LOGIN"Jangan mendekat," bisik Aruna.
Ia mencengkeram pinggiran sprei tempat tidur dengan sangat erat. Keringat tipis yang mengalir di lehernya.Embusan angin malam yang masuk melalui celah jendela, membuat seluruh tubuhnya meremang."Obat itu memengaruhi pikiranmu, aku cuma mau bantuin kamu."Dante menghentikan langkah kaki tepat dua meter di depan Aruna, membiarkan bias cahaya bulan menyinari separuh wajahnya yang mengeras.Ia melepaskan sabuk zira, mDi kejauhan, cahaya Jantung Dunia menyala semakin terang. Di bawah langit yang perlahan berubah warna, kehidupan baru mereka akhirnya benar-benar dimulai.Kabut yang selama bertahun-tahun menutupi langit mulai menipis, menyisakan cahaya yang belum pernah Aruna lihat sejelas itu.Hari berganti minggu, lalu bulan. Rumput tumbuh di sepanjang jalan yang dahulu dipenuhi debu, sementara embun menempel di daun-daun setiap pagi. Sesekali, Aruna masih terbangun dan mencari langit kelabu yang dulu selalu menyambutnya, hanya untuk menemukan warna biru terbentang luas di balik jendela.Keenam bayinya tumbuh semakin besar. Mereka mulai duduk sendiri, merangkak ke mana-mana, lalu tertawa ketika salah satu dari mereka berhasil menarik kain meja hingga hampir menjatuhkan sesuatu. Suara riuh itu memenuhi rumah setiap pagi, membuat Aruna beberapa kali hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.Pagi itu, mereka berkumpul di beranda yang kini dipenuhi tanaman hijau. Malik meletakkan setumpuk laporan di
“Dari mana?”Aruna tertawa kecil. Ujung jarinya menyentuh kelopak hijau yang masih segar itu, berhati-hati agar tidak merusaknya. Angin mengibaskan beberapa helai rambut di pipinya, sementara aroma tanah basah memenuhi halaman yang dulu hanya dipenuhi debu dan asap.Aset 02 tidak menjawab. Ia menurunkan tangan, lalu meletakkan bunga itu di sisi keranjang bayi tanpa menyentuh tubuh kecil yang tertidur di dalamnya.Setelah itu, ia kembali berdiri di tempatnya, hanya beberapa langkah dari Aruna.“Kau sudah banyak berubah,” ucap Aruna pelan, matanya masih tertuju pada bunga itu. “Dulu kau tak akan peduli pada bunga, atau hal kecil apa pun.”Aset 02 mengikuti arah pandangnya. Jemarinya sempat bergerak, menyentuh ujung salah satu daun yang tumbuh di dekat kakinya. “Karena dulu aku tak tahu rasanya melihat sesuatu tumbuh… dan ingin ia tetap hidup.”Langkah kaki terdengar dari bawah beranda. Malik muncul sambil membawa setumpuk berkas yang bagian ujungnya sudah tertekuk. Ia menaiki tangga,
“Kita terkunci di sini… dan gas itu menyebar makin cepat.” Aset 02 menegakkan tubuhnya. Kabut putih telah merayap hingga pinggang, menyusup di antara kaki mereka dan membuat pandangan di seberang ruangan semakin kabur. Ia segera menarik Aruna mendekat, lalu merobek bagian bawah jubahnya dengan sekali sentakan. “Tahan napas,” bisiknya pelan sambil merobek ujung kain jubahnya, lalu melipat-lipat rapat menutupi hidung serta mulut Aruna. “Jangan hirup udara apa pun sampai kita cari jalan lain.” Aruna mencengkeram kain di depan wajahnya. Matanya beralih ke pintu yang masih terkunci, kemudian ke kabut yang terus meninggi. Aset 02 sudah berbalik dan menekan telapak tangannya ke panel darurat, tetapi lampu merah tetap berkedip tanpa perubahan. Di ruang Jantung Dunia, Eros memukul pinggiran pagar besi keras sekali hingga bunyi dentang bergema luas. Ia menatap indikator yang berubah merah perlahan, lalu membalikkan badan menatap Malik dan Dante. “Gas menyala, mereka nggak pu
“Karena kalau aku mati… kalian semua ikut hancur bersamaku.” Aset 02 bicara datar, tak ada nada naik turun. Tangannya tak melonggar sedikit pun dari leher Valeska. Matanya diam menatap tiap wajah penjaga yang kini menahan napas serempak. Lampu merah terus berkedip pelan sepanjang dinding. Bunyi peringatan halus berirama, naik turun tak berhenti. Tak satu pun berani melangkah maju atau menjangkau senjata di pinggang. “Balikin anak‑anakku sekarang,” desis Aruna, suaranya pecah namun tajam. Ia melangkah maju meski kakinya masih goyah. “Kau bilang mereka aman, bawa mereka ke sini!” Valeska tersedak, wajahnya merah padam, bibir bergetar berusaha bicara. Matanya melirik ke arah panel di sisi pintu lalu beralih tajam ke Aset 02. “Mereka… nggak ada di sini dipindahkan ke tempat terpisah.” “Ke mana?” potong Cilian cepat, melangkah berdiri di samping Aruna, bahunya menegang. “Bicara sekarang juga!" Di ruang terpisah jauh, Zen duduk lurus di depan susunan layar besar. Jari‑jarinya bergerak
Kelopak mata Aruna bergerak perlahan. Begitu terbuka, tangannya langsung meraba sisi ranjang yang kosong. Pandangannya beralih cepat ke sekeliling, mencari suara-suara kecil yang tadi memenuhi ruangan, tetapi yang tersisa hanya bunyi alarm dan langkah kaki yang bersahutan. “Anakku... mana mereka?” Aruna mencoba bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia menepis tangan yang hendak menahannya, lalu menarik selimut dan memandang ke balik ranjang seolah keenam bayinya mungkin tersembunyi di sana. “Mana anak-anak aku?” Napasnya semakin memburu. Jemarinya mencengkeram seprai sampai kusut, lalu tangannya berpindah ke lengan Cilian ketika tak menemukan satu pun dari mereka. “Jangan... jangan bilang mereka dibawa.” Cilian belum sempat menjawab ketika Aruna kembali meronta. Kakinya dipaksa menapak lantai, tetapi lututnya langsung kehilangan tenaga hingga tubuhnya nyaris ambruk. “Lepasin aku!” Tangannya terus memukul dada Cilian, semakin lemah setiap kali bergerak. Air mata membasahi
“Selama ini kalian yang menentukan siapa yang layak hidup.”Malik menurunkan kedua tangannya perlahan.Tatapannya berpindah kepada Dante yang masih berdiri di depan tuas merah. Kemudian kepada Eros yang tak sedikit pun menurunkan senjatanya, dan kembali menatap para petinggi Dewan.“Siapa yang terlalu lemah? Siapa yang terlalu banyak menghabiskan sumber daya? Siapa yang dianggap tidak memiliki masa depanm”Malik terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati hologram, seolah ingin memastikan seluruh wajah mereka terlihat jelas olehnya.“Sekarang coba rasakan bagaimana rasanya ketika nasib kalian berada di tangan orang lain.”Beberapa anggota Dewan tampak mulai beranjak dari tempat duduknya. Sebagian mencoba meninggalkan Ruang Sidang Pusat, sementara yang lain berteriak memberikan perintah.Malik hanya menggeleng kecil. Senyumnya kembali muncul.“Tidak perlu terburu-buru. Kalian masih punya waktu.”Ia melirik Dante. “Berapa lama, Dan?”Dante tidak menjawab. Tangannya tetap berada di atas tuas
"Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante. Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan. Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan. Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang me
"Berdiri, Aset 01! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan postur seperti binatang!"Suara Madam Valeska menggelegar, memecah kesunyian ruang latihan yang berdinding perak steril. Aruna tersentak. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam."Maaf, Madam," rintih Aruna, suaranya parau
"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarun
"Tanganmu terlalu lancang untuk ukuran seorang diplomat, Malik!"Suara berat dan serak itu memecah keheningan paviliun kaca. Langkah kaki yang kasar terdengar mendekat dari balik bayang-bayang pohon pakis raksasa.Aruna tersentak, langsung menarik dirinya menjauh dari jangkauan Malik. Jantungnya be







