Share

23. Praduga

Author: Novita Sadewa
last update publish date: 2023-03-29 09:17:22

"Neng."

"Eh, iya, Bu. Ibu bisa aja. Mari berangkat, Bu, nanti telat," ajakku menutup perbincangan yang cukup meremas hatiku.

Berdua kami berjalan kaki menuju kediaman Bu Dewi. Sekelompok anak kecil terlihat masih bermain di ujung gang, suasana khas daerah pinggiran begitu terasa kala kulihat banyak orang berlalu lalang, berbeda dengan perumahan tempatku tinggal, di mana penghuni hanya keluar untuk pergi bekerja dan pulang untuk istirahat, tak ada interaksi antar tetangga.

"Kakak," panggil ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   60. Ingin bertemu

    "Hm." Seraya mengangguk aku menjawab singkat, entah mengapa lidah ini langsung kelu begitu melihat sorot mata sendu perlahan mulai meredup seolah tak ada semangat hidup."Apa kamu memperlakukannya dengan baik?" lanjutnya, kemudian mengusap air mata yang mulai lolos. Air mata yang seolah menghancurkan rasa angkuh dan percaya diriku, lalu mengubahnya menjadi rasa bersalah yang teramat dalam. "Dia baik, jangan khawatir."Mendengar jawabanku, bibir itu semakin bergetar, sedangkan Hanin sibuk mengusap kedua pundak sang ibu. Lalu di detik selanjutnya tubuh ringkih itu luruh ke lantai, air matanya pun semakin tumpah."Bunda." Hanin mengikuti dan berusaha membantu sang ibu untuk kembali berdiri dengan meraih kedua pundaknya, namun sang ibu menolak dengan menghempaskan tangan sang putri secara perlahan. Sementara aku hanya bisa mematung melihat pemandangan yang begitu menyedihkan itu. "Saya mau ketemu anak saya, sebentar ... saja," ucapnya terisak-isak. Nadanya penuh permohonan.Aku melangka

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   59. Ibu mertua

    POV Lana Plak! Lagi dan lagi, aku harus menerima tamparan akibat kejadian malam sialan. Ya, usai berbicara panjang lebar dan hampir berakhir dengan pengakuan atas identitas diri pada Gendis di taman, jam pelajaran yang harus Gendis ikuti pun membuatnya harus pergi. Ia terlihat begitu terburu-buru. Bahkan, belum sempat aku mengatakan bahwa pulang nanti akan aku tunggu di ujung jalan, tapi dia sudah melambaikan tangan sambil berlari. Sedangkan aku, harus rela menukar jam mata kuliahku dengan mata kuliah lain untuk memenuhi panggilan wanita yang saat ini menatapku penuh amarah. Hanindya Respati. Hanindya Respati menghubungi Gendis pagi tadi, Gendis tidak menerimanya, tapi justru aku yang menerima panggilan tersebut. Cacian, makian, ia berikan padaku dari seberang telepon begitu mendengar suaraku. Tak ingin membuat Gendis mendengar kata-kata wanita yang seharusnya menguatkan adiknya namun justru memaki itu, terpaksa aku harus mengatakan bahwa ia adalah sales kartu kredit. "Tahukah

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   58. Cinta dalam diam

    "Ngapain?!" Sontak aku kembali menatapnya. Pernyataannya benar-benar membuatku terkejut."Setelah Abang berpikir lama, Abang rasa ada yang janggal dengan kejadian malam itu.""Maksud Abang?" "Abang percaya kamu nggak salah, Abang juga merasa ada yang tidak beres dengan diri Abang. Dan ... bukankah kita sama-sama merasa tidak melakukan apa-apa?""Begitukah, Bang?""Hem. Tidur bersama bukan berarti melakukannya. Abang minum obat penenang karena Abang nggak enak badan, sedangkan kamu mabuk nggak sadar. Maaf, bagaimana bisa Abang melakukan dalam keadaan tidur. Ya, Abang akui sempat kegerahan sebelum nggak sadar.""Maksud Abang, Abang sendiri yang membuka baju?!" tanyaku ragu."Nggak tahu. Perasaan Abang, sih, nggak. Kamu buka nggak?"Aku tersentak, kemudian menatapnya tajam. "Abang!" "Kan, Abang tanya, siapa tahu kamu inget. Nggak maksud apa-apa.""Gendis buka baju sendiri. Orang Gendis kira itu kamar temen Gendis. Hana. Masak jeruk minum jeruk. Gendis masih normal, Abang," jelasku apa

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   57. Pengakuan

    "Siapa wanita itu?"Seketika senyum itu memudar dari wajah pria tampan yang tengah duduk di sebelahku."Wanita yang mana?""Memang ada berapa banyak wanita lagi?" tanyaku menahan hawa panas seraya tersenyum lelah."Nggak ada.""Haruskah Gendis memperjelas maksudnya?""Ndis ....""Wanita yang kamu peluk mesra." Dengan terpaksa kupotong ucapannya.Ia terdiam, hatiku pun kembali terhujam, ketika aku mulai meraba arti dari kediamannya tersebut."Kalau nggak bisa kenapa dipertahankan?" lanjutku mengalihkan pandang ke arah hamparan rumput hijau yang menghiasi taman."Maksudnya?""Ya, kalau ada yang menunggu kenapa harus dipaksa untuk bertahan sama Gendis, Abang?" sindirku pada akhirnya. Aku tak mampu lagi menahan ribuan tanya dan amarah yang teronggok di dalam sini, yang sudah hampir meledak jika aku tak segera mengeluarkannya.Jika harus berakhir maka tak perlu menunggu dan membuang waktu sia-sia. "Ngomong apa? Lagian masak kamu nggak tau tadi siapa? Katanya fans berat?"Aku menatapnya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   56. Dilepas sulit bertahan sakit

    Umi selalu pandai membuat hatiku diliputi rasa hangat. Aku berjalan menuju ruangan. Kini, langkahku terasa lebih ringan. Aku tahu ini sedikit terlambat. Namun, terlambat jauh lebih baik dari pada tidak datang di jam pelajaran kali ini, yang tentu akan menimbulkan masalah baru yaitu kemarahan Bang Lana terhadapku.Begitu masuk ruangan, aku sempat diusir, namun ia meralat ucapannya setelah melihatku. Hatiku kembali gundah tatkala melihat wajah itu di hadapanku. Aku bahkan tak mampu menatapnya. Ya, meski sempat menghangat nyatanya tidak mudah ketika aku berhadapan kembali, ingatan akan wanita itu tak bisa lepas dari pikiran ini. Ia terus menatapku sedangkan aku masih enggan dan hanya menatapnya sekilas. Ah, ternyata tidak gampang menyembuhkan luka sendirian.Sebisa mungkin aku meresapi setiap materi yang kali ini disampaikannya dengan begitu pelan dan mudah dipahami. Raut wajahnya pun tak seperti biasa, kali ini ia terlihat lebih sabar sekaligus jauh dari kata mematikan. Aku berusaha

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   55.

    POV GendisMungkin aku terlalu berharap hingga aku sempat melambung dengan perlakuannya meski sebentar bahkan belum genap satu hari. Namun, pada akhirnya aku merasakan patah untuk kesekian kali, saat kulihat wanita berparas menawan dan sudah bisa dipastikan sempurna dari segi usia dan pekerjaan. Wanita yang tak jauh berbeda dari kesempurnaan yang dimiliki Mbak Hanin itu memandangku sebatas mahasiswa yang sedang menemui dosennya untuk urusan tugas. Dan yang membuat aku semakin patah adalah suamiku sendiri mengiyakan hal itu. Sakitnya begitu nyeri, bak batu besar menghimpit dada ini. Langkahku mengayun cepat menuju ruangan. Namun, air mata ini membuat dua mahasiswa wanita yang sudah ada di dalam kelas tersebut memandang aneh padaku. Merasa tak nyaman aku pun memutuskan untuk kembali keluar melalui gerbang belakang, tak mungkin kembali melewati gerbang depan karena sudah pasti mereka masih ada di sana.Ketika luka menyayat hati pikiran hanya tertuju pada pesantren dan kalimat Umi. "Kal

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   2. Sama-sam dijebak

    2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status