INICIAR SESIÓN“Nggak mungkin aku hamil kan?” Tanyanya pada diri sendiri. Tangannya masih gemetar membayangkan sesuatu yang tidak diharapkan Nathan benar-benar terjadi. “Mustahil aku hamil. Pasti ini hanya masalah hormon,” ucapnya mencoba menenangkan diri sendiri tapi tidak bisa. Rasa panik itu terus saja menyerangnya tanpa ampun.Salsa benar-benar tidak bisa tenang lagi. Duduk di dek kapal yang mewah dengan pemandangan laut yang indah kini sama sekali tidak ada artinya. Pikirannya mendadak kosong, menyisakan rasa takut hingga membuat telapak tangannya basah dan pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya tiba-tiba gemetar, bukan karena embusan angin laut yang dingin, melainkan karena bayangan buruk yang langsung terlintas di dalam benaknya.Dua minggu bukanlah waktu yang sebentar untuk ukuran keterlambatan datang bulan, apalagi ini baru pertama kali terjadi dalam hidupnya. Kenyataan pahit itu seperti mimpi buruk yang membangunkan Salsa dari tidurnya. Rasa gelisah yang hebat mulai meray
“Kalau kamu memang tidak sabar menunggu waktu yang tepat menurutku, kamu boleh pergi dan cari wanita lain. Aku tidak mau tertekan hanya karena desakanmu yang begitu menggebu-gebu ingin mengenal papaku. Aku heran kenapa kamu ingin banget ketemu dengan Papaku padahal sejak awal kita sudah membuat perjanjian agar kamu tidak memaksaku untuk mengenalkanmu pada papaku? Belum tentu juga Papaku menyetujui hubungan kita,” ucap Alea kesal.Dia adalah perempuan mandiri yang sudah memiliki segalanya. Terlebih lagi, statusnya adalah pewaris tunggal dari seluruh harta kekayaan sang papa. Alea sama sekali tidak takut kehilangan satu laki-laki seperti Andreas, meskipun tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat mencintai pria itu. Namun, entahlah. Setiap kali Andreas memaksa untuk segera berterus terang kepada papanya tentang hubungan mereka, seketika pikiran buruk tentang pria itu langsung terlintas di benaknya. Apa mungkin Andreas benar-benar mencintainya dengan tulus? Atau pria ini justru lebih mencin
Sejak keluar dari kamar kedua orang tuanya, Nathan memilih diam. Raka dan Salsa pun takut untuk bersuara di dalam mobil, sehingga mereka semua memilih tetap membisu. Hanya Raka yang sesekali berbincang dengan sopir pribadi orang tua Nathan yang mengantarkan mereka ke lokasi, sementara Salsa hanya menatap keluar jendela. “Sialan, leherku sakit banget,” gumam Salsa di dalam hati. Saking lamanya dia hanya menatap keluar jendela. Sementara di sebelahnya, pemandangan itu terlihat sangat horor. Duduk berdampingan dengan Nathan jelas bukan hal yang bagus untuk Salsa. “Pak Raka, masih lama ya?” tanya Salsa, sekadar untuk berbasa-basi saja agar suasana di dalam mobil tidak seperti di kuburan. Tapi, jawaban pedas Nathan seketika membuat Salsa bungkam. “Kalau mau turun di sini, ya turun saja. Berisik.” Salsa malas banget berdebat. Sementara Raka yang sudah mengenal bosnya sejak lama, sudah yakin kalau suasana hati pria itu sedang tidak baik-baik saja. Ini pasti ada kaitannya dengan Ny
“Mom—” Nathan berniat menyela untuk membela diri, namun sang Mommy langsung memotongnya dengan suara yang jauh lebih lantang.“Mommy butuh pewaris, Nathan. Titik.”Nathan menghembuskan napas berat sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Kepalanya tiba-tiba sakit memikirkan konsekuensi ke depannya. Kalau sampai dia benar-benar nekat menikah sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya, Alea pasti akan mengamuk dan mogok bicara dengannya. Nathan sama sekali tidak mau ego pribadinya membuat putri kesayangannya itu merasa dikesampingkan atau tidak disayangi lagi. Lagipula, Nathan benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran sang Mommy. Ide macam apa ini? Bagaimana bisa sang Mommy memintanya untuk menikahi sahabat dekat dari anaknya sendiri? Itu benar-benar tidak masuk akal.“Kan ada Alea, Mom. Nanti kalau Alea sudah menikah, dia pasti akan punya anak. Nathan bisa minta dia untuk nikah muda saja, biar bisa melahirkan banyak cucu untuk Mommy dan Daddy,” sahut Nathan, menco
Sepanjang berkeliling melihat-lihat area proyek, fokus Salsa benar-benar buyar. Matanya tidak bisa diajak kompromi dan terus saja melirik ke arah Nathan dan Clara. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyergap, membuat suasana hatinya langsung berantakan tanpa sebab yang jelas.Padahal kalau dilihat lagi, sikap Nathan biasa saja. Pria itu tetap memasang wajah datar seperti yang selalu dia tunjukkan, menjawab dengan sangat singkat, dan lebih banyak sibuk menanggapi laporan dari kepala proyek. Masalahnya ada pada Clara. Wanita itu sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari Nathan sedikit pun. Ada saja tingkahnya yang memancing kekesalan Salsa mulai dari sengaja berjalan mepet, tertawa centil yang kedengaran dibuat-buat, sampai tangan luwesnya yang sebentar-sebentar merapikan jas kerja Nathan.Melihat pemandangan itu, Salsa hanya bisa mendengus kesal sambil menghela nafas panjang tapi hatinya berisik dan terus saja mengumpat dalam hati. Gelagat Clara yang super agresif dan tidak tahu malu itu
“Aman gak ya?” gumam Nathan.Dia takut tiba-tiba ada security yang melihat mobilnya tidak kunjung pergi dari area parkir. Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri lalu ke arah belakang untuk memastikan keadaan di sana aman. Berada di dekat gadis ini benar-benar membuatnya sangat sulit mengontrol nafsu. Di manapun mereka sedang berduaan Nathan selalu saja ingin menyentuh Salsa. “Kalau gak aman kita cari tempat lain saja, Om,” sahut Salsa. Saat gadis itu hendak menjauh dari pangkuan Nathan, pria itu berhasil mencegahnya.“Aman kayaknya,” jawab Nathan. Enak saja Salsa mau cari tempat lain sementara nafsunya udah bikin kepalanya pening sampai di ubun-ubun.Salsa mendongak untuk menatap pria yang akan ia manjakan itu dengan mulutnya. Rambutnya berantakan tapi terlihat sangat seksi dan menggemaskan di mata Nathan.Tak ada sepatah katapun yang terucap tapi Nathan memberi ciuman lembut dan singkat di bibir Salsa.“Ayo, lakukan lagi,” ujarnya. Saat pria itu udah diliputi oleh hawa nafsu, dia akan
“Alea sayang,” tegur Nathan. Tentu saja dia harus menegur sang anak yang kepo dengan isi pesan di ponsel Salsa. Jangan sampai sang anak membaca pesan yang ia kirim pada Salsa. Seketika Alea nyengir kuda dan mengembalikan ponsel Salsa. Sejujurnya dia hanya khawatir kalau Aditya yang mengirim pesan
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
Nathan menggeser duduknya saat Alea terlihat mendekat ke depan ruang ICU lagi. Lantas Alea duduk di antara Papa dan sahabatnya. Di depan Alea, Nathan itu berubah menjadi Papa Peri. Terlihat sangat manis dan baik. Padahal saat dengan Salsa, mulut pria ini sangat pedas, lebih pedas dari bon cabe leve
“A–Alea. Ke–kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu sedang liburan?” tanya Salsa terbata.Lidahnya mendadak kelu melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya. Ketakutan seketika merayap di hati Salsa, membuat seluruh persendiannya terasa mau lepas semua.“Gak penting! Sekarang jawab, kenapa kamu bisa







