Share

Ternyata ...

Author: Emmy Liana
last update Last Updated: 2022-11-19 13:37:32

Byurrr!

Seember air dingin dan keruh diguyur di wajah Zaneta, hingga membuatnya terkejut dan terbangun mendadak.

Sebelum kesadarannya benar-benar pulih, dia merasakan tubuhnya kini diikat di sebuah kursi usang. Entah berapa lama dia tak sadarkan diri.

Dan, kini air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya.

Zaneta berusaha membuka matanya. Ingin melihat sekelilingnya: di mana dia sekarang? Apa dia sudah mati? Banyak tanya dalam pikirannya.

Tempat ini sepeti gudang yang sudah terbengkelai, dilihat dari semua barang di tempat itu dipenuhi debu yang sangat tebal.

Dia tak melihat para pria yang sudah menculiknya kemarin. Tapi, pria yang mengguyurnya dengan air saat ini bukan salah satu dari para penculiknya.

Pria itu pergi meninggalkannya sendirian di sana.

Tangannya berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Tapi, energinya sudah tak ada lagi. Tubuhnya lemah tanpa tenaga. Terakhir, dia mengingat hanya makan sebelum keberangkatannya dari Inggris, setelah itu tak ada kesempatan lagi untuk makan baginya.

Zaneta menggelengkan kepala, usahanya terlihat sia-sia. Pantang baginya untuk meneteskan air mata. Sejauh ini, dia sudah melewati banyak penderitaan. Jika ini penderitaannya untuk terakhir kali sebelum dia mati, tidak boleh ada air mata kesedihan lagi untuknya.

"Kamu kuat Zanet, kamu pasti bisa. Kamu sudah bisa melangkah sejauh ini. Demi cinta Gio yang sedang menunggumu. Bertahanlah." Zaneta berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Dalam keyakinannya, hanya cinta Gio yang dimilikinya sekarang. Dan, dia harus bisa meraih impiannya--mengenakan gaun pengantin dan bersanding di pelaminan bersama cintanya itu.

Beberapa jarak darinya, tiba-tiba terdengar pintu gudang dibuka--diikuti suara langkah kaki beberapa orang.

"Kamu?" Zaneta terkejut melihat seorang wanita yang sangat dikenal olehnya, sudah berada di hadapannya.

Isabela! Wanita itu tersenyum miring ke arah Zaneta.

Melihat penampilan Zaneta yang kotor dan lusuh, apalagi setelah diguyur dengan air--membuat Isabela tampak bahagia.

"Apa yang kamu lakukan padaku? Belum cukupkah kamu membuat kekacauan dalam hidupku? Biarkan aku pergi, dan menikah dengan pilihan hatiku. Setelah itu, aku akan pergi sejauh mungkin dan tak akan menampakan diri lagi di hadapanmu. Jika yang kau inginkan aku tak mendekati mommy Viona lagi, aku akan melakukannya," pinta Zaneta penuh rasa sedih.

Dia tak mengerti kenapa saudarinya begitu membenci dirinya. Tapi, apapun akan dia lakukan, asal bisa bersama Gio.

"Hahahhaha...." Suara gelak tawa Isabel menggema di dalam ruangan pengap itu. "Apa kamu bilang? Kamu ingin menikah dengan pilihan hatimu? Apa kamu yakin dia benar mencintaimu?"

"Tutup mulut kamu Isabel! Aku dan Gio saling mencintai. Dan, kami akan segera menikah. Setelah kepulanganku dari Inggris, jangan halangi jalanku."

"Hahahahha.... Apa maksudmu cintamu adalah Gio yang ini?"

Tepat setelah berkata demikian, seorang pria berjalan mendekati Isabel dari arah belakang tembok tiang yang menghalangi pandangannya sejak tadi.

"Gio!" seru Zaneta tersenyum bahagia, "Tolong lepaskan ikatan di tanganku, Gio."

Dengan bersemangat, Zaneta meminta bantuan pada kekasih hatinya itu. Namun sayang, Gio sama sekali tak bergeming dari tempatnya berdiri. Tak bergeser bahkan satu senti pun untuk Zaneta.

Dia tetap berada di sisi Isabel.

"Gio?" Wajah Zaneta berubah, melihat Gio tak bereaksi apa-apa.

Zaneta memandang wajah Isabel, seakan meminta penjelasan darinya.

Namun, Isabel hanya diam tak ingin mengucapkan apa pun.

"GIO!" Zaneta memanggil nama Gio dengan keras, sekuat tenaga yang dia bisa. Tetapi, Gio juga tak ingin bersuara.

Karena tubuhnya yang terlalu lemah, teriakan memanggil nama Gio adalah tenaganya yang terakhir. Zaneta seketika tertunduk lesu. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Isabel saat ini, sampai Gio pun enggan untuk menolongnya?

Zaneta selau merindukan pria ini. Dalam setiap doa yang dia lantunkan, hanya nama Gio yang selalu disebut dalam harapannya. Tapi, kenyataannya, sungguh di luar dugaan!

Gio yang dahulu adalah anak laki-laki yang hangat dan penyayang kini telah berubah sedingin es, sekeras gunung batu. Tak perduli sama sekali, apa lagi merasa iba dengan kondisi Zaneta yang begitu menyedihkan di depannya.

Jika dahulu, Gio selalu ada dan tak menginginkan air mata Zaneta. Hari ini, bahkan dengan mata kepalanya sendiri--Gio menyaksikan bulir bening dari mata Zaneta mengalir begitu derasnya.

Gio tiba-tiba tersenyum kejam.

Melihat kenyataan di hadapannya, hancur sudah impian yang selama ini didamba Zaneta.

Gio sudah berkhianat!

Dengan cepat Zaneta menggelengkan kepalanya, segera tersadar.

Semua impian itu adalah harapan palsu, di dunia ini tak ada yang benar-benar tulus untuknya kini dia mengerti, bahagia di dunia ini bukanlah miliknya. Zaneta menghentikan tangisnya. Dan berbalik tersenyum dingin ke arah Isabel dan Gio.

Seakan mendapat pencerahan, Zaneta memutuskan satu hal besar: jika dia harus mati, itu lebih baik daripada harus tunduk dan memohon pada kedua pengkhianat itu.

Perubahan drastis yang dilakukan Zaneta membuat Isabel dan Gio kebingungan. Keduanya sulit mengartikan senyuman Zaneta itu.

Bukankah Zaneta harus mohon meminta pengampunan dan meminta dibebaskan?

"Hey!" Isabel berjalan mendekat ke arah Zaneta, "teruslah bermimpi sayang. Apa kamu ingin menikah dengan Gio yang kini telah menjadi suamiku?"

Senyum mengejek ditampilkan pada Zaneta .

Zaneta hanya menatap datar keduanya. Jika Gio kini menjadi suami Isabel, apa yang diinginkannya lagi di dunia ini? Isabel salah mengambil langkah. Dengan ini, Zaneta sekarang menginginkan kekuatan--yang dapat menghancurkan semua yang dibenci!

Melihat keterdiaman Zaneta, entah mengapa Isabel menjadi kesal. Ini semua di luar dugaan Isabel.

Seharusnya, Zaneta menangis dan meraung meminta agar Gio membelanya. Satu-satunya jalan yang paling menyakiti Zaneta adalah Gio, tapi kenapa secepat ini dia melupakan kemarahannya?

Isabel tak kehabisan akal. Kebencian dan kecemburuan yang sudah mengakar, tumbuh sejak kecil di dalam hati Isabel pada Zanet, yang sudah menutup rasa kasihan di dalam dirinya.

"Kamu! Bukalah ikatan di tangannya! Aku ingin semua rencanaku dipercepat!" perintah Isabel pada seorang pria bertopeng di belakangnya.

"Apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Gio. Sebutan sayang dari Gio pada Isabel membuat Zaneta ingin muntah. Sayang, perutnya tak terisi apa pun.

"Apa kamu akan membunuhnya?" cecar Gio lagi dengan pertanyaan yang membuat dirinya penasaran.

"Bukan membunuhnya sayang, tapi rencanaku lebih kejam dari pembunuhan," jawab Isabel dengan tatapan dingin, membuat siapa pun yang melihat raut wajahnya akan bergidik ngeri.

Sungguh, Isabel adalah wanita kejam yang tak dapat dihindari lagi.

Setelah ikatan tali di tubuh Zaneta dilepas, tubuhnya didorong secara paksa.

Kedua pria di situ memegang lengannya dan menyeretnya keluar dari gudang pengap tadi.

Cuaca di luar mendung, sebentar lagi hujan mungkin akan turun, tapi Zanet terus diseret kedua pria itu menuju sebuah kapal yang sedang menunggu kedatangannya.

[ Diamond Cruises ] terpampang jelas di badan kapal.

Kapal persiar mewah yang menyajikan jalan-jalan keliling dunia dengan melayani 290 rute di beberapa benua.

Zaneta sering membaca berita tentang kapal pesiar yang menyajikan kemewahan tingkat tinggi ini.

"Apa aku, akan dipekerjakan di dalam kapal ini?" tanya Zanet dalam hatinya, "Apa aku akan dijadikan pekerja di sini?"

Belum selesai Zaneta berpikir, tiba-tiba seorang pria berbadan tinggi tegap mendorongnya ke dalam kapal.

Setelahnya, Zaneta melihat pria berjas hitam sedang menunggu di pintu masuk. "Apa dia kiriman nona Isabel Dawson?"

Kedua pria yang membawa Zaneta mengangguk.

"Bagus, bawa dia masuk ke kamar 206!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tolong lupakan

    Lampu kota yang berkelap-kelip di balik jendela kaca mobil tidak mampu mendinginkan kepala Alden. Sepanjang perjalanan meninggalkan kediaman Dixton, cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Amarah, kerinduan, dan rasa dikhianati bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang siap meledak kapan saja.​Begitu mobilnya berhenti di lobi hotel VVIP miliknya, Alden keluar tanpa menyerahkan kunci pada petugas valet. Ia melangkah lebar, mengabaikan sapaan hormat dari para staf hotel yang membungkuk dalam saat ia lewat. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wajah Zaneta yang pucat dan tatapan melindungi dari Edric.​BRAKK!​Pintu penthouse mewah itu didorong kasar hingga menghantam dinding. Alden melangkah masuk dengan napas memburu. Keheningan kamar yang elegan itu justru terasa seperti ejekan baginya.​"ARGHHHH!"​Suara teriakan Alden menggema, memecah kesunyian malam. Ia menyambar vas bunga porselen di atas meja konsol dan menghantamkannya ke lantai hingga hancu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Serangan panik

    Langkah kaki terburu-buru bergema di lorong paviliun yang sunyi. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan tas medis di tangannya. Uncle Billy, dokter kepercayaan keluarga Dixton, masuk dengan raut wajah serius namun tenang.Nyonyq ​Gracia segera menghampirinya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan kecemasan yang mendalam. Ia mencengkeram lengan Billy dengan tangan yang gemetar. "Billy, syukurlah kau sudah sampai. Kumohon, lakukan yang terbaik untuknya. Dia sangat ketakutan... persis seperti pertama kali dia tiba di sini beberapa tahun lalu," bisiknya dengan suara serak menahan tangis.​Billy menepuk tangan Gracia lembut, mencoba memberikan ketenangan profesional. "Tenanglah, Gracia. Aku akan memeriksanya sekarang."​Billy melangkah mendekati tempat tidur tempat Zaneta terbaring pucat. Edric memberikan ruang bagi pamannya itu, namun tetap berdiri cukup dekat untuk memastikan ia bisa melihat setiap helai napas Zaneta yang masih tersengal. Dengan telaten, Billy m

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Janji Edric

    Suara deru mesin mobil Alden perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di kediaman keluarga Dixton. Begitu lampu belakang mobil itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang besi, topeng ketenangan Edric runtuh seketika. Ia tidak lagi peduli pada sisa jamuan makan malam yang dingin atau harga dirinya sebagai tuan rumah.​Edric bangkit dari kursi dengan terburu-buru hingga kursinya terseret kasar ke belakang. "Mom, pastikan semua pelayan tutup mulut dan perketat penjagaan di depan!" serunya pada Gracia tanpa menoleh lagi.​Ia berlari melewati ruang tengah, menembus rimbunnya tanaman hias di lorong rahasia yang menghubungkan bangunan utama dengan paviliun belakang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah berlari, melainkan karena rasa cemas yang menghimpit dada. Ia tahu betapa rapuhnya Zaneta saat ini.​Begitu pintu paviliun dibuka, Edric menemukan pemandangan yang menyayat hati. Di pojok ruangan yang minim cahaya, Zaneta sedang memeluk lututnya di samping tempat tidu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Zaneta namanya

    Langkah kaki Alden yang mantap di atas lantai marmer vila keluarga Dixton menciptakan gema yang terasa menekan. Tanpa menunggu undangan resmi, ia melangkah masuk dengan aura dominasi yang tak tertandingi. Baginya, sopan santun adalah hal sekunder jika dibandingkan dengan "harta" yang hampir ia gapai. "Selamat malam, Nyonya Dixton," sapa Alden dengan nada suara yang halus namun sarat akan otoritas saat melihat Gracia turun dari lantai dua. Gracia berusaha menjaga ketenangannya, meski tangannya masih sedikit gemetar setelah meninggalkan Zaneta. "Alden. Kedatanganmu cukup mengejutkan. Edric tidak memberi tahu bahwa kau akan mampir malam ini." "Aku hanya ingin memastikan kerja sama kita berjalan lancar, dan mungkin... mencari sesuatu yang sempat tertinggal di bengkel tadi," jawab Alden sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling aula besar itu. Matanya menyisir setiap sudut, mencari keberadaan sosok yang baru saja membuatnya kehilangan akal sehat. Di lantai atas, Zaneta masih meringkuk

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tenanglah

    Alden masih berdiri mematung, pandangannya terkunci pada pintu besi yang baru saja tertutup rapat. Seringai tipis di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kilat obsesi yang berkobar di matanya. Setelah bertahun-tahun mengerahkan seluruh informan dan kekuasaannya tanpa hasil, takdir justru mengantarkannya ke tempat ini. ​"Alden? Kau mendengarku?" Edric mengibaskan tangan di depan wajah sahabatnya, merasa ada yang tidak beres. "Kenapa reaksimu seperti itu? Dan Zayn... dia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Dia profesional." ​"Jangan panggil dia Zayn," potong Alden dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Namanya adalah Zaneta. Dan mulai detik ini, Edric, urusan bisnis kita bisa menunggu. Tapi urusanku dengannya? Itu sudah tertunda terlalu lama." ​Tanpa penjelasan lebih lanjut, Alden berbalik dan melangkah lebar meninggalkan bengkel, mengabaikan kerutan di dahi Edric. Di dalam kepalanya, Alden sudah menyusun ribuan skenario. Dia tidak akan membiarkan Zaneta menghilang lagi.

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Akhirnya

    Robert segera bergerak cepat. Sebagai tangan kanan Alden, dia tahu betul bahwa tuannya tidak pernah bermain-main jika sudah menyangkut angka dan inovasi. Desain mobil yang baru saja dipublikasikan oleh perusahaan Edric bukan sekadar kendaraan; itu adalah sebuah mahakarya teknis yang menggabungkan keamanan tingkat tinggi dengan estetika yang sangat personal. ​"Tuan, saya sudah menghubungi pihak Edric Dixton," lapor Robert beberapa jam kemudian. "Mereka menyambut baik ketertarikan kita. Edric sendiri yang mengangkat telepon dan dia tampak sangat bersemangat saat mendengar nama Anda." ​Alden menyandarkan punggungnya di kursi kulit ruang kerjanya yang mewah. Matanya masih tertuju pada sketsa mesin dan detail interior mobil tersebut di layar monitor. Sungguh menakjubkan, karya ini benar benar sebuah ide briliant. "Atur pertemuan secepatnya, Robert. Aku ingin melihat unit prototipenya secara langsung. Jika performanya sesuai dengan tampilannya, aku akan menanamkan modal besar di sana."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status