Se connecter‘Gila, ini salah. Semua ini benar-benar salah,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika lumpuh total akibat kecupan hangat dari Arga.Alya mematung kaku di atas dada bidang Arga dengan napas yang memburu naik-turun hebat. Pipi mulusnya terasa sangat panas seperti terbakar sisa kecupan mendadak tadi. Sisi gila di otaknya yang mengagumi visual tampan pria itu mendadak tidak bisa munafik. Tubuhnya justru berkhianat, menginginkan sentuhan yang lebih jauh dan mendalam di atas kasur seprai hitam ini.‘Apakah ini akan menjadi malam terakhir kalinya aku bisa bersamanya sebelum aku pergi menjauh dari hidupnya?’ pikir Alya dengan batin yang buntu dilanda rasa sedih yang teramat pekat.Arga yang menjadi pelaku utama justru sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah atau canggung di wajah tegasnya
Arga terdiam sesaat, lalu perlahan memundurkan tubuhnya kembali ke sudut kasur dengan rahang tegas yang memerah tipis akibat canggung. “Maaf, Alya. Aku benar-benar tidak sengaja karena refleks kaget mendengar petir tadi. Aku bersumpah hanya akan tidur di sampingmu malam ini dan tidak akan melakukan tindakan macam-macam yang melanggar kontrak kerja kita. Yang terpenting kamu cukup tidur di dekatku saja, aku sangat ketakutan kalau sendirian di sini.”Alya kembali mendengus kesal, menaruh bantalnya kembali dan guling di sisi tengah ranjang sebagai pembatas yang tidak boleh dilewati. “Bagaimana mungkin seorang pria dewasa yang ditakuti ratusan anak buah di kantor pusat bisa ketakutan setengah mati kepada kilat dan guntur seperti anak TK?”Arga tidak membalas sindiran tajam Alya, dia hanya kembali memasang wajah melas seraya menarik selimut h
“Temani aku tidur malam ini di dalam kamar ini, Alya,” ulang Arga dengan wajahnya yang kaku.Alya langsung membelalakkan matanya, menganggap kalimat bos besarnya itu sudah melampaui batas kewarasan. “Ucapan Anda ini benar-benar gila dan tidak masuk akal, Pak Arga! Tidak mau!”Alya bergerak cepat mengayunkan daun pintu jati tebal itu untuk menutupnya rapat-rapat. Namun, sebelum kayu itu mengunci, tangan kiri Arga bergerak lebih gesit mengganjal celah pintu. Pria alfa yang biasanya selalu memasang topeng dingin dan berwibawa di kantor pusat itu kini justru menatap Alya dengan wajah melas yang teramat canggung.“Tolonglah, Alya. Jangan ditutup dulu,” mohon Arga dengan suara baritonnya yang merendah, menyingkirkan semua gengsi jabatannya malam-malam begini. “Sejak
“Lalu … apa yang harus saya lakukan sekarang, Pak Arga?” tanya Alya dengan suara yang kian lirih, menatap draf fotokopi usang di atas meja marmer.Arga tidak langsung menjawab. Pria tegap itu melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Alya untuk menarik napasnya yang sejak tadi tertahan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke arah jendela kaca apartemen yang mulai dibasahi oleh rintik gerimis malam.“Siapa pun pemilik asli resep itu di masa lalu, dugaanku sekarang adalah seseorang pasti berusaha mencuri ataupun menghancurkannya agar PT Rasa Nusantara Food bangkrut,” kata Arga dengan nada suara yang berat, dalam, dan kembali memancarkan wibawa tenang. “Dan jika resep mi nyemek ini benar-benar muncul ke permukaan pasar, lalu orang-orang itu mengetahui bahwa di balik tim tugas ini ada namamu yang
Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna rentetan informasi berat itu sebelum menyuarakan keraguannya yang tersisa. “Tunggu sebentar, Pak Arga. Sejak awal kita membahas masalah ini, kita berdua kan sama sekali tidak pernah berspekulasi kalau Nenek ada hubungannya dengan akal-akalan politik kotor keluarga Anda.”Alya menatap langsung ke dalam manik mata elang Arga demi menyelaraskan ingatan mereka. “Setahu saya, kita berdua hanya menduga kalau resep itu diincar karena punya nilai bisnis miliaran rupiah untuk mendongkrak penjualan produk baru kita di kantor pusat. Nenek saya murni hanya pedagang biasa yang tidak tahu apa-apa soal persaingan kekuasaan. Kenapa sekarang arah pembicaraan Anda malah melompat jauh ke masalah pengkhianatan masa lalu?”Arga mencondongkan tubuh tegapnya ke depan hingga aroma parfum tembakau mahalnya kembali
“Sebenarnya … umur Kakek sudah tidak lama lagi di dunia ini, Alya,” kata Arga dengan suara yang kian serak, menatap kosong ke arah lantai marmer. “Dokter pribadi keluarga bilang kanker di tubuh beliau sudah masuk stadium akhir.”Alya tertegun mendengar pengakuan tak terduga itu, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Seluruh rasa dongkol dan penolakannya terhadap Arga mendadak menguap begitu saja.Pemandangan tegap sang CEO yang biasanya terlihat sangat kokoh kini tampak rapuh di bawah temaramnya lampu ruang tengah apartemen.‘Pantas saja dia begitu ambisius dan buru-buru mengejar kesuksesan proyek baru di kantor. Ternyata dia sedang berurusan dengan waktu yang kian menipis demi kakeknya,’ batin Alya seraya meremas ujung kaus tidurnya pelan.







