Masuk
"Ayah, kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang? Aku sudah kehilangan tiket pesawatku untuk datang ke tempat kerjaku di Singapore!" Viona mendengus kesal karena mimpinya untuk bekerja di firma besar Singapore harus kandas karena panggilan mendadak.
Dia sudah memegang tiket dan paspor untuk segera boarding. Hanya dengan satu baris kalimat, ia mengubur mimpinya.
"Pulanglah, Viona! Rumah kita akan disita!!!"
Dan setelah mendengar ucapan serius itu, ia langsung berbalik arah. Viona pulang ke rumah.
Sang ayah, Tuan Rusdi tidak banyak bicara saat ia datang dan hanya menunjuk pada selembar kertas terlipat di atas meja.
"Apa ini?" Viona akhirnya meletakkan tas backpack berisi laptop yang merupakan nyawa di dunia pekerjaan.
Sebuah koper yang berisi baju-baju sudah tergeletak begitu saja di dekat pintu.
"Surat penting yang harusnya kamu bisa baca apa isinya!" Bentakan itu membuatnya kaget.
Tak pernah sekalipun orang tuanya membentak, apalagi berkata kasar.
"Ayah sekolahin kamu itu biar pinter. Baca!"
Tangan Viona gemetar saat membacanya. Sebuah surat perintah untuk mengosongkan rumah dalam dua puluh empat jam.
Rumah yang ia tempat sejak kecil bersama keluarga itu disita oleh keluarga Mafia, Rossi.
"Kenapa sampai mereka bisa berlaku seperti ini pada kita? Bukankah kita tidak kenal dengan orang-orang semacam mereka, Ayah?" Tanya Viona masih bingung dengan keadaan.
"Nak, keluarga kita mengalami penurunan hasil bumi dan peternakan. Kerugian sudah terjadi sejak kamu mulai kuliah dulu, tapi Ayah bilang... kamu harus selesaikan kuliah dan baru boleh diberi tahu..." Bundanya, Nyonya Marisa menangis.
Ia tak tega membayangkan apa yang akan terjadi pada putri kecil kesayangannya yang baru saja menyandang gelar sarjana.
Harusnya dia sekarang melanglang buana dan memulai petualangan baru demi masa depan cerah.
"Apa yang harus kita lakukan Ayah? Apa kita hutang pada paman dan keluarga besar saja?" Viona mencoba memberikan solusi.
Setidaknya itu yang terpikirkan olehnya sekarang.
"Tidak semudah itu, Viona! Kamu mentang-mentang jadi sarjana, saranmu seolah-olah jadi solusi dalam satu malam!" Ayahnya bertitah, "semua keluarga kita bernasib kurang lebih sama. Hanya saja, hutangku yang paling besar. Dan sebagai saudata tertua dalam keluarga... aku harus bertanggung jawab!"
"Maksud Ayah, Ayah mau menyerahkan seluruh aset pada mereka dan kita dimiskinkan?" Gadis muda belia itu mendekati sang Ayah dengan harapan akan mendapatkan jawaban atas masalah ini.
Selama ini, ayahnya adalah sosok yang dituakan di wilayahnya. Tidak ada masalah yang tidak selesai saat seseorang menghadap Tuan Rusdi.
"Bahkan jika kita melakukan itu.. tidak akan bisa menutup hutang kita!" Jawabnya datar. "Kamu kerja seratus tahun pun, rasanya belum bisa menutup setengahnya!"
Matanya tertuju pada wajah anaknya yang cantik sempurna. Ingin ia menangis, tapi tak pantas dilakukan oleh seorang lelaki.
Anaknya masih muda dan harus menelan kenyataan pahit.
BRAKKK!
Tiba-tiba pintu ruang tamu mereka didobrak oleh tendangan kuat dari luar.
"Tuan Rusdi, sudah seminggu bos kami menunggu... sampai kapan lagi semua harus diberikan kejelasan?" Sosok bertubuh kekar dan berotot layaknya binaragawan maju ke depan berhadapan langsung dengan orang tua Viona.
"Aku mohon beri aku waktu!" Suara itu kini melemah.
Tak lagi punya taring.
Viona menyaksikan betapa hal yang dihadapi keluarganya bukanlah main-main.
"Hah, sudah empat tahun, ditambah sebulan... lalu minta tambah seminggu!" Satunya lagi menyela.
"Kami sudah berapa kali ke sini, jawabannya masih saja sama!" Kata sosok yang pertama tadi bicara.
Keempat orang yang datang itu semuanya memakai baju setelan hitam.
Tak seorangpun dari keempatnya yang memiliki perangai ramah. Tak ada gurat senyum di wajahnya.
"Maafkan aku!" Tuan Rusdi berdiri kemudian mengatupkan kedua tangannya.
Lelaki sepuh itu emohon agar diberi waktu lagi.
"Hah. sudah habis waktu untukmu, Pak Tua!" Orang suruhan mafia itu menendang meja dan akhirnya terjungkal.
"Tolong! Jangan berbuat seperti ini di sini..." Tuan Rusdi lagi-lagi membenarkan posisi meja itu seperti semula.
Salah satu di antara orang suruhan itu terdengar berbicara lewat telepon dan kembali beberapa saat kemudian.
"Oke, kami akan beri waktu kalian agar tetap bisa di rumah ini... tapi dengan syarat, ada jaminan untuk diberikan!" Ia menyambungkan lidah dari hal yang disampaikan bosnya.
"Kami sudah tak punya apa-apa lagi..." Tuan Rusdi tertunduk.
Kalau tanah dan perkebunan terakhir itu diberikan, mereka tak punya lagi sumber penghasilan.
Apalagi peternakan sudah dikuasai oleh para mafia kejam dan bengis.
Keempat orang itu memandangi sekeliling isi rumah. Akhirnya mereka sepakat dan saling mengangguk.
"Baik, kita bawa saja anak perempuan ini!" Salah satunya segera menarik lengan Viona dan yang lain mengamankan agar keluarga tidak bisa menolong.
"Hentikan! Jangan bawa anakku!"
Teriakan Tuan Sardi itu hanya bagaikan kicau burung tak bermakna.
"Jangan bawa Viona, bawa saja aku!" Marisa berteriak berharap anaknya dilepaskan. Bahkan ia sempat mengejar.
"Apa yang bisa wanita tua lakukan? Kamu tidak berguna di tempat kami. Hahaahahaahaha!" Mereka tertawa dan tetap memaksa untuk membawa Viona menuju mobil Landcruis** yang terparkir gagah di depan rumah.
"Lepaskan aku! Aku bisa membayar hutang keluargaku, aku ini lulusan arsitek dari kampus terkenal. Beri aku waktu dan aku janji akan membayarnya!"
"HAHAHAHAAHA! Sudah jadi miskin tapi masih sombong gadis satu ini, hahahaha!"
"Kita sudah sampai?" Viktoriya dibuat kagum dengan bentukan pintu gerbang yang sangat artistik dan kokoh.Beberapa pria berseragam hitam berjaga di sekelilingnya."Viki, buka jendelamu! Mereka akan melihat kita dulu...""Oke..." ia buru-buru membuka jendela mobil kanan dan kiri."Maaf, kami ada janji dengan Nona Viona... Aku Alex dan ini temanku, Viki!" ucap Alex pada saat petugas itu memeriksa mereka.Ia mengangguk dan menyuruh mereka menunggu untuk memastikan kalau Alex benar-benar ada janji dengan Viona.Mereka berdua tak sabar lagi karena menunggu cukup lama hanya untuk soal konfirmasi."Sampai kapan kita harus menunggu di sini, Alex?" Viki berbisik.Andai saja ia punya kuasa dan kenal dengan orang dalam... mungkin akan lain ceritanya!"Sabar dulu... kali ini memang kita tak punya banyak pilihan, Viki... ini semua demi anakmu!" bisiknya menjawab pertanyaan dan keluhan wanita di sampingnya."Mohon kalian berdua menelpon Nona Viona langsung dan untuk memastikan kalau kalian tidak me
"Viktoriya..." Ivan ingin menyela panggilan itu dan mengingatkan adiknya untuk tidak gegabah.Ia sebagai laki-laki sangat paham dan bisa membaca pikiran Alex, ia sedang memanfaatkan kegundahan sang adik untuk mencapai tujuannya sendiri."Kamu diam dulu, Ivan!" ia menyuruh kakaknya untuk tidak ikut campur tentang masalahnya sekarang.Walau bagaimanapun ini adalah peperangan yang harus ia lakoni sendiri."Viki.. apa kamu mendengarkanku?" tanya Alex lagi."Iya, aku masih di sini... Apa rencanamu Alex?" Ia pun membeberkan hal yang perlu untuk dilakukan. Viktoriya menyimak dengan sungguh-sungguh."Jadi.. aku harus menjemputmu sekarang?" tanya Viktoriya sambil berjalan mengambil jaket kulit dan sepatunya.Wanita itu hanya mengenakan celana pendek dan tanktop rumah saja."Iya... aku ingin kita ke sana berdua!" kata Alex lagi.Sang kakak tentu khawatir jika adik perempuannya bertandang sendirian, apalagi ia tahu kalau mereka akan menuju ke rumah Renzo.Sama saja dengan masuk ke kandang buaya
"No, Viona.. Masalah tidak sesimple itu... Silvano adalah anak dari Renzo!" Kalimat Alfonso tak semudah itu dicerna oleh akal pikirannya.Bagaimana ini? Sementara dirinya tengah berbadan dua dan mengandung anak sang mafia!Apakah nanti... ketika anak-anaknya lahir ke dunia, Renzo akan sama cintanya dengan rasa yang ia miliki pada Silvano?Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul.Ia menjadi menyesal mengapa harus hamil jika pada dasarnya Renzo sudah punya anak? Kenapa ia baru tahu sekarang?"Viona, kamu kenapa?" tanya Alfonso melihat kakak iparnya yang tampak diam dan cemas.Wanita muda itu tak lagi banyak bicara dan terkesan merenungi sendirian."Viona!" bahkan saat dipanggil untuk kedua kalinya ia tak merespon.Apa yang ada di benaknya?"Viona?" kali ini ia menyenggol lengan kanannya dan berhasil menggugah kesadaran Viona juga akhirnya."Apa? Kamu bilang apa tadi?" ia tampak gugup dan berusaha untuk terlihat tenang.Meski sebenarnya ia terasa seperti mau terjun saja dari balko
"Apa? Silvano itu jadi..."Viona tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hati wanita mana yang tak hancur ketika tahu suaminya yang sebelumnya belum pernah menikah, ternyata telah memiliki seorang anak dengan wanita lain.Ini membuatnya sangat kecewa, meski ia tak pernah mengakui kalau dirinya memiliki rasa pada Renzo."Iya, Renzo belum tahu soal ini karena test DNA dilakukan Papaku secara tersembunyi..." Alfonso menjawab."Kamu pasti bohong!" Viona mengelak dan tak bisa mempercayainya."Buat apa aku bohong untuk hal sepenting ini? Kami para mafia tidak boleh berbohong untuk soal urusan anak!"Viona makin meradang, "berarti kalian boleh bohong soal yang lain?""Tidak begitu juga, Viona..." Alfonso adalah pria dari keluarga mafia yang punya perasaan halus.Ia tahu kalau apa yang ia katakan ini akan menyakiti hatinya."Aku..." Viona tak mampu lagi bagaimana harus menghadapi hal yang menurutnya sama saja dengan pengkhiana
"Kenapa mengkhawatirkan? Ia sudah dewasa dan pergi dalam keadaan baik-baik saja!" kata Alfonso menjelaskan.Ia paham kalau Viona menanyakannya karena ada suatu hal yang disembuyikan dari Alfonso.Untuk urusan rumah tangga, rasanya dia tak perlu tahu dan turut campur."Iya, sebaiknya mungkin aku kembali ke kamar tidur saja!" ia membawa satu lilin sebagai penuntunnya berjalan pelan-pelan ke kamar tidur.Rupanya, setelah bersusah payah menemukan kamar dengan lilin itu, ia mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Alex."Ya ampun... aku lupa kalau aku harus mengecek lagi handphone-nya..." ia mengambilnya dari tempat di mana suaminya biasa meletakkan.Aji mumpung ketika suaminya tak berada di rumah, ia bisa menggunakannya sesuka hati."Halo, Alex?"Syukurlah pria itu bisa dihubungi dengan mudah."Viona? Kamu bisa menghubungiku juga akhirnya...""Iya, Alex. Aku..."Alex memotong pembicaraannya, "sementara ini keluarga Ivanov kebingungan karena kehilangan anak Viktoriya... dan... aku ha
"Kita ke mana, Paman Renzo?" tanya Silvano yang merasa bosan karena sepanjang jalan tiba-tiba Renzo jadi diam.Pria itu terus menyusuri jalanan yang mengarah semakin dekat dengan area tempat tinggal Silvano."Kita mau ke pegunungan...""Jangan!" ia mendadak menolak."Kenapa?" Renzo kaget."Aku lebih suka pantai dari pada gunung..." terangnya.Aneh, anak ini punya kesukaan yang sama dengan Renzo semasa kecil."Tapi suasana pantai akan sangat ramai. Sebaiknya... kita tidak ke pantai malam begini!" "Baiklah.. kita ke pegunungan saja kalau begitu! Tapi, jika ada orang yang bertanya tentangku, bilang saja Paman tidak tahu!" ia berjaga-jaga dan masih memiliki kecemasan kalau-kalau bertemu dengan body guard keluarga Ivanov nanti.Ada getaran yang tak biasa ketika ia mengatakan kalau Silvano adalah anaknya. Seolah ini adalah hal yang lumrah dan memang sewajarnya."Apa kamu tahu banyak soal orang bernama Alex itu?" Renzo sebenarnya sangat tidak menyukai pria itu lagi.Meski dulu sempat dikon