Share

Bab 2

Penulis: Richy
Paman Robby segera mengaitkan jari tengahnya dan perlahan menggeserkannya sepanjang celah itu.

Seluruh sel di tubuhku terasa seperti akan meledak, tubuhku tak kuasa menahan diri untuk tidak gemetar, bahkan dari tenggorokanku keluar napas terengah yang lembut.

Wajahku memerah seperti buah persik.

Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku meningkat dengan liar.

Aku hampir tidak bisa menahannya lagi. Kepalaku bersandar kuat di kursi, kedua tanganku menopang di atas jok. Perut bawahku mendorong ke depan, menyesuaikan dengan telapak tangan Paman Robby dan sedikit bergerak naik turun.

Tangan kiri Paman Robby memutar setir. Mobilnya berguncang sedikit dan telapak tangannya menekan perut bawahku lebih kuat. Rasa geli di tubuhku hampir mencapai puncaknya.

Saat ini, Paman Robby mengulurkan jarinya, mengait tepi celana dalamku dan menggesernya dengan lembut.

Bagian paling rahasiaku pun terbuka di bawah cahaya, aku merasa semakin malu dan rasa panas itu semakin membara.

Angin sejuk dari jendela mobil bertiup masuk, membuat seluruh tubuhku menggigil.

Paman Robby mengikuti celah itu, jari tengahnya perlahan masuk, menyentuh bagian yang paling lembut dan sensitif.

Ah, seluruh tubuhku hampir tidak sanggup menahannya. Ini pertama kalinya seseorang menyentuhku seperti ini, rasa geli itu hampir menembus tubuhku. Seolah semua sel di tubuhku meledak dan menimbulkan sensasi yang sangat nikmat.

Ja … jangan … mmhh … Paman Robby, di sana rasanya sangat penuh,” ucapku dengan susah payah, napasku terengah-engah.

Ini juga pertama kalinya aku mengeluarkan suara yang begitu penuh hasrat, bahkan aku sendiri pun terkejut.

Paman Robby tertawa.

“Ini pertama kalinya kamu merasakan perasaan seperti ini?”

Dia menarik kembali tangannya dan meletakkannya di setir, sementara di jarinya ada cukup banyak cairan yang menempel.

Aku pun kehilangan tenaga untuk menopang tubuhku dan bersandar di kursi dengan wajah merah merona.

“Benar ….” jawabku agak malu, tidak berani melihat tangannya yang kotor karenaku.

Suaranya lembut, membujukku untuk berbicara, “Bagaimana rasanya?”

“Mmhh … hah … aku merasa … aneh … tetapi … masih ingin ….”

Dengan wajah memerah, aku tetap jujur mengatakan perasaanku.

Dia tersenyum kecil. “Setelah diuji barusan, tubuhmu terlalu sensitif. Setelah sampai di tempatnya, aku akan membantumu melakukan latihan desensitisasi khusus.”

Aku bergumam pelan, sementara hatiku sudah sangat gelisah.

Paman Robby kembali fokus menyetir. Setelah disentuh seperti itu, sensasi di tubuhku masih belum hilang.

Rasa geli yang menembus hingga ke tulang itu masih terus menggerogoti perasaanku.

Aku meniru seperti yang dilakukan Paman Robby, perlahan mengait celana dalamku sendiri dan mengulurkan jari tengahku .…

Seumur hidupku, aku hanya pernah mendengar teman-temanku bercerita tentang hal seperti ini, tetapi belum pernah mencobanya sendiri. Aku penasaran seperti apa rasanya.

Aku pun menutup mata dengan gugup, jari telunjuk tangan kananku seperti seekor belut yang bergerak perlahan mencoba masuk ke dalam.

Tubuhku seolah sudah siap menyambut sensasi yang lebih kuat.

Tapi sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku, suara Paman Robby terdengar.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Karena terkejut oleh tindakannya yang mendadak, aku segera menarik tanganku kembali.

“A … aku sedang melakukan latihan desensitisasi sendiri.” Aku menggigit bibirku, malu mengakui bahwa aku menginginkan lebih, jadi hanya mencari alasan.

Paman Robby menepuk pahaku. “Pertahankan perasaan itu, tahan sebentar … setelah sampai, aku akan mengajarimu sendiri.”

Melihat sisi wajah Paman Robby yang tampan, aku sudah mulai tidak sabar.

Tak lama kemudian, kami sampai di tempat milik Paman Robby.

Itu adalah sebuah klub besar dengan dekorasi yang sangat mewah.

Dia membawaku masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi kabut tipis, lalu mengeluarkan satu set seragam dan menyuruhku memakainya.

“Mulai sekarang ini adalah seragam kerjamu. Gantilah.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 7

    Tetapi aku hanya ingin memperlihatkannya dan tidak memberikan semuanya kepada ibuku. Aku ingin menyisakan uang untuk membeli perlengkapan sehari-hari.Namun siapa sangka, ibuku langsung tidak mau melepaskannya. Dia berteriak padaku, “Kamu itu putriku, aku sudah membesarkanmu bertahun-tahun, uangmu semuanya milikku!”Apapun yang kukatakan, ibuku tetap tidak memberi uang itu padaku.Ini juga membuatku sadar, kalau punya uang sebaiknya disimpan sendiri dan jangan diperlihatkan sembarangan, terutama kepada orang tua sendiri.Kata orang, hewan pun tidak memakan anaknya, tetapi kadang manusia bisa lebih kejam daripada hewan.Belum ada sehari di rumah, aku sudah memutuskan kembali ke kota. Aku tidak membawa uang sepeser pun, bahkan untuk ongkos transportasi.Akhirnya, aku meminjam sejuta dari Paman Robby agar punya ongkos untuk kembali ke kota.Saat aku kembali, Paman Robby tidak hanya membelikanku pakaian yang bagus, tetapi juga mengajakku makan besar. Aku sadar bahwa kadang Paman bisa leb

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 6

    Mata Paman Robby langsung berbinar. Ia melambaikan tangannya dan menyuruhku duduk di pangkuannya. “Aku tidak menyangka kamu begitu perhatian, tahu cara menghargai bos.” Paman Robby mencubit hidungku dan membuatku merasa geli. “Terima kasih Paman, kalau tidak aku tidak akan tahu dunia di luar begitu indah.”Paman Robby sangat senang mendengarnya. Aku meletakkan satu tangan di antara kakinya dengan lembut, menyentuh alat kelaminnya dan menggosoknya perlahan.Paman Robby segera terangsang, aku yang duduk di pangkuannya sangat bisa merasakan sesuatu menekan tubuhku.“Paman, kamu pasti lelah bekerja. Biarkan aku melayanimu.”Paman Robby dengan senang hati menurutinya, dan membawaku ke sebuah ruangan kosong.“Biarkan aku merasakan teknikmu,” katanya sambil berbaring nyaman di tempat tidur. Aku membuka kancing bajunya dan perlahan melepaskan pakaiannya. Berdasarkan teknik Kak Lisa, pertama-tama aku menuangkan minyak pijat ke tubuh Paman, lalu perlahan menekan dan memijatnya. “Bagaimana

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 5

    Pelanggan itu terangsang oleh godaannya dan tanpa ragu setuju untuk memperpanjang waktu. Kak Lisa menatapku dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Di bidang ini, jika ingin menghasilkan uang, kita harus membuat pelanggan memperpanjang waktunya.”Aku berdiri di samping, mengamatinya dengan kebingungan. “Pelajarilah,” kata Kak Lisa, dia lalu membungkuk dan menjulurkan lidahnya. Menyentuh punggung pelanggan dengan lembut seperti capung yang menyentuh permukaan air.Gerakan ini persis seperti yang Paman Robby lakukan padaku kemarin. Ternyata ini adalah layanan tambahan waktunya. Pelanggan itu berbalik, dan lidah Kak Lisa berputar-putar di sekitar dadanya. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa jubah mandinya perlahan-lahan membentuk tonjolan.Aku pun terangsang, ingin mengangkat dan melihat apa yang ada di bawahnya. Setelah layanan dada selesai, Kak Lisa meluncur ke bagian bawah tubuhnya, dan menggunakan dadanya yang lembut menenangkan tonjolan pelanggan itu. Tonjolan itu semakin membesar

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 4

    “Ahhhh ....” Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Penetrasi kasar Paman Robby membuatku sedikit kesakitan. Rasa sakit itu perlahan memudar seiring dengan gesekan Paman Robby, dan berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa, seolah sedang berada di lautan bunga.Aku merasa begitu nyaman hingga ingin pingsan.Inikah rasanya bersama seorang pria? Pantas begitu banyak wanita yang mendambakan pria.Aku pun mulai bertanya-tanya kehidupan seperti apa yang kujalani selama ini. Rasanya aku ingin menjalani pelatihan desensitisasi seperti ini bersama Paman Robby setiap malam.Sementara Paman Robby terus meneriakan rasa kenikmatan.Dia terus berkata, “Kamu benar-benar luar biasa. Aku belum pernah merasakan yang seketat ini, lebih ketat dibandingkan para gadis di tempat kami.”Paman Robby terus melakukannya selama tiga jam penuh. Setelah itu dia menjauh dariku dengan tubuh lemas dan perlahan mengenakan pakaiannya kembali.Dia bahkan meremas dadaku sekali lagi, seolah masih menikmati sensasi t

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 3

    Aku memegangnya di tanganku, teksturnya halus seperti sutra.“Ganti di sini?” Tubuhku gemetar, rasanya jantungku hampir melompat keluar.Paman Robby menatapku tanpa berkedip, aku jadi agak malu.“Ini juga bagian dari latihan. Kamu harus menampilkan dirimu,” katanya pelan. “Lagipula tubuh Jane sangat cantik, tidak perlu malu menunjukkannya.”Aku pun melepaskan pakaianku dengan malu-malu. Di bawah tatapan terang-terangan Paman Robby, aku menanggalkannya hingga hanya tersisa pakaian dalam.Tatapannya jatuh pada setiap bagian kulitku, rasa panas itu membuatku begitu gugup hingga hampir pusing.Aku sudah selesai mengganti pakaianku. Seragam ketat itu membentuk dadaku sehingga terlihat sangat penuh dan bulat, seperti dua buah roti besar.Pinggulku juga tegap dan terangkat tinggi, dipadukan dengan pinggang yang ramping, membuat tubuhku terlihat seperti vas bulat.Ujung kakiku masuk ke dalam stoking hitam panjang yang perlahan membungkus kedua kakiku, lalu dipadukan dengan sepatu hak tinggi be

  • Rahasia di Tempat Pijat Desa   Bab 2

    Paman Robby segera mengaitkan jari tengahnya dan perlahan menggeserkannya sepanjang celah itu.Seluruh sel di tubuhku terasa seperti akan meledak, tubuhku tak kuasa menahan diri untuk tidak gemetar, bahkan dari tenggorokanku keluar napas terengah yang lembut.Wajahku memerah seperti buah persik.Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku meningkat dengan liar.Aku hampir tidak bisa menahannya lagi. Kepalaku bersandar kuat di kursi, kedua tanganku menopang di atas jok. Perut bawahku mendorong ke depan, menyesuaikan dengan telapak tangan Paman Robby dan sedikit bergerak naik turun.Tangan kiri Paman Robby memutar setir. Mobilnya berguncang sedikit dan telapak tangannya menekan perut bawahku lebih kuat. Rasa geli di tubuhku hampir mencapai puncaknya.Saat ini, Paman Robby mengulurkan jarinya, mengait tepi celana dalamku dan menggesernya dengan lembut.Bagian paling rahasiaku pun terbuka di bawah cahaya, aku merasa semakin malu dan rasa panas itu semakin membara.Angin sejuk dari jendela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status