Share

Bab 3

Author: Yasmin Anisah
Sekarang sudah malam lagi.

Sambil memasak makan malam, aku membuka pengawasan ponsel dan memeriksanya lagi.

Hasilnya sama dengan yang kulihat di pagi hari, CCTV rusak.

Apa Rizal sengaja melakukannya?

Aku membuat makan malam. Ketika sampai di ruang makan, Rizal kembali sambil membawa kue di tangannya.

Namun, sikapnya terlihat mencurigakan dan tidak ingin aku melihatnya. Dia menyembunyikan kue itu di ruang penyimpanan.

Aku meliriknya sekilas, tetapi masih bisa melihat bahwa itu adalah kue yang dibuat dengan sangat cantik.

Aku terkejut.

Hari ini bukan hari ulang tahunnya, juga bukan hari ulang tahunku. Jadi, kenapa dia membeli kue semacam itu?

Dia tidak mengatakan apa-apa, aku juga tidak bertanya.

Saat makan malam, kami masih saling bicara walaupun sedikit.

Dia seperti pengunjung yang memasuki restoran dan aku seperti pelayan.

Menjelang tidur, tiba waktunya untuk mengganti kain kasa di tangan kananku.

Dengan hati-hati aku membukanya sendiri, mengoleskan obat anti radang dan membungkusnya dengan kain kasa lagi.

Sementara itu, Rizal berbaring di satu sisi, bersikap seperti dia tidak melihat ini.

"Oh ya, Gishel, apa kamu sudah mempertimbangkannya?" Tiba-tiba Rizal bertanya padaku.

Aku terdiam. "Mempertimbangkan apa?"

"Perceraian, lah. Sudah dipertimbangkan belum??" Dia bertanya lagi.

Aku tertawa.

Apa tujuan orang ini sebenarnya?

Dia menikah denganku hanya karena ingin mendapatkan rumah dariku?

Aku bertanya, "Bagaimana menurutmu? Kamu mau cerai?"

Rizal tidak mengatakan apa-apa.

"Kamu bisa mengajukan gugatan cerai kalau merasa sudah nggak cocok lagi denganku."

Aku berkata dengan ramah, "Aku nggak akan mengganggu kebahagiaanmu."

Rizal tersipu malu dan tersentak ke samping, membelakangiku. "Tidur, tidur, tidur!"

"Bukannya kamu bilang kalau aku harus memberimu waktu? Setelah mentalmu membaik, hubungan kita juga akan membaik."

Aku mengatakan ini dengan sengaja.

"Kita lihat saja nanti."

Dia bahkan makin tidak sabar. "Aku ngantuk, tidurlah."

Aku sudah selesai membersihkan lukaku, mematikan lampu dan beristirahat.

Dua orang berbagi tempat tidur yang sama, tetapi memiliki mimpi yang berbeda. Tidak perlu ditanyakan lagi seberapa menyesakkannya situasi ini.

Namun, aku hanya bisa menahannya.

Tanpa sadar, aku tertidur.

Mungkin ini refleks atau mungkin memang sudah diniatkan di tempat kerja, di tengah malam aku terbangun.

Di bawah sinar bulan, kamar tidur tidak seterang siang hari, tetapi aku bisa melihat dengan jelas.

Saat menoleh, aku melihat Rizal tidak ada di sampingku!

Dia pasti pergi ke ruang bawah tanah untuk berolahraga lagi.

Kali ini, aku ingin melihat sendiri latihan kebugaran seperti apa yang dia lakukan di ruang bawah tanah.

Ketika aku beranjak, aku mendengar suara benturan keras dan beban berat di pergelangan tangan kiriku.

Aku menariknya dengan keras, ternyata ada borgol yang membelenggu pergelangan tanganku.

Ujung borgol yang lain adalah sebuah rantai, ujung rantai itu diikatkan ke kaki tempat tidur! Jadi ikatannya tidak bisa dilepaskan.

Sraak!

Aku menariknya dengan sangat keras hingga pergelangan tanganku terasa sakit. Aku bahkan tidak bisa bergerak.

"Benar-benar sangat kejam!"

Untuk sesaat, aku bahkan sampai memiliki niat untuk membunuh.

Rizal memborgolku seperti wanita yang diperdagangkan hanya untuk pergi ke ruang bawah tanah, untuk melakukan hal yang tidak pantas!

Dia seperti ini sama saja dengan tidak memperlakukanku sebagai manusia!

Saat itu, terdengar suara langkah kaki di luar!

Rizal sudah kembali!

Dalam sekejap, aku kembali berbaring dan berpura-pura tidur nyenyak.

Pada saat ini, jika aku berkelahi dengannya, aku yang seorang perempuan hanya akan kalah. Jadi, aku sebaiknya tidak perlu mempermasalahkan masalah ini.

Rizal berjalan berjingkat-jingkat menghampiriku dan duduk dengan hati-hati.

Dengan lembut dia meraih tangan kiriku, membuka borgolnya, lalu membuka ujung rantai dan menyimpannya kembali.

Dari awal hingga akhir, pergerakan rantai itu tidak menimbulkan banyak suara.

Setelah melakukan ini, dia berbaring dengan hati-hati.

Seolah-olah mengujiku, dia menyentuh pundakku dengan ponselnya.

Aku tidak bergerak, masih tertidur.

Dia menghela napas lega dan berbaring kembali.

Sekali lagi, aku bisa mencium aroma sabun mandi dan aroma kue dari dirinya.

Di antara kedua aroma ini, ada juga aroma yang tak bisa dijelaskan.

Rizal membawa kue ke ruang bawah tanah?

Makan kue sambil berolahraga?

Ruang bawah tanah atau tempat lain?

Aku tidak bisa memahaminya.

Tidak lama kemudian, dia mendengkur pelan.

Aku tidak bisa tidur, jadi aku harus berbaring dengan kedua mata terbuka.

Fajar menyingsing.

Saat aku bercermin, aku melihat ada lingkaran hitam di bawah kedua mataku.

Aku bukan wanita cantik, tetapi aku juga menyukai kecantikan.

Melihat lingkaran hitam di bawah mataku membuat perasaanku menjadi buruk. Aku menyemangati diriku untuk mengakhiri hari-hari seperti ini.

Aku tidak bisa menanggung siksaan mental seperti ini dalam jangka panjang.

Setelah sarapan, aku sengaja melihat tempat sampah di ruang tamu.

Ada kotak kue di dalamnya!

Itu jelas kotak kue yang dibawa Rizal tadi malam!

Lalu, siapa yang memakan kue itu?

Mungkinkah ada orang yang bersembunyi di ruang bawah tanah?

Hatiku bergemuruh.

Rizal menyembunyikan seorang wanita? Yang disembunyikan di dalam sana adalah seorang mahasiswi yang dibeli olehnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 9

    Rizal terbaring di sebuah kamar rumah sakit dan diinfus.Ketika aku masuk ke ruang perawatan, dia masih terlihat sangat kesakitan.Aku bertanya, "Masih diare?""Ya, tapi sedikit. Aku pakai popok."Rizal menunjuk popok di sebelahnya. "Sepertinya celananya sudah kena. Tolong bantu cucikan, aku mau ganti popok."Aku mencibir, "Kamu ingin aku mencucinya?"Dia terdiam. "Kamu istriku, kalau bukan kamu, lalu siapa lagi?"Melihat tatapannya yang menuntut, aku tertawa.Pada saat ini, tugasku sebagai istri sangat dibutuhkan."Kamu seharusnya bukan minta tolong padaku, minta tolong saja sama wanita lain.""Siapa?" Dia membeku.Aku menyebutkan nama wanita itu, "Aleea."Dia duduk dengan kaget. "Siapa? Siapa Aleea dan apa yang kamu bicarakan?"Dia masih pura-pura tidak mengerti.Aku menatapnya yang terus berpura-pura, "Aleea, kamu lupa?"Dia terus menggelengkan kepalanya. "Nggak kenal, nggak pernah dengar nama itu!""Benarkah?"Aku mengingatkannya, "Siapa yang kamu sembunyikan di ruang bawah tanah?"

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 8

    "Kita sampai!"Melly akhirnya tiba dengan dan membawa beberapa temannya.Dia membawa empat orang, dua pria dan dua wanita. Mereka adalah istri pemilik toko dan tiga orang tukang yang menjual pintu besi.Mereka membawa berbagai macam alat pembuka kunci, bahkan pemotong.Kami segera mendatangi pintu ruang bawah tanah dan mulai mencoba membukanya.Ini adalah versi pintu pengaman yang cukup tebal, mirip dengan jenis pintu pengaman yang digunakan oleh bank. Pintu ini sangat kuat, dengan menggunakan metode mengganti silinder pun tetap tidak bisa dibuka.Akhirnya kami tidak punya pilihan, jadi mencabut catu daya dan menggunakan pemotong.Krieett!Krieett!Dua orang tukang bergantian menggunakan mesin pemotong, mencoba membuka pintu.Butuh waktu dua jam dan mereka akhirnya berhasil membukanya.Aku menyalakan lampu ruang bawah tanah di dalam. Aku melihat tiga kamar yang pintunya terbuka, sementara pintu satu kamar lainnya tertutup. Jadi, mereka pergi untuk membuka pintunya.Aku mencoba membuka

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 7

    Aku bangun di pagi hari dan menyiapkan sarapan dengan sungguh-sungguh.Panekuk pisang, roti kukus, roti asparagus, panekuk labu, roti isi, bubur kenari dan kurma merah, bubur ubi jalar dan jagung, serta yang lainnya. Semuanya adalah sarapan favorit Rizal.Dia sudah bekerja sangat keras dan cerdas, tentu saja aku harus menghadiahinya."Eh, kenapa kamu buat sebanyak ini?"Rizal datang setelah menggosok gigi. Melihat sarapan di atas meja, dia menatapku dengan tatapan kosong."Kalau buat banyak bisa dibungkus buat dikasih Melly nanti." Aku menjelaskan dengan lembut.Rizal tidak berkata apa-apa lagi, langsung duduk dan menyantapnya.Aku mengambil sendok. "Bubur kenari dan kurma merah apa bubur ubi dan jagung?""Bubur ubi dan jagung. Tolong kasih lebih banyak gula."Rizal membuka ponselnya untuk mengecek pesan-pesannya sambil menyantap panekuk labu.Aku menyajikan semangkuk bubur ubi dan jagung, menambahkan sedikit gula ke dalamnya. Aku secara tidak sengaja menambahkan bubuk puring yang suda

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 6

    Aku menjamu Melly dan Lina dengan banyak makanan, suasana pun sangat hidup.Menjelang pukul sepuluh malam, aku mengantar mereka sampai ke depan sambil berbincang dan tertawa.Pukul sepuluh malam, kami akhirnya bisa istirahat.Malam itu tampak tenang dan lancar seperti sebelumnya.Untuk beberapa saat, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di tempat tidur dan melihat-lihat video.Aku mengikuti berita terkini kota. Video tersebut menyebutkan tentang kecelakaan mobil yang terjadi di depan kantor kami.Dua orang tewas di tempat, tiga orang terluka parah dan dua orang kritis.Pengemudi mobil tersebut memilih untuk melarikan diri dan masih buron!Pengemudi mobil wanita itu bernama Aleea, yang merupakan seorang pengganggu saat masih SMA, suka menggertak teman-teman sekelasnya.Aku mengenalnya, tetapi hanya sedikit berinteraksi dengannya.Tiba-tiba aku teringat bahwa Rizal sepertinya pernah menjalin hubungan dengannya.Entah kenapa aku selalu merasa ada yang salah dengan Aleea. Namun, aku tidak b

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 5

    Aku mengambil tasku dan mengeluarkan ponselku. "Aku akan menelepon polisi!"Berpikir bahwa dia akan menghentikanku, aku duduk sedikit menjauh, bersiap-siap untuk melompat keluar dari mobil kapan saja.Dia tetap duduk diam. "Telepon saja, itu hakmu. Tapi, aku ingin kamu pikirkan satu hal. Setelah lapor polisi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?""Kamu melakukan kekerasan kepadaku, jadi aku mau cerai! Kamu harus pergi dari rumah tanpa membawa apa pun!""Benarkah?" Dia tersenyum kecut dan mengangkat lengan kirinya. "Kamu menikam lenganku, kamu bilang aku yang melakukan kekerasan?"Aku berteriak dengan marah, "Kamu yang memukulku duluan!""Kamu yang menikamku duluan!"Dia tertawa, "Polisi nggak bisa menyelesaikan masalah rumah tangga. Siapa yang akan mereka percaya?"Pada saat ini, aku menyadari bahwa Rizal sangat tidak tahu malu!Ya, aku mengalami luka ringan, dia juga mengalami luka ringan. Ketika polisi datang, bagaimana mereka akan menjelaskan masalahnya?"Sayang, intinya, kita se

  • Rahasia Ruang Bawah Tanah   Bab 4

    "Gishel, aku sudah tanya temanku!"Sambil menarik tanganku, Melly berkata dengan nada tinggi begitu aku sampai di kantor.Ada rekan kerja lain yang duduk di sebelahku, jadi aku memberi isyarat agar dia memelankan suaranya.Dia menutup mulutnya saat tertawa, mendekat ke arahku dan berbisik, "Temanku bilang kalau pintu biasa semacam itu bisa dibuka. Tukang kunci nggak bisa buka, tapi dia bisa."Bagus sekali!Aku sangat gembira. Saat rekan kerja di sebelahku pergi, aku menarik Melly untuk duduk dan berbisik, "Melly, tolong bantu aku."Dia melotot kepadaku. "Sudah kubilang, jangan sungkan kepadaku, katakan saja!"Aku melirik ke pintu kantor. Begitu yakin tidak ada orang lain, aku merangkul pundaknya dan membisikkan beberapa kata ke telinganya.Dia mendengarkan sambil mengangguk. "Serahkan kepadaku."Kami berunding selama sepuluh menit penuh dan dia segera pergi.Sedangkan aku hanya duduk di dalam kantor dan menunggu.Di sela-sela itu, aku melihat Rizal mengendap-endap beberapa kali.Rupany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status