Home / Romansa / Rahasia di Rumah Kos / bab 11 : Rumah Yang terlalu Dekat

Share

bab 11 : Rumah Yang terlalu Dekat

Author: juliantara
last update Last Updated: 2025-12-15 08:34:10

Rudi duduk di sofa ruang tamunya dengan lampu yang sengaja dimatikan.

Hanya cahaya dari layar ponsel yang menyinari wajahnya—pucat, kaku, dan penuh amarah yang tak menemukan bentuk.

Pertemuan itu tidak berjalan seperti yang ia rencanakan.

Tubuh Yanti memang ada di hadapannya, wangi kulitnya masih tertinggal di ujung jarinya, tapi ada sesuatu yang hilang. Kendali. Dominasi. Rasa menang.

Ia membuka kembali pesan itu—yang membuat tangannya sempat bergetar tadi.

Foto itu masih ada.

Jelas. Tajam. Tak terbantahkan.

“Bajingan…” gumamnya pelan.

Seseorang telah mempermainkannya. Dan yang lebih berbahaya—orang itu tahu masa lalunya. Tahu titik lemahnya.

Rudi menarik napas panjang, lalu berdiri dan melangkah ke jendela.

Rumah Yanti terlihat jelas dari sana.

Lampunya menyala. Tirainya setengah terbuka.

Terlalu dekat. Terlalu mudah diawasi.

Rudi menyipitkan mata, naluri lamanya bekerja. Ia mencoba mengingat siapa saja yang mungkin menyimpan dendam. Siapa saja yang tahu rahasia itu. Nama demi nama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 28 : Pertemuan yang Menentukan

    Yanti membaca pesan itu berulang kali.Bukan karena tak paham isinya, tapi karena terlalu sedikit yang bisa dipahami.Yan, kita perlu bertemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.Tidak ada penjelasan.Tidak ada petunjuk.Justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap kosong ke arah jendela. Pagi terasa terlalu terang untuk perasaan yang belum selesai semalam. Tubuhnya masih mengingat ketakutan itu—tangan Rudi, teriakannya sendiri, dan wajah Herman yang berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Kemarahan itu.Brutal. Melindungi. Menakutkan.Yanti menelan ludah.Jika ia pergi menemui Eko…Jika Herman tahu…Kemarahan itu bisa saja beralih arah.Bukan kepada Rudi.Bukan kepada orang luar.Tapi kepada orang yang paling dekat.Ia melirik ke arah kamar. Herman masih tertidur. Wajahnya tenang, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa. Dan ketenangan itu justru membuat Yanti ragu.Apa yang sebenarnya ingin Eko bicar

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 27 : Rencana Matang Eko

    Herman menutup pintu perlahan setelah memastikan Rudi benar-benar pergi.Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya teratur.Ia mendekati Yanti yang duduk meringkuk di sudut sofa. Bahunya naik turun, wajahnya pucat, matanya kosong seperti belum benar-benar kembali ke ruangan itu.“Sayang… kamu nggak apa-apa?”suara Herman terdengar lebih rendah dari biasanya. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan kendali.Ia menarik Yanti ke dalam pelukannya. Terlalu cepat. Terlalu rapi.Yanti menempelkan wajahnya ke dada suaminya, menangis tanpa suara.“Aku takut… sangat takut,” ucapnya terbata, tubuhnya masih bergetar.“Tenang,” balas Herman sambil mengusap rambut Yanti.“Sekarang semuanya sudah selesai. Nggak akan ada apa-apa lagi.”Kalimat itu terdengar seperti janji.Tapi di telinga Yanti, itu terdengar seperti keputusan sepihak.Tangannya yang tadi menenangkan kini terasa kaku.Tidak hangat. Tidak marah. Tidak juga lega.Yanti menarik napas dalam-dalam.Ada sesu

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 26 : Kemarahan Herman

    Eko mematikan layar ponsel itu, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ruangan kosnya terasa sempit malam itu, seolah udara ikut menekan dadanya. Benda itu—sekecil apa pun bentuknya—mengandung terlalu banyak kehidupan orang lain.Ia tidak langsung tidur.Eko berjalan mondar-mandir, menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi tanpa benar-benar dihisap. Pikirannya berputar, bukan tentang apa yang sudah terjadi, tapi tentang apa yang akan terjadi setelah ini.Ia kini tahu terlalu banyak.Rudi bukan hanya menyimpan satu kesalahan. Ia mengoleksi dosa orang lain dengan rapi, terstruktur, hampir profesional. Setiap foto, setiap potongan percakapan, disimpan bukan untuk dipakai sekaligus, tapi sebagai c

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 25 : Tabir yang Mulai Terungkap

    Kamar terasa lebih sempit dari biasanya.Eko duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Ponsel itu kembali berada di tangannya. Kali ini ia tidak tergesa. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada justru kehati-hatian, seperti seseorang yang sadar setiap sentuhan bisa memicu sesuatu yang lebih besar.Ia membuka folder lain.Nama foldernya singkat. Tidak mencolok. Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.Isinya berbeda.Bukan foto-foto seperti sebelumnya. Lebih tenang. Lebih… personal. Potongan percakapan. Tangkapan layar pesan. Beberapa foto yang diambil di tempat umum—restoran, parkiran kantor, sudut lobi hotel yang terlihat biasa bagi orang lain.Eko mengerutkan k

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 24 : yanti Bukan Korban Satu - Satunya

    Kamar Eko sunyi.Lampu meja menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya dan satu benda yang sejak tadi terasa lebih berat dari berat aslinya: ponsel itu.Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar hitam beberapa detik sebelum akhirnya menyalakannya.Tidak ada sandi yang rumit.Rudi selalu merasa terlalu pintar untuk jatuh.Begitu layar terbuka, Eko langsung paham satu hal penting—Rudi bukan orang bodoh.Ini bukan ponsel utama.Tidak ada chat dengan istri.Tidak ada panggilan keluarga.Tidak ada jejak kehidupan normal.Yang ada hanyalah folder-folder tersembunyi. Nama generik. Pola pengamanan sederhana tapi disengaja.Satu per satu Eko membukanya.Foto.Banyak foto.Sudut yang diambil diam-diam. Waktu yang jelas bukan kebetulan. Ada pola, ada kesengajaan, ada kesabaran yang menjijikkan.Bukan hasil satu malam. Ini hasil pengintaian.Eko menghembuskan napas pelan.“Pantas saja,” gumamnya.Rudi menyimpan semuanya di sini.Ponsel khusus. Dunia kotor yang terpisah rapi dari kehidupan rumah

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 23 : Rudi yang Kehilangan Daya Tawar

    Langkah kaki itu semakin jelas. Bukan satu orang. Beberapa. Suaranya memantul di tanah lembap di depan rumah kosong itu.Rudi yang pertama bereaksi—bukan dengan rencana, bukan dengan ancaman. Matanya membesar, napasnya tercekat. Panik murni.Tanpa sepatah kata, ia mundur, lalu berbalik dan lari ke arah pintu belakang.“Rudi—!” Yanti refleks memanggil, tapi suaranya patah.Benda kecil terlepas dari tangan Rudi dan jatuh ke lantai kayu dengan suara yang terasa terlalu keras di keheningan itu.Tok.Eko menoleh. Sebuah ponsel.Namun sebelum sempat memikirkan apa pun, suara langkah di luar semakin dekat.Eko langsung bergerak. Ia berdiri tepat di depan Yanti, membelakangi pintu, tubuhnya seperti refleks mengambil posisi melindungi.“Yan, cepat pakai bajumu. Sampai kapan kau akan telanjang seperti itu,” katanya rendah tapi tegas. “Udah nggak ada waktu.”Tangannya tidak menyentuh Yanti, tapi posisinya jelas—menutup pandangan, menutup ancaman, seolah tubuhnya sendiri adalah dinding terakhir.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status