Share

Ego Tinggi

Penulis: Stary Dream
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 11:42:57

Seperti yang diduga, seseorang mengucap salam dari depan. Tanpa melihat Bening sudah tahu siapa yang datang. Bedanya hari ini dia datang sendiri. Tanpa ibu mertua juga mbaknya.

"Mana mas Iman?" Tanya Ifa, adik Iman yang baru kelas 1 SMA.

"Memang nggak ada di rumahmu?" Tanya Bening acuh. Dia sedang repot menyuapi Riki makan.

"Nggak ada. Mana mas Iman?" Tanyanya tak sabar.

"Nggak tahu. Tadi keluar."

Rupanya Iman tak pergi ke rumah ibunya yang hanya berjarak 10 menit dari sini, lalu kemana perginya pria itu.

"Aduh kemana mas Iman ini!" Ifa jadi merengek.

"Memang kenapa?" Terpaksa Bening menoleh karena risih mendengar suara rengekan itu.

"Mau minta uang buat sekolah."

"Bukannya ini hari minggu. Ngapain ke sekolah?"

"Mau ekskul."

"Telpon aja mas mu, mungkin beli rokok diluar."

Ifa lalu mengambil ponselnya dan menelpon Iman tapi sayang sambungannya tak terangkat.

"Duh, gimana ini! Mas Iman nggak ngangkat."

Bening memilih tak menjawab karena sibuk dengan anak-anaknya. Sedangkan Ifa jadi mondar mandir tak jelas.

"Kalau nggak dibayar nanti Ifa nggak bisa ikut ekskul itu." Ucapnya lagi sambil merengek.

Sengaja kaki itu dihentak-hentakkan, tapi tetap saja Bening tak bergeming. Ifa lalu menuju ruang makan dan berkeliling membuka kulkas, tutup kuali yang ada di kompor dan terakhir tudung saji. Tak terdengar suara, rupanya Ifa tengah makan.

"Kemana mas Iman, mbak? Kok belum pulang?" Tanya Ifa setelah selesai menyantap sarapan.

"Sudah kamu telpon lagi?"

Ifa mencoba menelpon lagi sambil masuk dari kamar ke kamar. Bening sendiri menuju dapur untuk mencuci piring.

"Ya ampun.. apa dia nggak pernah belajar bertamu?" Bening jadi kesal.

Ifa ini sudah pernah ditegurnya. Bekas makan itu langsung taruh di tempat cucian, kalau tidak mau mencucinya ya biarkan saja. Tapi ini, piring dan bekas makan berserakan dimana-dimana. Jika ditegur lagi, Ifa akan merajuk dan mengadu yang tidak-tidak.

Sambil mencuci piring, Ifa memburu Bening di dapur.

"Ifa ke sekolah dulu ya, mbak."

Bening hanya berdeham.

Sesuai dugaan Bening, ternyata Iman keluar untuk membeli rokok di warung depan. Kebetulan ada warung manisan di depan gang, jadi Iman mampir membeli rokok sekalian beli sarapan.

Perut ini lapar sekali. Tapi, Bening malah mengomel. Harusnya Iman yang marah-marah padanya, lah kenapa jadi Iman yang balik dimarahinya.

Jika Iman ikut mengasuh anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah nanti apa kata dunia? Sudah tahu wanita itu tugasnya dapur, sumur dan kasur. Jika itu saja dibantu pria, terus mereka tugasnya apa?

Hah! Iman jadi mendengkus kesal. Lebih baik sarapan nasi uduk saja disini.

"Nasi uduknya satu, bi!"

Iman menoleh mendengar suara familiar itu, rupanya Inah membeli sarapan. Berbekal jaket dengan celana pendek, remaja ini keluar dengan wajah ngantuknya.

"Eh.. ada mas Iman!" Inah baru sadar ada majikannya sedang sarapan.

Iman berdeham. "Bi, nggak usah ambil uangnya. Biar aku yang bayar nasinya Inah!"

"Wah.. terima kasih ya mas Iman." Inah tersenyum senang, lumayan pagi ini dia bisa makan gratis. Jadi uangnya bisa dipakai untuk tambahan beli kuota.

"Hmm.. sama-sama."

Iman hanya memandangi Inah yang mulai berjalan menjauh. Gadis itu senang sekali memakai celana pendek sebatas lutut. Jika dilihat dari belakang, pinggulnya tertampak jelas. Dasar gadis desa! Harusnya dia tak berpakaian seperti itu selama disini. Bisa jadi ada yang berniat jahat.

Pulang ke rumah, Iman mendapati rumah masih berantakan. Biasa, Raka suka menghamburkan mainannya di tengah rumah. Sedangkan Bening tengah memandikan Riki.

"Tadi ada Ifa kemari." Seru Bening dari dalam kamar mandi.

"Ifa? Ngapain?" Sahut Iman malas yang sebenarnya masih marah pada istrinya.

"Minta uang, buat ekskul katanya."

"Kamu kasih?"

"Ya, enggaklah!" Bening memakaikan handuk pada anaknya dan berlalu ke kamar.

"Kenapa nggak kamu kasih?" Iman jadi memburu istrinya ke kamar.

"Nggak punya uang, mas. Aku belum gajian."

"Ya ampun, Bening. Memangnya berapa banyak banget sih dia mau minta. Paling nggak sampe 50 ribu!" Gerutu Iman. Istrinya ini makin kesini semakin pelit.

"Katamu begitu! Tapi uangnya bisa kupakai untuk beli diapers. Kamu kan semalam bilang kalau harus hemat-hemat sampai aku gajian!"

Iman berdecak. Dia langsung menuju pintu kamar.

"Mas sudah sarapan?" Tanya Bening sambil memakaikan baju pada anaknya.

"Sudah. Mau mandi dulu."

"Sekalian mas tolong.." pinta Bening sambil tersenyum. "Kak Raka juga ajak mandi."

"Kamu aja kenapa mandiinnya? Nggak bisa?" Iman kesal lagi.

"Aku mau makan sebentar aja.. perutku laper banget."

Iman mengibaskan tangannya. "Ngerepotin banget. Aku mau mandi terus tidur. Jangan diganggu!"

Iman langsung keluar dan menuju kamar mandi. Sementara, Bening merasa sakit hati lagi.

Kapan sih suaminya ini bisa dimintai tolong? Jawabannya selalu merepotkan. Apa dia nggak mau tahu keadaan istri dan anak-anaknya ini bagaimana? Apa memang semua pria itu seperti ini? Setelah membuahi, lalu lepas tanggung jawab untuk ikut andil pengasuhan anaknya.

Sudahlah. Bening hanya bisa minta diluaskan hatinya supaya sabar terus menerus.

Oleh karena hari libur, Iman mengurung dirinya di kamar. Sementara, Bening sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Itu karena Raka dan Riki senang jika Bening tak bekerja. Mereka malah mengajak bundanya bermian seharian.

Selesai bermain, ketiganya tidur bersama di kamar. Tapi Iman tetap tega membangunkan istrinya. Alasannya minta disiapkan makan siang. Padahal lauk sudah masak, tinggal dimakan saja.

Namun ini Iman. Raja berkedok kepala keluarga. Dia suka memerintah dan minta dilayani. Mana mau tahu dia sedang apa istrinya, mau sibuk atau tidak, yang penting Iman nomor satu.

Bening mati-matian menahan rasa jengkelnya. Padahal mata ini mengantuk sekali, rasanya baru terlelap sebentar namun suaminya mengganggu. Tapi tahan.. melayani suami berbalas pahala. Bening hanya mengharapkan itu.

Karena masih perang dingin, Iman tak mau dekat-dekat istrinya. Maunya itu Bening datang sendiri, meminta maaf dan mencium tangannya. Lalu melayani di atas ranjang. Tapi yang ada Bening malah bergelut bersama anak-anaknya yang berisik itu.

Sudah dua hari perang dingin, Bening terpaksa mengalah. Tak baik juga bertengkar lama-lama. Dosa!

"Mas sudah makan?" Tanya Bening lembut. Basa basi saja, karena ia tahu suaminya baru pulang bekerja.

Iman berdeham. "Belum."

"Aku siapin makan, ya."

"Nanti aja. Nggak laper. Mau mandi dulu!"

Iman melingkarkan handuk di lehernya, namun tangannya tertahan ketika ia ingin ke kamar mandi.

"Maafin aku ya, mas.. aku keras sama kamu kemarin.." ucap Bening lagi.

Iman menatap wajah ayu itu. Ia juga tak kuat jikalau lama-lama bermusuhan dengan istrinya.

"Aku juga minta maaf.. aku kemarin nggak ngertiin kamu." Kata Iman akhirnya.

Bening tersenyum dan memeluk suaminya. Kesempatan bagi Iman! Dia mengintip jika kedua anaknya tengah bermain mobil-mobilan. Sebentar saja, 10 menit. Iman berjanji tak akan lama.

Bening dibawanya ke ranjang dan direbahkan. Keduanya lalu berbagi keringat yang sama dengan penyatuan tubuh. Untung saja ini bisa diselesaikan dengan cepat, karena kalau terlalu lama, dua jagoan itu akan memprotes kepada dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Perkawinan   Lembaran Baru (Ending)

    Setelah beberapa hari tinggal di kota, Bening kembali bekerja di kantor arsitektur milik Reyhan dan Fandi sekaligus mengurus pendaftaran sekolah anak semata wayangnya.Dalam kurun waktu 2 bulan, Raka akan bersekolah di TK Aisyah. Merajut mimpi yang sebelumnya sempat berhenti karena musibah yang mereka alami."Selamat datang kembali, Bening.." ucap Sintia tersenyum manis."Terima kasih. Mudah-mudahan kamu tidak bosan mengajariku soal pekerjaan disini." Balas Bening sama manisnya."Ah.. itu! Siap-siap saja kamu akan sibuk.""Kenapa begitu?""Sekarang banyak klien yang mengambil jasa desain dari sini. Yang terbaru pemerintah daerah mengajak kerja sama dengan kita.""Dalam hal apa?""Mendesain perpustakaan. Kamu tahu kan kalau perpustakaan daerah kita sedang di renovasi?"Bening menggeleng. Dia sungguh tak tahu kabar."Rencananya perpustakaan itu akan dijadikan perpustakaan akbar. Jadi, bang Reyhan dan bang Fandi yang akan mendesainnya.""Wah, hebat sekali.." Bening jadi takjub. Dalam sat

  • Ranjang Perkawinan   Awal Yang Baru

    Satu tahun kemudian...Selepas kepergian Iman, kehidupan Wati dan keluarganya banyak sekali mengalami perubahan. Dimas yang pemalas dan hanya mengharapkan harta orang tuanya kini bekerja sebagai ojek online. Begitu juga dengan Irma yang ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan manisan di depan rumahnya. Sementara Ifa, terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan biaya.Dulu ketika Iman hidup, Iman lah yang bertugas memberikan nahkah kepada keluarga ini. Tapi setelah Iman sudah tidak ada lagi, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mengais rupiah demi rupiah untuk menyambung kehidupan mereka.Di penjara, Cahaya juga menebus dosa-dosanya. Ternyata wajah cantik itu tak menjamin hati seseorang. Ia didakwa karena terbukti melakukan penganiayaan pada anak kecil. Tak hanya di penjara, Cahaya juga resmi kehilangan pekerjaan serta izin prakteknya. Kakak Cahaya yang terlibat dalam pelenyapan Iman juga sudah mendapatkan masing-masing hukuman.Namun satu kejutan yang

  • Ranjang Perkawinan   Yang Bersalah Dihukum

    Iman memang ke kantor polisi. Tapi bukan untuk menyelamatkan istrinya. Melainkan memberi keterangan yang selama ini ia pendam sendiri. Mulai dari memar yang waktu itu ada di pelipis kanan anaknya, lalu Raka yang tak terurus dengan baik dimana Raka selalu mengadu tidak pernah dikasih makan.Bodohnya Iman yang selalu mengabaikan keluhan anaknya. Dia yang sibuk mencari nafkah diluar, mengaku jika kurang memberikan perhatian pada putranya. Ia juga tak bermaksud menyalahkan Cahaya, karena Iman sebenarnya sama saja.Keterangan dikantongi, para kakak Cahaya meradang setelah mendengar pengakuan Iman. Setelah itu, Cahaya dimintai keterangan lagi. Namun, wanita licik ini tetap tak mengaku dan meraung-raung minta dilepaskan.Sementara, Iman menuju rumah sakit dimana Raka dirawat. Sesampainya disana, dia bertemu dengan Bening dan dua mantan mertuanya."Mau apa lagi kamu kesini, mas?" Tanya Bening dingin."Aku hanya ingin melihat Raka. Apa kabarnya?""Buruk sekali. Anakku bahkan harus menjalani te

  • Ranjang Perkawinan   Murka Bening

    "Kenapa kamu kembali lagi, Ning?" Tanya Wati gugup bukan main. Oleh karena emosi, dia jadi mengeluarkan ucapan yang harusnya sampai mati disimpannya."Aku minta kalian mengatakan semuanya dengan jujur. Apa hubungan Ifa dengan kematian Riki?" Tanya Bening bergetar memandang tiga orang yang memiliki hubungan darah ini."Bukan apa-apa. Kamu salah dengar." Jawab Iman sembari memandang ke arah lain."Aku tidak salah dengar, mas. Kalian bilang jika Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh! Sekarang jawab semuanya!" Teriak Bening histeris. Raka sendiri memanggil bundanya ketika Bening menangis."Mbak Bening.." panggil Irma. "Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh.""Apa?"Sekarang semua mata tertuju pada Irma. Wati bahkan tak tahan untuk menegurnya."Mau sampai kapan kita menyembunyikan semuanya, bu?" Tanya Irma hampir terisak. "Mbak Bening nggak bersalah tapi dia menerima hukumannya. Begitu juga dengan mas Iman yang membiarkan rahasia ini terjaga untuk melindungi Ifa dari jerat hukum.""Irma, jelaska

  • Ranjang Perkawinan   Terbongkar

    "Raka!" Teriak Bening histeris ketika melihat Raka terjatuh tak sadarkan diri.Dia lalu meraih tubuh anaknya yang melemah. Sebelum Raka menutup mata, Raka sempat menatap bundanya dan mengaduh lemah."Sayang.."panggil Bening sambil menangis.Reyhan yang menyaksikan adegan mengerikan itu ikut turun dari mobil dan memburu keduanya."Kita bawa anakmu ke rumah sakit sekarang." Seru Reyhan. Dia lalu membawa Raka masuk ke dalam mobilnya.Sementara, Cahaya terdiam dengan tubuh menegang. Setan apa yang tadi memasukinya sampai ia begitu marah kepada anak tirinya."Bening!" Panggil Iman yang baru tiba. Dia bergegas turun dari motor dan menghampiri Bening yang membukakan pintu mobil kepada seorang pria yang tengah menggendong anaknya. "Raka mau dibawa kemana??!"Bening menutup pintu tersebut dan beralih membuka pintu bagian depan. Namun lengannya ditahan oleh Iman."Mau kemana, Bening?" Teriak Iman kesal."Tanya pada istrimu itu!" Bentak Bening sama kesalnya. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan Reyh

  • Ranjang Perkawinan   Kejahatan Ibu Tiri

    Bening bersyukur karena Raina mengizinkannya untuk mengundurkan diri dari toko Amara florist. Padahal, Bening belum ada satu bulan bekerja di toko ini."Nanti gajimu akan ku transfer.""Aduh, nggak usah, mbak. Aku kan belum sebulan juga kerja disini." Jawab Bening tak enak hati."Terus aku nggak perlu membayar tenagamu?" Raina tersenyum tulus. "Tenang saja. Aku nggak perhitungan, kok."Bening ikut membalas Raina dengan senyuman. Syukurlah di dunia ini, Bening masih bertemu dengan orang-orang baik.Selesai berpamitan dan bekerja untuk terakhir kalinya di toko bunga ini. Besoknya Bening bekerja di kantor milik Reyhan. Ada seorang wanita yang bernama Sintia yang mengajarkan mengenai pekerjaan Bening disini.Untunglah, Sintia, Fandi dan pegawai lainnya ramah kepadanya hingga membuat Bening merasa nyaman."Bagaimana hari pertama bekerja, Bening? Apa ada masalah?" Tanya Reyhan baru datang siang itu."Alhamdulillah nggak ada. Semua orang disini mengajariku dengan baik.""Baguslah kalau begit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status