Mag-log inTernyata Nathan yang lebih dulu sampai di rumah sakit. Begitu melihat mobil yang dikendarai Alea berhenti di depan lobi UGD, dia langsung berlari menghampiri. Tanpa membuang waktu, Nathan membuka pintu mobil lalu merengkuh tubuh Kenzo yang masih terus menangis sesenggukan.Nathan sengaja mengambil alih Kenzo dari pangkuan Salsa, memberi ruang agar wanita yang sedang hamil muda itu tidak kepayahan saat turun.“Tolong bawa dia masuk... darahnya keluar terus, aku takut kondisinya tambah parah,” ucap Salsa dengan wajah pucat dan mata sembab. Tangannya gemetar menunjuk luka di dahi anak mereka.“Iya, Sayang, nggak apa-apa. Kenzo anak kuat,” jawab Nathan menenangkan. Di tengah kepanikannya, dia masih sempat menahan siku Salsa, memastikan calon istrinya itu berdiri dengan baik sebelum dia bergegas berlari membawa sang putra masuk ke dalam ruang UGD.Salsa berjalan cepat mengekor di belakang Nathan, sementara Alea memilih menunggu di luar agar tidak memenuhi ruangan. Setelah diperiksa di bawa
Salsa berlari keluar rumah seperti orang kesetanan. Napasnya tersengal-sengal karena dia benar-benar ketakutan luar biasa melihat anaknya terjatuh, jantungnya seperti mau melompat keluar dari cangkangnya saat wanita itu melihat dahi dan wajah putra sulungnya sudah berlumuran darah di dekat kolam ikan.“Mamaaaaaa!” jerit Kenzo histeris, tangannya menggapai-gapai seolah tempat paling aman adalah di pelukan sang mama, begitu melihat bayangan sang mama berlari makin dekat. Suara tangisnya melengking, semakin membuat situasi di rumah itu menjadi sangat panik.Tuan Abimanyu di samping kolam tak kalah panik. Wajah pria tua itu pucat pasi, tangannya gemetar hebat berusaha menahan tubuh Kenzo agar tidak bergerak yang bisa memicu darah keluar semakin banyak. Beliau sendiri yang tadi mengajak cucu kembarnya duduk-duduk santai di teras dekat kolam. Sementara dua pengasuh si kembar sedang masuk ke dalam rumah untuk mengambil mangkuk camilan—karena memang sudah masuk jadwal jam makan camilan anak-a
"Kenapa sih Aditya bisa ada di mana-mana?" tanya Salsa dengan raut sendu, setiap kali ada masalah selalu nama itu yang muncul membuatnya jadi mual sekaligus khawatir kalau pria itu tidak akan pernah hilang dari hidup Salsa."Mungkin dia tahu kalau dulu dia masuk penjara gara-gara Papa yang membongkar semua kebusukannya," jawab Alea, mencoba memberi sudut pandang yang masuk akal dari semua kejadian yang ia ketahui selama ini. Dan dirinya pun tahu sang Papa melakukan itu karena Aditya sudah berani mengusik hidup wanita yang dicintai Papanya."Dan itu semua gara-gara aku..." sahut Salsa lirih. Wajahnya seketika berubah makin sendu, karena rasa bersalah yang begitu besar sehingga gara-gara dirinya Nathan justru harus terlibat dalam dendam sang mantan tunangan.Alea tersenyum manis, menatap Salsa dengan penuh pengertian. Dia benar-benar paham apa yang dirasakan Salsa. "Sa, Papa itu belum pernah melakukan hal sejauh ini buat orang lain. Kamu bisa lihat sendiri seberapa besar pengorbanan yan
“Angkat saja teleponnya, Pak,” usul Raka pada atasannya sekaligus calon mertuanya sambil melirik layar gawai di atas meja yang terus bergetar tanpa henti. Nathan mengangguk menyetujui ucapan Raka. Tangannya lantas menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. “Halo?” sapa Nathan. Suara tawa berat yang samar dan penuh racun langsung menyambutnya dari seberang sana. Tanpa ada basa-basi atau sapaan ramah, pria itu bersuara dengan intonasi dingin yang penuh ancaman. “Jangan merasa kamu sudah menang, Nathan... Sebentar lagi kamu juga akan hancur sehancur-hancurnya seperti Darmawan!” Tuuuuut Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak, menyisakan suara sengau yang berdengung di telinga. Nathan menyipitkan mata, menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan dahi berkerut heran. “Siapa, Pak?” tanya Raka yang ikut tegang melihat perubahan raut wajah atasannya. Nathan menggeleng karena dirinya memang tidak mengenali suara orang tersebut. “Entahlah. Aku tidak
Jika Aditya dan anak buah Nathan sedang bertaruh nyawa di tempat tersembunyi, kondisi di kediaman mewah Pak Darmawan justru berbanding terbalik. Suasana di rumah itu sangat kacau balau dan diselimuti rasa frustrasi dan keputusasaan yang sangat menyakitkan dari Clara dan Mamanya. Mereka tidak pernah menyangka akan ada di titik ini. Mereka pikir mereka akan selamanya menjadi orang kaya dan tak tersentuh oleh apapun. Tapi kali ini dunia seperti berbalik.Aaaarrrrrrrrgh!Praaaaaaang!Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring membuat semua pelayan yang ada di sana ketakutan. Clara melempar apa saja yang bisa terjangkau oleh tangannya—vas bunga, pajangan kristal, hingga bingkai foto semua disapu dan jatuh berserakan di lantai. Napasnya memburu dan mulai sesak, matanya merah padam digenangi air mata yang tak berhenti membasahi wajah cantiknya. Hatinya hancur berkeping-keping. Dunia yang selama ini selalu berpihak padanya tapi kali ini hancur dalam hitungan detik. Papanya diringkus polisi t
“Mana ada mall buka jam segini, sayang? Nanti aja ya, Papa masih mau kerja dulu nih. Kalau Papa nggak kerja nanti ke mallnya cari uang di mana dong?” tanya Nathan, dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua anak kembarnya.Si kembar kompak mengerucutkan bibirnya dan melipat tangan di depan dada, mereka berlagak sedang marah pada sang papa. Nathan kembali berkata, “mau es krim gak?” tanya Nathan. Seketika itu juga mata si kembar berbinar, “mau, Papa,” jawabnya penuh semangat.“Ayo turun, kita ambil es krim yang banyak,” ajak Nathan. Si kembar akhirnya menggandeng tangan kanan dan kiri sang papa. Mereka menuruni anak tangga. Mereka sudah heboh banget akhirnya bisa makan es krim lagi. Namun setelah freezer dibuka ternyata kosong. “Yach habis,” ucap Nathan. Wajahnya dibuat pura-pura sendu seolah dia sedih karena es krim itu habis. CkSi kembar berdecak. Lalu Kenzo menoleh ke arah sang kakak, “pasti Kak Al ngabisin,” tuduh Kenzo. “Iya. Mau apa kalian?” tantang Alea.Kenzo
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya







