Short
Terjebak Di Pegunungan Salju Bersama Om Asing

Terjebak Di Pegunungan Salju Bersama Om Asing

Oleh:  DixieTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
8Bab
11.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“Om, di sini rasanya aneh sekali… mulutku sampai terasa asam….” Terjebak di tengah badai salju yang membeku, demi mencari kehangatan, aku menyusup ke dalam pelukan om yang ikut terjebak bersamaku. Mulutku dipenuhi oleh benda yang begitu besar, aroma hormon yang menyengat membuat kepalaku pening, sementara air liur yang hangat perlahan mengalir dari sudut bibirku. Telapak tangan om yang kasar mengusap kulitku, meremas bagian dadaku yang penuh. Di tengah cuaca dingin yang membeku ini, dia terengah-engah dan dengan kasar menekan bagian belakang kepalaku, tubuhnya bergetar hebat karena sangking nikmatnya. “Rona sayang, ayo dijilat lagi. Biar nutrisinya keluar lebih banyak. Kalau nggak, kita berdua bisa mati membeku di dalam ruangan ini.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Namaku Rona. Pada liburan pertama setelah masuk kuliah, begitu sampai di rumah, aku langsung tak sabar memesan pelatih kelas atas dan naik pesawat pribadi menuju pegunungan salju yang sangat dingin.

Mendaki gunung salju adalah hobi terbesar dalam hidupku.

Namun, aku sama sekali tak menyangka kalau diriku akan mengalami kecelakaan kali ini.

Baru dua jam yang lalu, badai salju yang datang tiba-tiba memisahkan aku dan pelatih.

Tepat saat aku hampir terkubur oleh badai salju dan napasku nyaris sekarat, seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai buruh pencari tanaman di pegununganlah yang menyelamatkanku.

Kebetulan, dia juga tersesat.

Di dalam sebuah rumah kecil yang sempit dan bobrok, om itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyalakan api unggun.

Aku menghembuskan napas hangat ke tangan, terus mendekat ke arah sumber api.

Namun, saat melihat sekeliling ruangan yang bocor dan kemasukan angin, hatiku pun terasa takut.

“Om, kita nggak akan mati membeku kalau tinggal di sini?

Om itu menghela napas, lalu duduk di sampingku sambil menghangatkan diri di dekat api dan membongkar barang-barang di dalam tas ranselnya. Dia menjawab, “Bertahanlah sebentar, ini masih jauh lebih baik daripada berada di tengah padang salju.”

Suhu api unggun sangat panas, melelehkan semua tumpukan salju di bajuku. Hanya dalam hitungan beberapa kali napas, seluruh tubuhku pun basah kuyup.

Rasa dingin yang menusuk tulang kembali menyerang, menyelimutiku sepenuhnya.

Wajahku pucat, tubuhku terus gemetar hebat. Aku pun reflek merapatkan baju basah yang melekat di tubuhku.

Melihat hal itu, om langsung membentak.

“Kamu harus lepas semua bajumu. Kalau nggak, biarpun di depan api unggun, di tengah cuaca ekstrim begini kamu nggak akan bisa bertahan melewati malam ini.”

Mendengar itu, aku langsung membelalakkan mata dan menatap pria di hadapanku.

Om itu berusia sekitar empat puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dan masih terlihat ototnya samar-samar.

Menyuruhku melepaskan pakaian di depannya adalah hal yang sangat memalukan.

Namun, di hadapan hidup dan mati, aku tak bisa memedulikan hal lain lagi.

Pakaian yang basah kuyup diletakkan di dekat api unggun. Aku menutupi tubuhku yang telanjang bulat. Dada berukuran 36D yang tak terhalang apapun bergerak naik turun seiring dengan hembusan napasku.

Satu lengan saja bahkan tak cukup untuk menutupinya, bagian yang lembut itu terus menyembul keluar.

Aku gemetar, merasakan tatapan membara dari om yang tertuju pada tubuhku, seolah-olah pandangan itu bisa melelehkanku.

Sebagai perempuan yang belum pernah dilihat tubuhnya oleh pria manapun, di lingkungan seperti ini, malah tumbuh perasaan yang tak biasa dalam diriku.

Bukannya tak pernah diam-diam melihat orang tuaku bermesraan di malam hari, aku tentu paham urusan orang dewasa.

Sambil menjilati bibir, aku memberanikan diri untuk memperhatikan om dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Om duduk bersila di lantai, matanya menatapku lekat-lekat. Dari dalam matanya terpancar gejolak gairah yang membara, bahkan di antara kedua kakinya terlihat tonjolan yang sangat besar.

Aku tersentak dan tubuhku bergetar semakin hebat.

“Jangan takut, nona. Aku nggak akan menyakitimu. Aku hanya….”

Mungkin menyadari arah pandangannya sendiri, om pun merasa tak enak hati dan memalingkan wajahnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kaos dalam berwarna putih dari dalam tasnya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status