat panik. Tangan gadis itu bergetar dan Arthur memilih untuk mengambil kendali. Ia menggenggam tangan sang gadis, mengelusnya perlahan tanpa tahu sengatan listrik kecil yang dirasakan oleh Valerie.

"Kenapa? Apa karena aku ayah dari tunanganmu—oh! Mantan tunanganmu?"

Valerie mencoba menarik tangannya dari genggaman Arthur, "Tentu saja."

Alis milik Arthur bergerak naik, "Tapi aku tidak berpikir demikian." Ibu jarinya mengelus punggung tangan sang gadis, "Ok, Valerie, dengar baik-baik. Kau boleh melupakannya tapi tidak denganku."

"Kau harus melupakannya juga, Arthur." balasnya dengan suara bergetar memohon.

"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu keras kepala memaksaku? Apa benar karena Arsen ... tapi kau tahu, Valerie? Di mataku, tidak terlihat seperti itu."

Dalam satu tarikan tubuh Valerie kini berada dalam pelukan Arthur. Tangan laki-laki itu melingkar di pinggangnya dan badan mereka saling bersentuhan.

"Aku tahu kau menginginkanku." bisik Arthur tepat di sebelah daun telinganya dan meninggalkan kecupan ringan.

Mata sang gadis melotot tak percaya, tangannya bergerak mendorong dada bidang di depannya, tapi sayangnya, tidak ada perubahan berarti. Ia menelan ludahnya kasar seketika mendapati senyum tipis dari Arthur dan tatapan menelanjangi pria itu.

Mulut Valerie hendak mengeluarkan protes tapi diurungkan ketika indera pendengarannya menangkap suara mesin mobil yang mendekat. Ia menatap Arthur yang matanya melebar dengan satu gerakan singkat, laki-laki itu menggendongnya dan beringsut ke ruangan tempat mereka terbangun tadi.

"Kau tunggu di sini. Jangan keluar sampai aku datang. Aku akan mengantarmu." Arthur melenggang pergi tanpa mendengar balasannya.

Tentu saja. Valerie tidak mengindahkan perintah laki-laki itu. Begitu Arthur keluar dari ruangan samar-samar terdengar suara Arsen yang mencarinya.

Valerie segera mengendap-endap keluar dan menyelinap menuju pintu samping yang pernah Arsen tunjukkan.

Untungnya, gadis itu masih mengingatnya dengan baik. Ia berhasil sampai di pagar besi dan menghadang taksi yang lewat. Di dalam mobil, Valerie  meremat barang bawaannya seraya menetralkan deru napasnya.

***

Valerie kini tengah memonton film lewat ponsel pintarnya sembari menunggu dosen yang akan membagikan jadwal penempatan kegiatan koasnya. Lima jam telah berlalu semenjak pelariannya dari rumah Arthur tapi Valerie sama sekali tidak bisa menghilangkan perkataan laki-laki itu dari kepalanya.

"Aku tahu kau menginginkanku."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya dengan suara bisikan Arthur yang entah kenapa terdengar sangat sensual di telinga Valerie. Gadis itu tak henti-henti merasa bulu kuduknya meremang ditambah detak jantung yang berpacu layaknya pacuan kuda setiap kali mengingat laki-laki itu.

Otot-otot yang tercetak jelas di seluruh tubuh laki-laki itu. Diam-diam membuatnya menyesal karena melakukannya dalam keadaan mabuk dan sialnya ia sama sekali tak mengingat kejadian itu. Jejak satu-satunya yang dapat Valerie rasakan adalah bekas gigitan di sekujur tubuhnya dan terasa sedikit perih.

"Valerie!"

Seruan itu berhasil memecahkan lamunannya.

"Ya?"

"Kesini, ada yang ingin menemuimu."

Valerie tidak menjawab ataupun bertanya, ia segera mendekat ke arah pintu. Gadis yang tadi menyuruhkan pergi.

"Valerie."

Butuh beberapa detik hingga ia memilih untuk menjawab, "Apa?"

"Aku ingin bicara—hanya berdua, mari kita ke kafe dekat si—"

"Tidak bisa. Aku tak ada waktu."

"Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan."

"Tidak, Arsen. Semuanya sudah jelas."

Laki-laki itu menggeleng pelan, "Tidak, aku mohon, biarkan aku ceritakan kejadian sebenarnya. Setelahnya, kau bebas ingin percaya denganku atau tidak. Aku mohon, Valerie."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   5. Punishment

    Sepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   4. Co(incident)ce

    "Tidak." Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar. "Aku mohon—" "Tidak sekarang." Potongnya cepat. Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang? "Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu. Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah d

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   3. Getaway

    "Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini." Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya. "Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur. Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?" "Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..." Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya. Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak. "Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya. Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?" Gadis itu me

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   2. Drunk and Crazy

    "Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasaln

  • Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen   1. Graduation Party Gifts

    Selama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun. Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain. Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi. Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana. Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut. Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status