LOGINSuasana ruang makan di kediaman Bu Diana pagi itu terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Meski sinar matahari masuk dengan cerah menyinari meja marmer yang penuh dengan hidangan mewah, ketegangan antara dua wanita di sana membuat udara terasa tipis. Dion duduk di tengah-tengah, mencoba fokus pada omeletnya, namun ia bisa merasakan radar kecemburuan yang memancar kuat dari arah Santi.
Bu Diana duduk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan peperangan besar. Wajahnya nampak segar, kulitnya merona, dan setiap gerakannya terlihat sangat santai—sangat kontras dengan Santi yang terus-menerus mengaduk kopinya dengan kasar hingga bunyi denting sendok dan cangkir terdengar berulang kali.
"Ibu kayaknya tidurnya nyenyak banget ya semalam? Sampai-sampai sarapan telat sepuluh menit," sindir Santi sambil melirik ibunya dengan mata menyipit.
Bu Diana hanya tersenyum tipis, jenis senyum kemenangan yang membuat Santi makin meradang. "Sangat nyenyak,
Deru baling-baling helikopter di pangkalan udara swasta itu memekakkan telinga, menciptakan pusaran angin yang menerbangkan debu dan aroma avtur ke wajah Dion. Di bawah temaram lampu landasan, helikopter kecil itu tampak seperti satu-satunya tiket untuk merebut kembali tahta D-Next dari tangan Wina yang kini tengah menuju Surabaya untuk bertemu Clarissa. Namun, getaran di saku celana Dion membuyarkan fokusnya. Video dari Maya di layar ponselnya memperlihatkan kondisi Wawa yang kritis pasca persalinan prematur.Dion berdiri mematung di antara dua kutub yang saling menarik jiwanya. Di satu sisi, ada ambisi dan kekuasaan mutlak yang selama ini ia bangun di atas jaring gairah. Di sisi lain, ada jeritan darah dagingnya sendiri dan wanita yang pernah ia jadikan topeng namun kini memberikan nyawa untuk anaknya."Dion! Tunggu apa lagi?! Cepet naik!" teriak Satria sembari menarik lengan Dion agar segera masuk ke kabin helikopter. Satria, yang biasanya menyimpan dendam kesumat,
Malam di penjara biasanya hanya diisi oleh suara dengkur tahanan atau gemericik air dari pipa yang bocor. Namun kali ini, hening itu pecah oleh suara jeritan dari blok ujung yang memicu keributan massal. Dion berdiri dengan waspada di tengah selnya yang sempit, sementara Bram masih terkapar lemas dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Di depan jeruji yang terbuka, sosok Satria berdiri tegap dengan senyum yang mengerikan, jauh dari kesan pria kritis yang selama ini dilaporkan terbaring di rumah sakit."Gila... Lo bener-bener hantu, Sat," desis Dion sembari mengepalkan tangannya. "Gimana bisa lo berdiri di sini?"Satria tertawa, suaranya parau namun penuh kemenangan. "Dunia ini panggung sandiwara, Yon. Lo pikir cuma lo yang jago main drama? Wina itu sutradara yang hebat. Dia yang nyiapin 'kematian' gue di rumah sakit biar lo lengah, dan dia juga yang bukain jalan gue masuk ke sini."Dion melirik narapidana bertubuh raksasa di belakang Satria yang m
Dion merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika melihat sosok yang baru saja didorong masuk ke dalam selnya. Pria itu ambruk di lantai semen yang dingin, napasnya tersengal-sengal, dan wajahnya nyaris tidak bisa dikenali karena bengkak dan lebam. Namun, Dion mengenal gestur tubuh dan jam tangan perak yang masih melingkar di pergelangan tangan pria itu—jam tangan yang sama yang ia berikan sebagai hadiah kesetiaan bertahun-tahun lalu."Bram?" bisik Dion tak percaya.Bram, pria yang beberapa jam lalu memborgolnya dengan bangga sebagai intelijen kepolisian, kini nampak seperti sampah yang dibuang. Ia mencoba mengangkat kepalanya, memuntahkan sedikit darah ke lantai."Yon..." Bram terbatuk, suaranya parau dan pecah. "Sialan... ternyata kita berdua cuma tikus di laboratorium yang sama."Dion berlutut di samping mantan sahabatnya itu, mengabaikan rasa benci yang sempat meluap. Di dalam momen ini, musuh bisa menjadi teman dalam sekej
Dinding sel yang lembap dan aroma pesing yang menyengat kini menjadi cakrawala baru bagi Dion. Dari puncak kejayaan sebagai penakluk di Jakarta, ia kini terjerembap ke titik nadir di awal periode ini. Jas mahalnya telah digantikan oleh kaos oranye kusam, namun sorot matanya tetap tajam, mencerminkan api yang menolak padam meski labirin kekuasaan dan intrik kini mengurungnya secara fisik.Dion duduk bersandar di tembok sel yang dingin, mengamati tikus yang lewat di sudut ruangan. Pikirannya melayang pada protokol penghancuran data yang ia aktifkan di rumah Menteng semalam. Jika rencananya berhasil, maka Bram, Clarissa, dan Bu Diana kini sedang panik karena kehilangan bukti utama mereka.Pintu jeruji besi berderit terbuka. Seorang sipir bertubuh tambun berdiri di sana dengan wajah malas. "Dion. Ada kunjungan. Pengacara kamu."Dion berdiri, merapikan kaosnya sejenak. Ia mengira itu adalah pengacara yayasan, namun saat ia sampai di ruang kunjungan yang dibatasi kaca
Dion merasa kakinya seperti tertanam di lantai marmer ruang tamu yang dingin. Di hadapannya, Bram—sahabat setianya yang memegang kunci dunia malam dan rahasia terdalamnya—berdiri dengan tenang, memegang borgol yang berkilauan di bawah lampu kristal. Wajah Bram yang biasanya dipenuhi seringai sinis khas penguasa kegelapan, kini nampak sangat berwibawa, jauh dari kesan narapidana yang baru saja melarikan diri dari penjara."Bram? Apa maksudnya ini? Bukannya kamu... di gudang tadi..." suara Dion tercekat, matanya beralih ke arah Bu Diana yang tetap duduk tenang di kursinya.Bram melangkah maju, lencana di tangannya ia masukkan kembali ke saku jaketnya. "Gudang Cakung itu cuma panggung sandiwara, Yon. Clarissa, tim bayarannya, bahkan penembak jitu yang melukai Wina itu semua bagian dari operasi ini. Kamu pikir gimana caranya aku bisa tetap berkomunikasi lancar sama pihak luar dari balik jeruji kalau bukan karena aku memang diizinkan?".Dion tertawa getir
Dion berdiri membeku di tengah gudang tua Cakung yang pengap. Suara rintihan Wina yang memegangi lengannya yang tertembak seolah menjadi musik latar bagi kehancuran martabatnya. Clarissa, dengan keanggunan yang dingin, baru saja melontarkan teka-teki yang menghancurkan sisa-sisa ketenangan Dion. Bukan Santi, bukan pula Wina yang menjadi dalang pengkhianatan terdalam ini."Pulanglah, Dion," bisik Clarissa sembari merapikan kerah kemeja Dion yang berantakan. "Labirin ini bukan hanya milikmu lagi. Kamu terlalu asyik menaklukkan wanita di luar, sampai lupa siapa yang sebenarnya mengendalikan fondasi rumahmu."Tanpa menunggu komando kedua, Dion berlari menuju mobilnya. Ia mengabaikan Santi yang menatapnya dengan pandangan kosong, juga mengabaikan Sita yang masih terisak di lantai gudang. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat: rumah Menteng. Tempat di mana ia memulai segalanya sebagai menantu yang patuh sebelum berubah menjadi penguasa yang haus gairah.Dion mengi







