LOGIN"Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka.
Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melon"Keluar," ucap Dante.Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat udara di dalam kamar terasa berat. Dante tidak bergerak dari ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar dengan tubuh tegapnya.Zen tidak langsung bergerak dari kasur Aruna. Ia justru merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Dante dengan ujung bibir yang tertarik ke atas."Galak banget, Komandan," sahut Zen santai. "Baru juga mau reuni kecil-kecilan."Dante melangkah masuk ke dalam kamar. Sol sepatu boot militernya meninggalkan jejak debu kelabu di atas lantai kayu yang bersih.Aruna melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang. Tangannya meraba sprei di belakang tubuhnya, mencari tumpuan untuk tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin."Saya tidak akan mengulang perintah, Zen," desis Dante.Jarak di antara kedua pria itu kini hanya tersisa dua langkah. Dante berdiri menjulang, membuat sos
"Madam berencana mau ratain sektor bawah," bisik Zen.Langkah kakinya melambat di samping Aruna. Jubah sutra hitam yang ia kenakan menyapu lantai marmer putih yang dingin. Sepasang matanya terus bergerak menyusuri setiap celah beton di dinding koridor."Dia mau nyeleksi orang-orang nggak berguna bagi Dewan Pusat."Aruna menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Sol sepatunya berdecit nyaring di atas lantai marmer. Ia menatap Zen dengan dada yang naik turun dengan cepat."Dia manusia apa bukan sih?" tanya Aruna. "Enak banget main rata-ratain gitu aja."Zen meloloskan tawa pendek dari tenggorokannya. Rambut hitam lurusnya yang panjang bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis."Manusia Excel itu," sahut Zen. "Apa-apa berdasarkan data, statistik gitu aja terus.""Dia nggak inget umurnya kah?" gerutu Aruna. "Udah tua, bukannya tobat malah makin jadi."Malik yang berjalan di
"Lepaskan dia," ucap Zen. Suaranya tidak lagi menyisakan nada bercanda yang biasanya terdengar. Dia melangkah keluar dari lift, menghalangi jalan para penjaga berseragam hitam dengan tubuh rampingnya. Kedua penjaga itu melirik ke arah Dante, menunggu instruksi lebih lanjut tanpa melonggarkan cengkeraman pada lengan Aruna. Aruna meringis pelan saat merasakan perban di lengan kanannya semakin basah. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi. "Ini perintah langsung dari Madam Valeska, Zen," sahut Dante dingin. Pria bertubuh besar itu melangkah maju. Zen memicingkan matanya, menatap tetesan darah di lantai dengan sudut bibir yang melengkung sinis. Dia menarik napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah sutra hitamnya. "Aku tidak peduli pada wanita tua itu," balas Zen dengan n
"Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka. Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya tetap bertumpu santai di pinggang Aruna. Ia membalikkan tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. "Biarin aja Si Tukang Cuci Otak itu lihat," Zen melirik Malik dari sudut matanya dengan cengiran provokatif. "Dia kan cuma bisa manipulasi, nggak bisa bikin kamu senyum kayak gini." Malik yang berdiri dua langkah di belakang mereka hanya menatap Zen dengan wajah lempeng. "Tangannya baru dijahit, Zen. Kalau kamu rem
"Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan
"Malik, sembunyi!" bisik Aruna panik, matanya bergerak liar mencari sudut ruangan yang aman. Malik tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan tangkas tanpa suara, ia meluncur ke bawah meja kayu panjang yang tertutup taplak tebal di dekat sofa. Aruna segera membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, membuka buku puisi bersampul hijau daun, dan berpura-pura tenang. Pintu ganda itu terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi Dante yang masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana yang berkilat dingin. "Siapa yang kasih kamu izin ke sini?" tanya Dante.. Aruna mendongak, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku... cuma mau cari bacaan. Tadi Sophie yang kasih kuncinya." Dante melangkah masuk, ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapan gadis itu. "Sophie nggak punya hak untuk kasih izin di mansion ini," desis Dante dingin, matanya beralih ke buku di pan
"Kau yang berulah, kau yang panggil dia." Malik melempar potongan wortel yang tersisa ke atas meja konter. "Tanganku terlalu bersih untuk menyentuh interkom darurat." Eros melipat tangannya di dada. "Heh, Siput Air! Tanganmu yang mendorongku sampai layarnya eror!" Aruna berkacak pinggang di anta
"Cillian! Tolong!" teriak Aruna histeris. Langkah kaki Cillian mendadak berhenti. Mendengar teriakan dari balik pintu kamar sang Aset. Ia langsung berbalik arah. Pintu geser otomatis itu terbuka dengan satu sentakan cepat. Namun, sepasang mata birunya sedikit melebar. Sesosok pria tegap terkulai
"Ngomong-ngomong, bukannya hari ini ada pemeriksaan ya? Kenapa kamu masih di ruanganmu?" tanya Aruna. Ia teringat Madam Valeska sempat membicarakan agenda pemeriksaan penting kepada para pria di Sektor 7 sebelum mereka dibubarkan tadi malam. "Oh, iya ada. Mereka masih diperiksa sekarang," jawab
"Zen, visualisasinya tersangkut di angka delapan puluh persen. Cepat paksa gambarnya keluar," titah Cillian sembari mengetuk permukaan tembok laboratorium yang menjadi media proyeksi. Di seberang panggilan, Zen menggeram kesal. "Sabar! File ini memiliki enkripsi biner yang terus berubah setiap det







