Share

Rahasia di Tempat Pijat Desa
Rahasia di Tempat Pijat Desa
Penulis: Richy

Bab 1

Penulis: Richy
Namaku Jane. Setelah lulus dari sekolah kejuruan, aku tidak bisa menemukan pekerjaan dan terus tinggal di rumah.

Ibuku melihat keadaan itu dan sangat khawatir, lalu memaksaku pergi belajar keterampilan dari Paman Robby.

Paman Robby adalah orang terkenal di desa. Dia membuka sebuah klub mewah di kota dan cukup banyak orang di desa yang mengirim putri mereka ke sana untuk belajar pijat. Kabarnya, yang paling sedikit pun bisa menghasilkan 40 juta.

Aku memiliki wajah yang masih muda dan segar, dengan tubuh yang sangat menarik. Sepasang dadaku yang besar tampak bergelombang, bahkan bergoyang-goyang saat aku berjalan.

Apalagi kedua kakiku yang panjang. Jika mengenakan stoking hitam, bisa membuat para pria terpikat dan kehilangan akal.

Namun aku justru lama tinggal di rumah dan hampir tidak pernah keluar rumah.

Ibuku merasa sangat kesal dan berkata, “Kamu benar-benar menyia-nyiakan tubuh sebagus ini!”

Ketika Paman Robby kembali ke desa kali ini, ibu menarik paksa diriku ke hadapannya dan memohon agar dia membawaku untuk belajar pijat.

“Kak Robby, tolong bawa putriku untuk belajar pijat, ya?” kata ibuku sambil memegang kedua tangannya, dan hampir saja berlutut.

Paman Robby menatap tubuhku dari atas ke bawah, tatapannya seolah memiliki sentuhan nyata yang mengusap dada depan dan pinggulku. Aku menyusutkan tubuhku dengan canggung. Aku merasa tatapan itu seakan ingin membakar pakaian yang kupakai hingga tembus, membuatku tidak punya tempat untuk bersembunyi di hadapan pria ini.

“Sedikit sensitif ya? Bagus.” Reaksiku yang masih polos tampak membuatnya sangat puas. “Dilatih sedikit saja sudah bisa langsung bekerja.”

Ibuku tersenyum lebar lalu segera mendorongku ke arah Paman Robby sebelum berbalik pergi.

Paman Robby menepuk bahuku dan membuka pintu kursi penumpang. “Kalau kamu mau ikut denganku, masuklah.”

“Tetapi Jane, setelah ikut denganku kamu harus patuh. Apa pun yang terjadi, kamu harus menurutiku, mengerti?”

Jelas itu sebuah perintah, tetapi ketika mendengarnya tubuhku justru gemetar, bahkan merasa sedikit berdebar.

Akhirnya aku masuk ke dalam mobil dan menarik-narik ujung bajuku dengan canggung.

“Pa … Paman Robby, aku tidak bisa apa-apa. Apa aku benar-benar bisa bekerja dengan baik di sana?”

“Tenang saja,” kata Paman Robby. Satu tangannya memegang setir dan tangan lainnya mengusap pahaku pelan.

“Kami punya pelatihan pra-kerja gratis. Kami akan memberimu pelatihan desensitisasi seluruh tubuh dan setelah latihan itu selesai, kamu sudah bisa mulai bekerja.”

Telapak tangannya lebar dan kuat. Aku belum pernah disentuh pria di bagian pangkal paha, di bagian bawah terasa geli, seperti ada arus listrik yang merangsang.

“A … apa maksudnya pelatihan desensitisasi itu?” Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan rasa geli di tubuhku.

Tangan Paman Robby terus mengusap pahaku, bahkan sempat mencubitnya sedikit.

“Seperti sekarang ini … aku akan membantumu menguji tingkat sensitivitasmu dulu.”

Selesai berbicara, tangan kanan Paman Robby membuka ritsleting celanaku. Jari-jarinya hanya terpisah oleh satu lapis tipis celana dalam dari bagian pribadiku.

Aku terkejut dan refleks mundur sedikit.

Paman Robby berhenti sejenak. “Ini juga bagian dari latihan, Jane. Kalau yang seperti ini saja kamu tidak tahan, turunlah dari mobil.”

“Kamu masih ingat apa yang sudah kamu janjikan padaku, kan?”

Aku terdiam sejenak, mengingat kembali sentuhan yang menggosok luar celana dalamku barusan. Meskipun terasa asing, tetapi … aku tidak membencinya.

Aku menggigit bibirku dan pada akhirnya tetap mengangguk.

Melihatku setuju, tangan itu dengan terampil membuka ritsleting celanaku, lalu seluruh telapak tangannya diletakkan di atas celana dalamku.

Rasa malu dan gugup langsung memenuhi hatiku karena disentuh seperti itu.

Seumur hidupku, aku belum pernah disentuh pria seperti ini. Ternyata perasaan itu … bisa senyaman ini ….

Mmhh ….

Telapak tangan Paman Robby terasa sangat lembut.

Bagian perut bawahku terasa penuh dan hangat, seolah ada api yang terus-menerus merangsang sarafku.

Telapak tangan Paman Robby mulai menggosok dengan lembut, lalu menekan perlahan.

Ah … nyaman banget, kenapa bisa segatal ini .…

Rasanya seluruh pori-pori tubuhku terbuka dan dengan rakus menikmati sensasi itu.

Perasaan ini sangat asing, padahal hanya sentuhan biasa, tetapi aku sudah hampir kehilangan kendali.

Aku menggeliatkan pinggangku dengan gelisah, entah aku ingin menjauh … atau justru menginginkan lebih.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 7

    Tetapi aku hanya ingin memperlihatkannya dan tidak memberikan semuanya kepada ibuku. Aku ingin menyisakan uang untuk membeli perlengkapan sehari-hari.Namun siapa sangka, ibuku langsung tidak mau melepaskannya. Dia berteriak padaku, “Kamu itu putriku, aku sudah membesarkanmu bertahun-tahun, uangmu semuanya milikku!”Apapun yang kukatakan, ibuku tetap tidak memberi uang itu padaku.Ini juga membuatku sadar, kalau punya uang sebaiknya disimpan sendiri dan jangan diperlihatkan sembarangan, terutama kepada orang tua sendiri.Kata orang, hewan pun tidak memakan anaknya, tetapi kadang manusia bisa lebih kejam daripada hewan.Belum ada sehari di rumah, aku sudah memutuskan kembali ke kota. Aku tidak membawa uang sepeser pun, bahkan untuk ongkos transportasi.Akhirnya, aku meminjam sejuta dari Paman Robby agar punya ongkos untuk kembali ke kota.Saat aku kembali, Paman Robby tidak hanya membelikanku pakaian yang bagus, tetapi juga mengajakku makan besar. Aku sadar bahwa kadang Paman bisa leb

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 6

    Mata Paman Robby langsung berbinar. Ia melambaikan tangannya dan menyuruhku duduk di pangkuannya. “Aku tidak menyangka kamu begitu perhatian, tahu cara menghargai bos.” Paman Robby mencubit hidungku dan membuatku merasa geli. “Terima kasih Paman, kalau tidak aku tidak akan tahu dunia di luar begitu indah.”Paman Robby sangat senang mendengarnya. Aku meletakkan satu tangan di antara kakinya dengan lembut, menyentuh alat kelaminnya dan menggosoknya perlahan.Paman Robby segera terangsang, aku yang duduk di pangkuannya sangat bisa merasakan sesuatu menekan tubuhku.“Paman, kamu pasti lelah bekerja. Biarkan aku melayanimu.”Paman Robby dengan senang hati menurutinya, dan membawaku ke sebuah ruangan kosong.“Biarkan aku merasakan teknikmu,” katanya sambil berbaring nyaman di tempat tidur. Aku membuka kancing bajunya dan perlahan melepaskan pakaiannya. Berdasarkan teknik Kak Lisa, pertama-tama aku menuangkan minyak pijat ke tubuh Paman, lalu perlahan menekan dan memijatnya. “Bagaimana

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 5

    Pelanggan itu terangsang oleh godaannya dan tanpa ragu setuju untuk memperpanjang waktu. Kak Lisa menatapku dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Di bidang ini, jika ingin menghasilkan uang, kita harus membuat pelanggan memperpanjang waktunya.”Aku berdiri di samping, mengamatinya dengan kebingungan. “Pelajarilah,” kata Kak Lisa, dia lalu membungkuk dan menjulurkan lidahnya. Menyentuh punggung pelanggan dengan lembut seperti capung yang menyentuh permukaan air.Gerakan ini persis seperti yang Paman Robby lakukan padaku kemarin. Ternyata ini adalah layanan tambahan waktunya. Pelanggan itu berbalik, dan lidah Kak Lisa berputar-putar di sekitar dadanya. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa jubah mandinya perlahan-lahan membentuk tonjolan.Aku pun terangsang, ingin mengangkat dan melihat apa yang ada di bawahnya. Setelah layanan dada selesai, Kak Lisa meluncur ke bagian bawah tubuhnya, dan menggunakan dadanya yang lembut menenangkan tonjolan pelanggan itu. Tonjolan itu semakin membesar

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 4

    “Ahhhh ....” Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Penetrasi kasar Paman Robby membuatku sedikit kesakitan. Rasa sakit itu perlahan memudar seiring dengan gesekan Paman Robby, dan berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa, seolah sedang berada di lautan bunga.Aku merasa begitu nyaman hingga ingin pingsan.Inikah rasanya bersama seorang pria? Pantas begitu banyak wanita yang mendambakan pria.Aku pun mulai bertanya-tanya kehidupan seperti apa yang kujalani selama ini. Rasanya aku ingin menjalani pelatihan desensitisasi seperti ini bersama Paman Robby setiap malam.Sementara Paman Robby terus meneriakan rasa kenikmatan.Dia terus berkata, “Kamu benar-benar luar biasa. Aku belum pernah merasakan yang seketat ini, lebih ketat dibandingkan para gadis di tempat kami.”Paman Robby terus melakukannya selama tiga jam penuh. Setelah itu dia menjauh dariku dengan tubuh lemas dan perlahan mengenakan pakaiannya kembali.Dia bahkan meremas dadaku sekali lagi, seolah masih menikmati sensasi t

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 3

    Aku memegangnya di tanganku, teksturnya halus seperti sutra.“Ganti di sini?” Tubuhku gemetar, rasanya jantungku hampir melompat keluar.Paman Robby menatapku tanpa berkedip, aku jadi agak malu.“Ini juga bagian dari latihan. Kamu harus menampilkan dirimu,” katanya pelan. “Lagipula tubuh Jane sangat cantik, tidak perlu malu menunjukkannya.”Aku pun melepaskan pakaianku dengan malu-malu. Di bawah tatapan terang-terangan Paman Robby, aku menanggalkannya hingga hanya tersisa pakaian dalam.Tatapannya jatuh pada setiap bagian kulitku, rasa panas itu membuatku begitu gugup hingga hampir pusing.Aku sudah selesai mengganti pakaianku. Seragam ketat itu membentuk dadaku sehingga terlihat sangat penuh dan bulat, seperti dua buah roti besar.Pinggulku juga tegap dan terangkat tinggi, dipadukan dengan pinggang yang ramping, membuat tubuhku terlihat seperti vas bulat.Ujung kakiku masuk ke dalam stoking hitam panjang yang perlahan membungkus kedua kakiku, lalu dipadukan dengan sepatu hak tinggi be

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 2

    Paman Robby segera mengaitkan jari tengahnya dan perlahan menggeserkannya sepanjang celah itu.Seluruh sel di tubuhku terasa seperti akan meledak, tubuhku tak kuasa menahan diri untuk tidak gemetar, bahkan dari tenggorokanku keluar napas terengah yang lembut.Wajahku memerah seperti buah persik.Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku meningkat dengan liar.Aku hampir tidak bisa menahannya lagi. Kepalaku bersandar kuat di kursi, kedua tanganku menopang di atas jok. Perut bawahku mendorong ke depan, menyesuaikan dengan telapak tangan Paman Robby dan sedikit bergerak naik turun.Tangan kiri Paman Robby memutar setir. Mobilnya berguncang sedikit dan telapak tangannya menekan perut bawahku lebih kuat. Rasa geli di tubuhku hampir mencapai puncaknya.Saat ini, Paman Robby mengulurkan jarinya, mengait tepi celana dalamku dan menggesernya dengan lembut.Bagian paling rahasiaku pun terbuka di bawah cahaya, aku merasa semakin malu dan rasa panas itu semakin membara.Angin sejuk dari jendela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status