LOGINKarin terus menundukkan kepala saat Pak Frengki, atasannya, mengenalkan lelaki itu kepada semua orang di ruangan HRD. Suasana terasa tegang bagi Karin, seolah-olah dunia mempermainkannya dengan menghadirkan pria yang sangat ingin ia lupakan.
"Pak Gavin, yang ini namanya Karin," suara Pak Frengki, mendadak terdengar tepat di depan mejanya. "Dia salah satu staf bagian kepegawaian di HRD. Sangat andal dan selalu menyelesaikan laporan sebelum tenggat waktu."
Perkenalan itu seolah menjadi pukulan besar bagi Karin. Perlahan, ia mengangkat pandangannya, mencoba terlihat tenang meski jantungnya berdebar keras.
Mata mereka bertemu. Gavin Alvaro Shedy, pria yang berdiri gagah dengan setelan jas sempurna, adalah presiden direktur baru perusahaan tempatnya bekerja, sekaligus pria yang bersama dengannya di malam itu.
Karin memaksakan senyuman yang sangat kikuk, hampir seperti refleks untuk menutupi rasa gugupnya. Ia ingin berlari, bersembunyi, apa saja agar tidak berada di situ. Namun, kakinya terasa berat, seolah terikat oleh rasa malu dan cemas yang terus mencengkeramnya.
Di sisi lain, Gavin tampak tenang. Raut wajahnya tak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Mata mereka bertemu. Tatapan pria itu tajam, namun ekspresinya tetap datar dan tidak terbaca, tipikal seorang eksekutif papan atas yang dingin
Ia mengangguk ringan kepada Karin, tak lebih dari sekadar formalitas. Namun, dibalik sikap profesionalnya, pikiran Gavin mulai mengusik. Wajah Karin begitu familiar, seperti potongan puzzle yang mencoba menyatu di kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya menyusuri sisa ruangan bersama Pak Frengki.
Karin mengembuskan napas lega yang tertahan setelah rombongan itu menjauh. “Dia tidak mengenali aku. Baguslah. Kamar itu remang-remang semalam.”
Namun di dalam ruang kerja barunya di lantai teratas, Gavin berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan panorama kota.
Ia melepaskan kancing jasnya, sementara ingatannya kembali tertuju pada wajah staf HRD yang baru ditemuinya tadi. Kerutan tipis muncul di dahinya. Wajah itu, struktur rahang itu, hingga sorot mata yang panik saat menatapnya, semuanya terlalu mirip dengan wanita yang meninggalkan ranjangnya tanpa pamit beberapa jam lalu.
Semakin ia memikirkannya, semakin yakin ia bahwa Karin adalah wanita yang telah ia renggut keperawanannya semalam, sebab kasur itu meninggalkan bercak darah.
Hanya saja, Gavin tahu bahwa tempat kerja adalah ruang profesional. Ia menyingkirkan pikiran itu, setidaknya untuk sementara.
Gavin bukan pria yang menyukai teka-teki yang menggantung. Ia berjalan kembali ke mejanya dan menekan tombol interkom. "Pak Frengki, draf profil sekretaris yang kosong sudah ada di meja saya. Saya ingin membatalkan proses rekrutmen eksternal."
"Oh, baik, Pak Gavin. Apakah Bapak sudah memiliki kandidat pilihan?" taya Frengki. Bagi Frengki ini hal biasa, bos memilih sendiri sekretarisnya. Dan selama ini juga, jabatan sekretaris Presdir memang tidak sepenuhnya rekrutmen dari HRD.
"Ya. Pindahkan Karin dari divisi kepegawaian ke meja sekretaris saya mulai minggu depan. Siapkan berkas mutasinya segera."
“Hah? Karin, Pak?”
“Iya.”
Di lantai bawah, Karin menghabiskan sisa jam kerjanya dengan gelisah. Sore itu, kantor sudah mulai sepi. Sebagian besar karyawan telah pulang, meninggalkan Karin sendirian untuk menyelesaikan revisi laporan akhir bulan yang diminta Pak Frengki.
Sampai saat ini detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Pertemuan tadi menyadarkannya bahwa Gavin mengenalinya, atau setidaknya curiga. Karena tatapan pria itu sangat berbeda.
“Aku harus berhati-hati,” gumam Karin. Ia tidak bisa membiarkan satu kesalahan itu menghancurkan karier yang telah ia bangun dengan susah payah.
Ia menghela napas berat, menatap layar yang masih penuh dengan data. “Pak Frengki kejam banget sih, semua laporan harus selesai hari ini. Apa gak ada hari esok?” gerutu Karin yang setiap beberapa menit melirik jam di dinding.
Saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Karin akhirnya merapikan tasnya dan berjalan menuju lift. Area lobi lantai tersebut sunyi, hanya menyisakan sorot lampu koridor yang mulai diredupkan.
Ting!
Pintu lift terbuka, namun Karin tidak bisa melangkah masuk. Di dalam lift itu, Gavin berdiri sendirian. Gavin bergeser sedikit, seolah memberikan ruang bagi Karin agar masuk.
Tidak ada lagi keramaian untuk menyembunyikan diri, tidak ada meja atau komputer untuk menjadi perisai. Hanya mereka berdua dalam ruang yang terasa terlalu kecil untuk menyimpan rahasia.
"Karin, benar?" tanya Gavin. Suaranya berat, bariton yang bergema tapi rendah dan santai. Namun, ada sesuatu dalam nadanya yang membuat bulu kuduk Karin meremang.
“I-iya, Pak,” jawab Karin, mencoba terdengar wajar meski kegugupan tergambar jelas dalam nada bicaranya.
Tatapan Gavin tajam, tetapi tidak mengintimidasi. Sebaliknya, tatapan itu terasa seolah mencoba membaca setiap gerak tubuh Karin, mencari petunjuk. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah kamu rasanya tidak asing,” tanyanya lagi, kali ini dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Perut Karin rasanya melilit hebat akibat ketegangan. Ia memaksakan diri menatap mata Gavin dengan ekspresi sedatar mungkin. “Ti-tidak, Pak. Saya rasa tidak pernah,” katanya, suaranya hampir bergetar. Ia segera menundukkan kepala, menghindari tatapan pria itu.
Gavin tersenyum samar dan mengangguk kecil, seolah menikmati ketegangan di udara. Namun, ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Kemudian Gavin berlalu meninggalkan Karin yang terpaku dengan lutut yang lemas.
Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak
“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas
"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga







