LOGINYanti membaca pesan itu berulang kali.Bukan karena tak paham isinya, tapi karena terlalu sedikit yang bisa dipahami.Yan, kita perlu bertemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.Tidak ada penjelasan.Tidak ada petunjuk.Justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap kosong ke arah jendela. Pagi terasa terlalu terang untuk perasaan yang belum selesai semalam. Tubuhnya masih mengingat ketakutan itu—tangan Rudi, teriakannya sendiri, dan wajah Herman yang berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Kemarahan itu.Brutal. Melindungi. Menakutkan.Yanti menelan ludah.Jika ia pergi menemui Eko…Jika Herman tahu…Kemarahan itu bisa saja beralih arah.Bukan kepada Rudi.Bukan kepada orang luar.Tapi kepada orang yang paling dekat.Ia melirik ke arah kamar. Herman masih tertidur. Wajahnya tenang, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa. Dan ketenangan itu justru membuat Yanti ragu.Apa yang sebenarnya ingin Eko bicar
Herman menutup pintu perlahan setelah memastikan Rudi benar-benar pergi.Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya teratur.Ia mendekati Yanti yang duduk meringkuk di sudut sofa. Bahunya naik turun, wajahnya pucat, matanya kosong seperti belum benar-benar kembali ke ruangan itu.“Sayang… kamu nggak apa-apa?”suara Herman terdengar lebih rendah dari biasanya. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan kendali.Ia menarik Yanti ke dalam pelukannya. Terlalu cepat. Terlalu rapi.Yanti menempelkan wajahnya ke dada suaminya, menangis tanpa suara.“Aku takut… sangat takut,” ucapnya terbata, tubuhnya masih bergetar.“Tenang,” balas Herman sambil mengusap rambut Yanti.“Sekarang semuanya sudah selesai. Nggak akan ada apa-apa lagi.”Kalimat itu terdengar seperti janji.Tapi di telinga Yanti, itu terdengar seperti keputusan sepihak.Tangannya yang tadi menenangkan kini terasa kaku.Tidak hangat. Tidak marah. Tidak juga lega.Yanti menarik napas dalam-dalam.Ada sesu
Eko mematikan layar ponsel itu, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ruangan kosnya terasa sempit malam itu, seolah udara ikut menekan dadanya. Benda itu—sekecil apa pun bentuknya—mengandung terlalu banyak kehidupan orang lain.Ia tidak langsung tidur.Eko berjalan mondar-mandir, menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi tanpa benar-benar dihisap. Pikirannya berputar, bukan tentang apa yang sudah terjadi, tapi tentang apa yang akan terjadi setelah ini.Ia kini tahu terlalu banyak.Rudi bukan hanya menyimpan satu kesalahan. Ia mengoleksi dosa orang lain dengan rapi, terstruktur, hampir profesional. Setiap foto, setiap potongan percakapan, disimpan bukan untuk dipakai sekaligus, tapi sebagai c
Kamar terasa lebih sempit dari biasanya.Eko duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Ponsel itu kembali berada di tangannya. Kali ini ia tidak tergesa. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada justru kehati-hatian, seperti seseorang yang sadar setiap sentuhan bisa memicu sesuatu yang lebih besar.Ia membuka folder lain.Nama foldernya singkat. Tidak mencolok. Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.Isinya berbeda.Bukan foto-foto seperti sebelumnya. Lebih tenang. Lebih… personal. Potongan percakapan. Tangkapan layar pesan. Beberapa foto yang diambil di tempat umum—restoran, parkiran kantor, sudut lobi hotel yang terlihat biasa bagi orang lain.Eko mengerutkan k
Kamar Eko sunyi.Lampu meja menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya dan satu benda yang sejak tadi terasa lebih berat dari berat aslinya: ponsel itu.Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar hitam beberapa detik sebelum akhirnya menyalakannya.Tidak ada sandi yang rumit.Rudi selalu merasa terlalu pintar untuk jatuh.Begitu layar terbuka, Eko langsung paham satu hal penting—Rudi bukan orang bodoh.Ini bukan ponsel utama.Tidak ada chat dengan istri.Tidak ada panggilan keluarga.Tidak ada jejak kehidupan normal.Yang ada hanyalah folder-folder tersembunyi. Nama generik. Pola pengamanan sederhana tapi disengaja.Satu per satu Eko membukanya.Foto.Banyak foto.Sudut yang diambil diam-diam. Waktu yang jelas bukan kebetulan. Ada pola, ada kesengajaan, ada kesabaran yang menjijikkan.Bukan hasil satu malam. Ini hasil pengintaian.Eko menghembuskan napas pelan.“Pantas saja,” gumamnya.Rudi menyimpan semuanya di sini.Ponsel khusus. Dunia kotor yang terpisah rapi dari kehidupan rumah
Langkah kaki itu semakin jelas. Bukan satu orang. Beberapa. Suaranya memantul di tanah lembap di depan rumah kosong itu.Rudi yang pertama bereaksi—bukan dengan rencana, bukan dengan ancaman. Matanya membesar, napasnya tercekat. Panik murni.Tanpa sepatah kata, ia mundur, lalu berbalik dan lari ke arah pintu belakang.“Rudi—!” Yanti refleks memanggil, tapi suaranya patah.Benda kecil terlepas dari tangan Rudi dan jatuh ke lantai kayu dengan suara yang terasa terlalu keras di keheningan itu.Tok.Eko menoleh. Sebuah ponsel.Namun sebelum sempat memikirkan apa pun, suara langkah di luar semakin dekat.Eko langsung bergerak. Ia berdiri tepat di depan Yanti, membelakangi pintu, tubuhnya seperti refleks mengambil posisi melindungi.“Yan, cepat pakai bajumu. Sampai kapan kau akan telanjang seperti itu,” katanya rendah tapi tegas. “Udah nggak ada waktu.”Tangannya tidak menyentuh Yanti, tapi posisinya jelas—menutup pandangan, menutup ancaman, seolah tubuhnya sendiri adalah dinding terakhir.







