Share

Baskara Aneh

Author: BWOLU KWETAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-22 23:54:59

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum Baskara akhirnya melepaskan jari Joana dari mulutnya. Pria itu meludah dan menyapu sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan. Lalu ia berjalan santai ke arah rak piring untuk mengambil tisu.

Sementara itu, Joana masih berdiri membeku. Pipinya memanas hebat, menjalar hingga ke ujung telinga. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detaknya bisa terdengar oleh Baskara. Ia menarik tangannya yang gemetaran da
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Baskara Aneh

    Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum Baskara akhirnya melepaskan jari Joana dari mulutnya. Pria itu meludah dan menyapu sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan. Lalu ia berjalan santai ke arah rak piring untuk mengambil tisu. Sementara itu, Joana masih berdiri membeku. Pipinya memanas hebat, menjalar hingga ke ujung telinga. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detaknya bisa terdengar oleh Baskara. Ia menarik tangannya yang gemetaran dan menyembunyikannya di balik punggung."Pria itu berbahaya untuk jantungmu, Joana," gumam gadis itu dengan suara lirih. Baskara kembali mendekat. Wajahnya terlihat santai tanpa rasa canggung sedikit pun, seolah aksi impulsifnya tadi adalah hal paling lumrah di dunia. Pria itu berdeham pelan untuk memecah keheningan."Ehem. Sini tangannya," panggil Baskara tenang. pria itu menarik lembut tangan Joana untuk membungkus jarinya dengan plester."L-lain kali pakai air mengalir saja, tidak usah... be

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Mendadak Baik

    Senyum terkembang lebar di wajah Joana saat melangkah keluar dari pintu kaca gedung perkantoran tersebut. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibanding pagi tadi. Kali ini, ia benar-benar merasa puas; jawaban-jawaban yang ia berikan saat wawancara terasa berbobot, lugas, dan tidak asal bunyi seperti kesempatan-kesempatan sebelumnya. Harapan untuk segera melepas status pengangguran rasanya makin dekat di depan mata.Sebelum pulang ke rusunawa, Joana menyempatkan diri mampir ke minimarket dekat area tempat tinggalnya. Berhubung ia berniat merayakan keberhasilannya hari ini, ia membeli beberapa bahan pangan—sedikit sayuran segar, telur, dan bumbu dapur untuk memasak makan siang yang enak.Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Tepat saat ia keluar dari minimarket sembari menenteng kantong belanjaan, sosok pria bersuara familiar itu sudah berdiri di samping tiang kanopi, menyender santai sembari memegang segelas kopi dingin."Aduh, yang habis wawancara mukanya cerah banget. Gimana,

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Tawaran Dodit

    Joana seketika memperlambat langkahnya. Di belakangnya, Baskara juga melakukan hal serupa. Joana berbalik, menatap tajam Baskara. "Maksud kamu apa?" Baskara memasukan tangannya di saku celana. "Aku punya rekaman CCTV yang ku sembunyikan di pintu unitku." "Hah?" Joana kaget. Gadis itu melangkah maju antusias. Ia mengguncang tangan Baskara hingga lupa bahwa beberapa menit yang lalu ia melarikan diri dari pria itu. "Serius? Jangan tiba-tiba bilang prank ya?!" Joana memicingkan matanya curiga. Baskara menoleh. Ia menatap netra Joana, kemudian melepaskan tangan gadis itu dari lengannya. "Kamu percaya?" tanya Baskara dengan kekehan kecil. Senyum di wajah Joana pudar seketika. "Maksudmu apa?" "Prank!" teriak Baskara kemudian kabur sambil tertawa keras. "Baskara!" jerit Joana kesal. Gadis itu mengepalkan tangannya sembari menghentakkan kaki. *** "Ngapain ke sini?!" tanya Joana judes saat melihat sosok pria yang muncul mengetuk pintu balkonnya. "Bukain pintunya, astaga!

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Petunjuk dari Baskara?

    Baskara! Gila! Jarang melihatnya, Joana merasa pria itu terlihat berbeda. Seperti aada aura-aura kejam dan dingin secara bersamaan sekaligus memikat. Saat Baskara masuk, ia juga memancarkan aura mengancam. Seketika Joana mendengus, memalingkan wajahnya dan teringat lagi bahwa ia harus menjauhi pria itu jika ingin hidup tenang. Namun, sesekali Joana mengamati Baskara dengan rasa penasaran yang akan di lakukannya. Kecuali Pak Bagas, seluruh ruangan mengikuti gerak-gerik Baskara. Pria itu melangkah ke depan meja Pak Rony dan berdiri di antara Pak Bagas dan Joana. Baskara meletakkan flashdisk berwarna putih di atas meja. "Apa ini?" Tanya Pak Rony dengan nada tidak ramah. "Coba buka di laptop Bapak, saya telah mengumpulkan banyak bukti tentang kelakuan Pak Bagas di rusunawa," Ujar Baskara sambil bersedekap dada. Mendengar hal itu, Pak Bagas pucat seketika. Ia bangkit ingin meraih flashdisk yang ada di atas meja, tetapi tangan Baskara lebih cepat meraihnya. Pria itu seperti telah

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Niat Mengusir Pak Bagas

    Penyesalan memang selalu datang terlambat. Itulah yang kini Joana rasakan. Ia sibuk menggigiti kukunya sembari berjalan dengan kepala tertunduk. "Wah nggak nyangka, ternyata penghuni lantai lima unik semua." "Bukan unik, tapi berbahaya!" Timpal seorang wanita berumur ketika melihat Joana berjalan di lorong sendirian. Itulah yang mereka katakan saat Joana lewat. Sejak amarahnya tak terkendali tadi siang, semua orang kini menatapnya seperti orang yang menakutkan. Ia tidak suka dengan perasaan seperti itu. "Udah nggak usah di pikirin," ucap Bu Nita sambil merangkul lengan Joana. "Lagian wajar kok kamu marah sama Pak Bagas. Kalau aku di gituin juga, tuh orang nggak bakal cuma tak pukul, sudah tak jorokin dia sampai nggelinding di tangga!" Lanjutnya menggebu-gebu. Seketika Joana merasa lebih tenang setelah mendengar pembelaan dari Bu Nita. Joana menarik napas panjang sebelum masuk ke ruang pengelola. Di sana, beberapa penghuni lainnya berkumpul karena penasaran. "Yang nggak

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Amarah

    Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian pencekikan yang di alami Joana. Gadis itu telah menguatkan hatinya untuk selalu waspada. Setiap kali ia masuk unitnya, ia selalu mengecek kondisi kamarnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin ada kamera tersembunyi yang di letakkan oleh peneror. Selain itu Joana juga berusaha menghindari Baskara. Meskipun sesekali berpapasan, tetapi Joana bersikap cuek seperti orang asing yang tidak saling kenal. Kini fokusnya hanya untuk bertahan hidup dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia bahkan sudah tidak menggubris lagi suara desahan Pak Bagas dan Tina yang sudah berbaikan hingga suara percintaan mereka terdengar kemana-mana. Namun setiap kali Joana bertemu Pak Bagas, pria itu sering melayangkan tatapan menjijikkan kepadanya. Jikalau tidak, kata-kata frontal bersifat pelecehan verbal juga membuat Joana was-was. "Semoga pulang nggak papasan lagi sama orang-orang menyebalkan di gedung ini," gumam Joana selalu merasa takut. Gadis itu melangkah pelan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status