LOGIN
Seorang pria tengah duduk manis menyesap sebatang rokok dibawah pohon rindang, dia adalah Mahesa Chutong pemuda berusia 25 tahun yatim piatu saat berusia 5 tahun.
Dahulu Keluarga Tong sangatlah kaya, bahkan bisa dibilang semut pun tiada nyali untuk melukai dan menghancurkan kebahagiaan keluarga tersebut, hingga suatu hari, seseorang masuk dan menghancurkan kebahagian dan kepercayaan keluarga tersebut. Bayang-bayang 20 tahun yang lalu menguasai pikiran Mahesa. *20 tahun yang lalu* Mahesa memberikan sebuah gambar pada ayah yang baru saja pulang bekerja. “Pa lihatlah,” ucap Mahesa kecil. “Anakmu sangatlah jenius,” tutur Yun Cindy memberitahu suami, tentang kecerdasan putra saat berada dalam taman kanak-kanak. “Dia mendapat nilai 100, saat mengerjakan tugas dari guru.” “Benarkah?” sambung Tong Guang. “Ibu hanya memberitahu nilai tinggi ku, Ayah. Aku sangat kesulitan saat mengerjakan matematika,” sahut Mahesa kecil. “Aku akan mencarikan guru privat, supaya anak kita tambah pintar,” balas Tong Guang memberikan semangat pada sang anak. “Em, kenapa keluarga kita berempat, bukankah kita hanya bertiga, Papa, Mama dan Mahesa?” Yun Cindy tersenyum ketika mendapat tatapan tanda tanya dari suami. “Kita akan tambah anggota keluarga,” ungkap Yun Cindy lantas mendapat pelukan hangat dari Tong Guang. Malam pun berlalu, Tong Guang datang bersama dengan seorang pria dewasa kemudian mengenalkan pada sang putra. “Mahesa, Paman ini akan menjadi guru privat mu,” *** Lamunan Mahesa buyar ketika seorang pelayan wanita datang, “Mahesa, bolehkah aku menemanimu?” tanya Wanita berumur 18 tahun bernama Xixi. “Kau satu-satunya orang yang berani mendekatiku, bahkan pelayan lainpun enggan memandangku, apa yang kau inginkan dari seorang tukang kebun miskin seperti ku?” balas Mahesa ketika wanita itu berjalan mendekat. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, aku bukan orang yang mudah terpancing ketika melihat uang, bahkan aku enggan tertarik dengan orang berstatus sosial tinggi,” jelas Xixi. “Lantas?” tanya Mahesa lalu mengerutkan dahi ketika memandang wajah wanita itu. “Terima kasih sudah menolongku saat aku di tuduh mencuri jam tangan Tuan Besar,” jawab Xixi kemudian memberikan permen dari saku. “Mengapa kau berikan semuanya?” tanya Mahesa. “Alangkah lebih baik jika kita makan bersama.” Senyuman hangat pun mengembang di bibir sang wanita, “Baiklah, aku pergi dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ucap Xixi pamit kemudian melangkah pergi. “Naif sekali, bukankah kau selalu ingin bersama Tuan muda?” gumam Mahesa tidak terlalu suka dengan pelayan tersebut, mengingat dia pernah menjadi penghalang balas dendamnya. *** Ketika hendak memejamkan mata, ponsel yang dia taruh di atas nakas pun berdering, bibir pun tersenyum namun senyuman itu sulit di artikan ketika melihat nama seseorang tertera dalam ponsel. “Gimana? informasi apa yang kau dapat?” tanya Mahesa disaat panggilan itu tersambung pada seseorang. “Gu Qiang memiliki putra dan putri memiliki nama Gu Shincen dan Gu Zishu, Gu Shinchen sangat menyayangi adiknya, aku hanya mengingatkan kau harus berhati-hati terhadap Gu Shinchen, beliau sangat sensitif setelah …,” ucap seseorang dalam telepon terhenti. “Setelah apa?” tanya Mahesa. “Setelah Yu Li ibunda mereka meninggal dan Gu Qiang menikah dengan Fang Wei-wei.” orang itu pun memutuskan sambungan telepon setelah berkata, “Kini, beliau bertambah sensitif, setelah sang adik kecelakaan dan dinyatakan lumpuh.” “Sangat menarik,” gumam Mahesa tersenyum licik. Pagi pun tiba, Mahesa sedang menyirami tanaman di taman depan, aktifitasnya terhenti di saat melihat mobil mewah melewati gerbang. Mahesa pun berkumpul dengan pelayan dan bodyguard untuk menyambut kedatangan bos besar. “Selamat datang kembali Tuan Gu!” sambut mereka serentak. Gu Qiang terhenti di depan Mahesa, “Anak muda, apakah kita pernah berjumpa?” ia merasa wajah itu sangat familiar. “Maaf Tuan, mungkin Anda salah mengenali orang,” jawab Mahesa menunduk sopan. “Benar, orang dari kalangan bawah sepertimu, bisa bertemu denganku suatu keberuntungan.” sambung Gu Qiang dengan angkuh dan sombong lalu berjalan masuk tanpa rasa bersalah karena ucapan tersebut sangat menyakiti hati seseorang. “Gu Qiang, tunggu hari kehancuran mu,” batin Mahesa menatap pria itu dengan kebencian. *** “Apa! Kau ingin membatalkan perjodohan kita?!” seru Gu Qiang pada seseorang dari dalam telepon, suara itu sangat keras karena terkejut. “Kau tidak bicara dari awal jika putrimu itu lumpuh sulit di obati,” balas Zao Bai. “Aku sudah menyuntikkan dana pada perusahaan mu yang hampir bangkrut, mengapa kau balas kebaikan kami seperti ini!” ucap Gu Qiang tidak terima dengan pembatalan perjodohan sepihak itu. “Tuan Gu, Aku tidak ingin Zao Lian menderita, aku ingin dia menikah dengan bahagia memiliki keturunan, kau tahu sendiri, Lian satu-satunya putra kami,” balas Zao Bai. “Baiklah jika memang seperti itu, aku tarik kembali dana yang aku berikan untuk perusahaan mu,” tutur Gu Qiang mengancam. “Apa kau lupa isi dalam kontrak perjanjian kita?” tanya Zoa Bai. “Apa maksudmu?” tanya Gu Qiang bingung dengan pertanyaan tersebut. Mahesa yang mendengar percakapan dalam telepon itu langsung tersenyum puas, “Sesuai dengan keinginanku,” *Beberapa hari lalu setelah Mahesa masuk ke kediaman Gu* “Tuan Zao kondisi perusahaan kita sangat darurat, hampir separuh dana perusahaan dibawa kabur oleh pegawai korup,” tutur menejer keuangan Zhen Liwei. “Satu-satunya jalan hanya kerja sama dengan perusahaan Gu Properti.” “Tapi tawaran itu sama saja menjual anakku!” balas Zao Bai. “Jika memang itu jalan terbaik, aku siap menikahi Nona Gu,” sahut Zao Lian pasrah. “Tapi, kau satu-satunya putraku!” ucap Zao Bai mengingatkan sang putra. “Aku bisa bantu perusahaan kalian, tapi dengan syarat …” ucap seorang pria tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut. “Kau siapa? Beraninya masuk ke perusahaan ku, dimana satpam?!” teriak Zao Bai hingga menampakkan urat leher. Namun, pria itu tetap santai bahkan masih sempat tersenyum, “Di dalam kartu ini ada lebih dari 80 juta, asalkan kalian turuti kemauanku,” tawarnya. “Siapa kau sebenarnya, apa yang membuatmu mau membantu kami,” tanya Zao Bai. “Aku adalah Tuan Muda Tong, kau pasti sangat tahu seperti apa keluarga Tong?” Jelas pemuda itu membuat Zao Bai bergidik ngeri langsung berlutut. “Tuan muda Tong, bukankah keluarga Tong sudah lama hilang?” “Itu tidak penting, bangunlah jangan sembarangan berlutut, aku tak ingin dikutuk oleh leluhurku,” ucap Mahesa membantu Zoa Bai berdiri. “Apa kau bisa setia padaku?” tanya Mahesa memastikan kesetiaan keluarga Zao, meskipun keluarga tersebut terkenal akan kesetiaannya pada penolong. “Manipulasi kontrak perjanjian, ingat jangan sampai di curigai oleh Gu Qiang,” tutur Mahesa. “Hah! Kami takut pidana hukum, maaf Tuan Muda, bukankah itu juga akan membahayakan Anda?” sambung Zoa Bai. “Kita main cara aman saja, dan itu tidak akan melanggar hukum,” jelas Mahesa kemudian membicarakan niat dan rencana yang dia susun rapi. *** “Kurang ajar! Beraninya kalian permainkan aku!” teriak Gu Qiang kesal. “Ternyata kontrak hanya menguntungkan dia.” Dalam perjanjian tersebut tertulis (Bila mana anak dari pihak Zao membatalkan perjodohan, tidak akan membayar ganti rugi berapapun yang diberikan oleh pihak Gu) Qiang melemparkan dokumen tersebut, tatapan mata sangat menggambarkan kemarahan di dalam hati. “Nyalimu sangat besar, hingga berani mencoret arang pada muka keluarga Gu,” gumam Qiang mengepalkan tangan geram. “Apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku biarkan putriku menanggung malu, tapi, aku harus segera bertindak.” ketika hendak keluar menemui Zao Bai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Maaf Tuan, maaf mengganggu Anda, saya hanya ingin menghantarkan teh,” ucap Mahesa menunduk. “Kau …,” balas Gu Qiang sambil mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Mahesa, kemudian pergi. “Permainan semakin seru, ini baru permulaan belum sepenuhnya balas dendam, aku akan merebut satu persatu keluargamu, hingga tiada orang yang berani membantumu,” batin Mahesa tersenyum licik. “Nona muda Gu ataupun Tuan Muda Gu, mereka harus merasakan penderitaan atas perbuatan Gu Qiang,” gumam Mahesa kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. “Selidiki siapa Nyonya Fang Wei-wei, gali informasi sebanyak-banyaknya” perintahnya disaat sambungan telepon terhubung, kemudian ia putuskan sepihak. *** Waktu sudah berganti siang, Mahesa sengaja membatu menyiapkan hidangan untuk makan siang. “Xixi, apa lagi yang bisa saya bantu?” “Tolong hidangkan tumis iga babi di atas meja makan,” jawab Xixi, “Hidangkan juga acar daun bawang,” sambung pelayan lain. Tepat saat membawa dua hidangan tersebut, Nyonya besar Fang Wei-wei datang untuk makan siang bersama sang Putra Gu Shinchen. Akan tetapi, Mahesa tidak memperdulikan mereka, mengingat informasi tentang Shinchen belum dia dapatkan dari orang yang dia suruh. “Kau …, tukang kebun baru di rumah ini,” tanya Fang Wei-wei wanita berusia 45 tahun tetapi masih terlihat sangat-sangat muda, bahkan belum muncul kerutan-kerutan di wajah saking teraturnya perawatan. “Benar Nyonya, maaf bilamana kehadiran saya membuat Anda kurang nyaman,” jawab Mahesa dengan sopan dan santun. “Bukan-bukan, bukan itu, semoga kamu betah kerja dengan kami,” balas Fang Wei-wei. Tatapan mata Gu Shinchen menyapu dari ujung kaki hingga ujung kepala, entah apa yang ada di pikiran orang itu, Mahesa pun pergi setelah mengangguk. Tak berselang lama, Gu Qiang pun datang, dengan raut wajah kesal. “Sial, Keluarga Zao berani mempermainkan kita, bisa-bisanya mereka membatalkan perjodohan sepihak.” “Apa! Kenapa bisa?” tanya Fang Wei-wei dan Gu Shinchen secara bersamaan. “Bagaimana dengan Zishu Pa? dia sudah sangat menderita, kenapa harus menanggung beban seberat ini?” kata Gu Shinchen tak tega melihat sang adik harus menanggung malu akibat gagal nikah. Mengingat undangan pernikahan sudah tersebar. “Aku akan tuntut mereka.” “Shinchen, jika kita menuntut mereka, kita akan bangkrut,” tutur Qiang menghentikan sang putra. “Apa?! Bagaimana bisa?” tanya Shinchen bingung dengan pernyataan si Papa. Gu Qiang mengambil dokumen perjanjian itu, Gu Shinchen tak percaya bahkan sampai terduduk di kursi saat membaca satu naskah bertuliskan (Bila mana pihak Gu menuntut pembatalan tersebut, keluarga Gu dengan sukarela memberikan seluruh harta yang dimiliki) “Tidak mungkin, ini pasti palsu kan Pa?” “Ini bukan palsu, bahkan naskah yang asli ada di tangan Tuan Zao,” jawab Gu Qiang lemas. Pernikahan ini harus tetap berjalan, kita harus cari cara supaya tetap terselenggarakan.” “Tapi siapa yang jadi mempelai pria, Pa?” tanya Shinchen bingung harus bagaimana. “Aku ada ide …,” tutur Gu Qiang kemudian menatap punggung Mahesa yang semakin menjauh dari pandangan mereka. “Kau berhenti,” “Akhirnya, aku mendapatkan senjata cadangan, bahkan bisa dibilang kartu keberuntungan bukan kartu as sesungguhnya.” gumam Mahesa dalam hati."Kau dengar sendiri kan? belum sampai lima menit aku bicara, dia sudah datang." ucap Mahesa."Kalian temui dia dulu, aku nanti menyusul." perintah Mahesa pada Gan Qiang dan Minzo.Mereka berdua pun pergi ke depan setelah mengatakan "Baik tuan"Mahesa pun tersenyum menyeringai, dia sangat menunggu apa yang akan di lakukan oleh pamannya Billy."Kalian lagi! mana pria sampah itu, pria pengecut yang tiba-tiba menghilang dan lari dari masalah, dan membuat masalah denganku." ucap Yin Wu-pen dengan nada tinggi."Tutup mulutmu! kamu memang pria tak tahu diri." sahut Gan Qiang dengan tatapan tajam, hingga melototkan mata."Aku tidak pengecut seperti yang kamu katakan." ucap Mahesa tiba-tiba muncul dari belakang Gan Qiang dan Minzo."Cepat kembalikan Bar Bintang Sempurna padaku." pinta Yin Wu-pen dengan berteriak sampai menampakkan urat leher."Hahahaha. Kamu minta B-B-S yang sudah
"Foto Tuan Rian masih di pajang." batin Mahesa saat tatapan mata tertuju pada bingkai foto di atas nakas.Zishu yang menyadari hal itu pun bergegas menghampiri suami dan memeluk dia dari belakang.."Dia teman masa kecilku, aku tak bisa melupakan dia. Kamu jangan khawatir–Aku sudah sangat mencintaimu." ucap Zishu saat memeluk tubuh suami."Aku tahu itu … " ucap Mahesa lalu membalikkan badan dan menatap wajah Zishu. "Seandainya dia masih hidup, aku pasti tidak akan pernah bisa menjadi pengisi hatimu." lanjut Mahesa."Itu belum tentu. Kita terpaksa menerima tawaran papa karena orang yang hendak di jodohkan aku sebelum Rian, dia melarikan diri dari perjodohan yang telah direncanakan tapi, tak tahu kemana perginya pria itu." sambung Zishu menundukkan kepala.Glekkk."Kamu tak usah bersedih, aku akan berusaha membuat dirimu bahagia." ucap Mahesa membuat Istri mendongak menatap wajah Suami dengan lekat-lekat.
"Kamu harus kuat, kita akan segera sampai rumah sakit." ucap Zishu saat dalam perjalanan, dia sangat khawatir pada suami."Aku tak apa-apa, maaf membuatmu khawatir." sambung Mahesa lirih, sambil menahan rasa sakit akibat pukulan dari anak buah Sony."Jangan banyak bicara, apa kamu ingin membuat aku mati mendadak di sini" balas Zishu dengan nada cemas.Mahesa tersenyum, dia melihat sang istri sudah bisa berjalan dan sekarang mengemudikan mobil.tak berselang lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Zishu bergegas turun dan memapah suaminya masuk ke dalam rumah sakit."Suster! Tolong!–Darurat!" teriak Zishu dengan keras sampai menampakkan urat leher.beberapa perawat datang dengan mendorong brangker, Mahesa pun di baringkan diatas brangker lalu di dorong masuk ke kamar pasien, untuk di periksa dokter."Syukurlah, cuma luka ringan. Mungkin besok sudah pulih." ungkap Dokter setelah memeriksa
"Zi, maafkan aku meninggalkanmu." ucap Mahesa saat tiba di rumah sakit, dan kebetulan Zishu tengah istirahat."Tak apa, aku tahu kamu pasti ada urusan." sambung Zishu mencoba memahami suami."Terima kasih, oh iya? gimana? apa sudah ada perkembangan dengan terapi yang kamu jalani." tanya Mahesa."Aku sudah tidak boleh menggunakan kursi roda lagi, kata dokter agar cepat memperkuat kaki ku." jawab Zishu lalu tersenyum."Syukurlah, setelah dari sini. Kamu ingin makan dimana?" tanya Mahesa lagi, karena ingin mengajak sang istri kencan."Aku ingin makan seafood yang masih segar." sambung Zishu, kemudian perawat datang dan mengajak Zishu untuk terapi lagi.*Di tempat yang lain*"Kurang ajar!. dia cukup lincah dalam berkendara." ucap Sony mengumpat dengan kesal. Tak berselang lama, dia mendapati ponsel bergetar, saat layar ponsel menyal. Sony melihat ada notifikasi Email dari seseorang, yang di
"Kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Zishu kemudian berdiri dari kursi roda dan menyentuh kening suami."Aku tak apa-apa." sambung Mahesa menggenggam tangan Zishu dengan lembut, lalu menarik Zishu dalam pelukan."jika kamu tahu tentang aku, apa kita akan tetap bersama?" tanya Mahesa, membuat Istri terkejut sekaligus bingung."Kamu ini bicara apa? aku masih bersama mu." sahut Zishu merasa ada yang aneh.Zishu mendapatkan firasat kalau ada yang di sembunyikan oleh suami, dia akan bertanya di saat Mahesa sudah siap untuk bercerita."Apa kamu mimpi buruk lagi?" tanya Zishu teringat dulu saat Mahesa juga sering mimpi buruk.Mahesa pun mengangguk, lalu terlihat Zishu ada tatapan mata penyesalan di dalam pandangan suami. "Kita tidur lagi, aku akan menemanimu." ucap Zishu kemudian ia pun mengajak suami masuk ke dalam kamar.Mahesa pun menuntun istri dan membantu dia naik di atas ranjang. "Aku tidak
Suasana di dalam restoran sangat Romantis, Mahesa sangat menikmati setiap waktu, setiap jam, setiap detik, saat bersama Zishu di dalam restoran hotel."Zishu? Kamu juga berada di sini?." tanya Pria yang tiba-tiba muncul di belakang Mahesa. yang tak lain adalah Sony bersama dengan wanita cantik berpakaian modis."Kamu?" ucap Zishu terkejut saat melihat sosok pria yang sudah mempermainkan perasaannya di masa lalu."Kamu masih saja seperti ini, apa dia kekasih mu? sungguh menyedihkan." tutur pria itu yang tak lain adalah Sony."Dia kekasihku atau tidak … itu bukan urusanmu!" jawab Zishu dengan ucapan yang di pertegas Sony tampak memperhatikan penampilan Mahesa, kemudian ia tertawa kecil lalu menatap dengan tatapan hina. "Zishu-Zishu, aku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau mempunyai kekasih jauh di bawahku. Seleramu memang rendahan." ucap Sony dengan nada menghina.Mahesa pun bangkit, kemudian membalik







