Share

Minta Jatah Lagi

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-06-02 16:04:51

“A–Alea. Ke–kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu sedang liburan?” tanya Salsa terbata. Lidahnya mendadak kelu melihat sosok sahabatnya berdiri tak jauh dari tangga lobi. Ketakutan seketika merayap cepat, membuat seluruh persendian Salsa terasa lemas.

“Gak penting! Sekarang jawab, kenapa kamu bisa keluar dari mobil Papaku?” tanya Alea balik, menuntut penjelasan. Rahang gadis itu mengencang.

Salsa panik, bingung harus mengarang kebohongan apa agar hubungan terlarang di antara dirinya dan pria matang itu tidak tercium. Namun, sebelum Salsa sempat bersuara, pintu mobil mewah di belakangnya terbuka. Nathan melangkah turun dengan tenang dan berwibawa. Tak ada sedikit pun raut panik di wajah tampannya.

“Sayang, kamu kenapa ada di sini?” tanya Nathan lembut pada sang anak.

Alea membalikkan badan, menatap sang papa dengan bibir mengerucut kesal. “Kenapa Salsa bisa turun dari mobil Papa?” tanyanya menuntut. Selama ini papanya sangat menjaga privasi dan paling anti membawa wanita lain di mobilnya. Apalagi sejak sejam lalu, panggilan teleponnya ke Salsa tak kunjung diangkat.

Tanpa kehilangan kendali, pengusaha sukses itu hanya membutuhkan beberapa detik untuk merangkai alasan yang logis.

“Salsa mau berterima kasih karena ayahnya sudah berhasil melewati masa kritis, Sayang. Tadi malam Salsa juga datang ke rumah, meminta bantuan Papa untuk biaya operasi ayahnya. Karena dia sahabat baikmu, tentu Papa memilih untuk membantunya,” ujar Nathan dengan suara bariton yang dalam dan menenangkan.

Mata Alea langsung berbinar. Kecurigaan yang sempat muncul perlahan menguap. “Jadi Papa yang bantuin ayahnya Salsa?”

Nathan tersenyum tipis. Tangannya terulur merengkuh bahu putrinya dengan penuh kasih sayang. “Iya, Sayang. Dan kebetulan Papa akan ada acara di dekat sini, jadi sekalian Papa antar Salsa ke rumah sakit.”

Mendengar kebohongan yang meluncur begitu tenang dan meyakinkan dari bibir pria itu, Salsa akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Jantungnya yang sempat berdegup kencang perlahan mulai berangsur normal.

Alea langsung memeluk tubuh papanya dengan erat. “Makasih ya, Pa, udah bantuin Salsa,” ucap Alea manja.

Nathan mengusap punggung anaknya, tetapi sorot mata abu-abunya sempat beralih menatap Salsa yang berdiri mematung. “Tapi bantuan Papa tetap harus diperhitungkan, Sayang. Sampai ayahnya sembuh, kemungkinan biayanya bisa mencapai dua miliar,” ujar Nathan, sengaja menyebutkan nominal itu sebagai pengingat kesepakatan antara dirinya dan Salsa.

Salsa seketika menundukkan wajah. Dia tahu betul maksud di balik kalimat pria itu.

“Tapi Salsa belum kerja, Pa,” sela Alea membela.

“Nanti kalau dia sudah bekerja, dia bisa mulai mencicilnya,” jawab Nathan santai.

Alea tak ingin ambil pusing soal utang-piutang itu. Dia mengaku sengaja membatalkan liburannya karena merasa tak tenang memikirkan Salsa sendirian di rumah sakit. Mendengar hal itu, rasa bersalah seketika menghujam hati Salsa. Betapa tulusnya Alea, sementara dirinya baru saja menyerahkan kehormatan pada papa dari sahabatnya sendiri.

Dengan mata berkaca-kaca, Salsa memeluk Alea erat. “Makasih ya, Al... Kamu udah datang buat aku. Aku nggak tahu cara membalas kebaikanmu padaku.”

Mendengar itu Alea membalas pelukan sahabatnya dan berkata, “Kamu cukup jadi sahabat yang baik aja buat aku. Dah, yuk ke atas. Banyak hal yang harus kamu ceritakan, termasuk soal kamu diputusin sama Adit kemarin,” ujar Alea seraya menggandeng tangan Salsa menuju lift menuntut penjelasan atas pesan singkat yang sempat dikirim Salsa padanya.

Di belakang mereka, dahi Nathan seketika mengernyit. Sorot matanya menatap punggung Salsa dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria matang itu baru tahu, di tengah penderitaan menanggung biaya sang ayah, Salsa ternyata juga baru dicampakkan oleh kekasihnya.

Saat hendak melangkah, kedua gadis itu tersadar telah meninggalkan Nathan. Alea berbalik lalu menarik tangan papanya setengah memaksa. “Pa, ayo ikut naik sebentar.”

Nathan akhirnya mengalah demi menyenangkan putrinya. Pria itu berjalan menuju ke ruang ICU menemani sang anak untuk memberi support pada Salsa.

Sekitar tiga puluh menit berada di sana, Alea pamit sebentar ke kamar mandi. Begitu sosok Alea menghilang di balik lorong, ketenangan di antara mereka seketika menguap. Aura dominan dari Nathan kembali terasa. Pria matang itu mengikis jarak hingga aroma maskulinnya yang khas langsung menyapa indra penciuman Salsa. Tatapan abu-abunya yang tenang dan intens membuat napas Salsa langsung tercekat.

“Malam ini kamu sebaiknya menginap di rumah bersama Alea,” bisik Nathan yang terdengar konyol di telinga Salsa, “aku masih ingin kita melakukannya lagi,” sambung pria itu.

Salsa langsung menggeleng menolak permintaan Nathan. “Jangan, Om... Nanti bahaya kalau Alea sampai tahu.”

“Makanya jangan sampai dia tahu,” potong Nathan cepat.

Pria itu semakin mendekat hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut area sensitif di sekitar telinga Salsa. Jemari kekarnya yang hangat sempat menyentuh pinggang Salsa, mengirimkan desiran panas seperti sengatan listrik yang membuat tubuh Salsa meremang hebat—mengkhianati batinnya yang sedang panik.

“Aku mau kamu melayaniku sekali lagi nanti malam... di ranjangku,” bisik Nathan parau, meninggalkan sensasi hangat yang membakar seluruh kesadaran Salsa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ririn Riyani
qhehdjdjkdo
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 279

    “Kamu mau kemana sekarang?” tanya Mamanya. “Aku mau sewa mobil dulu, Ma. Setelah itu kita coba cari hutan tempat Aditya bersembunyi,” ucapnya.“Tapi, nak-” ucapan mamanya terpotong. “Mama tenang saja, kita pasti berhasil menemukan lelaki terkutuk itu. Berdoa saja semoga harta kita masih ada di tempat yang sama,” ujarnya. Mamanya hanya bisa mengangguk pasrah.Clara pun meminta izin untuk sewa mobil, setelah itu dia kembali ke hotel untuk menjemput mamanya. Clara yakin banget pasti bisa menemukan tempat persembunyian Aditya.Mobil sewaan yang dikendarai Clara terus melaju membelah jalanan berbatu yang makin menyempit di pinggiran kota. Hampir setengah hari penuh wanita itu mengitari kawasan yang sama, memutar otak dan mengamati tiap sudut pepohonan untuk mengingat-ingat jalan setapak yang pernah mereka lalui. Ketegangan di dalam kabin mobil makin terasa berat seiring bensin yang terus berkurang dan napas mamanya yang makin memburu di kursi samping. Setiap kali berbelok di persimpangan

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 278

    "Ada apa lagi, Raka?" tanya Nathan saat mengangkat panggilan telepon dari orang kepercayaannya yang juga calon menantunya itu."Pak, sepertinya dia membutuhkan perawatan intensif. Apa boleh kami langsung bawa dia ke rumah sakit terbaik di kota ini?" tanya Raka dari seberang telepon. Dia paham betul kalau biaya rumah sakit swasta paling bagus di pusat kota sangat mahal. Jadi bagaimanapun juga, dia harus minta izin dulu kepada Nathan Abimanyu sebagai pemilik keputusan dan pemilik dana penuh atas pengobatan korban yang disekap oleh Aditya."Silakan, bawa saja. Obati dia sampai bener-bener sembuh, berikan pengobatan terbaik," jawab Nathan cepat tanpa ada keraguan sedikit pun di setiap ucapannya. Bagi Nathan, keselamatan anak buahnya jauh lebih penting daripada sekadar angka di rekening."Baik, Pak. Terima kasih banyak," sahut Raka sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.Salsa yang duduk di sebelah suaminya langsung menoleh dengan wajah cemas. Sejak tadi dia memang ikut khawatir memiki

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 277

    “Suara apa itu?” Teriak Aditya. Dia langsung mendobrak pintu tempat anak buah Nathan disekap dan kosong.“Bangsat!” Umpatnya penuh amarah.Pintu belakang villa yang sedikit terbuka membuat anak buah Nathan memanfaatkan celah sempit itu dengan sangat cepat. Begitu berhasil keluar dari bangunan, dia tidak langsung lari lurus melintasi semak-semak karena sadar jejak kakinya akan sangat mudah ditemukan oleh Aditya. Dengan sisa tenaga yang ada dan tangan yang masih terasa perih akibat luka yang dialami di sekujur tubuhnya, pria itu memilih memanjat sebuah pohon besar berdaun rindang yang berdiri hanya beberapa meter dari dinding luar villa.Di atas dahan tinggi dan tertutup oleh dedaunan yang sangat lebat itu, dia menahan napas sambil merapatkan tubuhnya ke batang pohon. Tepat di bawahnya, Aditya keluar dari pintu belakang sambil menggenggam pistol dengan raut wajah penuh amarah. Mata Aditya meliar menyapu seluruh area sekitar villa, melangkah terburu-buru menyusuri semak-semak dan jalan

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 276

    “Apa?” Salsa terkejut mendengar pengakuan mertuanya yang bilang ada sepuluh dus total belanjaan si kembar.“Pelankan suaramu, sayang. Malu banget istri konglomerat marah-marah kayak gini. Jangankan hanya 10 dus mainan, mallnya pun mau mereka beli akan aku belikan, sayang,” jawab Nathan.Salsa mengatur napasnya. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun mendengar jawaban suaminya. Tapi dia tidak ingin bertengkar dengan Nathan di depan kedua mertuanya. Sementara Nathan sengaja memanfaatkan itu agar dia tidak kena marah oleh sang istri.“Maafkan kami ya, Mama,” ucap si kembar sudah berlutut di depan Mamanya. Tangan kecil mereka mengusap perut sang mama.“Awas saja kalau mainan yang dibeli terbuang sia-sia!” Salsa menyelipkan kata ancaman dalam kalimatnya sambil menatap kedua buah hatinya yang sedang berlutut di depannya. “Semuanya berguna kok, Mama. Bahkan kami beliin adik bayi mainan juga. Jadi belinya tiga,” sahut Kenzo yang dibalas anggukan oleh Kenzi. “Beli baju juga buat adik bayi,” jawab

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 275

    “Sayang, ayo bersih-bersih dulu. Nanti anak-anak keburu pulang,” ucap Salsa sambil menyenggol dada sang suami menggunakan siku.Mereka berdua masih enggan beranjak dari tempat tidur. Seprai kamar villa yang berantakan jadi saksi betapa hebat dan panasnya kegiatan ranjang mereka berdua hari itu. Selimut tebal berwarna putih masih membungkus tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang pun sebagai penutupnya. Padahal sesi bercinta mereka yang kedua sudah selesai dari lima belas menit yang lalu, tapi Nathan sama sekali tidak ada niat buat bangun apalagi melangkah untuk menuju ke kamar mandi. Pria itu justru menjadi semakin erat memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Salsa sambil tak berhenti mengusap lembut perut sang istri yang kini mulai membuncit.Momen-momen seperti ini bener-bener berharga buat Nathan. Akhirnya dia bisa merasakan langsung bagaimana rasanya jadi calon ayah siaga untuk kehamilan Salsa yang kedua ini. Di dalam hatinya, Nathan sudah bersumpah akan

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 274

    Nathan mulai melakukan penyatuan. Tubuhnya mulai bergerak maju mundur di atas tubuh sang istri. Sensasi yang berbeda kembali mereka rasakan, karena ini pertama kali Nathan menyentuh Salsa saat perut wanita itu mulai membuncit. Benar kata orang, setelah sah sang anak tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memperlihatkan pada semua orang kalau sebentar lagi dia akan tumbuh di keluarga bahagia ini. Melihat Salsa yang tak kuasa menahan kenikmatan atas sentuhannya, Nathan berjanji akan rajin-rajin menyentuh istrinya.“Nikmat gak, sayang?” Tanya Nathan. Matanya juga merem melek karena milik Salsa masih terasa menjepit miliknya. Cengkramannya masih sangat kuat pada junior Nathan.“Nikmat banget, sayang,” desah Salsa. Wanita itu mengimbangi gerakan Nathan. “Tubuhmu sangat nikmat, sayang,” bisik Nathan semakin membuat istrinya mendesah nikmat, “dedek bayinya aman gak, sayang?” tanya Nathan. Dia takut Salsa kesakitan.“Aman kok, sayang,” balasnya.Natah membungkuk lalu melumat lagi bibir ranum sang

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Ternyata Masih Perawan

    Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Tubuhmu Milikku

    “Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Tubuhku jadi Jaminan Utang

    Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Satu Miliar

    Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status