Masuk"Jangan mendekat," bisik Aruna.
Ia mencengkeram pinggiran sprei tempat tidur dengan sangat erat. Keringat tipis yang mengalir di lehernya.Embusan angin malam yang masuk melalui celah jendela, membuat seluruh tubuhnya meremang."Obat itu memengaruhi pikiranmu, aku cuma mau bantuin kamu."Dante menghentikan langkah kaki tepat dua meter di depan Aruna, membiarkan bias cahaya bulan menyinari separuh wajahnya yang mengeras.Ia melepaskan sabuk zira, m"Kalau saya tidak mau?" tanya Aruna.Ia melangkah mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang kayu yang kokoh. Kedua tangannya meraba ke belakang, mencengkeram permukaan kayu kasar demi menopang kakinya yang mulai goyah.Dante menurunkan alat komunikasi militer di tangannya. Sepasang matanya yang gelap menatap Aruna tanpa ekspresi, sedingin dinding beton di sekitar mereka."Ini perintah Dewan Pusat, Aruna. Bukan pilihan," sahut Dante."Mau dijadiin kelinci percobaan lagi?" Aruna mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya. "Di Sektor 7 kemarin belum cukup?"Dante melangkah satu kali ke depan. Mantel tempur hitamnya yang tebal menyapu udara, membawa aroma mesiu dan debu tanah kering ke dalam kamar."Aset 02 dalam kondisi kritis. Valeska membutuhkan pembanding biologis sekarang," balas Dante.Aruna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan
"Keluar," ucap Dante.Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat udara di dalam kamar terasa berat. Dante tidak bergerak dari ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar dengan tubuh tegapnya.Zen tidak langsung bergerak dari kasur Aruna. Ia justru merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Dante dengan ujung bibir yang tertarik ke atas."Galak banget, Komandan," sahut Zen santai. "Baru juga mau reuni kecil-kecilan."Dante melangkah masuk ke dalam kamar. Sol sepatu boot militernya meninggalkan jejak debu kelabu di atas lantai kayu yang bersih.Aruna melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang. Tangannya meraba sprei di belakang tubuhnya, mencari tumpuan untuk tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin."Saya tidak akan mengulang perintah, Zen," desis Dante.Jarak di antara kedua pria itu kini hanya tersisa dua langkah. Dante berdiri menjulang, membuat sos
"Madam berencana mau ratain sektor bawah," bisik Zen.Langkah kakinya melambat di samping Aruna. Jubah sutra hitam yang ia kenakan menyapu lantai marmer putih yang dingin. Sepasang matanya terus bergerak menyusuri setiap celah beton di dinding koridor."Dia mau nyeleksi orang-orang nggak berguna bagi Dewan Pusat."Aruna menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Sol sepatunya berdecit nyaring di atas lantai marmer. Ia menatap Zen dengan dada yang naik turun dengan cepat."Dia manusia apa bukan sih?" tanya Aruna. "Enak banget main rata-ratain gitu aja."Zen meloloskan tawa pendek dari tenggorokannya. Rambut hitam lurusnya yang panjang bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis."Manusia Excel itu," sahut Zen. "Apa-apa berdasarkan data, statistik gitu aja terus.""Dia nggak inget umurnya kah?" gerutu Aruna. "Udah tua, bukannya tobat malah makin jadi."Malik yang berjalan di
"Lepaskan dia," ucap Zen. Suaranya tidak lagi menyisakan nada bercanda yang biasanya terdengar. Dia melangkah keluar dari lift, menghalangi jalan para penjaga berseragam hitam dengan tubuh rampingnya. Kedua penjaga itu melirik ke arah Dante, menunggu instruksi lebih lanjut tanpa melonggarkan cengkeraman pada lengan Aruna. Aruna meringis pelan saat merasakan perban di lengan kanannya semakin basah. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi. "Ini perintah langsung dari Madam Valeska, Zen," sahut Dante dingin. Pria bertubuh besar itu melangkah maju. Zen memicingkan matanya, menatap tetesan darah di lantai dengan sudut bibir yang melengkung sinis. Dia menarik napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah sutra hitamnya. "Aku tidak peduli pada wanita tua itu," balas Zen dengan n
"Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka. Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya tetap bertumpu santai di pinggang Aruna. Ia membalikkan tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. "Biarin aja Si Tukang Cuci Otak itu lihat," Zen melirik Malik dari sudut matanya dengan cengiran provokatif. "Dia kan cuma bisa manipulasi, nggak bisa bikin kamu senyum kayak gini." Malik yang berdiri dua langkah di belakang mereka hanya menatap Zen dengan wajah lempeng. "Tangannya baru dijahit, Zen. Kalau kamu rem
"Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan
"Kok kamu balik lagi?" tanya Aruna, suaranya memecah keheningan kamar steril setelah pintu kembali bergeser terbuka. Eros melangkah masuk dengan ragu, pandangannya langsung terkunci pada sosok pria berseragam militer lengkap yang berjalan tepat di belakangnya. "Kebetulan aku ketemu Komandan di d
Cilian berdiri, menarik ritsletingnya. "Grafik apa itu? Kenapa ada banyak sekali dan bertabrakan?" "Mana ku tau, grafiknya kacau gini." Zen mengetuk-ngetuk layar monitor. "Itu apa? Kenapa bisa?" Valeska berusaha memahami garis-garis yang bertabrakan satu sama lain. Tidak ada pembeda dari keti
"Aku hanya membalas budi pada Madam Valeska," sahut Zen santai dari balik pengeras suara. "Lagipula, dengan mengikuti permainannya, aku bisa mencicipi dan menikmati tubuhmu sepuasnya, bukan?" Aruna mengepalkan tinjunya erat-erat, matanya berkilat penuh amarah yang membakar dada. "Kamu pikir tubuhk
'Si Zen apa-apaan sih! Kenapa Dewan Pusat bisa tau secepat ini?' batin Aruna mengumpat habis-habisan dalam hati. Padahal mereka sudah sepakat bahwa setiap informasi terbaru harus dilaporkan ke Aruna terlebih dahulu, tapi Zen justru menusuknya dari belakang. Langkah Madam Valeska terhenti di depan







