Home / Romansa / Ranjang kedua dr. Jonathan / 17. Kiriman rahasia

Share

17. Kiriman rahasia

Author: Riri riyanti
last update publish date: 2026-08-21 21:19:39

Suasana masih cukup tenang, waktu pun masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Namun, pria berjas putih itu sudah duduk manis di balik meja konsultasi. Ia sudah begitu siap mengerahkan segenap tenaga, pengetahuan serta keterampilannya untuk membantu pasien kembali mendapatkan kesehatan.

Sejujurnya ia memang datang terlalu pagi. Setelah Sang istri berangkat bekerja dengan dijemput Si asisten pribadi, Jonathan memang turut serta angkat kaki. Toh, di rumah tidak ada siapa-siapa. Rumah besar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   17. Kiriman rahasia

    Suasana masih cukup tenang, waktu pun masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Namun, pria berjas putih itu sudah duduk manis di balik meja konsultasi. Ia sudah begitu siap mengerahkan segenap tenaga, pengetahuan serta keterampilannya untuk membantu pasien kembali mendapatkan kesehatan. Sejujurnya ia memang datang terlalu pagi. Setelah Sang istri berangkat bekerja dengan dijemput Si asisten pribadi, Jonathan memang turut serta angkat kaki. Toh, di rumah tidak ada siapa-siapa. Rumah besar itu akan kembali sepi dan dingin. Baginya, rumah tak ubahnya seperti tempat persinggahan, tak lebih dari tempat untuk menumpang tidur saja. Ia dan istrinya jarang sekali bercengkerama dalam waktu lama, karena sama-sama sibuk dengan kariernya masing-masing. Akhir pekan pun tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Jadwal Diandra padat, jadwalnya juga padat. Ketika ia hendak menyalakan komputer di hadapannya, suara ketukan di pintu menginterupsi. Jonathan sejenak melirik pada jam di dinding. Jam

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   16. Bekal dengan bumbu cinta

    Langit di luar sana belum sepenuhnya terang. Jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Warna biru keabu-abuan masih menggantung di jendela, tapi Lily sudah sibuk di dapur kecil di rumahnya. Dapurnya sempit. Kompornya cuma satu tungku. Meja kayunya sudah agak lapuk di pojok. Tapi hangat. Hangat karena di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya sejak nenek meninggal. Tumis sayuran yang ia masak sudah matang. Aroma gurih bawang putih yang ditumis bersama saus tiram menguar dari wajan, bercampur dengan wangi ikan goreng. Aroma itu membuatnya tersenyum senang. Senyum yang tulus, bukan senyum saat bekerja di kafe. "Sebaiknya kukoreksi dulu rasanya!" Tangan kanannya meraih sendok, kemudian mengambil sedikit hasil masakannya untuk ia cicipi. Panas. Lidahnya sampai sedikit kelu. Dan ketika ia merasa bahwa rasanya telah sesuai, kepala dengan rambut panjang itu terangguk puas. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak terkena minyak. Beberapa helai jatuh ke pipi, tapi ia biarkan.

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   15. Pagi yang sibuk

    Jonathan baru saja selesai mandi ketika Diandra memasuki kamar mereka dengan secangkir kopi di tangan kanan. Rambut wanita itu masih tampak lembab, sebab ia memang belum sempat mengeringkannya. Namun, gaun panjang tanpa lengan berwarna marun sudah terpasang rapi membalut tubuhnya yang ramping. Meski tanpa riasan, Diandra masih tetap terlihat cantik menawan. Ini akhir pekan, namun istrinya tetap berangkat bekerja. Sangat berbeda dengan Jonathan, biasanya ketika libur bekerja ia memilih menghabiskan waktunya dengan membakar kalori di salah satu gedung pusat kebugaran terdekat. Tetap memiliki tubuh atletis di usianya yang menginjak kepala empat tentu bukanlah hasil yang instan, bukan? Pria itu gemar berolahraga bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuhnya, namun untuk menjaga stamina dan kesehatannya juga. Apalagi profesinya sebagai dokter menuntut tenaga ekstra. Tapi, hari ini ia harus berangkat bekerja, sebab ia mendapatkan shift darurat di rumah sakit. Ada pasien kecelakaan berunt

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   14. Prioritasku

    "Aku pulang." Jonathan melepas senyuman. Penatnya seolah luntur seketika. Ia menarik Diandra ke dalam pelukannya, memberikan ciuman di kening istrinya ketika wanita itu sudah berdiri di hadapan. Kecupan itu lama. Tulus. Seolah untuk membayar semua hari-hari yang mereka lewatkan. "Selamat datang, Sayang." Sedangkan Diandra memeluknya, menenggelamkan diri dalam dekapan hangat tubuh Sang suami. Tangannya melingkar di punggung Jonathan, menepuk-nepuk pelan. "Kau tahu, aku sangat merindukanmu!" napas ia tarik dalam-dalam demi mencium aroma parfum di bagian dada. Aroma antiseptik bercampur parfum kayu yang khas milik Jonathan. Mata hazel menawan itu terpejam menikmati. Rumah akhirnya terasa seperti rumah lagi. "Aku juga merindukanmu." Ciuman Jonathan berpindah pada ubun-ubun kepala. Ia menghirup aroma sampo Diandra. "Kapan kau sampai?" tanyanya kemudian. Diandra melepas pelukan kemudian mendongak untuk mencari mata biru suaminya. Ada kantung mata di bawah mata itu, tapi tetap tampan. "Em

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   13. Aku sedang jatuh cinta

    Kembali bertemu dengan seseorang yang membuat kita jatuh cinta tentu memberikan efek bahagia yang luar biasa. Senyuman Lily tak pernah padam dari mentari terbit bahkan hingga bulan menampakkan sinar redupnya. Pertemuan itu benar-benar mempengaruhi suasana hati gadis itu. Jarum pendek pada jam dinding itu telah menyentuh angka sembilan malam, kesibukan di kafe Serenade berjalan seperti biasanya. Meja-meja itu hampir sepenuhnya terisi, sebab para muda-mudi kerap menghabiskan waktu di kafe pada akhir pekan begini. Entah sekedar untuk bersosialisasi dengan teman, atau sengaja menghabiskan waktu bersama pasangan. Lily baru saja selesai mengantarkan pesanan pada meja terakhir. Dan ketika ia kembali ke area dapur, ia tersenyum cerah saat melihat presensi Jasmine. Wanita berusia awal tiga puluhan itu tampak sedang mencuci peralatan makan di wastafel. "Aku membawakanmu minuman dingin, Kak. Terimalah." Lily meletakkan nampan berbahan kayu di atas meja kemudian berdiri di sisi Jasmine. Tangan

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   12. Masakan rumahan

    "Kalau begitu, makanlah yang banyak, Lily. Pesan apa pun yang kau inginkan. Jangan memikirkan soal harga, saya yang akan membayarnya." Suara Jonathan terdengar rendah dan hangat, seperti biasa. Tapi malam ini ada nada lembut yang tidak biasa di dalamnya. Matanya yang biru menatap Lily tanpa berkedip, seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar makan dengan tenang. Alis gadis itu tampak menukik secara spontan, pertanda ketidaksetujuan. Pipinya sedikit mengembung karena kesal. "Tapi, seharusnya saya yang mentraktir Anda. Kenapa justru Anda yang membayarnya?" Lily bukan tipe gadis yang suka merepotkan orang. Sejak kecil ia sudah diajarkan neneknya untuk mandiri. Menerima kebaikan orang lain, apalagi dari seorang pria, membuatnya merasa berhutang. Dan ia paling benci merasa berhutang budi. Jonathan terkekeh pelan. Tawa itu membuat kerutan halus di sudut matanya semakin terlihat. Godaan maut untuk jantung Lily. "Tidak apa-apa, itu sebagai tanda terima kasih dari saya karena kau mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status