LOGINSetibanya di tempat acara, di ballroom yang megah, mata Shena langsung berkeliling, mengagumi kemewahan ruangan itu. "Di sini benar untuk melakukan pelelangan?" tanya Shena. "Iya, acara lelang untuk amal," balas Daniel. Shena benar-benar kagum, acara ini jelas di hadiri oleh orang dari kalangan kelas atas saja. Namun, kekagumannya tak bertahan lama. Di sudut ruangan, matanya menangkap sosok yang sangat familiar-Diego, anak buah Gerardo. Jantungnya langsung berdebar. Jika Diego ada di sini, itu berarti... Gerardo juga ada? Ah, Shena menyesali keputusannya datang ke acara ini. Ia sama sekali tidak mengira akan berada di tempat yang sama dengan Gerardo. Bagaimana jika pria itu melihatnya bersama Daniel? Apa yang akan terjadi? Panik mulai merayapi tubuhnya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Shena menoleh ke arah Daniel yang masih berbincang dengan seseorang, lalu dengan cepat ia mencari alasan. "Aku... izin sebentar ke belakang," ucapnya buru-buru sebelum Danie
Beberapa saat kemudian, Gerardo sudah berada di kantor dengan cepat. Ketika melewati meja resepsionis, seorang wanita membungkuk padanya dan memberi sebuah informasi. "Permisi tuan, Tuan Daniel sudah menunggu anda di depan ruangan anda," ucap wanita itu. Gerardo hanya mengangguk. Lalu melanjutkan langkahnya dan bertemu dengan pria itu yang berdiri di depan pintu. Keduanya langsung beradu pandangan, Gerardo menyoroti Daniel dengan dingin. Seolah bertanya kenapa pria itu kemari? "Gerardo. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Daniel dengan cepat. "Ke dalam," balas Gerardo sambil berjalan tanpa menoleh ke arah Daniel. Gerardo masuk di ikuti Hector dan Daniel di belakangnya. Kemudian Hector menutup pintu ketika tiba di ruangan itu. Suasana menjadi hening sebentar sebelum akhirnya, Daniel bicara, "aku ingin memberi tahu sesuatu, bukti jika Sarah tidak menyebarkan vidio pengakuan itu secara sadar adalah saat beberapa perusahaan yang membatalkan kontrak perusahaan kita be
Di apartemen Daniel, pagi sudah menjelang dan Shena terbangun. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menembus jendela. Pikirannya kembali teringat dengan pertemuannya pada Gerardo. Haruskah ia benar-benar menerimanya saat pria itu tidak mau bertanggung jawab? Sebelum ia sempat merenung lebih jauh, suara ketukan di pintu kamarnya terdengar. "Shena?" panggil Daniel. Shena berdiri dan membuka pintu. "Iya?" Daniel mengangkat cangkir kopi di tangannya. "Aku membuat kopi. Apa kamu mau?" Shena mengangguk. "Bagus. Aku yakin kau akan menyukainya." Shena lalu menerima secangkir kopi itu. Keduanya berjalan menuju dapur. Daniel duduk di kursi dan Shena duduk di sebrangnya. "Apa rencanamu hari ini?" tanya Daniel. "Aku.. sepertinya, aku pulang ke rumahku saja. Aku sudah terlalu merepotkanmu di sini." "Kamu tidak merepotkanku, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Bukankah kunci rumahmu tertinggal di desa?" Daniel kembali mengingatkan setida
Saat sampai di apartemen Daniel, ia membayar taksi dan berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Ia membuka pintu dengan pelan, Daniel sudah memberinya akses, sehingga ia mudah keluar masuk ke apartemen ini. Beruntungnya, pria itu sangat baik, mau memberinya tumpangan. Meskipun ia tidak ingin lama-lama di sini, esok ia ingin pindah ke rumahnya saja. Dan memikirkan ulang untuk mencari pekerjaan baru. Namun ketika ia akan masuk ke kamarnya, Daniel baru saja dari dapur dan bertemu Shena. "Kamu baru keluar?" Daniel memperhatikan Shena. "Iya." "Kenapa tidak membangunkanku, aku bisa mengantarmu," balas Daniel. "Aku tidak ingin mengganggumu. Lagi pula aku hanya pergi di dekat sini, untuk cari udara segar." "Tidak masalah, aku juga baru saja terbangun. Jika malam aku sering terbangun. Kamu boleh membangunkanku jika butuh se
Gerardo terdiam, mencoba mencerna informasi itu. Ia adalah pria yang mandul, tapi seorang wanita datang mengaku dirinya hamil dengannya. Ini terasa begitu absurd. "Bagaimana... bisa?" ucap Gerardo penuh ketidak percayaan. Shena mengepal tangannya, mencoba menahan gejolak emosinya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku sudah melakukan pengecekan dan hasilnya positif, aku bahkan baru tahu jika kamu tidak bisa memiliki anak setelah aku tahu aku hamil. Dan aku datang kemari karena butuh tanggung jawab darimu." Akhirnya Shena tak dapat menahan niat terpendamnya, suara nya lebih emosional, bahkan matanya berkilat saat kata-kata itu meluncur. Gerardo mengusap wajahnya, matanya masih terpaku pada Shena. Gerardo tertawa miris merasa lucu sekaligus tragis. "Kau pasti ingin memanfaatkanku kan? Dengan memb
Namun, dia tak ingin membuat suasana canggung. Maka, dengan ragu, dia menerima bunga itu. "Tentu aku suka, terima kasih... " Shena menerima bunga itu. Daniel merasa senang lalu meletakkan kantong makanan di meja dan mulai mengeluarkan isinya. "Aku membeli banyak makanan enak. Aku tak tahu apa yang kamu suka, jadi aku membeli beberapa pilihan." Daniel menoleh, menyadari Shena masih diam. "Shena? Kau baik-baik saja?" Shena tersadar dan tersenyum samar. "Aku baik-baik saja." "Apa kau nyaman di sini?" Ia hanya ingin memastikan jika Shena betah di apartemennya. "Tentu." "Kalau begitu, ayo kita makan." Daniel menata makanan yang dia bawa. Shena meletakkan bunganya ke atas meja, dan membantu Daniel. Setelah itu, keduanya pun menyantap makanan.







