Home / Romansa / Rahasia di Rumah Kos / bab 21 :Malam yang Akan Kami Rahasiakan

Share

bab 21 :Malam yang Akan Kami Rahasiakan

Author: juliantara
last update Huling Na-update: 2025-12-27 08:58:23

Baju Yanti tergeletak di lantay. sentuhan dari tangan Rudi mulai lebih berani, mengarah kepadabagian - bagian sensitif yang seharusnya tidak boleh di jelajahi.

tanpa melepas ciuman nya tangan Rudi mulai menyisir bagian demi bagian tubuh yanti mulai dari leher, turun dan semakin turun. lembutnya kulit yanti dan aroma tubuh Yanti membuat Rudi semakin ingin untuk mendapatkan semua dari yanti malam ini.

" wanita pintar tetap lah seperti itu dan mungkin kita bisa selesaikan masalah kita malam ini " rudi semakin menekan.

yanti bisa merasakan nafas Rudi yang menyusuri tubuhnya dari telinga, leher dan sekarang mulai mengarah ke bagian yang lebih sensitip " aku harus bertahan, cuma sekali ini dan ini gak akan lama" yanti menutup matanya dan mulai meyakinkan dirinya sendiri>

" waktu itu aku membuat bekas merah di area ini" ucap rudi sambil menyentuh area dada yannti di mana dia membuat bekas merah sebelumnya " kali ini aku akan buat lebih banyak dan lebih jelas" ucap rudi sambil mulai membenam
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 29 : Bukti yang Di Ungkap

    Rudi mondar-mandir di dalam rumahnya seperti binatang yang terjebak di kandang sempit. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena panas, tapi karena pikirannya tak berhenti berputar.Ponsel itu.Satu-satunya pegangan yang selama ini membuatnya merasa aman.Sekarang hilang.Bukan hanya Yanti yang lepas dari genggamannya—semua orang yang selama ini ia tekan, ia kendalikan, ia paksa diam dengan ancaman halus maupun kasar… semuanya kini berada di luar jangkauannya. Tanpa bukti, ia bukan siapa-siapa. Hanya lelaki setengah tua dengan rahasia busuk dan reputasi rapuh.Ia meninju dinding pelan, lalu tertawa pendek—tawa kosong yang cepat mati.“Tenang,” gumamnya sendiri. “Belum habis.”Ancaman kepada Herman tadi malam…Itu perjudian nekat. Ancaman kosong. Tanpa bukti apa pun di tangan. Dan entah bagaimana—sialan—itu berhasil. Herman berhenti. Ragu. Mundur.Rudi tahu itu bukan karena keberanian.Itu karena rasa takut.Dan rasa takut, pikir Rudi, selalu bisa dimanfaatkan.Tapi ia juga sa

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 28 : Pertemuan yang Menentukan

    Yanti membaca pesan itu berulang kali.Bukan karena tak paham isinya, tapi karena terlalu sedikit yang bisa dipahami.Yan, kita perlu bertemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.Tidak ada penjelasan.Tidak ada petunjuk.Justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap kosong ke arah jendela. Pagi terasa terlalu terang untuk perasaan yang belum selesai semalam. Tubuhnya masih mengingat ketakutan itu—tangan Rudi, teriakannya sendiri, dan wajah Herman yang berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Kemarahan itu.Brutal. Melindungi. Menakutkan.Yanti menelan ludah.Jika ia pergi menemui Eko…Jika Herman tahu…Kemarahan itu bisa saja beralih arah.Bukan kepada Rudi.Bukan kepada orang luar.Tapi kepada orang yang paling dekat.Ia melirik ke arah kamar. Herman masih tertidur. Wajahnya tenang, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa. Dan ketenangan itu justru membuat Yanti ragu.Apa yang sebenarnya ingin Eko bicar

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 27 : Rencana Matang Eko

    Herman menutup pintu perlahan setelah memastikan Rudi benar-benar pergi.Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya teratur.Ia mendekati Yanti yang duduk meringkuk di sudut sofa. Bahunya naik turun, wajahnya pucat, matanya kosong seperti belum benar-benar kembali ke ruangan itu.“Sayang… kamu nggak apa-apa?”suara Herman terdengar lebih rendah dari biasanya. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan kendali.Ia menarik Yanti ke dalam pelukannya. Terlalu cepat. Terlalu rapi.Yanti menempelkan wajahnya ke dada suaminya, menangis tanpa suara.“Aku takut… sangat takut,” ucapnya terbata, tubuhnya masih bergetar.“Tenang,” balas Herman sambil mengusap rambut Yanti.“Sekarang semuanya sudah selesai. Nggak akan ada apa-apa lagi.”Kalimat itu terdengar seperti janji.Tapi di telinga Yanti, itu terdengar seperti keputusan sepihak.Tangannya yang tadi menenangkan kini terasa kaku.Tidak hangat. Tidak marah. Tidak juga lega.Yanti menarik napas dalam-dalam.Ada sesu

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 26 : Kemarahan Herman

    Eko mematikan layar ponsel itu, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ruangan kosnya terasa sempit malam itu, seolah udara ikut menekan dadanya. Benda itu—sekecil apa pun bentuknya—mengandung terlalu banyak kehidupan orang lain.Ia tidak langsung tidur.Eko berjalan mondar-mandir, menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi tanpa benar-benar dihisap. Pikirannya berputar, bukan tentang apa yang sudah terjadi, tapi tentang apa yang akan terjadi setelah ini.Ia kini tahu terlalu banyak.Rudi bukan hanya menyimpan satu kesalahan. Ia mengoleksi dosa orang lain dengan rapi, terstruktur, hampir profesional. Setiap foto, setiap potongan percakapan, disimpan bukan untuk dipakai sekaligus, tapi sebagai c

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 25 : Tabir yang Mulai Terungkap

    Kamar terasa lebih sempit dari biasanya.Eko duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Ponsel itu kembali berada di tangannya. Kali ini ia tidak tergesa. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada justru kehati-hatian, seperti seseorang yang sadar setiap sentuhan bisa memicu sesuatu yang lebih besar.Ia membuka folder lain.Nama foldernya singkat. Tidak mencolok. Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.Isinya berbeda.Bukan foto-foto seperti sebelumnya. Lebih tenang. Lebih… personal. Potongan percakapan. Tangkapan layar pesan. Beberapa foto yang diambil di tempat umum—restoran, parkiran kantor, sudut lobi hotel yang terlihat biasa bagi orang lain.Eko mengerutkan k

  • Rahasia di Rumah Kos   bab 24 : yanti Bukan Korban Satu - Satunya

    Kamar Eko sunyi.Lampu meja menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya dan satu benda yang sejak tadi terasa lebih berat dari berat aslinya: ponsel itu.Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar hitam beberapa detik sebelum akhirnya menyalakannya.Tidak ada sandi yang rumit.Rudi selalu merasa terlalu pintar untuk jatuh.Begitu layar terbuka, Eko langsung paham satu hal penting—Rudi bukan orang bodoh.Ini bukan ponsel utama.Tidak ada chat dengan istri.Tidak ada panggilan keluarga.Tidak ada jejak kehidupan normal.Yang ada hanyalah folder-folder tersembunyi. Nama generik. Pola pengamanan sederhana tapi disengaja.Satu per satu Eko membukanya.Foto.Banyak foto.Sudut yang diambil diam-diam. Waktu yang jelas bukan kebetulan. Ada pola, ada kesengajaan, ada kesabaran yang menjijikkan.Bukan hasil satu malam. Ini hasil pengintaian.Eko menghembuskan napas pelan.“Pantas saja,” gumamnya.Rudi menyimpan semuanya di sini.Ponsel khusus. Dunia kotor yang terpisah rapi dari kehidupan rumah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status