Beranda / Romansa / Rahim Sewaan / Bab 70 - ( Benang kusut )

Share

Bab 70 - ( Benang kusut )

Penulis: Nkpurna
last update Tanggal publikasi: 2025-09-03 22:49:30

"Dev, ini sudah sore. Aku harus pulang." Ujar Laura dengan perlahan.

"Baiklah, aku antar kamu pulang. " Ujar Devan tanpa ragu.

Laura menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, Dev, aku bisa naik taksi sendiri. Aku nggak enak jika terus merepotkanmu hari ini."

Bagaimana mungkin ia membiarkan Devan mengantarnya pulang. Jangan sampai ia mengetahui kalau sekarang ia tinggal di Villa milik Reno. Ia tak akan membiarkan Devan mengetahui hal itu.

"Ya ampun, Laura sayang. Sejak kapan aku merasa k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahim Sewaan   Bab 95 - ( Batas Sabar )

    Reno membawa Arini masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Raut wajahnya muram, matanya merah menahan emosi. Baru kali ini Arini melihat perubahan sikap suaminya yang sedang marah. Arini sampai bergidik dan berkali memohon ampun walau Reno tak menggubrisnya. Mobil berhenti di halaman rumah orangtuanya. Arini menghembuskan napas legas. Setidaknya, Reno tak membawanya ke kantor polisi sesuai ketakutannya. Namun belum sempat Arini merasakan tenang, Reno menyeretnya keluar dengan kasar. "Turun!" Selama lima tahun menikah, Arini baru melihat sifat arogan Reno. Ia tak pernah sekalipun mendapat perlakuan kasar seperti ini. "Reno, aku akan menjelaskan,," Belum sempat Arini berbicara, Reno dengan cepat menyelanya. "Cukup. Kita sudah bernegosiasi, namun kamu melewatkan kesempatan itu. " Mendengar ada keributan, Sofyan dan Feli bergegas keluar untuk memastikannya. "Ada apa ini?" Sofyan dengan tegas, mendekati mereka yang bertengkar di luar rumah.

  • Rahim Sewaan   Bab 94 - ( Membasmi Kuman )

    Saat berjalan, Keysa menarik Laura agar duduk di kursi taman yang tak jauh sana. "Kakak tunggu disini, aku akan segera kembali. " Keysa berbalik meninggalkan Laura yang masih diam tanpa ekspresi. Setelah beberapa saat, dia kembali dengan membawa sebotol air mineral ditangannya. "Kak Laura, minumlah dulu. " Laura menerimanya dan meninum sedikit air itu. Setelah merasa lebih baik, Laura baru membuka mulutnya. "Mengapa kamu tiba-tiba bisa ada disini?" Keysa tersenyum. "Aku mau mengunjungimu ke rumah Pak Johan. Tapi nggak sengaja melihatmu berjalan keluar, jadi aku terpaksa mengikutimu. " Laura menghembuskan napas pasrah. "Jadi kamu sudah mendengar semuanya?" Keysa mengangguk tanpa ragu. "Aku tak menyangka hidupku begitu rumit. Orang yang kupercaya dan kusayangi selama ini menancapkan duri begitu dalam. " Laura tersenyum getir. Pada akhirnya ia meluapkan kekesalannya dan tak ingin memendam lagi. "Aku mengerti. Ini nggak mudah bagimu. Tapi, alangkah baiknya jika

  • Rahim Sewaan   Bab 93 - ( Potongan Puzzle )

    Menjelang sore, Laura merasa bosan. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah teman lamanya, Dina. Rumah Dina tak jauh darisana. Hanya cukup berjalan kurang dari 100 meter dari rumah orangtuanya. Menimbang perut Dina terlihat sudah membesar beberapa waktu yang lalu, Laura mengira jika temannya pasti sudah menggunakan waktu cuti kerja. Atau paling tidak, hari Sabtu biasanya kantor Reno buka setengah hari. Laura lebih bersemangat, ia berjalan dengan wajah berseri, bersiap mendengar beberapa cerita yang telah ia lewatkan beberapa bulan ini. Baru saja Laura sampai di gerbang rumah Dina, ia melihat Lastri keluar dan menutup pintu rumahnya. Lastri mendongak saat menyadari ada seseorang yang memasuki gerbangnya. Ketika menyadari Laura yang berjalan ke arahnya, wajahnya menjadi menegang. Laura tersenyum, menyapa Lastri yang masih diam membeku. "Sore, Tante. Lama tidak bertemu." Laura mengulurkan tangannya, hendak menyalaminya. Lastri hanya diam dengan wajah yang masih d

  • Rahim Sewaan   Bab 92 - ( Pengalihan Isu )

    "Apartemen Centra? Hadiah ulang tahunku itu? Masih baik-baik saja. Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan hal yang pernah kamu kasih ke aku?" Tanya Arini mencoba tetap tenang. Reno menatapnya tajam, dia tidak menyela dan tidak bereaksi apapun. Matanya menyelidik, mencari kebenaran dimata manik hitam milik Arini. Melihat Reno tak menanggapi, Arini kembali melanjutkan. "Dan mengapa kamu bertanya perihal gedung tua milik Wijaya Group? Selama ini, kamu bahkan tidak mau aku mencampuri urusan keluarga Wijaya. Bukankah Papa akan marah jika aku ikut campur masalah perusahaan?" Arini kembali berkilah. Ia membalikkan keadaan. Kali ini ia seolah mendapat celah untuk menyuarakan rasa ketidakadilannya di keluarga Wijaya. Reno memang selalu meratukannya, selalu bersikap manis, dan bahkan selalu membelanya. Namun sedikit perlakuan keluarganya yang menolak keras Arini untuk ikut campur urusan perusahaan, masih berbekas di hati Arini. "Aku tidak bertanya tentang sikap Papa yang tegas melarangmu untuk

  • Rahim Sewaan   Bab 91 - ( Kekhawatiran menjadi Ancaman )

    Arini berusaha bersikap tenang. Semua orang yang melihatnya tak boleh mengira jika ia sedang tidak baik-baik saja. Arini segera beranjak untuk membersihkan diri. Ia ingin terlihat segar saat Reno pulang nanti. Sehingga ia memutuskan untuk naik ke lantai atas agar segera mandi. Barusaja Arini menaiki satu anak tangga, suara mobil datang memasuki halaman Villa, membuatnya reflek menoleh dan berhenti melangkah. "Reno? Aku fikir dia datang terlalu cepat. Apa karena perjalanannya tak ada hambatan dari luar kota itu, ya?" Arini bergumam pelan sambil membalikkan badan, ia hendak menghampiri untuk menyambut kedatangan Reno. Baru beberapa saat terdengar pintu mobil ditutup, suara langkah kaki panjang dan tegas terdengar mendekati pintu. Tanpa ketukan dan sapaan, Reno berjalan masuk begitu saja. Dan berhenti saat jarak antara dirinya dan Arini hanya sekitar satu meter saja. Meski Arini sedikit heran saat melihat Reno seperti sedang buru-buru, namun ia tepis rasa itu dengan menyapa

  • Rahim Sewaan   Bab 90 - ( Kekhawatiran Arini )

    Arini telah sampai di Villa satu jam sebelum jam makan siang tiba. Saat di mobil tadi, ia telah menghubungi Reno untuk memastikan sesuatu yang masih mengganjal tentang isi pesan yang masih menggantung tadi. Saat ditelepon tadi, Reno tak banyak bicara. Namun saat Reno mengajaknya bertemu dan makan siang bersama, kehawatirannya seakan menghilang begitu saja. Langkahnya menjadi sangat pasti. Arini merasa saat ini dunia masih ia genggam. Tak ada yang perlu ia khawatirkan, apalagi ditakutkan. Saat ia hendak memasuki pintu, Bi Ijah yang menyadari kedatangannya, dengan sigap membukakannya pintu. Arini melenggang masuk dengan langkah yang tegas, punggung yang lebih tegap, serta merasa percaya diri karena telah memenangkan sesuatu yang memuaskan hatinya waktu kemarin. "Siapkan masakkan yang spesial! Siang ini Reno akan makan siang disini." Ujar Arini tanpa menatap Bi Ijah yang berdiri tertunduk. "Baik, Non." Sebelum naik ke lantai atas, Arini merasa ingin mengetahui keadaan L

  • Rahim Sewaan   Bab 78 - Kembali tidur bersama

    Laura keluar dari kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia memasuki kamar mandi untuk membilas wajahnya setelah menangis sejadinya setelah meluapkan emosinya. Ia tak tahu kemana arah tujuan yang harus ia lakukan. Posisinya sungguh serba salah. Apa ia harus bertindak sebagai seorang sahabat

  • Rahim Sewaan   Bab 74 - ( Kekecewaan )

    "Nak Reno, apa yang terjadi?" Tanya Rina khawatir saat melihat raut wajah Reno. Mata Reno semakin berkaca, ia tak sanggup untuk berkata. Rina semakin mendekat, pergerakannya sedikit gusar, ia mendekat ke arah Reno untuk mendapat tanggapan atas kekhawatirannya. "Reno, kamu baik-baik saja, k

  • Rahim Sewaan   Bab 73 - ( Emosi Reno )

    "Apa Laura sudah cerita? Siapa yang telah melakukan penyekapan terhadapnya?" Tanya Johan setelah menyesap teh jahe hangat di meja makan. Rina tampak celingukkan, ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup dan merasa aman jika ia katakan pada suaminya ketika Reno masih berada di kama

  • Rahim Sewaan   Bab 71 - ( Kecewa dan Khawatir )

    Walau dengan bahasa yang halus sekalipun, sebagai seorang pria dewasa, Devan tahu betul bahwa Laura ingin ia segera pulang. Devan menatap Jefri yang duduk di sampingnya, dan Jefri membalasnya dengan anggukkan tipis. Walau merasa sedikit kecewa, namun Devan memahami, Laura butuh waktu sendiri untu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status