공유

Bab 59

작가: Marsalsa
last update 게시일: 2026-06-27 12:00:49

"Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip.

Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup.

Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu.

"Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 59

    "Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 58

    "Malik, sembunyi!" bisik Aruna panik, matanya bergerak liar mencari sudut ruangan yang aman. Malik tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan tangkas tanpa suara, ia meluncur ke bawah meja kayu panjang yang tertutup taplak tebal di dekat sofa. Aruna segera membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, membuka buku puisi bersampul hijau daun, dan berpura-pura tenang. Pintu ganda itu terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi Dante yang masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana yang berkilat dingin. "Siapa yang kasih kamu izin ke sini?" tanya Dante.. Aruna mendongak, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku... cuma mau cari bacaan. Tadi Sophie yang kasih kuncinya." Dante melangkah masuk, ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapan gadis itu. "Sophie nggak punya hak untuk kasih izin di mansion ini," desis Dante dingin, matanya beralih ke buku di pan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 57

    Aruna menarik buku kecil dari jepitan barisan ensiklopedia militer tebal di rak paling bawah. Sampulnya yang usang langsung menarik perhatiannya. "Panduan Menanam Tomat di Lahan Kering Sebelum Kiamat." Aruna berkedip dua kali, memandangi judul unik itu dengan heran. "Malik, lihat deh. Kok ada buku kayak gini di perpustakaan Jenderal?" Malik mendekat, melirik sekilas benda di jemari Aruna. "Paling punya kakeknya komandan. Dulu pengin jadi petani tapi gak kesampaian gara-gara telanjur disuruh pegang senjata." "Tapi ini berguna tahu," cetus Aruna sembari membuka halaman pertama. Ilustrasi tomat bulat bergoresan pensil warna yang sudah agak buram menyambut matanya. "Di belakang kan ada tanah kosong sedikit," lanjut Aruna lagi. "Kalau ditanam tomat kayaknya bagus." Malik mendengus pendek. "Tanah di sini udah tercemar residu mesiu, Aruna. Yang

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 56

    Aruna menatap Malik dari balik batas selimut yang sudah turun ke dagunya. "Ngapain ditarik sih? Biarin aja." Malik tidak melepas ujung selimut itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hingga Aruna bisa mencium aroma samar minyak kayu cendana dan sisa dingin angin malam yang tertinggal di jaket pria itu. "Nanti kalau kamu sesak napas, aku lagi yang repot," ucap Malik pelan. "Kan ada kotak obat," sahut Aruna ketus, mencoba membela diri walau jantungnya sudah berdegup dua kali lebih cepat. "Tinggal kasih napas buatan." Aruna langsung menggigit bibir bawahnya begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan. 'Bodoh banget,' rutuknya dalam hati. Malik menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang nyaris pecah. "Oh, jadi kode nih?" "Bukan! Maksudnya—" Sebelum Aruna sempat menyelesaikan kalimatnya, Malik mendekat. Wajah me

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 55

    Malik mengubah posisi tidurnya, menyandarkan kepala pada lengannya sendiri sambil menghadap Aruna. "Dulu, sebelum langit ketutup debu polusi militer dan perimeter kota dipasang benteng beton, dunia nggak sepi kayak gini. Isinya cuma perebutan wilayah logistik sisa faksi lama." Aruna tidak menyela. Ia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, mendengarkan sisa serak suara Malik yang berbaur dengan dengung tipis pendingin ruangan. "Komandan itu anak tunggal Jenderal," lanjut Malik, jemarinya mengetuk-ngetuk kasur dengan ritme lambat. "Sejak umur sepuluh tahun, dia udah dipaksa lihat isi barak. Waktu faksi pemberontak nembus lini pertahanan sektor barat, ibunya nolak dievakuasi lewat jalur udara karena mau jemput Dante di posko medis." Aruna menahan napas kecil. Tatapannya tertuju pada garis rahang Malik yang mendadak mengatup rapat. "Begitu helikopter mereka j

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 54

    "M-Maaf, saya nggak tahu. Saya nggak lihat apa-apa kok," ucap prajurit itu cepat. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Malik menoleh tanpa mengubah posisi duduknya. "Masuk aja." "Ini, saya bawakan kotak obat." Prajurit itu melangkah ragu, menyodorkan sebuah kotak logam putih. "Tadi saya nggak sengaja lihat wanita itu terluka." "Oh, terima kasih. Kamu bisa kembali." "Siap, laksanakan!" Prajurit itu menegakkan tubuh, memberi hormat, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu besi. Malik memindahkan posisi duduknya ke tepi ranjang. Tangannya bergerak mengambil kasa, mulai membersihkan luka robek di tangan Aruna, lalu membebatnya dengan perban. Begitu selesai, Malik menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu di samping ranjang. Matanya terpejam dalam posisi duduk. Garis cahaya pagi jatuh tepat di atas selimut Aruna. Malik m

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 42

    "Pasukan eksekusi Dewan Sektor Tujuh sudah menguasai lantai atas sejak sepuluh menit yang lalu," lanjut sang Jenderal. "Dan aku baru saja menyerahkan hak akses penuh mansion ini kepada mereka." Dante tidak bergeming, pegangannya pada rompi antipeluru Aruna mengencang. Sorot matanya men

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   ​Bab 3. Sentuhan Agresif Sang Spesialis Tempur

    "Tanganmu terlalu lancang untuk ukuran seorang diplomat, Malik!"Suara berat dan serak itu memecah keheningan paviliun kaca. Langkah kaki yang kasar terdengar mendekat dari balik bayang-bayang pohon pakis raksasa.Aruna tersentak, langsung menarik dirinya menjauh dari jangkauan Malik. Jantungnya be

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 2. Inspeksi Tubuh

    "Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante. ​Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan. ​Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan. Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang me

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 1. Rahim Murni

    "Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!" Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status