Share

Bab 17

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-08-13 22:02:01

“Pipis aja disini, Sayang,” ucap Gavin tersenyum menatap Karin yang tampak begitu seksi.

“Hah? Janganlah, nanti bau karpetku.”

Disaat seperti ini, sekalipun hasratnya sedang membara, Karin malah teringat dengan karpetnya. Ia masih sempat memikirkan karpetnya bau.

Gavin menggeleng. “Gak bakal, Sayang.”

Tapi, Karin tidak peduli, ia berlari ke kamar mandi. Dan saat di kamar mandi, ia heran ternyata malah tidak ada air seperti biasa yang keluar, melainkan begitu banyak cairan dari bagian intimnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 76

    "Ayo, mama temenin kamu tidur," ujar Karin pada Keenan.Keenan mengangguk, ia bahkan tanpa drama. Menarik tangan Karin menuju ke kamarnya. Ia mengabaikan Gavin.Gavin hanya menggelengkan kepalanya. Di dalam hatinya merasa sedih melihat Keenan yang begitu merindukan pelukan seorang ibu."Papa gak diajak?" tanya Gavin menggoda Keenan."Papa gak usah ikut, aku mau dengerin Mama baca cerita.""Bagaimana kalau Papa membantu Mama membaca buku?" Gavin masih berusaha merayu Keenan, tapi dengan cepat anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Papa. Aku hanya mau sama Mama.""Yaudah deh, kalau gitu Papa di ruang kerja aja.""Iya, Papa kerja aja."Keenan menarik tangan Karin menuju kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk mendengar Karin mendengar Karin membacakan buku cerita untuknya."Buku mana yang mau kamu dengar?" tanya Karin setelah tiba di kamar Keenan dan membuka laci di samping ranjang Keenan yang berisi dengan buku cerita.Keenan tampak memilih buku dan memilih satu buku piliha

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 75

    “Eh sayang, nggak apa-apa. Mama bisa sambil makan sambil nyuapin kamu, kok,” ujar Karin yang merasa kasihan melihat wajah Keenan.“Enggak, Mama. Aku mau makan sendiri aja. Nanti kalau aku tidak mandiri, Papa bilang nggak boleh lagi main sama Mama.”Karin menatap Gavin sambil menggelengkan kepalanya.“Kamu sudah sangat mandiri, sayang, dan Mama yang ingin nyuapin kamu. Ya udah, ayo sini, Mama suapin.”Keenan menoleh ke arah Gavin, seolah sedang meminta persetujuan dari sang ayah, dan setelah Gavin menganggukkan kepalanya, barulah ia menerima kembali suapan dari Karin.Tapi ia benar-benar hebat makan tanpa rewel. Bahkan, begitu cepat makanannya habis karena ia ingin melihat Karin makan juga.“Wah, makanan Keenan sudah habis. Keenan hebat,” puji Karin.Keenan tersenyum. Ia begitu bangga mendapat pujian dari Karin karena ia yakin kalau ia pintar seperti itu, maka Karin akan lebih sering bermain dengannya.“Ya udah, kalau Keenan sudah selesai makannya, Keenan kembali ke kamar atau menonton

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 74

    “Hah? Jadi Papa langsung dikacangin kalau ada Mama Karin?” tanya Gavin sambil menggelengkan kepalanya.“Udah, Papa kerja aja biar aku main sama Mama.”Karin menoleh ke arah Gavin. Ia menyembunyikan senyumannya melihat ekspresi Gavin yang sangat terkejut dengan tingkah Keenan.“Ya udah, kalau gitu Papa duduk aja deh, nonton kalian main.”“Jauh-jauh aja, Papa. Jangan dekat. Aku mau main sama Mama.”“Papa pesenin makanan, ya. Setelah main kita makan dulu. Kasihan loh, Mama sudah sibuk kerja seharian. Mama belum makan,” ujar Gavin.“Iya, Papa. Beli makanan yang enak, ya,” jawab Keenan.Gavin mengangguk. Giliran ia menyebutkan makanan untuk Karin, Keenan langsung setuju karena begitu takut kalau Karin kelaparan.Karin dengan begitu sabar meladeni Keenan bermain, mulai dari main mobil-mobilan, menyusun balok-balok, dan bermain lego. Karin begitu sabar. Bahkan Gavin yang memperhatikan mereka tampak begitu kagum pada Karin.“Tadi gimana sekolahnya?” tanya Karin pada Keenan.“Tadi di sekolah K

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 73

    “Mengapa? Bukankah kamu sudah lama kenal dengannya?” tanya Karin tanpa menoleh ke arah Gavin.Gavin menganggukkan kepalanya. “Aku memang kenal dia, bahkan sejak dia masih kecil.”Karin tersenyum kecut. Jawaban itu baginya adalah kekalahannya karena dari segi apapun, jika dibandingkan dengan Adelia, ia pasti kalah.Apalagi Gavin mengenal Adelia sejak kecil. Mereka sudah saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, sedangkan dirinya baru beberapa bulan saja kenal.Entah mengapa Karin merasa begitu bodoh. Ia sempat menaruh harapan pada Gavin. Namun, ternyata itu hanyalah harapan yang semu. Ucapan yang Gavin berikan padanya tidak lebih dari sekadar kata-kata manis untuk membesarkan hatinya.“Kalau begitu, tidak ada alasan kamu sulit beradaptasi dengannya. Kamu pasti sudah tahu kelebihan dan kekurangannya. Mengapa sulit?” tanya Karin dengan hati yang hancur lebur dan terkoyak-koyak.“Dia sebagai sepupuku memang aku mengenalnya dan hubungan kami baik, tapi kalau dari sepupu itu berub

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 72

    “Siapa pun itu yang dekat denganku dan diterima oleh Keenan, berarti itulah pilihanku,” ucap Gavin.“Berarti benar kalau orang itu Karin?”“Kamu tidak perlu tahu sekarang. Nanti kalau sudah saatnya aku mengenalkannya di depan keluarga besar, kamu pasti akan tahu.”Gavin bersiap keluar dari ruangan. Ia tidak akan berlama-lama berbicara dengan Adelia kalau untuk membahas tentang jodohnya.Lagi pula, Gavin dan Adelia hanyalah sepupu. Ia tidak berhak mencampuri urusan hidup Gavin, apalagi memaksanya.“Kamu tidak bisa menjawab. Berarti benar kalau orang itu adalah Karin dan aku yakin tebakan aku ini benar. Tante pasti tidak akan bisa menerima Karin. Dia tidaklah selevel dengan keluarga kita.”Gavin tersenyum. “Kita lihat saja nanti siapa orangnya. Sekarang aku mau pulang.”“Antarkan aku pulang. Hari ini aku nggak bawa mobil,” ujar Adelia dengan manja, menyusul Gavin hingga ke depan pintu.“Naik taksi saja. Aku tidak bisa karena aku sudah ada janji sama Keenan.”“Ya, aku nggak apa-apa ke ru

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 71

    “Aku butuh sekretaris dan aku sudah menilai beberapa kandidat. Karin yang menempatkan sebagai kandidat terbaik,” ucap Gavin.“Bukannya katanya Karin itu kamu yang pilih tanpa tes?”“Iya, karena untuk menilai seseorang tidak harus dalam tes tertulis dan wawancara. Aku melihat dari hasil penilaian tahunan,” jawab Gavin, mencari alasan.Adelia menatap Gavin tidak percaya. “Terus, kenapa saat aku melamar di sini kamu menempatkan aku di posisi yang tidak ada harapan untuk jenjang karier?”“Sesuai keahlian dan juga posisi yang kosong.”Adelia menggelengkan kepalanya. Dia masih belum terima dengan jawaban yang diberikan oleh Gavin.“Kata Mama, Tante Mike ingin kamu segera menikah biar Keenan memiliki ibu,” ujar Adelia akhirnya.“Hmm.”“Apa kamu tega membiarkan Keenan memiliki ibu orang lain yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali padanya?” sambung Adelia bertanya.Gavin menghela napas berat. Sebenarnya, ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan Adelia.Gadis itu datang bukan benar-benar in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status