เข้าสู่ระบบ"Ini dia. Kantor konsultan pajak terbesar di negeri ini. Kalau aku bisa diterima di sini, jangankan membayar kosan, cicilan utang rentenir bangsat itu pun pasti bisa kuatasi secara berkala. Aku tidak boleh gagal."
Citra berdiri di tengah lobi yang luas. Dia mengenakan kemeja putih polos dan rok hitam kerja yang sudah agak pudar warnanya, hasil pinjaman atau pakaian lama terbaiknya. Sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajah Citra pagi ini. Kini di bawah cahaya hangat matahari, wajahnya semakin cantik berseri. Walau hanya memakai riasan tipis, tapi dirinya lebih cantik di antara para karyawan kantor yang lalu lalang. Tangannya menggenggam map bening berisi CV dengan sangat erat hingga jemarinya memutih. Matanya menatap logo emas perusahaan itu, 'Sovereign Tax and Audit'. Citra berjalan menuju meja resepsionis dengan langkah tegap, menyembunyikan rasa nyeri yang sesekali masih terasa di pangkal pahanya akibat kejadian dua malam lalu. Sial! Entah seganas apa pria yang menyetubuhinya. Sudah dua hari, namun tubuhnya masih merasakan pegal dan nyeri. "Selamat pagi. Saya Citra Larasati, salah satu kandidat wawancara untuk posisi staf magang divisi audit pukul 09.00," ucap Citra dengan senyum manis di bibirnya. Resepsionis memeriksa komputer, lalu tersenyum formal. "Pagi, Mbak Citra. Silakan isi daftar hadir di sebelah sini. Setelah itu, Mbak bisa langsung menuju ruang tunggu di lantai 12 menggunakan lift di sebelah kanan." "Baik, terima kasih banyak." Resepsionis itu hanya tersenyum sebagai jawaban. Citra pun bergegas melangkah menuju lift yang di tunjuk, menekan tombol dinding lift menuju lantai 12. Saat lift terbuka di lantai 12. Dirinya tertegun. Di ruang tunggu lantai 12, suasana terasa mencekik. Ada sekitar sepuluh kandidat lain yang berpenampilan sangat modis dan membawa laptop mahal. Citra duduk di pojok, membuka-buka kembali cetakan materi akuntansi dan perpajakan terupdate. Seorang pelamar wanita di sebelahnya yang berpenampilan glamor dengan tas bermerek, melirik Citra dari atas ke bawah sambil berbisik kepada teman di sebelahnya, namun sengaja terdengar. "Hari gini masih ada ya yang bawa materi cetak? Kuno banget. Lagian, kudengar saingan kita lulusan luar negeri semua. Yang modal nekat lulusan lokal mending mundur aja deh sebelum dipermalukan." Citra mendengar sindiran itu. Dia tidak menciut, melainkan menoleh dan menatap lurus mata gadis itu dengan senyum tipis yang dingin. "Sovereign Tax and Audit itu perusahaan yang bergerak di bidang ketepatan angka dan kepatuhan hukum, Mbak. Bukan agensi model. Jadi, yang diperiksa nanti itu isi kepala, bukan merek tas," jawab Citra dengan suara lantang. Wajah wanita itu memerah karena tersinggung. Jawaban Citra memang benar. Namun, harga dirinya lebih penting. "Heh! Apa maksudmu ya—" Belum sempat terjadi keributan, pintu ruang wawancara terbuka. Seorang HRD keluar membawa papan klip. Berbicara sambil membaca di papan klip itu. "Kandidat nomor urut tiga, Citra Larasati. Silakan masuk ke Ruang Wawancara A." Citra bangkit berdiri, merapikan roknya, dan menatap Gadis Glamor itu sekilas. "Permisi. Saya duluan." Wanita itu hanya mendengkus, sedangkan Citra melangkah melewatinya begitu saja. Di dalam Ruang Wawancara A. Tiga penguji senior dari divisi audit duduk di balik meja panjang. Di depan mereka, Citra duduk dengan tegak. Suasana tegang. Salah satu penguji, seorang pria berkacamata dengan nametag Hendra - Kepala Divisi Audit, menatap tajam ke arah CV Citra. "Citra Larasati. Track record akademik Anda memang sempurna. Tapi teori kampus sering kali tidak berguna di lapangan. Saya ingin menguji ketajaman analisis Anda." Suara Pak Hendra tenang namun penuh wibawa. Citra tersenyum tenang, melipat tangan di atas pangkuan. "Silakan, Pak. Saya siap." "Jika sebuah perusahaan multinasional kedapatan melakukan manipulasi laporan keuangan melalui metode transfer pricing antar-anak perusahaan di negara tax haven, bagaimana Anda sebagai auditor junior mendeteksinya? Ingat, waktu Anda hanya satu menit untuk menjelaskan." Dua penguji lainnya tersenyum sinis, menganggap pertanyaan ini terlalu makro dan rumit untuk level staf magang. Namun, Citra bahkan tidak berkedip. Otaknya yang seperti kalkulator langsung bekerja cepat melacak data. "Saya tidak butuh satu menit, Pak. Cukup tiga puluh detik," Tantang Citra enteng. Para penguji tersentak, saling pandang. Tiga puluh detik? Tak mungkin! Bahkan tingkat supervisor saja butuh waktu satu jam untuk menjawab pertanyaan rumit seperti ini. "Pertama, saya akan melakukan rekonsiliasi fiskal dengan membandingkan margin laba operasional anak perusahaan lokal terhadap rata-rata industri sejenis menggunakan metode Transactional Net Margin Method atau TNMM sesuai PMK Nomor 22 tahun 2020," jawab Citra dengan tegas. Jari Citra mengetuk meja pelan, seirama dengan kecepatan bicaranya yang terstruktur. "Kedua, saya akan membedah akun 'Utang Hubungan Istimewa'. Jika ditemukan skema thin capitalization, di mana rasio utang terhadap modal melebihi batas empat banding satu, maka dapat dipastikan ada biaya bunga terselubung yang sengaja digelembungkan untuk menggerus laba kena pajak di Indonesia. Dari dua celah angka itu, manipulasi mereka pasti runtuh." Ruangan seketika hening. Pak Hendra menurunkan kacamata, menatap Citra dengan pandangan takjub yang tidak bisa disembunyikan. Lembar penilaian langsung dicentang dengan nilai sempurna: A+. Pak Hendra tersenyum. Bukan senyuman yang manis, tapi senyuman yang hangat dan menatap Citra terkesan. "Jawaban yang sangat impresif, Citra. Pemahaman regulasi dan ketajaman angka Anda... luar biasa untuk seusia Anda." "Terima kasih, Pak. Angka tidak pernah berbohong, hanya manusia yang sering memanipulasinya." Para penguji hanya mengangguk tipis. Sepuluh menit kemudian. Citra keluar dari ruang wawancara dengan napas lega dan senyum kemenangan. Namun, senyumannya seketika hilang saat ponselnya mendapat sebuah pesan yang membuat napasnya tercekat.Devan terdiam, akan tetapi ekspresi wajahnya berubah. Hanya sedetik, selanjutnya kembali tenang. Citra melangkah sedikit lebih dekat. "Benarkah?” Devan berdecih pelan. “Jangan terlalu percaya diri.” Citra mengerutkan dahinya, mendengar decakan mengejek dari mulut Devan. Seperti biasa laki-laki selalu seperti ini! “Jangan mengira semua keputusan yang kuambil ada hubungannya denganmu.” Nada suara Devan terdengar datar, tetapi cukup menusuk. Devan kembali mengarahkan pandangannya pada layar laptop. Membiarkan keheningan sesaat mengisi suara ruang kerjanya malam ini. “Bonus mereka dibatalkan karena mereka melanggar peraturan perusahaan.” Citra masih berdiri di tempatnya, menatap Devan dan akhirnya membuka suaranya. “Melanggar peraturan?” “Ya.” Devan menjawab singkat seraya mengetukkan jarinya pelan di atas meja. "Jam kerja digunakan untuk bekerja. Bukan bermain ponsel lalu bergosip di grup perusahaan.” Devan melanjutkan dengan nada dinginnya. “Kalau mereka punya waktu u
TING! Suara notifikasi pesan beruntun terdengar memenuhi keheningan kamar utama vila Devan. Citra yang sedang menyisir rambutnya seketika menoleh ke arah benda pipih di atas meja rias. Dia membuka dan melihat siapa pengirim pesan beruntun tersebut. Dan ternyata pesan itu dari grup divisi 2. "Gila! Bonus kita batal dicairin?" "Aku sih dengernya gitu dari Pak Johan tadi sore sebelum pulang." "Kenapa begitu? Padahal itu bonus yang ku tunggu loh." "Aku gtw alasannya apa. Tapi kayaknya ada hubungannya sama Citra deh." Citra mengerutkan dahinya membaca namanya kembali disebut. Karenanya? Padahal dia saja tidak tahu jika bonus staf divisi 2 dibatalkan. "Kayaknya Pak Devan tahu kita ngomongin istrinya, makanya bonus kita dibatalin." "Dasar pengadu!" "Lumayan itu 10juta per orang, duh jadi gak bisa shopping deh." Citra tak tahu pasti apa penyebabnya, tapi yang dia tangkap dari isi percakapan grup itu adalah Devan melakukan itu untuknya. Benarkah? Sampai segitunya dia me
“Baik, Kak. Kalau begitu a—” KLIK! Ucapan Kaila terpotong saat suara pintu ruangan Devan terbuka dari luar. Citra masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Namun baru beberapa langkah, langkahnya langsung terhenti. Matanya tertuju pada Kaila yang masih berdiri di dalam ruangan Devan. Kaila? Kenapa dia masih berada di sini? Tidak! Lebih tepatnya, kenapa dia ada di ruangan Devan? Citra kemudian mengalihkan pandangannya kepada Devan. Dan seketika firasat buruk muncul dalam dirinya. Tatapan pria itu sangat dingin. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang membuat emosinya naik. Akan tetapi wajahnya masih terbalut topeng tenang. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Citra menelan ludah, menatap keduanya dengan bingung. “Ada apa?” Kaila menoleh kepada Devan, kemudian kepada Citra. Senyum manis kembali terpasang di wajahnya. "Kalau begitu aku pulang dulu, Kak.” Devan hanya mengangguk singkat. Tanpa menatap Kaila balik, sorot matanya masih tertuju pada Citra
Beberapa menit yang lalu... KLIK! "Kenapa lama sekali?" tanya Devan tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya. "Kak..." Devan mengernyit mendengar suara wanita, namun itu bukan suara Citra. Dia mendongak menatap pintu ruangannya, di sana berdiri seseorang– Adik sepupunya—Kaila. Kerutan di dahi Devan semakin dalam. Dia kira yang masuk ke dalam ruangannya adalah Citra, malah justru Kaila. "Kenapa kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu di kampus?" tanyanya, matanya masih menatap Kaila intens. Kaila tersenyum manis, melangkah mendekat ke meja kerja Devan. "Aku mampir sebentar kak, sekalian makan siang di kantin perusahaan Kakak. Gak papa kan?" jawabnya setelah dia berhenti tepat di depan meja. "Gak masalah. Terserahmu saja." Devan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Ada Kaila di sini tak merubah keadaan apapun. Kaila sendiri menatap memuja Kakak sepupunya, saat-saat seperti ini yang membuat visual Devan semakin tampan. Tatapan serius dan rahang
Citra kembali ke ruangannya. Rasa lapar yang tadi sempat dia rasakan kini telah hilang sepenuhnya. Dia duduk diam di kursi kerjanya. Tatapannya kosong menatap layar komputer yang masih menyala. Rasa sesak di dadanya semakin terasa menyakitkan. Kenapa semuanya berubah begitu cepat? Kemarin mereka masih menyapanya. Masih tersenyum kepadanya dan mendukungnya. Sekarang? Mereka bahkan tak segan menyebutnya wanita gila harta. Dari mana datangnya gila harta? Dia sendiri kerja mati-matian hanya untuk menutup hutang almarhum orang tuanya. Dan dia juga terpaksa menerima tawaran pernikahan dari Devan, hanya karena dia memikirkan keselamatan adiknya. Bukan semata-mata karena harta yang dimiliki Devan. Terlepas dari itu... mahkota yang dia jaga selama ini, tak sengaja direnggut oleh Devan. Citra menggigit bibirnya. Merasa tidak ada siapa-siapa di sana, air matanya akhirnya jatuh. Satu tetes. Disusul tetes berikutnya. Di depan semua orang, Citra harus terlihat tegar. Namun ketika sendiri
"Kenapa? Kamu takut merindukanku?" Devan mendelik, "Omong kosong!" "Cih! Aku hanya ke kantin." ucap Citra. "Apa kamu akan membiarkan ku mati kelaparan di sini?" Ekspresi Devan melunak seketika. Lalu tatapannya kembali tertuju pada dokumen yang masih harus dia kerjakan. "Jangan lama." kata Devan sambil terus membolak balikan kertas dokumen. Astaga lihat! Bolehkah Citra sekarang merasa percaya diri bahwa Devan memang takut merindukannya? Atau tak ingin jauh-jauh darinya? Jangan terlalu berharap dan besar kepala! Citra mendengus, "iya... Tuan CEO!" Nada bicaranya seperti sedang mengejek. Citra langsung pergi sebelum pria itu menyemprotkan kata-kata mutiaranya dari mulut menyebalkan. Devan yang melihat itu, dari tatapannya saja sudah dipastikan jika dia sedang berpikir. Citra mulai berani ya? Begitu sampai di kantin, Citra langsung mengambil nampan. Dia memilih beberapa makanan sederhana, lalu mencari tempat duduk. Namun baru beberapa langkah, langkah Citra tiba-tiba







