Masuk"Tahan.. Tahan.. Iman harus kuat!" Iman tidak boleh goyah hanya gara-gara melihat paha mulus milik pengasuhnya.
Astaga! Sudah terlalu lama tidak mendapat jatah membuat benda tumpul ini menantang ketika melihat milik orang lain. Gara-gara inilah membuat Iman jadi sakit kepala. Bermaksud ingin tidur tapi gairahnya bangkit. Nah, lebih baik dia pergi saja ke kampus dan mengerjakan sesuatu. Nanti pulangnya agak sore saja menunggu Bening sampai ke rumah. Sampai senja menyapa, Iman baru pulang. Untunglah sudah tidak ada Inah si pengasuh seksi itu lagi. Tinggal istri dan dua anak super aktifnya saja. Malam ini, Iman bermaksud meminta jatah setelah beberapa hari gagal. Ada saja gangguan. Mumpung ini malam minggu, Iman ingin meminta haknya. Besok libur juga, kan? Kesempatan bangun siang. Berbeda dengan pikiran suaminya, bagi Bening setiap hari itu sama saja. Dia harus bergelut dengan pekerjaan rumah dan pengasuhan. Sudah banyak pekerjaan di sekolah, bukannya berkurang ketika sampai di rumah, bebannya malah makin banyak tertanam di pundak. Bagaimana tidak? Rumah ini seperti kapal yang bongkar muatan. Tidak pernah ada rapinya. Belum lagi Iman yang sedikit-sedikit memerintah. Seperti malam ini, Iman minta dilayani makan. Setelah itu, minta dibuatkan kopi. Padahal dia sudah melihat betapa rewelnya Riki malam ini. "Gendong dulu anakmu ini." "Enggak, ah! Tarok aja!" Iman menolak mentah-mentah. Dia ingin merokok diluar. "Katanya minta dibuatkan kopi. Jadi nggak nih?" Tanya Bening. "Ya sudah!" Iman mengambil anaknya. Bening ke belakang membuat kopi. Setelah itu, Riki kembali lagi ke pelukan bundanya. "Tidurkan mereka cepat. Malam ini aku mau bersamamu." Pinta Imam. "Iyaa.." sahut Bening malas. Riki sendiri langsung tidur setelah disusui. Berbeda dengan Raka yang masih ingin bermain. Padahal sudah pukul 8 malam, anak ini masih ingin main mobil-mobilan di ruang keluarga. Oleh karena menghendaki sesuatu, Bening membawa cemilan ke teras depan. Menemani suaminya yang sedang merokok walau dia sendiri tak tahan akan asapnya. "Sudah tidur semua?" Tanya Iman. "Tinggal kakak masih main." Iman hanya mengangguk. "Mas.. aku boleh minta tolong?" "Tolong apa?" Tanya Iman tanpa melepas pandangannya dari ponsel. "Aku minta uang dong 500 ribu." "Bukannya kamu udah gajian hari ini?" Bening menggeleng. "Katanya diundur sampai tanggal 10an. Makanya aku mau minta uang sama kamu." "Nggak ada aku uang segitu.." "Ya Allah, mas. Buat beli susu kak Raka sama diapersnya adek." Pinta Bening memelas. "Raka udah gede nggak usah minum susu lagi. Diapersnya Riki hemat-hematin dulu sampai tanggal 9." Jawab Iman santai. Bening berdecak. "Kapan sih kamu tu kalau aku minta uang selalu ada? Banyak banget alasannya. Coba kalau adik kamu yang minta, langsung kamu kasih." Iman langsung terkesiap. "Loh, bukan begitu maksudnya. Kamu kan ada gaji, sayang. Sementara mereka.." "Bandingkan aku aja terus dengan keluargamu! Kalau gini aku nyesel pake gajiku buat bayar cicilan rumah." "Ya ampun, Bening.." Iman selalu terperangah kalau melihat istrinya mengomel. "Minta uang untuk keperluan anak aja sulit, gimana aku mau minta uang untuk ke salon? Udah lah. Capek jadi pengemis terus sama kamu!" Bening langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam. Sementara Iman sampai menggaruk-garuk kepalanya. "Bunda.. main, yuk." Ajak Raka. Bening tersenyum. Raka usianya memang 3 tahun, tapi kehadiran adiknya membuat Raka harus dewasa sebelum waktunya. Banyak sekali pengertian Raka ketika ia meminta waktu dari bundanya, itu karena Riki yang mengambil seluruh perhatian Bening. "Ayo kita main. Mau main apa?" "Mobil balapan." Bening duduk dan bermain bersama anaknya di depan televisi. Tak lama, Iman masuk dan menegur. "Sudah malam, tidurlah kak." "Masih mau main, ayah!" Seru Raka. Iman langsung mengomel sambil masuk ke kamarnya. Sementara Bening makin asik bermain dengan putra sulungnya. Mumpung Riki tidur, ini saatnya Bening mendekatkan diri lagi pada Raka. Tak terasa malam semakin larut, Raka akhirnya tidur di pangkuan bundanya. Raka pun dibawa ke kamar dan direbahkan samping adiknya. Tapi kemudian, Riki menangis. Jadilah, Bening tidur diantara kedua jagoannya dengan posisi menyusui dan satu tangan lainnya mengelus punggung Raka. "Sudah jam 12 malam." Efek kopi membuat mata Iman on. Tadi masih terdengar suara riang Raka diluar, sekarang tidak lagi. Kesempatan! Akhirnya, Iman keluar dan melihat ke kamar anak-anak. Rupanya Bening berbaring diantara keduanya. Terlihat juga Riki yang masih menyusu di induknya. "Bening.." panggil Iman. "Kalau udah selesai ngusunya nanti pindah." Bening hanya berdeham sembari menutup matanya. Iman pun masuk lagi ke kamarnya. Sudah setengah jam ditunggu, Bening tak juga muncul. Iman akhirnya datang lagi ke kamar sebelah. "Yah! Jadi tidur. Ning.." panggil Iman hati-hati menggoyangkan kaki istrinya. "Apa?" Tanya Bening dengan mata yang mengantuk. "Pindah ke sebelah." "Aku capek, mas." "Apa?" "Capek.." ucap Bening sekali lagi. Selimut yang turun lalu ditariknya. "Ayolah, Bening!" Iman menarik kaki Bening tak sabar. Bening pun setengah bangkit dan menepis tangan suaminya. "Aku capek, mas. Tidur sendiri sana!" Kesal bukan main Iman dibuatnya. "Awas ya kamu Bening!" Pagi menjelang, keduanya saling melempar pandangan sengit. Iman yang kesal karena tak mendapat jatah, Bening yang jengkel karena tidurnya tak nyenyak. "Lain kali layani suamimu tanpa disuruh. Ini malah suamimu dibuat seperti pengemis." Iman tak tahan lagi untuk bicara. Dia menggerutu ketika istrinya sedang menyiapkan sarapan. "Layani apa? Tiap hari aku layani kamu." "Di ranjang, Bening! Sudah berapa lama ranjang kita itu dingin karena kamu pindah kamar?" "Aku terpaksa, mas. Riki nggak kuat tidur pake AC." "Ya setidaknya kamu bisa pindah tengah malam, kan?" "Aku capek." "Capek terus alasanmu. Kapan sih kamu nggak capek?" Gerutu Iman kesal. Mendengar itu, Bening mematikan kompor dan berbalik menghadap suaminya sambil berkacak pinggang. "Bisa nggak sih, mas? Kamu tuh nggak usah mikirin seks terus! Ada yang lebih penting dari itu!" "Kamu nggak ngerti, Bening! Aku ini pria muda. Gairahku tinggi. Kamu istriku, pelampiasanku. Giliran aku meminta hakku selalu ada aja alasanmu. Ada saja gangguannya." "Ya, harusnya kamu sadar sekarang kita sudah beranak dua, mas. Kerepotanku akan bertambah. Belum lagi aku bekerja seharian diluar, terus pulang ngurusin rumah dan anak-anak. Dari pada kamu memprotes, lebih kamu perhatikan istrimu ini! Tanya, dia sudah makan belum? Udah minum belum? Sempet mandi nggak?" Bening mengeluarkan kekesalannya. "Semua urusan rumah tangga dan finansial dibebankan padaku. Aku lelah mental, mas. Sementara kamu, aku meminta tolong aja susah banget. Sekedar ngasuh anakmu aja cuma bertahan 5 menit. Selebihnya, kamu sibuk main ponselmu!" "Loh, kenapa jadi merambat kemana-mana? Itu kan tugasmu sebagai istri, Bening." Iman tak mau kalah. "Lalu tugasmu apa? Cuma bisa mencetak anak?" Bening melawan balik hingga membuat Iman terdiam. "Lihat aku sekali aja! Pahami aku! Kalau kamu mau dilayani, maka bantu dulu pekerjaanku." Bening kembali berbalik dan menghidupkan kompor. Sementara, Iman sudah tak berselera untuk makan. Dia lebih baik keluar dan menepikan dirinya sejenak. Dari pada mereka kembali ribut. Melihat suaminya yang main pergi malah membuat Bening semakin kesal. Bukannya ikut mengasuh anaknya yang sedang bermain, dia malah melarikan diri. "Pasti dia bakal mengadu ke ibunya.. lihat aja.. bentar lagi ibu dan adik ipar pasti datang kemari!" Sudah hapal betul Bening kelakuan suaminya.Setelah beberapa hari tinggal di kota, Bening kembali bekerja di kantor arsitektur milik Reyhan dan Fandi sekaligus mengurus pendaftaran sekolah anak semata wayangnya.Dalam kurun waktu 2 bulan, Raka akan bersekolah di TK Aisyah. Merajut mimpi yang sebelumnya sempat berhenti karena musibah yang mereka alami."Selamat datang kembali, Bening.." ucap Sintia tersenyum manis."Terima kasih. Mudah-mudahan kamu tidak bosan mengajariku soal pekerjaan disini." Balas Bening sama manisnya."Ah.. itu! Siap-siap saja kamu akan sibuk.""Kenapa begitu?""Sekarang banyak klien yang mengambil jasa desain dari sini. Yang terbaru pemerintah daerah mengajak kerja sama dengan kita.""Dalam hal apa?""Mendesain perpustakaan. Kamu tahu kan kalau perpustakaan daerah kita sedang di renovasi?"Bening menggeleng. Dia sungguh tak tahu kabar."Rencananya perpustakaan itu akan dijadikan perpustakaan akbar. Jadi, bang Reyhan dan bang Fandi yang akan mendesainnya.""Wah, hebat sekali.." Bening jadi takjub. Dalam sat
Satu tahun kemudian...Selepas kepergian Iman, kehidupan Wati dan keluarganya banyak sekali mengalami perubahan. Dimas yang pemalas dan hanya mengharapkan harta orang tuanya kini bekerja sebagai ojek online. Begitu juga dengan Irma yang ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan manisan di depan rumahnya. Sementara Ifa, terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan biaya.Dulu ketika Iman hidup, Iman lah yang bertugas memberikan nahkah kepada keluarga ini. Tapi setelah Iman sudah tidak ada lagi, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mengais rupiah demi rupiah untuk menyambung kehidupan mereka.Di penjara, Cahaya juga menebus dosa-dosanya. Ternyata wajah cantik itu tak menjamin hati seseorang. Ia didakwa karena terbukti melakukan penganiayaan pada anak kecil. Tak hanya di penjara, Cahaya juga resmi kehilangan pekerjaan serta izin prakteknya. Kakak Cahaya yang terlibat dalam pelenyapan Iman juga sudah mendapatkan masing-masing hukuman.Namun satu kejutan yang
Iman memang ke kantor polisi. Tapi bukan untuk menyelamatkan istrinya. Melainkan memberi keterangan yang selama ini ia pendam sendiri. Mulai dari memar yang waktu itu ada di pelipis kanan anaknya, lalu Raka yang tak terurus dengan baik dimana Raka selalu mengadu tidak pernah dikasih makan.Bodohnya Iman yang selalu mengabaikan keluhan anaknya. Dia yang sibuk mencari nafkah diluar, mengaku jika kurang memberikan perhatian pada putranya. Ia juga tak bermaksud menyalahkan Cahaya, karena Iman sebenarnya sama saja.Keterangan dikantongi, para kakak Cahaya meradang setelah mendengar pengakuan Iman. Setelah itu, Cahaya dimintai keterangan lagi. Namun, wanita licik ini tetap tak mengaku dan meraung-raung minta dilepaskan.Sementara, Iman menuju rumah sakit dimana Raka dirawat. Sesampainya disana, dia bertemu dengan Bening dan dua mantan mertuanya."Mau apa lagi kamu kesini, mas?" Tanya Bening dingin."Aku hanya ingin melihat Raka. Apa kabarnya?""Buruk sekali. Anakku bahkan harus menjalani te
"Kenapa kamu kembali lagi, Ning?" Tanya Wati gugup bukan main. Oleh karena emosi, dia jadi mengeluarkan ucapan yang harusnya sampai mati disimpannya."Aku minta kalian mengatakan semuanya dengan jujur. Apa hubungan Ifa dengan kematian Riki?" Tanya Bening bergetar memandang tiga orang yang memiliki hubungan darah ini."Bukan apa-apa. Kamu salah dengar." Jawab Iman sembari memandang ke arah lain."Aku tidak salah dengar, mas. Kalian bilang jika Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh! Sekarang jawab semuanya!" Teriak Bening histeris. Raka sendiri memanggil bundanya ketika Bening menangis."Mbak Bening.." panggil Irma. "Ifa yang menyebabkan Riki terjatuh.""Apa?"Sekarang semua mata tertuju pada Irma. Wati bahkan tak tahan untuk menegurnya."Mau sampai kapan kita menyembunyikan semuanya, bu?" Tanya Irma hampir terisak. "Mbak Bening nggak bersalah tapi dia menerima hukumannya. Begitu juga dengan mas Iman yang membiarkan rahasia ini terjaga untuk melindungi Ifa dari jerat hukum.""Irma, jelaska
"Raka!" Teriak Bening histeris ketika melihat Raka terjatuh tak sadarkan diri.Dia lalu meraih tubuh anaknya yang melemah. Sebelum Raka menutup mata, Raka sempat menatap bundanya dan mengaduh lemah."Sayang.."panggil Bening sambil menangis.Reyhan yang menyaksikan adegan mengerikan itu ikut turun dari mobil dan memburu keduanya."Kita bawa anakmu ke rumah sakit sekarang." Seru Reyhan. Dia lalu membawa Raka masuk ke dalam mobilnya.Sementara, Cahaya terdiam dengan tubuh menegang. Setan apa yang tadi memasukinya sampai ia begitu marah kepada anak tirinya."Bening!" Panggil Iman yang baru tiba. Dia bergegas turun dari motor dan menghampiri Bening yang membukakan pintu mobil kepada seorang pria yang tengah menggendong anaknya. "Raka mau dibawa kemana??!"Bening menutup pintu tersebut dan beralih membuka pintu bagian depan. Namun lengannya ditahan oleh Iman."Mau kemana, Bening?" Teriak Iman kesal."Tanya pada istrimu itu!" Bentak Bening sama kesalnya. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan Reyh
Bening bersyukur karena Raina mengizinkannya untuk mengundurkan diri dari toko Amara florist. Padahal, Bening belum ada satu bulan bekerja di toko ini."Nanti gajimu akan ku transfer.""Aduh, nggak usah, mbak. Aku kan belum sebulan juga kerja disini." Jawab Bening tak enak hati."Terus aku nggak perlu membayar tenagamu?" Raina tersenyum tulus. "Tenang saja. Aku nggak perhitungan, kok."Bening ikut membalas Raina dengan senyuman. Syukurlah di dunia ini, Bening masih bertemu dengan orang-orang baik.Selesai berpamitan dan bekerja untuk terakhir kalinya di toko bunga ini. Besoknya Bening bekerja di kantor milik Reyhan. Ada seorang wanita yang bernama Sintia yang mengajarkan mengenai pekerjaan Bening disini.Untunglah, Sintia, Fandi dan pegawai lainnya ramah kepadanya hingga membuat Bening merasa nyaman."Bagaimana hari pertama bekerja, Bening? Apa ada masalah?" Tanya Reyhan baru datang siang itu."Alhamdulillah nggak ada. Semua orang disini mengajariku dengan baik.""Baguslah kalau begit







