MasukEko menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang hampir hilang. Godaan itu begitu nyata, begitu dekat. Namun, bayangan Herman dan rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap memaksanya untuk berkata.
"Tidak, Bu... Yanti. Kita tidak boleh," ucap Eko dengan suara serak, sambil mencoba menarik tubuhnya mundur sedikit. Tangannya yang tadi memeluk erat, kini melunak. "Ini... ini salah."
Yanti terkejut. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini memancarkan cahaya berbeda—sebuah keberanian yang nekat. "Salah?" bisiknya, sinis. "Apa yang lebih salah dari pernikahan yang hanya menyisakan bentakan dan penghinaan?"
"Ibu sedang emosi. Kamu akan menyesali ini nanti. Kita bisa selesaikan ini ketika kamu sudah lebih tenang," bantah Eko, mencoba berdiri dari sofa.
Namun, dengan gerakan yang lincah, Yanti justru mendekatkan diri lagi. Tangannya yang halus mencegah Eko untuk pergi, menahannya di tempat duduk.
"Jangan pergi, Ko," desaknya, suaranya lembut namun penuh arti. "Aku tidak sedang emosi. Aku... aku sangat sadar dengan apa yang aku lakukan."
Sambil berkata demikian, jari-jari Yanti mulai berpetualang. Bukan lagi di bahu, tapi melingkar perlahan di leher Eko, seperti seorang pemain biola yang memetik senar sebelum pertunjukan dimulai. Eko menegang, napasnya kembali memburu.
"Bu, tolong..." protes Eko, tapi suaranya lemah, tidak meyakinkan.
"Sudah kubilang, panggil aku Yanti," katanya. Kemudian, dengan sebuah keberanian yang mungkin didorong oleh keputusasaan, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Eko. Napasnya yang hangat membuat Eko merinding. "Aku lelah jadi 'istri' yang selalu disalahkan. Untuk sekali ini, ijinkan aku jadi... Yanti. Izinkan aku menjadi seorang wanita."
Godaan itu datang bertubi-tubi. Eko memejamkan mata, berusaha membangun benteng pertahanan terakhir. "Bagaimana kalau orang akan tahu... suamimu, Herman—"
"Nama itu jangan kau sebut di sini!" potong Yanti sedikit kasar, tapi kemudian kembali berbisik lembut. "Dia tidak akan pernah tahu. Aku akan jadikan ini rahasia kita. Bantu aku. Izinkan aku sekali ini saja menjadi wanita, bukan sebagai istri, tapi sebagai Yanti."
Sebelum Eko bisa berkata-kata lagi, Yanti sudah mengambil langkah final. Dia mengambil tangan Eko yang mengepal dan dengan perlahan, sangat perlahan, menempatkannya pada lengkung tubuhnya yang hangat dan berisi di balik daster tipis itu.
Sentuhan itu seperti sengatan listrik.
Benteng Eko runtuh seketika.
"Yanti..." gumamnya, dan kali ini, tidak ada lagi penolakan dalam nada bicaranya. Hanya ada sebuah penyerahan, sebuah pengakuan akan kekalahan yang manis.
Dia tidak lagi melawan. Nafsu yang telah ia bendung akhirnya meluap. Ciuman yang tadi terputus kini disambung kembali dengan intensitas yang lebih menggila. Ego, logika, dan rasa takut—semuanya lenyap ditelan gelora yang hanya memikirkan tentang wanita di pelukannya saat ini.
Dunia di luar ruang tamu itu tidak lagi ada. Hanya ada mereka, sofa, dan kegilaan yang mereka pilih untuk diterjunkan bersama-sama.
"Kita sudah melangkah terlalu jauh untuk berhenti sekarang, Ko," bisik Yanti di dekat telinganya, napasnya hangat dan menggoda. "Aku tidak mau kamu berhenti."
Sekarang, Eko benar-benar tak berdaya. Nalar dan moralnya kalah telak. Nama "Herman" yang tadi mengintai di pikirannya, kini menghilang bagaikan kabur.
Eko menemukan keberanian baru. Tangannya, yang tadi gemetar, kini mulai menjelajah dengan lebih percaya diri. Dia menemukan resleting di punggung Yanti, dan dengan satu gerakan lancar, daster itu meluncur ke lantai.
Di hadapannya sekarang, berdiri Yanti dalam segala kerapuhan dan kecantikannya. Di ruang tanmu yang sunyi siang itu, tubuhnya terpampang jelas—sebuah mahakarya yang terluka. Eko memandangnya, bukan dengan nafsu buta semata, tapi dengan sebuah rasa kagum yang mendalam. Inilah wanita yang selama ini di sia – siakan oleh herman.
Yanti membiarkan dirinya dipandang, sebuah keberanian terakhirnya. "Jangan lihat aku dengan kasihan," bisiknya, suara bergetar.
"Aku tidak," bantah Eko dengan jujur, tangannya mulai menyentuh kulit halus Yanti. "Aku melihatmu... sebagai seorang wanita."
Kalimat itu seperti mantra. Yanti menutup mata, menyerahkan diri sepenuhnya pada momen ini. Eko membawanya turun ke sofa. Dunia seakan menyempit hanya pada ruang itu, hanya pada dua tubuh yang saling mencari kehangatan dan pelarian.
Saat Eko masuk ke dalam dirinya, Yanti mengeluarkan desahan panjang—campuran antara rasa sakit, lega, dan sebuah pembebasan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa didengarkan, diinginkan, dan menjadi pusat dari semesta seseorang. Tangannya mencengkram punggung Eko, menariknya lebih dalam, seakan takut momen ini akan berlalu.
Eko, yang terhanyut oleh gelombang kenikmatan dan emosi yang tak terbendung, menemukan dirinya kehilangan semua kontrol. Di puncak kenikmatannya, sebuah nama terucap dari bibirnya, "Yanti...", sebuah doa, sebuah pengakuan, sebuah titik di mana dia tak bisa lagi membedakan antara nafsu, kasihan, dan sesuatu yang lebih dalam.
Dan Yanti, yang mendengar namanya disebut dengan penuh gairah seperti itu, hanya bisa merespons dengan erangan lembut, menyerahkan seluruh dirinya pada arus yang membawa mereka berdua hanyut.
Beberapa jam kemudian, ketika dinginnya lantai membekukan kesadaran mereka kembali, Eko terbangun dari kemabukannya. Dia memandangi wanita yang tertidur lelap di pelukannya. Di saat sunyi itu, hanya ada satu pertanyaan yang menghantam jiwanya: "Apa yang telah kita lakukan?" Dan pertanyaan itu terasa lebih menakutkan daripada semua konsekuensi yang bisa ia bayangkan.
Hari-hari berikutnya berjalan jauh lebih baik dari yang Yanti bayangkan.Ia bangun pagi dengan kepala penuh rencana, bukan kecemasan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ruang untuk bersedih, apalagi meragukan diri sendiri. Semua energinya habis untuk belajar—tentang kain, potongan, warna, dan dunia yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.Nomor yang diberikan Eko sudah ia simpan sejak malam itu.Dan pagi ini, ia akhirnya menekannya.“Ah… yang penting mulai dulu,” gumamnya sambil tersenyum kecil.“Semoga aku bisa belajar banyak di tempat itu.”Dengan semangat yang belum sempat diuji kenyataan, Yanti bersiap pergi. Ia memilih pakaian terbaik yang ia punya—sederhana, rapi, dan bersih—lalu melangkah menuju butik milik Erni, perempuan yang namanya terasa asing tapi entah kenapa memberi harapan.Di sisi lain, Eko sudah lebih dulu menghubungi Erni.Ia tidak bertele-tele.Ia menjelaskan siapa Yanti, kenapa ia membantunya, dan posisi hubungan mereka—tanpa dramatisasi. Ba
Pagi itu terasa berbeda.Cahaya matahari masuk lembut melalui celah jendela, menyentuh wajah Yanti yang baru saja membuka mata. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Hahhh… lega sekali rasanya,” gumamnya. “Seperti baru saja menyingkirkan beban yang selama ini nempel di punggungku.”Yanti duduk di tepi ranjang, tersenyum kecil. “Oke… ini awal bulan baru. Dan aku juga akan jadi pribadi yang baru.” “Dengan semangat yang baru tentunya.”Pagi itu, Yanti berdandan dengan sangat rapi. Bukan berlebihan, tapi berbeda. Wajahnya tampak segar, caranya memilih pakaian lebih percaya diri, gerak tubuhnya lebih ringan. Aura lelah yang dulu selalu menempel, kini seperti menguap bersama udara pagi.Ia menatap bayangannya di cermin. “Begini rasanya… hidup tanpa terus menyalahkan diri sendiri.”Setelah bersiap, Yanti mengambil tas kecilnya. “Oke, hal pertama yang akan aku lakukan hari ini,” ujarnya pelan, “pergi ke kos. Sudah waktunya nagih uang kos ke anak-anak.”Yanti b
Siang itu terasa lebih terik dari biasanya.Sebuah kafe kecil di sudut kota menjadi tempat yang mereka anggap aman. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Cukup untuk berbicara tanpa takut didengar, dan cukup untuk menyembunyikan emosi di balik cangkir kopi.Eko sudah duduk lebih dulu. Ia bersandar santai, satu tangan memegang gelas kopi, tangan lainnya menggulir layar ponsel tanpa benar-benar fokus. Pikirannya ke mana-mana.Ketika Yanti datang, Eko langsung menoleh.“Hay, Ko. Kamu udah lama nunggu ya?” suara Yanti terdengar pelan, sedikit dipaksakan.“Oh, nggak kok, Yan. Santai aja. Hari ini aku juga lagi nggak ada kegiatan,” jawab Eko sambil tersenyum ramah.Yanti duduk di hadapannya. Eko mendorong buku menu ke arahnya. “Oh iya, Yan, pesan aja dulu. Santai, sambil kita ngobrol.”Yanti mengangguk, memilih beberapa sajian dengan tangan yang masih terlihat kaku, lalu memanggil pelayan. Setelah pesanan dicatat, suasana kembali hening. Hening yang berat.Eko menghela napas pelan, lalu
Yanti terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada sisi tempat tidur. Kondom itu masih ia genggam, seperti bukti kejahatan yang tak pernah ia minta.Jadi ini jawabannya…Bukan kata-kata Herman. Bukan penjelasan. Bukan pembelaan.Hanya benda kecil ini.“Selama ini aku bertahan untuk apa…?” batinnya bergetar. “Aku menutup mata, menelan kecewa, pura-pura kuat, pura-pura dewasa.”Ia teringat malam-malam ketika Herman pulang larut. Pesan yang jarang dibalas. Sentuhan yang terasa kewajiban, bukan keinginan.Katanya aku harus lebih dewasa.Katanya ini semua demi karier.Yanti tersenyum pahit.“Dewasa versi kamu itu apa, Mas?” “Diam saat kamu berkhianat?” “Tersenyum saat aku dipermalukan?”Dadanya sesak, tapi untuk pertama kalinya bukan hanya sakit yang ia rasakan.Ada kejelasan.“Aku bukan bodoh… aku cuma terlalu percaya.” “Aku bukan lemah… aku cuma terlalu mencintai.”Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan tangis putus asa. Ini tangis kehilangan— kehilangan harapan bahwa s
Setelah kabar tentang Herman yang akan berangkat ke Lombok bersama Risma, kegelisahan itu datang perlahan namun terus menetap di dada Yanti. Ia tidak pernah menyampaikannya kepada Herman. Bukan karena tidak berani, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk memulai pertengkaran yang ujungnya selalu sama.“Sudahlah,” gumamnya suatu malam.“Benar kata Eko. Hubungan yang hanya diperjuangkan satu pihak hanya akan melahirkan lelah dan sakit.”Hari-hari menjelang keberangkatan terasa dingin.Pagi, siang, malam berlalu begitu saja.Yanti tetap melayani Herman seperti biasa. Menyiapkan makan, mencuci, memastikan kebutuhan rumah terpenuhi. Tapi tidak ada lagi percakapan panjang. Tidak ada tawa kecil. Tidak ada sentuhan yang hangat. Mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.Beberapa hari berlalu hingga tibalah H-1 sebelum keberangkatan.Malam itu, Yanti melihat Herman mulai menyiapkan koper. Tanpa banyak pikir, ia mendekat.“Mas, biar aku bantu rapikan koper kamu,”
Pagi itu rumah terasa terlalu sunyi, meski suara sendok dan piring beradu di meja makan terdengar jelas. Yanti duduk berhadapan dengan Herman, menatap wajah suaminya yang terlihat biasa saja, seolah hidup mereka baik-baik saja. Seolah tidak ada rahasia. Seolah tidak ada luka yang dipendam.Sejak kejadian di kafe itu, sejak tubuhnya hampir direnggut paksa oleh kelicikan Daniel, Yanti memilih diam. Ia menjalani hari-hari seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, tersenyum seperlunya. Semua ia lakukan dengan mekanis, bukan karena kuat, tapi karena lelah. Ia tahu tentang Risma. Ia tahu apa yang Herman lakukan di belakangnya. Tapi bertengkar terasa lebih melelahkan daripada berpura-pura.“Yan, minggu depan aku harus pergi ke luar kota,” ucap Herman sambil menyuap nasi, nadanya datar.Yanti tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti bergerak. Ada jeda beberapa detik sebelum ia mengangkat wajahnya. “Keluar kota, Mas?”







