Share

Bab 4

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-07-18 21:35:16

Keesokan harinya…

Jika Karin pikir setelah pertemuannya dengan Gavin semuanya baik-baik saja, ia salah besar. Sebab, tiba-tiba saja hari ini ia dipanggil ke ruangan Pak Frengki. Dan mendapatkan surat mutasi.

"Mutasi jabatan? Ke lantai Presdir?" Karin menatap lembar kertas resmi di tangannya dengan rasa yang tidak percaya.

Surat mutasi itu terasa begitu mendadak, apalagi melihat jabatan barunya sebagai sekretaris Presdir. Jabatan yang cukup tinggi, dan selama ini bukan hal yang mudah untuk diraih karyawan biasa seperti dirinya.

“Iya,” jawab Frengki tanpa ekspresi.

“Tapi, mengapa tiba-tiba, Pak?” Karin mendesak.

“Kamu kenapa, Karin? Harusnya senang. Job grade kamu naik satu level, artinya gaji kamu juga naik. Ini malah banyak sekali pertanyaan. Kalau mau protes, ya protes langsung ke Pak Gavin.” Frengki memang terkenal dengan ucapannya yang tajam, seperti pisau menusuk ke hati.

“Tapi, kenapa saya?” tanya Karin pelan. 

"Itu disposisi langsung dari Pak Gavin. Tunjangan dan gajimu melonjak signifikan. Jadi jangan pasang wajah tidak senang begitu, Karin. Ini kesempatan bagus untuk karier mu."

Karin terdiam. Ia tahu Frengki benar, tapi hatinya penuh tanda tanya. “Terima kasih, Pak,” ucapnya akhirnya, meski suaranya terdengar hambar.

Karin keluar dari ruangan Pak Frengki dengan pikiran yang semakin semrawut. Kenaikan gaji adalah hal yang sangat ia butuhkan, tetapi posisi sebagai sekretaris Gavin terasa seperti berjalan masuk ke sarang singa. “Apakah mutasi ini adalah jebakan karena dia tahu sesuatu?”

Kabar tersebut menyebar cepat di kantor dalam hitungan jam. Karena memang announcement mutasi Karin sudah di email kan kepada semua karyawan. 

Rekan-rekannya menyambut berita mutasinya dengan ucapan selamat. Beberapa bahkan berkata bahwa ini adalah "keberuntungan" setelah ia dicampakkan oleh Rio.

Tapi Karin tak merasa beruntung sama sekali. Hatinya malah penuh keraguan. Mengapa Gavin memilihnya dari semua karyawan yang berpotensi? Apakah ini sengaja? Apakah Gavin ingin mengungkit sesuatu tentang malam itu? Apakah benar kalau Gavin mengenalinya?

Karin diberikan waktu seminggu untuk menyelesaikan pekerjaannya di HRD sebelum resmi pindah ke posisi barunya. Namun, pesan Gavin sore itu membuat semuanya terasa semakin berat. Ia diminta datang ke ruangannya. Setidaknya sebagai laporan pertama.

Jam istirahat menjadi waktu yang penuh bisik-bisik. Karin mendengar namanya disebut dalam berbagai percakapan.

"Hebat ya, baru juga diputusin Rio, langsung dapat cantelan di lantai atas. Kok bisa kebetulan sekali ya?" sindir seorang staf dari meja seberang.

"Mungkin dia memanfaatkan momen perkenalan kemarin. Perempuan pendiam kalau sudah nekat memang ngeri," sahut yang lain sembari tertawa kecil.

Karin memilih mengabaikan piring makanannya yang masih setengah penuh. Ia menggigit bibirnya, menahan emosi. Ia tak pernah merasa lebih sendirian dari ini. Gosip itu bagaikan luka yang terus disiram garam.

“Jangan-jangan dia nekat dan merayu pak Gavin. Siapa tahu?” ujar yang lain.

“Hus jangan sembarangan.”

“Tapi, kabarnya itu permintaan pak Gavin sendiri loh. Kan aneh, banyak loh karyawan cewek muda yang cantik, mengapa pilihannya Karin coba kalau tidak ada sesuatu.”

“Itu mungkin anugerah, atau doa orang yang teraniaya kan manjur.”

Mereka dengan enteng mengatakan itu keberuntungan, tapi tidak sedikitpun menjadi penghiburan bagi Karin. Justru menjadi beban.

Ia bangkit berdiri dan berjalan cepat keluar dari kantin, ingin segera melarikan diri dari atmosfer yang menyesakkan itu. Namun saat ia berbelok di koridor dekat tangga darurat, pikirannya yang kalut membuatnya tidak memperhatikan jalan.

Bruuk!

Karin menabrak sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang. Seorang anak kecil jatuh terduduk di lantai, menatapnya dengan mata bulat yang penuh kejutan. Bocah itu mengenakan kemeja denim kecil dan membawa mainan mobil-mobilan.

“Eh, anak siapa ini? Kok bisa ada di kantor?” Karin membantu bocah itu berdiri.

Namun, seketika tangis keras meledak. “Huaaa!”

“Eh, jangan menangis. Maaf ya, tante nggak sengaja,” Karin mencoba menenangkan bocah itu, tapi usahanya sia-sia. Bocah itu malah menangis semakin keras..

Karin semakin panik. Dari arah lobi, seorang pengasuh paruh baya berlari tergopoh-gopoh dengan wajah cemas. 

“Maaf, Bu,” ujar pengasuhnya sambil berusaha membujuk anak itu.

Karin hanya mengangguk dan mencoba membujuk si bocah agar berhenti menangis, karena mereka menjadi pusat perhatian.

“Kenapa kamu menangis, jagoan? Bukankah kamu yang menabraknya?”

Karin mendongak untuk meminta maaf pada pengasuh tersebut, namun langkah kaki sepatu pantofel yang tegas mendekat dari arah belakang membuat seluruh tubuhnya membeku. Suara itu milik Gavin.

Anak kecil itu langsung berlari ke arahnya. “Papa! Keenan mau main!”

Karin membeku. Papa? Anak ini memanggil Gavin papa? Jadi, Gavin sudah memiliki anak?

Gavin mengelus kepala anaknya dengan lembut. “Boleh, tapi sekarang kamu harus pulang. Papa mau kerja,” katanya dengan nada sabar.

Setelah pengasuh dan anak itu menjauh, Gavin bangkit berdiri dan membetulkan letak jam tangannya. Ia menatap Karin yang masih bersimpuh di lantai dengan wajah pucat pasi.

Karin hanya bisa berdiri terpaku. Tubuhnya kaku, dan pikirannya kacau. Jika anak ini adalah anak Gavin, itu artinya Gavin sudah menikah. Pikirannya langsung melayang ke malam itu. “Aku tidur dengan pria yang sudah menikah!”

Hatinya seolah jatuh ke jurang. Ia tak hanya melanggar moralnya sendiri, tapi juga merusak rumah tangga orang lain.

Gavin menoleh ke arahnya, tatapannya datar, tetapi seolah membaca semua pikiran Karin. “Karin, setelah ini kamu langsung ke ruangan saya?”

Karin hanya bisa mengangguk, meski tubuhnya terasa lemas. “Iya, Pak.”

Karin melangkah masuk ke ruangan Gavin dengan ragu. Ruangan itu besar, dengan jendela yang menawarkan pemandangan kota. Tapi saat ini, pemandangan itu tak bisa menenangkan hatinya.

“Karin, duduklah,” ujar Gavin, sambil meletakkan map di atas meja.

Karin menurut, tetapi jantungnya berdebar-debar. Apalagi Gavin yang tampak begitu santai, bahkan ia terus menatap Karin cukup intens.

“Sudah menerima surat mutasinya?” tanya Gavin akhirnya.

“Su-sudah, Pak.”

Gavin mengangguk pelan, kemudian kembali tersenyum penuh arti. “Mengapa malam itu kamu pergi diam-diam?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status