Beranda / Romansa / Rantai Cinta sang Taipan Arogan / Zaneta Malang, Zaneta Sayang

Share

Rantai Cinta sang Taipan Arogan
Rantai Cinta sang Taipan Arogan
Penulis: Emmy Liana

Zaneta Malang, Zaneta Sayang

Penulis: Emmy Liana
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-18 12:32:25

"Mommy, tadi di sekolah, Isabel mendorongku, hingga terjatuh dari tangga. Sekarang, kakiku keseleo. Sakit mommy," keluh Zaneta yang berusia sembilan tahun pada Viona.

Namun, Ibu kandungnya justru terlihat marah pada Zaneta. "Sungguh, kamu keterlaluan Zaneta! Mommy pikir kamu adalah putri mommy yang sangat manis dan penyayang. Tapi, kamu justru mendorong Isabel hingga kakinya sakit. Kini, kamu juga memutarbalikan fakta? Jelas-jelas Isabel sulit berjalan karena ulah kamu."

"Ta--pi...."

"Sekarang, masuk kamarmu! Kamu dilarang keluar hingga nanti malam."

Hukuman mommy Viona membuat Zaneta hanya tertunduk. Dia sungguh tak berdaya.

Namun, saat Viona telah pergi, Zaneta dapat melihat senyum kemenangan di wajah Isabel.

Dia tak habis pikir, apa tujuan Isabel melakukan itu padanya jelas-jelas kini kakinya yang keseleo? Tapi, kenapa? Apa maksud Isabel?

Anehnya, sejak saat itu, Zaneta sering mendapatkan perlakuan buruk dari saudari tirinya itu. Akan tetapi, dialah sasaran mendapatkan hukuman dari mommy Viona. Tanpa bertanya terlebih dahulu atau pun mencari tahu kebenarannya, Mommy Viona memberikan hukuman yang tak adil pada Zaneta. Bahkan, saat dia dikurung di gudang yang gelap sekali pun tanpa diberi makan.

Dalam rasa kelaparan, gadis kecil Zaneta bertekad dalam hatinya. Sejak itu, dia tak ingin lagi dianiaya. Dia ingin memberikan perlawanan. Toh, meski berusaha, hati Viona tak terpengaruh sedikit pun padanya.

Kini, Zaneta tumbuh dengan sikap keras kepala dan tak mudah diatur. Dia selalu menjadi pembangkang dalam keluarganya

Bahkan saat pesta ulang tahunnya pun, mommy Viona enggan membuat pesta kecil untuknya dan teman-temannya. Khawatir jika Zaneta membuat ulah lagi.

Zaneta hanya bisa menitikkan air matanya. Hanya Gio--kekasihnya--yang selalu datang mengusap air matanya, memberi penghiburan padanya.

Pria itu membagikan pie susu buatan ibunya bahkan coklat Swiss yang tak pernah dicicipi oleh Zaneta. Berkat Gio, senyumnya kembali merekah di bibir.

Seringkali Zaneta memergoki tatapan Isabel dari kaca jendela kamarnya dengan tatapan tak suka. Saudara tirinya itu tak ingin Zaneta memiliki teman.

Entah bagaimana caranya, Isabel tiba-tiba berhasil membujuk mommy Viona ketika Zaneta berusia 15 tahun.

Zaneta diusir dari rumah saat usianya menginjak 15 tahun! Katanya, lebih baik Zaneta ke sekolah di luar negri saja.

"Lihatlah! Aku selalu menang, Zanetaku Sayang," ucap Isabela penuh arogan.

"Kau---"

Belum sempat berkata apa pun, Isabela sudah pergi begitu saja.

Semua terjadi begitu cepat. Zaneta bersiap menuju Inggris. Tidak ada yang mengantar kepergiaannya yang mendadak.

Dengan menahan air mata, perempuan itu pun menyeret kopernya yang berat.

"Zaneta!" Teriakan seorang pria berusia 18 tahun itu, menghentikan langkahnya.

"Gio?"

"Zaneta, aku akan selalu menunggu kamu di sini. Dan, aku berjanji. Saat kamu kembali nanti, kita akan menikah."

"Menikah?" Wajah Zaneta bersemu merah. Membayangkan suatu saat Gio benar-benar membawanya keluar dari penderitaan hidupnya, yang tak ubah bagai neraka.

Tak lama, keduanya menautkan jari kelingking--seolah menautkan janji untuk pertemuan terakhir mereka.

******

Tujuh tahun sudah berlalu ....

Zaneta sungguh menantikan kepulangannya demi berjumpa dengan Gio.

Perjalanan panjang dari Inggris menuju ke tanah air membuat Zaneta terus menyunggingkan senyumannya.

Zaneta tak perlu lagi terbuang di negeri orang hanya untuk "melanjutkan pendidikan" dan jauh dari pandangan Viona.

Tanpa sadar, pesawatnya kini telah mendarat di sebuah bandara. Zaneta bergegas mencari keberadaan Gio--satu-satunya orang yang akan menunggu kepulangannya.

Buk!

Seseorang menepuk pundak Zaneta dari belakang. Dengan bahagia, Zaneta membalikkan badan--menyangka Gio menjemputnya.

"Nona Zaneta Dawson?" Seorang pria bertubuh besar dan raut wajah menyeramkan tiba-tiba menghampirinya--membuat Zaneta menatap bingung ke arahnya.

Belum sempat berbicara, seorang pria lain berkemeja kotak-kotak berkata, "Mari ikuti kami."

"Siapa kamu? Aku tak mengenal kalian," kata Zaneta pada akhirnya.

"Ikuti saja tanpa banyak bicara, atau peluru senjata ini akan menembus jantungmu." Seorang pria berwajah gelap tiba-tiba menodongkan pistol di belakang punggung Zaneta.

Tanpa bisa memberi perlawanan, akhirnya Zaneta memilih diam tak bersuara--mengikuti perintah tiga orang pria yang berjalan di belakangnya.

Namun, begitu mendapatkan kesempatan, Zaneta melarikan diri sekencang-kencangnya. Naas tanpa membutuhkan waktu yang lama, dia sangat mudah dilumpuhkan, seorang pria menangkapnya hingga dia terjungkal, jatuh ke lantai.

"Sial," umpat Zaneta.

Kedua tangannya diikat ke belakang.

Sungguh, di tempat ini Zaneta tak mengerti. Ribuan orang berlalu lalang di keramaian bandara. Namun tak satu pun yang memperdulikan Zaneta yang didorong paksa saat berjalan.

Semuanya tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hati Zaneta teriris, di rumah dia tak mendapatkan kehangatan keluarga, bahkan di luar pun tak ada satu pun orang yang bersimpati padanya.

Terlihat sebuah mobil van berwarna hitam sedang menunggu kedatangan mereka. Tubuh Zaneta dihempaskan kasar ke dalam mobil itu, seorang pengemudi dengan sigap menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil itu.

Zaneta berusaha berontak, saat kedua tangannya diikat kebelakang, mulutnya di flakban dan matanya ditutup kain hitam yang kotor dan bau.

"Hmmmppphhh..." Zaneta berusaha melepaskan diri, dia terus berontak. Hingga sebuah pukulan keras benda tumpul mengenai kepalanya. Dan, Zaneta berakhir tak sadarkan diri.

"Apakah ini akhirnya hidupku Tuhan? Tak layak 'kah aku mendapat kebahagiaan dalam impianku? Tinggal sedikit lagi aku berjumpa kekasihku yang akan membebaskan aku dari penderitaan masa lalu, kenapa harus sekarang?" Dalam hatinya Zaneta menangis pilu.

Meski tubuhnya tak bergerak, tapi otaknya masih bisa berpikir

Bayangan impiannya memakai gaun pengantin mewah dan dijemput Gio kekasih hatinya perlahan menghilang. Dan membuat kesadarannya tak ada lagi.

"Kenapa kamu memukulnya?" tanya seorang pria bertubuh gemuk pada temannya.

"Sudahlah, yang penting dia belum mati. Dia terlalu banyak bertingkah. Aku lelah mengurus urusan kecil seperti ini," jawab rekannya ketus.

***

Ponsel pria bertubuh gemuk itu berbunyi. Bergegas, dia mengangkatnya begitu melihat nama [Isabella] di layar.

....

"Baik, Nona. Perintah nona sudah kami laksanakan. Kami sedang menuju tempat yang nona perintahkan," ucap pria itu patuh pada seorang wanita muda di seberang telepon.

Sementara di tempat lain, wanita muda sang penelpon pria tadi tersenyum licik mengarah ke luar jendela sebuah gedung apartemen.

"Yakin rencana kamu akan berhasil?" tanya seorang pria yang sedang memeluknya dari belakang.

"Tentu, aku yakin sekali. Jika aku bisa mendepaknya dari rumah, dan membuat mommy Viona mengusirnya ke luar negeri. Pasti dia bisa hilang dari pandangan keluarga Dawson. Dan, tahukah kamu? Saat Zaneta menghilang tak akan ada satu pun dari anggota keluarga Dawson menyadari kehilangannya. Dan itu sangat menguntungkan bagiku."

"Kamu hebat sayang, tak sia-sia aku lebih memilihmu dari Zaneta."

"Terima kasih juga, Sayang. Karena kamu, aku tak perlu repot menemukan informasi tentang dia."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tolong lupakan

    Lampu kota yang berkelap-kelip di balik jendela kaca mobil tidak mampu mendinginkan kepala Alden. Sepanjang perjalanan meninggalkan kediaman Dixton, cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Amarah, kerinduan, dan rasa dikhianati bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang siap meledak kapan saja.​Begitu mobilnya berhenti di lobi hotel VVIP miliknya, Alden keluar tanpa menyerahkan kunci pada petugas valet. Ia melangkah lebar, mengabaikan sapaan hormat dari para staf hotel yang membungkuk dalam saat ia lewat. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wajah Zaneta yang pucat dan tatapan melindungi dari Edric.​BRAKK!​Pintu penthouse mewah itu didorong kasar hingga menghantam dinding. Alden melangkah masuk dengan napas memburu. Keheningan kamar yang elegan itu justru terasa seperti ejekan baginya.​"ARGHHHH!"​Suara teriakan Alden menggema, memecah kesunyian malam. Ia menyambar vas bunga porselen di atas meja konsol dan menghantamkannya ke lantai hingga hancu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Serangan panik

    Langkah kaki terburu-buru bergema di lorong paviliun yang sunyi. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan tas medis di tangannya. Uncle Billy, dokter kepercayaan keluarga Dixton, masuk dengan raut wajah serius namun tenang.Nyonyq ​Gracia segera menghampirinya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan kecemasan yang mendalam. Ia mencengkeram lengan Billy dengan tangan yang gemetar. "Billy, syukurlah kau sudah sampai. Kumohon, lakukan yang terbaik untuknya. Dia sangat ketakutan... persis seperti pertama kali dia tiba di sini beberapa tahun lalu," bisiknya dengan suara serak menahan tangis.​Billy menepuk tangan Gracia lembut, mencoba memberikan ketenangan profesional. "Tenanglah, Gracia. Aku akan memeriksanya sekarang."​Billy melangkah mendekati tempat tidur tempat Zaneta terbaring pucat. Edric memberikan ruang bagi pamannya itu, namun tetap berdiri cukup dekat untuk memastikan ia bisa melihat setiap helai napas Zaneta yang masih tersengal. Dengan telaten, Billy m

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Janji Edric

    Suara deru mesin mobil Alden perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di kediaman keluarga Dixton. Begitu lampu belakang mobil itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang besi, topeng ketenangan Edric runtuh seketika. Ia tidak lagi peduli pada sisa jamuan makan malam yang dingin atau harga dirinya sebagai tuan rumah.​Edric bangkit dari kursi dengan terburu-buru hingga kursinya terseret kasar ke belakang. "Mom, pastikan semua pelayan tutup mulut dan perketat penjagaan di depan!" serunya pada Gracia tanpa menoleh lagi.​Ia berlari melewati ruang tengah, menembus rimbunnya tanaman hias di lorong rahasia yang menghubungkan bangunan utama dengan paviliun belakang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah berlari, melainkan karena rasa cemas yang menghimpit dada. Ia tahu betapa rapuhnya Zaneta saat ini.​Begitu pintu paviliun dibuka, Edric menemukan pemandangan yang menyayat hati. Di pojok ruangan yang minim cahaya, Zaneta sedang memeluk lututnya di samping tempat tidu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Zaneta namanya

    Langkah kaki Alden yang mantap di atas lantai marmer vila keluarga Dixton menciptakan gema yang terasa menekan. Tanpa menunggu undangan resmi, ia melangkah masuk dengan aura dominasi yang tak tertandingi. Baginya, sopan santun adalah hal sekunder jika dibandingkan dengan "harta" yang hampir ia gapai. "Selamat malam, Nyonya Dixton," sapa Alden dengan nada suara yang halus namun sarat akan otoritas saat melihat Gracia turun dari lantai dua. Gracia berusaha menjaga ketenangannya, meski tangannya masih sedikit gemetar setelah meninggalkan Zaneta. "Alden. Kedatanganmu cukup mengejutkan. Edric tidak memberi tahu bahwa kau akan mampir malam ini." "Aku hanya ingin memastikan kerja sama kita berjalan lancar, dan mungkin... mencari sesuatu yang sempat tertinggal di bengkel tadi," jawab Alden sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling aula besar itu. Matanya menyisir setiap sudut, mencari keberadaan sosok yang baru saja membuatnya kehilangan akal sehat. Di lantai atas, Zaneta masih meringkuk

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tenanglah

    Alden masih berdiri mematung, pandangannya terkunci pada pintu besi yang baru saja tertutup rapat. Seringai tipis di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kilat obsesi yang berkobar di matanya. Setelah bertahun-tahun mengerahkan seluruh informan dan kekuasaannya tanpa hasil, takdir justru mengantarkannya ke tempat ini.​"Alden? Kau mendengarku?" Edric mengibaskan tangan di depan wajah sahabatnya, merasa ada yang tidak beres. "Kenapa reaksimu seperti itu? Dan Zayn... dia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Dia profesional."​"Jangan panggil dia Zayn," potong Alden dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Namanya adalah Zaneta. Dan mulai detik ini, Edric, urusan bisnis kita bisa menunggu. Tapi urusanku dengannya? Itu sudah tertunda terlalu lama."​Tanpa penjelasan lebih lanjut, Alden berbalik dan melangkah lebar meninggalkan bengkel, mengabaikan kerutan di dahi Edric. Di dalam kepalanya, Alden sudah menyusun ribuan skenario. Dia tidak akan membiarkan Zaneta menghilang lagi. Tidak

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Akhirnya

    Robert segera bergerak cepat. Sebagai tangan kanan Alden, dia tahu betul bahwa tuannya tidak pernah bermain-main jika sudah menyangkut angka dan inovasi. Desain mobil yang baru saja dipublikasikan oleh perusahaan Edric bukan sekadar kendaraan; itu adalah sebuah mahakarya teknis yang menggabungkan keamanan tingkat tinggi dengan estetika yang sangat personal. ​"Tuan, saya sudah menghubungi pihak Edric Dixton," lapor Robert beberapa jam kemudian. "Mereka menyambut baik ketertarikan kita. Edric sendiri yang mengangkat telepon dan dia tampak sangat bersemangat saat mendengar nama Anda." ​Alden menyandarkan punggungnya di kursi kulit ruang kerjanya yang mewah. Matanya masih tertuju pada sketsa mesin dan detail interior mobil tersebut di layar monitor. Sungguh menakjubkan, karya ini benar benar sebuah ide briliant. "Atur pertemuan secepatnya, Robert. Aku ingin melihat unit prototipenya secara langsung. Jika performanya sesuai dengan tampilannya, aku akan menanamkan modal besar di sana."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status