LOGINUhuk!
Karin refleks terbatuk mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavin. Jika ia punya pintu doraemon, Karin tentu akan pergi kemana saja, yang jelas bukan yang ada Gavin disana.
Ia pikir Gavin tidak mengenalinya, tapi ternyata lelaki itu hanya menunggu waktu yang tepat. “M-maksud Bapak?”
Gavin menghela nafas berat, ia tersenyum dan tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak menatap Karin cukup lama.
“Apa kamu benar-benar tidak mengerti pertanyaanku?” tanya Gavin.
“I-iya, Pak,” jawab Karin gugup.
Bahkan, ia memaki dalam hatinya. Seharusnya ia bersikap biasa saja, sebab menunjukkan kegugupannya di depan Gavin itu justru membuat Gavin semakin yakin kalau malam itu adalah dirinya.
Gavin mengangguk pelan.
Karin pikir semuanya akan selesai, ia sedikit bisa bernafas lega karena Gavin tidak memperpanjang lagi masalahnya.
Namun, ketenangan itu hanyalah sementara. Setelah detik berikutnya Gavin menyodorkan id card karyawan lengkap dengan lanyard kepadanya.
Deg!
Jantung Karin rasanya berhenti berdetak, ternyata id card yang hilang itu tertinggal di kamar hotel. Ia pikir, kartu identitasnya itu hilang saat di jalan. Bahkan kemarin ia sudah mengajukan cetak ulang.
“Apa ini bukan punya kamu?” tanya Gavin.
Karin tidak bisa menjawab, wajahnya memucat, bibirnya kelu. Bahkan satu patah kata pun tidak bisa keluar dari bibirnya.
“Karin…”
Dengan cepat Karin meraih kartu identitas kemudian berdiri. “Saya permisi, Pak. Apapun yang sudah terjadi malam itu, itu hanyalah kesalahan.”
Karin berbalik untuk meninggalkan ruangan Gavin. Rasanya, ia sudah tidak punya muka lagi. Entah apa yang terjadi kedepannya, karena seminggu lagi ia akan menjadi sekretaris Gavin.
Seandainya ia bisa memilih, mungkin Karin akan memilih resign saja. Tapi, itu tidak mungkin ia lakukan.
“Aku belum selesai bicara, Karin.”
Karin menghentikan langkahnya.
“Kamu sudah menerima surat mutasi, meskipun mulai minggu depan. Tapi, tanggal efektifnya di surat mutasi adalah per hari ini. Jadi, kamu sudah resmi menjadi sekretarisku. Dan aku ingin menjelaskan tugas dan tanggung jawab kamu.”
“Pak Frengki sudah menjelaskannya, Pak,” jawab Karin.
“Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan sendiri mengenai laporan.”
Akhirnya Karin kembali duduk di depan Gavin, wajahnya terus menunduk.
“Karena kamu baru pertama kali di posisi ini, aku akan menjelaskan beberapa hal dan laporan yang harus kamu buat setiap bulannya,” ujar Gavin sembari membalikkan monitor di depannya ke hadapan Karin. Disana jelas tabel yang begitu padat mengenai tugas dan tanggung jawab sekretaris Presdir.
Kring! Kring!
Baru saja Gavin akan menjelaskan ponsel Karin berdering.
Karin mengabaikan panggilan itu, ia kembali menatap monitor di depannya. Namun, ponsel itu kembali berdering.
“Jawab saja dulu, siapa tahu penting,” ujar Gavin.
“Tidak penting, Pak.”
“Silakan.” Gavin menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dan jelas itu sebagai perintah untuk Karin agar menjawab panggilan itu.
Karin memejamkan matanya, ia tahu yang menelponnya adalah ibu tirinya. Dan ia sudah bisa menebak, setiap kali panggilan dari sang ibu, bukanlah hal yang penting karena wanita paruh baya itu pasti akan meminta uang.
Setiap kali menelpon, tidak pernah menanyakan kabar. Yang ada hanya tuntutan tentang uang dan uang.
“Bu, aku lagi—“
“Karin! Kirimkan uang sekarang sepuluh juta. Viko ditangkap polisi saat sedang berjudi, Bapak kamu tiba-tiba sesak nafas!” teriak ibunya di ujung telepon dengan keras, bahkan Karin sampai menjauhkan ponselnya karena telinganya sakit mendengar teriakan wanita itu.
“Sepuluh juta?” tanya Karin.
“Iya, kalau tidak Viko akan dipenjara.”
Viko adalah adik tiri Karin, ia sedang duduk di bangku kuliah. Tapi, kelakuannya sangat nakal. Setiap bulannya hanya tahu meminta uang pada Karin, padahal seluruh biaya kuliah juga ditanggung Karin. Karim tidak pernah mempermasalahkan itu, karena ia tahu ayahnya tidak sanggup lagi membiayai Viko sebab lelaki itu sudah sakit-sakitan.
Tapi, sekarang Viko malah berulah. Ditangkap polisi karena main judi. Apakah Karin harus menanggungnya juga? Dan kalau tidak ia berikan, bagaimana dengan ayahnya?
“Bu, aku tidak punya uang,” jawab Karin akhirnya.
“Kalau Viko dipenjara, Bapak kamu akan mati!”
Ancaman itu begitu menyesakkan. Ia tahu ayahnya sangat menyayangi Viko, kalau adiknya dipenjara kemungkinan besar apa yang dikatakan ibunya itu akan terjadi.
Karin ditinggal ibu kandungnya pergi untuk selama-lamanya saat ia masih kecil, waktu itu ia masih berusia lima tahun. Dan hanya beberapa bulan setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibunya, lalu lahirlah Viko.
Sejak kecil, Karin tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Hidupnya tersisih, selalu Viko yang diutamakan. Dan sekarang, ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga. Hanya menyisakan sedikit uang untuk makan dan bayar kontrakan saja dari seluruh gajinya. Semuanya di transfer ke desa.
“Ibu tunggu uangnya sekarang, Karin!” teriak ibunya dan panggilan berakhir.
Raungan yang begitu hening membuat Gavin bisa mendengar semua pembicaraan itu, ia menatap Karin lekat. Ia kemudian mendekat dan berdiri di belakang Karin.
“Maaf, Pak Gavin,” ucap Karin meletakkan kembali ponselnya diatas meja.
“Aku bisa membantumu,” ucap Gavin tiba-tiba memegang bahu Karin.
Karin tersentak, tapi ia tidak berani menepisnya atau lebih tepatnya ia tidak lagi memiliki tenaga untuk itu.
“Berikan nomor rekeningnya, aku akan transfer sekarang uangnya.”
“Tapi, Pak—“
“Bukankan keadaannya mendesak?” tanya Gavin.
“Saya tidak mau berhutang, Pak,” jawab Karin akhirnya.
“Kamu tidak perlu membayarnya, Karin.”
“Maksud Pak Gavin?”
“Jadilah milikku, Karin,” bisik Gavin rendah. Remasan lembut namun posesif di bahunya membuat Karin meremang seketika.
Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak
“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas
"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga







