공유

57. Pengakuan

작가: Novita Sadewa
last update 게시일: 2023-07-19 11:44:24

"Siapa wanita itu?"

Seketika senyum itu memudar dari wajah pria tampan yang tengah duduk di sebelahku.

"Wanita yang mana?"

"Memang ada berapa banyak wanita lagi?" tanyaku menahan hawa panas seraya tersenyum lelah.

"Nggak ada."

"Haruskah Gendis memperjelas maksudnya?"

"Ndis ...."

"Wanita yang kamu peluk mesra." Dengan terpaksa kupotong ucapannya.

Ia terdiam, hatiku pun kembali terhujam, ketika aku mulai meraba arti dari kediamannya tersebut.

"Kalau nggak bisa kenapa dipertahankan?" lanjutku meng
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (12)
goodnovel comment avatar
Nike Marlyanah
mana ini lanjutannya
goodnovel comment avatar
Sugiarni Nuun21
lanjut dong
goodnovel comment avatar
Kiki Rosita
masih ditunggu lanjutannnya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   63. Mencari fakta

    "Americano satu," ucap Lana begitu masuk dan duduk di sebuah kafe yang dia tunjukkan tadi. Sembari menunggu pesanannya diantar, dia mengisi waktunya dengan menggulir layar, dan berhenti pada sebuah kontak bernama Hana."Halo." Suara sapaan terdengar."Halo. Benar ini Hana teman Gendis?" tanya Lana dengan sopan."Oh, iya. Ini siapa ya?""Saya suaminya Gendis. Lana. Saya rasa Gendis sudah menghubungi Anda.""Oh, iya, tadi dia sempat bilang. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Mas Lana sama saya?""Sebelumnya maaf, saya mau sedikit merepotkan.""Oh, gak apa-apa, Mas. Santai saja, asal saya bisa maka saya akan bantu.""Jadi begini, Hana. Ini masih seputar kejadian yang kata Gendis itu ternyata tempat kamu.""Oh, iya, Mas. Memang itu kamar yang saya sewa. Memangnya kenapa ya?""Kamu masih di sana?""Masih, Mas. Tapi saya emang jarang nginep. Tempat kos itu cuma untuk persinggahan kalau saya sedang capek aja jadi nggak pulang. Memangnya kenapa ya?"Lana menghela napas, ada sedikit rasa ragu,

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   62. Karena aku cantik

    Tak ada lagi perdebatan setelah Gendis memutuskan menutup pintu tanpa mendengar ocehan demi ocehan dan Lana pun dengan sebal akhirnya kembali ke kamar. Beberapa jam kemudian, Lana kembali keluar. Mengingat kehidupan di dalam rumah tangga mereka yang seolah terbalik dalam hal memasak, semarah-marahnya dia terhadap Gendis, makanan tetap harus disiapkan, dia tetap harus siaga meskipun hatinya masih sedikit kesal. Perlahan, Lana melangkah ke kamar sebelah lalu mengetuknya sebelum menuju dapur untuk sekedar bertanya."Gendis, kamu mau makan apa?" ujarnya di balik pintu yang tertutup rapat."Gendis!" ulangnya saat tak terdengar jawaban.Detik selanjutnya pintu akhirnya terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan dandanan paripurna dari baliknya."Mau kemana?" Lana langsung menyambutnya dengan pertanyaan setelah sepersekian detik sadar dari ketertarikan."Ada undangan ulang tahun temen kampus, mendadak.""Murahan.""Ih, Abang!" Gendis tak terima, mulutnya mengerucut kesal."Diundang dada

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   61. Cabe-cabean

    [Gendis, Abang tunggu di ujung jalan, dekat cucian motor.]Gendis menghela napas, membiarkan pesan itu terbaca namun tidak membalasnya. Ia masih merasa sakit atas jawaban yang diberikan Lana, yang seolah hanya memikirkan tentang harga diri dan dia semakin geram dengan pesan yang ia baca barusan. Lana memperlakukannya seolah wanita tak punya harga, yang bisa dijemput di tengah jalan.Meski tak diakui sebagai istri setidaknya dia tidak menjatuhkan harga diri dengan terus mengikuti keinginan yang semakin kesini semakin tak masuk di akal."Hei, Ndis. Kamu masih disana, 'kan?" Suara di seberang telepon memanggil sedikit lebih keras. Ya, ketika pesan masuk, Gendis sedang berbicara dengan Hana, sahabatnya, seraya merebahkan diri di ranjang karena jam perkuliahan paling akhir yang kebetulan kosong membuat Gendis memutuskan untuk pulang lebih awal, dosen berhalangan hadir sebab ada keperluan penting, sehingga mahasiswa hanya diberi tugas yang harus dikirim melalui email. "Hm.""Jadi udah b

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   60. Ingin bertemu

    "Hm." Seraya mengangguk aku menjawab singkat, entah mengapa lidah ini langsung kelu begitu melihat sorot mata sendu perlahan mulai meredup seolah tak ada semangat hidup."Apa kamu memperlakukannya dengan baik?" lanjutnya, kemudian mengusap air mata yang mulai lolos. Air mata yang seolah menghancurkan rasa angkuh dan percaya diriku, lalu mengubahnya menjadi rasa bersalah yang teramat dalam. "Dia baik, jangan khawatir."Mendengar jawabanku, bibir itu semakin bergetar, sedangkan Hanin sibuk mengusap kedua pundak sang ibu. Lalu di detik selanjutnya tubuh ringkih itu luruh ke lantai, air matanya pun semakin tumpah."Bunda." Hanin mengikuti dan berusaha membantu sang ibu untuk kembali berdiri dengan meraih kedua pundaknya, namun sang ibu menolak dengan menghempaskan tangan sang putri secara perlahan. Sementara aku hanya bisa mematung melihat pemandangan yang begitu menyedihkan itu. "Saya mau ketemu anak saya, sebentar ... saja," ucapnya terisak-isak. Nadanya penuh permohonan.Aku melangka

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   59. Ibu mertua

    POV Lana Plak! Lagi dan lagi, aku harus menerima tamparan akibat kejadian malam sialan. Ya, usai berbicara panjang lebar dan hampir berakhir dengan pengakuan atas identitas diri pada Gendis di taman, jam pelajaran yang harus Gendis ikuti pun membuatnya harus pergi. Ia terlihat begitu terburu-buru. Bahkan, belum sempat aku mengatakan bahwa pulang nanti akan aku tunggu di ujung jalan, tapi dia sudah melambaikan tangan sambil berlari. Sedangkan aku, harus rela menukar jam mata kuliahku dengan mata kuliah lain untuk memenuhi panggilan wanita yang saat ini menatapku penuh amarah. Hanindya Respati. Hanindya Respati menghubungi Gendis pagi tadi, Gendis tidak menerimanya, tapi justru aku yang menerima panggilan tersebut. Cacian, makian, ia berikan padaku dari seberang telepon begitu mendengar suaraku. Tak ingin membuat Gendis mendengar kata-kata wanita yang seharusnya menguatkan adiknya namun justru memaki itu, terpaksa aku harus mengatakan bahwa ia adalah sales kartu kredit. "Tahukah

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   58. Cinta dalam diam

    "Ngapain?!" Sontak aku kembali menatapnya. Pernyataannya benar-benar membuatku terkejut."Setelah Abang berpikir lama, Abang rasa ada yang janggal dengan kejadian malam itu.""Maksud Abang?" "Abang percaya kamu nggak salah, Abang juga merasa ada yang tidak beres dengan diri Abang. Dan ... bukankah kita sama-sama merasa tidak melakukan apa-apa?""Begitukah, Bang?""Hem. Tidur bersama bukan berarti melakukannya. Abang minum obat penenang karena Abang nggak enak badan, sedangkan kamu mabuk nggak sadar. Maaf, bagaimana bisa Abang melakukan dalam keadaan tidur. Ya, Abang akui sempat kegerahan sebelum nggak sadar.""Maksud Abang, Abang sendiri yang membuka baju?!" tanyaku ragu."Nggak tahu. Perasaan Abang, sih, nggak. Kamu buka nggak?"Aku tersentak, kemudian menatapnya tajam. "Abang!" "Kan, Abang tanya, siapa tahu kamu inget. Nggak maksud apa-apa.""Gendis buka baju sendiri. Orang Gendis kira itu kamar temen Gendis. Hana. Masak jeruk minum jeruk. Gendis masih normal, Abang," jelasku apa

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   2. Sama-sam dijebak

    2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status