เข้าสู่ระบบ
Menghadap jendela besar yang memperlihatkan aliran kendaraan, aku menahan kuat-kuat dorongan di dalam hati untuk kembali ke kebiasaan lama. Aku berlari keluar rumah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpikir dan tidak melihat.Akhirnya, aku melangkah ke hadapan seorang psikolog wanita. Kali ini tidak ada hinaan, tidak ada kata-kata kotor, yang ada hanyalah penghiburan dan dukungan yang hangat. Dialah yang membuatku kembali melihat harapan hidup. Dialah yang menyadarkanku bahwa aku juga bisa menjadi manusia normal yang seutuhnya.Aku mengikuti setiap sesi konselingnya. Sedikit demi sedikit, aku mengucapkan selamat tinggal pada batinku yang selama ini sudah terdistorsi. Aku mulai bisa masuk ke lingkungan sosial yang normal, dan bisa berdamai dengan diriku yang buruk di masa lalu.Namanya adalah Laila Ertina. Dialah yang memberiku cahaya kedua dalam hidupku.Dalam percakapan baru-baru ini, aku tidak sengaja mengetahui bahwa psikiater pertama yang kutemui dulu, telah dilaporka
Aku sampai di rumah. Sambil menjinjing sepatu hak tinggi, aku berdiri dengan kaki telanjang yang kelelahan di depan pintu. Suara sensor sidik jari terdengar sangat pelan, hingga tidak akan mengejutkan siapa pun.Aku ingin segera mencari suamiku untuk meminta ketenangan, baik secara psikologis maupun fisik. Aku hanya ingin memeluknya erat-erat. Namun tiba-tiba, terdengar suara lenguhan aneh dari dalam kamar, serta suara pria dan wanita yang sedang bercanda pelan?Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku mengintip perlahan.Di atas tempat tidur yang besar itu, ada suamiku dan bibi tersayangku. Selimut yang berantakan dan dua orang yang sedang bercumbu tanpa henti. Aku bahkan bisa mencium aroma yang tak terlukiskan dari sana."Menyebalkan! Pelan sedikit, apa kamu nggak takut kalau Susi pulang dan melihat kita?""Siapa yang menyebalkan? Ayo, biarkan aku memelukmu lagi, jangan berhenti.""Aku nggak bercanda.""Alah, Susi? Dia itu cuma psikopat yang wajahnya saja yang cantik! Lucu seka
Dia tiba-tiba membuka pintu bus dan membopongku turun. Perlawananku yang lemah sama sekali tidak berarti baginya.Pada akhirnya, apakah dia akan menembus pertahanan terakhir itu? Padahal, itu adalah harga diri terakhir yang kupunya. Aku menangis dalam diam.Tidak ada yang bisa menyelamatkanku. Aku benar-benar hanya sedang sakit, mengapa semua orang tidak mau melepaskanku? Mengapa semua orang menghinaku?Mereka menganggapku rendahan sejak lahir, yang bisa dipermainkan, dan dilecehkan sesuka hati.Dokter itu begitu, sopir ini pun begitu, tidak ada satu pun yang melepaskanku. Apakah semua ini salahku? Aku tidak mengerti.Di saat terakhir, aku berhenti melawan. Aku membiarkan pria itu melemparkanku ke dalam kegelapan ladang yang luas. Aroma hormon pria itu menutupi cahaya bintang yang tersisa. Jarak di antara kami perlahan menghilang.Bisikan gila sopir itu terus terdengar di telingaku. Dia dengan mahir menggoda setiap jengkal sarafku, hingga kesadarannya sendiri mulai tertelan ga
Rasa dingin di balik rok setiap saat seolah mengingatkanku tentang apa yang baru saja kulakukan di depan pria ini. Gesekan langsung antara kulit dan bahan kasar kursi bus seketika memicu rasa malu yang tak terlukiskan di dalam hati.Aku menatap sopir yang tampak berwibawa itu dengan penuh kebencian. Aku tidak tahu sampai kapan harus menanggung penghinaan ini.Selama perjalanan, aku bangkit dan berjalan mondar-mandir di lorong bus sebanyak tiga kali, mengayunkan pinggul dengan kondisi tanpa busana di balik rokku.Entah itu hanya halusinasiku saja atau bukan. Setiap kali aku melangkah, aku merasa ada banyak pasang mata pria yang menatapku dengan panas, melekat erat pada tubuhku. Seolah-olah mereka bisa menembus gaun tali tipis ini dan melihat segalanya!Secara naluriah aku merasa mereka tampak mengagumi kecantikan dinginku di depanku. Namun di belakang, mereka membicarakan betapa bejatnya tindakanku. Bahwa aku adalah wanita nakal yang sesungguhnya.Namun di mataku sendiri, aku terla
"Nggak perlu yang lain!" sahutku panik. "Aku makan ini saja."Aku mencengkeram benda yang diberikan sopir bus di telapak tanganku. Aku kira ini sudah berakhir. Namun, saat aku mendongak dan melihat tatapan matanya yang membara, barulah aku tahu. Tidak, ini justru baru saja dimulai!Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya ke telingaku, mengembuskan napas pendek. "Sekarang juga, aku ingin kamu melakukannya di depanku."Aku menggigit bibir erat-erat. Di tengah kepanikan, terselip keinginan aneh yang sulit dilukiskan untuk segera mencobanya. Aku bertanya-tanya seperti apa rasanya melakukan hal itu nanti. Apakah akan menjadi pengalaman luar biasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya? Jenis pengalaman yang membawa gairah mencapai puncaknya!Seperti saat di depan jendela kamar mandi. Di ketinggian yang tak diketahui siapa pun, melepaskan kesepian di lubuk hatiku sedalam-dalamnya.Mataku berkaca-kaca saat perlahan menatap sopir itu. "Aku hanya akan melakukan ini sekali saja. Kamu ngga
Pria itu menjulurkan tangan dan meremas paha molekku yang jenjang. Pada saat ini, rasa takut telah mengalahkan kegembiraan di lubuk hatiku. Aku hanya bisa pasrah berada di bawah kendali pria di hadapanku ini."Apa yang harus kulakukan?" tanyaku dengan suara kecil yang pengecut. Aku menyerah pada nasib sambil meletakkan tangan di atas kulit perutku yang lembut dan halus.Namun pria itu menggelengkan kepala, seolah tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Senyum licik yang penuh arti muncul di wajahnya."Aku nggak bilang untuk melakukannya sekarang. Sekarang semua orang di bus sedang tidur, mana seru begitu?""Cantik, kalau mau main, kita main yang lebih menantang!""Aku akan terus mengawasimu. Besok siang, apa pun yang kukatakan, kamu harus melakukannya."Mulutku sedikit ternganga, secara tidak sadar aku menelan ludah. Karena ancaman sopir itu, aku tidak ingin orang-orang tahu betapa liar dan tak terkendalinya diriku di balik topeng "dewi dingin" ini. Aku tidak punya pilihan lain.Setelah it







