Share

Bab 74

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-09-10 17:37:21

“Hah? Jadi Papa langsung dikacangin kalau ada Mama Karin?” tanya Gavin sambil menggelengkan kepalanya.

“Udah, Papa kerja aja biar aku main sama Mama.”

Karin menoleh ke arah Gavin. Ia menyembunyikan senyumannya melihat ekspresi Gavin yang sangat terkejut dengan tingkah Keenan.

“Ya udah, kalau gitu Papa duduk aja deh, nonton kalian main.”

“Jauh-jauh aja, Papa. Jangan dekat. Aku mau main sama Mama.”

“Papa pesenin makanan, ya. Setelah main kita makan dulu. Kasihan loh, Mama sudah sibuk kerja sehari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 74

    “Hah? Jadi Papa langsung dikacangin kalau ada Mama Karin?” tanya Gavin sambil menggelengkan kepalanya.“Udah, Papa kerja aja biar aku main sama Mama.”Karin menoleh ke arah Gavin. Ia menyembunyikan senyumannya melihat ekspresi Gavin yang sangat terkejut dengan tingkah Keenan.“Ya udah, kalau gitu Papa duduk aja deh, nonton kalian main.”“Jauh-jauh aja, Papa. Jangan dekat. Aku mau main sama Mama.”“Papa pesenin makanan, ya. Setelah main kita makan dulu. Kasihan loh, Mama sudah sibuk kerja seharian. Mama belum makan,” ujar Gavin.“Iya, Papa. Beli makanan yang enak, ya,” jawab Keenan.Gavin mengangguk. Giliran ia menyebutkan makanan untuk Karin, Keenan langsung setuju karena begitu takut kalau Karin kelaparan.Karin dengan begitu sabar meladeni Keenan bermain, mulai dari main mobil-mobilan, menyusun balok-balok, dan bermain lego. Karin begitu sabar. Bahkan Gavin yang memperhatikan mereka tampak begitu kagum pada Karin.“Tadi gimana sekolahnya?” tanya Karin pada Keenan.“Tadi di sekolah K

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 73

    “Mengapa? Bukankah kamu sudah lama kenal dengannya?” tanya Karin tanpa menoleh ke arah Gavin.Gavin menganggukkan kepalanya. “Aku memang kenal dia, bahkan sejak dia masih kecil.”Karin tersenyum kecut. Jawaban itu baginya adalah kekalahannya karena dari segi apapun, jika dibandingkan dengan Adelia, ia pasti kalah.Apalagi Gavin mengenal Adelia sejak kecil. Mereka sudah saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, sedangkan dirinya baru beberapa bulan saja kenal.Entah mengapa Karin merasa begitu bodoh. Ia sempat menaruh harapan pada Gavin. Namun, ternyata itu hanyalah harapan yang semu. Ucapan yang Gavin berikan padanya tidak lebih dari sekadar kata-kata manis untuk membesarkan hatinya.“Kalau begitu, tidak ada alasan kamu sulit beradaptasi dengannya. Kamu pasti sudah tahu kelebihan dan kekurangannya. Mengapa sulit?” tanya Karin dengan hati yang hancur lebur dan terkoyak-koyak.“Dia sebagai sepupuku memang aku mengenalnya dan hubungan kami baik, tapi kalau dari sepupu itu berub

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 72

    “Siapa pun itu yang dekat denganku dan diterima oleh Keenan, berarti itulah pilihanku,” ucap Gavin.“Berarti benar kalau orang itu Karin?”“Kamu tidak perlu tahu sekarang. Nanti kalau sudah saatnya aku mengenalkannya di depan keluarga besar, kamu pasti akan tahu.”Gavin bersiap keluar dari ruangan. Ia tidak akan berlama-lama berbicara dengan Adelia kalau untuk membahas tentang jodohnya.Lagi pula, Gavin dan Adelia hanyalah sepupu. Ia tidak berhak mencampuri urusan hidup Gavin, apalagi memaksanya.“Kamu tidak bisa menjawab. Berarti benar kalau orang itu adalah Karin dan aku yakin tebakan aku ini benar. Tante pasti tidak akan bisa menerima Karin. Dia tidaklah selevel dengan keluarga kita.”Gavin tersenyum. “Kita lihat saja nanti siapa orangnya. Sekarang aku mau pulang.”“Antarkan aku pulang. Hari ini aku nggak bawa mobil,” ujar Adelia dengan manja, menyusul Gavin hingga ke depan pintu.“Naik taksi saja. Aku tidak bisa karena aku sudah ada janji sama Keenan.”“Ya, aku nggak apa-apa ke ru

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 71

    “Aku butuh sekretaris dan aku sudah menilai beberapa kandidat. Karin yang menempatkan sebagai kandidat terbaik,” ucap Gavin.“Bukannya katanya Karin itu kamu yang pilih tanpa tes?”“Iya, karena untuk menilai seseorang tidak harus dalam tes tertulis dan wawancara. Aku melihat dari hasil penilaian tahunan,” jawab Gavin, mencari alasan.Adelia menatap Gavin tidak percaya. “Terus, kenapa saat aku melamar di sini kamu menempatkan aku di posisi yang tidak ada harapan untuk jenjang karier?”“Sesuai keahlian dan juga posisi yang kosong.”Adelia menggelengkan kepalanya. Dia masih belum terima dengan jawaban yang diberikan oleh Gavin.“Kata Mama, Tante Mike ingin kamu segera menikah biar Keenan memiliki ibu,” ujar Adelia akhirnya.“Hmm.”“Apa kamu tega membiarkan Keenan memiliki ibu orang lain yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali padanya?” sambung Adelia bertanya.Gavin menghela napas berat. Sebenarnya, ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan Adelia.Gadis itu datang bukan benar-benar in

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 70

    “Sudah, jangan menangis. Nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu,” ujar Gavin sambil menghapus air mata Karin dengan jarinya.“Maaf, aku sangat cengeng.”“Menangis itu tidak membuat kamu cengeng. Wajar namanya juga meluapkan apa yang kamu rasakan. Aku tidak pernah menganggap itu cengeng.”Karin mendorong tubuh Gavin. Ia keluar dari pelukan lelaki itu. Air matanya sudah berhenti.“Pulang kerja mampir ke rumah, main sama Keenan, mau?” tanya Gavin.Gavin tidak pernah memaksa Karin untuk dekat dengan Keenan. Meskipun ia sangat berharap Karin menjadi ibunya Keenan, tapi ia ingin kedekatan antara Karin dan Keenan itu secara alamiah.“Boleh.”“Ya udah, nanti kita pulang ke rumah, ya.”Karin menganggukkan kepalanya. Kemudian, gadis itu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang sembab karena habis menangis.Karin menatap pantulan bayangan wajahnya di cermin, sekarang ia tampak lebih kurus. Entah sudah berapa kilo berat badannya berkurang semenjak kejadian itu. Ia tidak bernafsu

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 69

    “Apa yang kamu katakan?” tanya Bu Yani dengan wajah memucat.Tentu saja beliau tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan Karin. Selama ini ia melihat Karin dan Rio, hubungan mereka cukup baik.Sulit dipercaya kalau memang Rio melakukan itu pada Karin.“Kenapa Ibu tidak percaya kalau anak Ibu yang sangat baik itu ternyata begitu bejat?” tanya Karin dengan mata yang tidak mampu lagi menahan tangisnya.“Karin, Rio tidak mungkin melakukan itu.”“Wajar kalau Ibu tidak percaya karena dia anak Ibu. Tapi apa memang Ibu juga tidak percaya dengan hukum? Ibu tidak berpikir kenapa Rio dihukum begitu berat akan? Apakah memang hanya karena selingkuh?”Bu Yani terduduk menunduk. Pastinya ia tidak tahu kalau anaknya benar-benar jahat seperti itu.Sekarang ia paham mengapa Karin mengatakan ia lebih senang jika Rio tidak lagi hidup.“Tapi dulu kalian baik-baik saja.”“Anak Ibu tidak terima karma begitu cepat membalas semua perbuatannya. Ternyata Via selingkuh dengan bosnya sendiri dan anak Ibu tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status