Share

Bab 111

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-10-13 23:13:30

“Karin, itu bukan keinginan Bapak,” ujar Pak Rohman.

Karin tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak bahwa ayahnya akan mengatakan hal semacam itu. Sejak dulu, Pak Rohman selalu memiliki alasan untuk membenarkan keputusan-keputusannya, seolah-olah semua yang terjadi bukanlah tanggung jawabnya.

“Aku tahu, Pak. Itulah makanya aku membiayai hidupku sendiri sejak SMA hingga saat ini.” Karin berhenti sejenak, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dan kenapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 112

    Sepanjang perjalanan pulang, Karin hanya diam sambil menatap jalanan dari balik jendela mobil. Ucapan ayahnya terus terngiang-ngiang di telinganya, terutama saat pria itu berlutut dan memohon agar dirinya tetap menanggung biaya hidup istri serta anaknya.Karin tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia. Dia juga tidak pernah meminta agar ayahnya selalu mengutamakan keluarga barunya. Akan tetapi, sejak kecil, Karin harus belajar menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang penting bagi pria itu.Karin memejamkan mata, berusaha menahan sesak di dadanya. Dia tidak ingin terus-menerus memikirkan masalah itu, tetapi semakin berusaha melupakannya, semakin jelas pula semua kenangan yang selama ini dia pendam.“Masih memikirkan ucapan Bapak?” tanya Gavin, memecah keheningan.Karin menoleh. Pria itu meliriknya sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan.“Sedikit,” jawab Karin pelan.Gavin tidak langsung menanggapi. Dia tahu Karin sedang berusaha mengendalikan perasaannya. Sejak tadi

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 111

    “Karin, itu bukan keinginan Bapak,” ujar Pak Rohman.Karin tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak bahwa ayahnya akan mengatakan hal semacam itu. Sejak dulu, Pak Rohman selalu memiliki alasan untuk membenarkan keputusan-keputusannya, seolah-olah semua yang terjadi bukanlah tanggung jawabnya.“Aku tahu, Pak. Itulah makanya aku membiayai hidupku sendiri sejak SMA hingga saat ini.” Karin berhenti sejenak, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dan kenapa sekarang, ketika menyangkut Viko, aku yang harus membiayainya?”Pak Rohman terdiam. Ia tampak kesulitan mencari jawaban yang bisa membuat putrinya mengerti.“Karena Bapak sudah tidak mampu, Karin.”Karin mengembuskan napas panjang. Ia menunduk sebentar, berusaha menahan perasaan yang semakin sulit dikendalikan. Jawaban itu terdengar begitu sederhana, tetapi bagi Karin, ada begitu banyak kepedihan yang terkandung di dalamnya.“Dulu, Bapak mampu, tetapi tidak mau membiayaiku,” balas Karin. “Sekar

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 110

    Jawaban itu bukanlah sesuatu yang ingin Karin dengar. Alih-alih merasa lega karena ayahnya mulai menyadari kesalahannya, Karin justru merasakan hatinya semakin sakit.Bahkan setelah meminta maaf, Pak Rohman masih saja memikirkan Viko dan istrinya. Pria itu seolah-olah tidak menyadari bahwa putrinya sendiri juga memiliki perasaan, memiliki kehidupan yang harus dijalani, dan memiliki banyak luka yang belum pernah sembuh.Karin tersenyum kecil, meskipun senyum itu sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan.“Mereka masih kuat untuk bekerja, Pak.”Pak Rohman langsung menggelengkan kepalanya.“Ibu kamu tidak pernah bekerja. Dia tidak tahu cara mencari uang. Pun dengan Viko, dia masih terlalu kecil untuk mencari uang, Karin.”Karin terdiam.Terlalu kecil?Viko memang masih kuliah, tetapi bukankah usianya sudah cukup dewasa untuk mulai belajar mandiri? Setidaknya, adik tirinya itu bisa mencoba mencari pekerjaan paruh waktu atau melakukan sesuatu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 109

    Karin memejamkan matanya sejenak. Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dadanya ketika melihat pria yang kini duduk di hadapannya. Pria yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, tetapi justru menjadi sumber luka yang selama ini ia pendam sendirian.“Bapak.”Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Karin. Bahkan untuk sekadar memanggil ayahnya sendiri, ia merasa begitu berat. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya seolah tertahan di tenggorokannya.Sudah terlalu lama Karin menyimpan rasa sakit itu. Bertahun-tahun ia berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar mendapatkan kasih sayang seorang ayah, meskipun mereka tinggal di rumah yang sama.Sejak kecil, Karin memang hidup bersama Pak Rohman. Namun, keberadaan mereka dalam satu rumah tidak serta-merta membuat Karin merasa memiliki seorang ayah. Ia tumbuh tanpa perhatian yang semestinya diterima seorang anak. Tidak ada tempat untuk mengadu ketika ia bersedih, tidak ada pelukan ketika ia mera

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 108

    “Kok ketawa?” tanya Karin sambil menoleh kepada Gavin.Gavin masih tersenyum geli. Ia melirik Karin yang berdiri di sampingnya, lalu menjawab santai, “Aku tahu bagaimana bentuk lalatnya.”Karin kemudian meraih tasnya dari tangan Gavin. Ia membuka tas tersebut, memasukkan ponsel yang sejak tadi dipegangnya, lalu merapikan kembali barang-barangnya.“Kita kembali ke kantor?” tanya Karin setelah selesai.“Enggak usah. Hari ini tidak perlu kembali ke kantor,” jawab Gavin.Sementara itu, di belakang mereka, Naura tidak lagi berusaha mengejar Karin. Pasangannya yang sejak tadi menunggu akhirnya mendekat, membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk kembali menghampiri Karin.Ada sesuatu yang tampaknya Naura sembunyikan dari pria tersebut. Sikapnya berubah begitu pasangannya berada di dekatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan Naura. Mungkinkah selama ini ia tidak pernah menceritakan kepada pasangannya bahwa dirinya pernah melahirkan seorang anak?“Jadi, mau ke mana?” tanya

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 107

    “Oh ya?” tanya Karin pelan.Tidak ada keterkejutan yang berarti di wajahnya. Karin bahkan menjawab dengan nada begitu santai, seolah-olah ucapan Naura barusan bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Ia hanya menatap wanita itu sekilas melalui pantulan cermin, lalu kembali merapikan penampilannya.Sikap Karin justru membuat Naura semakin kesal. Wanita itu berharap Karin akan terkejut atau setidaknya menunjukkan rasa takut ketika mengetahui bahwa dirinya adalah ibu kandung Bryan. Namun, kenyataannya, Karin sama sekali tidak memberikan reaksi seperti yang diharapkannya.Naura menatap Karin dengan tajam. Ada rasa tidak suka yang semakin jelas terpancar dari wajahnya.“Apa Gavin tidak mengatakan kepadamu?” tanyanya dengan nada menyelidik.Karin menggelengkan kepala. “Untuk apa? Karena bagi Gavin, Bryan tidak memiliki seorang ibu.”Jawaban itu membuat Naura tertegun. Ia tidak menyangka Karin akan mengatakan sesuatu yang begitu menyakitkan dengan ekspresi sesantai itu.“Bagaimana dia bisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status