Masuk"Ssttt." Dengan jari telunjuk yang menempel di bibir, Hanin meminta Gendis untuk diam. Sebab, Lana terlihat sudah kembali masuk ke dalam restoran."Gendis, Abang ada urusan penting sebentar, masih ada waktu satu jam lebih sebelum jam kuliah kamu dimulai. Nanti Abang jemput lagi kesini. Gimana?" tanya Lana begitu sampai di dekat Gendis. "Nanti kita bisa antar, kok," sahut Hanin mengajukan diri. "Nggak usah, biar saya jemput saja. Kalau begitu saya permisi. Ndis, Abang pergi dulu," ujar Lana sebelum akhirnya melangkah pergi setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Gendis.Kepergian Lana menyisakan banyak tanya di benak Gendis. Raut wajah yang belum pernah dia lihat sebelumnya membuatnya sedikit kepikiran."Dasar, sombongnya," gerutu Hanin setelah Lana benar-benar menghilang dari pandangan."Itu namanya perhatian dan sayang, Hanin," jawab Vivian tersenyum."Apa dia selalu seperti itu, Ndis? Sepertinya dia orang baik dan bertanggung jawab.""Ya, Bang Lana memang baik dan ber
43. Cerai?"Gendis ...." Dengan suara yang tak kalah bergetar sang Ibu berujar. Kedua tangannya terbuka seolah siap menerima kedatangan sang putri. Lana melepas genggaman tangannya dan membiarkan Gendis menghambur ke pelukan ibunya. Setelah semalaman berpikir, akhirnya ego itu kalah dengan pemandangan menyedihkan di hadapan. Melihat betapa Gendis merindukan sang ibu, membuatnya terenyuh dan mengubah keputusan. "Bunda," ucap Gendis tersedu dalam dekapan sang ibu. Di sebelahnya, Hanin, tak kalah terharu. Tangannya pun terulur meraih pundak kedua wanita yang ada di dekatnya. Ketiganya saling memeluk, melepas kerinduan yang teramat menggebu. Namun, harus berakhir ketika ponsel di saku Lana berdering. Ketiganya mengurai pelukan. Lalu mengusap air matanya sendiri-sendiri. Sementara, di tempat yang masih sama, Lana terlihat menatap layar yang berpendar. Wajahnya terlihat tegang, seolah sedang menadapat telepon yang tidak menyenangkan."Kenapa, Bang? Apa ada masalah?" tanya Gendis begitu me
"Gendis, mandi, sholat. Setelah itu siap-siap. Abang mau ajak kamu ke suatu tempat sebelum kuliah." Gendis langsung tersadar. Kemudian cepat-cepat dia mengalihkan pandangan untuk mengatur debaran di dalam dada yang menggila. "Mau kemana? Aku belum selesai ngerjain tugas." "Abang sudah kerjain dan kirim ke email, Abang." Mata Gendis terbelalak lebar. "Serius?" tanyanya tak percaya. "Sekali ini saja, Gendis, dan itu juga karena Abang mau ngajak kamu ke suatu tempat. Jadi, kedepannya Abang nggak akan ngerjain tugasmu." "Oh ya, tapi perlu kamu tahu. Abang nggak ngerjain sesempurna mungkin, sesuai standar kamu aja supaya adil. Jadi jangan berharap lebih," lanjut Lana. Rahang Gendis mengetat, wajahnya berubah pucat. Kata-kata Lana jelas sedang membahas kemampuan dan penilaian. "Sekarang bersiaplah, Abang siapin sarapan," sambung Lana beranjak dari tempat duduknya dan bergegas ke dapur. "Tampilan udah alim, mulutnya masih nyakitin. Hih, nyebelin!" gerutu Gendis dengan nada k
Malam terus merambat naik. Tetapi Lana masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan lampu temaram yang menyinari. Namun suasana yang seharusnya bisa membawanya ke alam mimpi nyatanya tak mampu membuat matanya terpejam barang sebentar. Kegelisahan menguasainya, bahkan membuatnya tak henti bergerak, mengubah posisi secara bergantian. Perdebatannya dengan Gendis di dalam mobil tadi benar-benar mengganggu hati dan pikiran."Ada apa denganku ini? Lagian gimana bisa seorang istri terang-terangan ngasih kesempatan buat laki-laki lain di depan suami?" Mulutnya terus bergumam, bertanya pada diri dan menjawabnya sendiri.Dia mendesah dan akhirnya terhenyak turun dari ranjang. Lampu dia nyalakan, lantas bergegas keluar.Perlahan Lana membuka pintu, meskipun pelan namun deritnya mampu memecah sunyi. Jam sudah menunjukkan pukul duabelas malam. Setelah sampai di rumah, keduanya memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing dan menutup perdebatan dengan mengunc
Lihat ke kanan, mobil Ayla hitam di depan gerbang.]Ponsel berbunyi. Pesan diterima ketika Gendis sampai di luar dan terlihat mencari keberadaan Lana. Netranya langsung tertuju pada gerbang setelah mendapat pesan dari Lana. Ia lalu bergegas menuju mobil tersebut."Gendis," panggil Aga sembari berlari mengejar Gendis. Gendis pun terpaksa berhenti karena Aga berhenti tepat di hadapannya."Eits, mau kemana? Udah malam. Aku anter ya? Pake moge," ujarnya berbangga diri, kedua alisnya terangkat, dan dagunya pun juga terangkat ke arah sepeda motor Harley di belakang Gendis.Gendis mendesah lelah. "Nggak perlu. Aku udah dijemput. Minggir," tolaknya mendorong bahu Aga agar tidak menghalanginya, kemudian bergegas menuju mobil hitam, dan masuk di bangku belakang."Jalan, Pak, cepet!" ujarnya kala melihat Aga mengejar dan semakin dekat dengan taksinya yang ia tumpangi."Siap, Mbak."Mobil pun melaju, meninggalkan Aga yang ketinggalan dan akhirnya berhenti mengejar.Gendis menghembuskan napas leg
Di dalam restoran yang sudah dibooking oleh Anisa—teman Gendis yang berulang tahun, suasana terlihat menyenangkan bagi remaja seusianya. Makanan dan minuman terlihat penuh di atas meja. Semua bersenda gurau, seolah melupakan tugas perkuliahan yang kadang membuat stress keseharian.Gendis duduk diam di mejanya sembari menikmati hidangan yang tersedia. Dia tidak banyak berinteraksi. Meskipun teman-temannya mengambil banyak foto kebersamaan, dia hanya ikut satu hingga dua kali.Sejatinya, berada di keramaian seperti ini bukanlah kegemarannya, dan jika dia harus datang malam ini, sesungguhnya semua hanya karena dia tak ingin dianggap payah oleh lelaki yang selalu membuatnya merasa kurang pantas. Tak mau dianggap tak mempunyai hal lain yang bisa dikerjakan selain berdebat dan belajar.Tak berselang lama setelah pengambilan foto bersama dan acara puncak berlangsung, hiburan berupa musik mulai dinyalakan. Selayaknya hiburan, mereka pun menggerakkan tubuh sesuai irama. "Ayo, Gendis, ikut g
4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho
3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai
2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya
1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s







