Beranda / Romansa / Rasa Dari Keremajaan / Kebenaran Dari Mulut Ketua OSIS

Share

Kebenaran Dari Mulut Ketua OSIS

Penulis: JayK
last update Terakhir Diperbarui: 2021-11-24 12:11:29

Pagi ini sejak bangun dari tidur tubuhku terasa berat. Aku tidak tahu apa sebabnya, tapi yang pasti ranjangku menjadi black hole yang menarik kuat tubuhku agar tidak bangun.

Yang membuat bisa aku bangun kali ini sudah pasti kewajibanku untuk pergi ke sekolah. Akan sangat disayangkan jika bisa pergi ke sekolah yang begitu bagus namun tidak dijalankan dengan sepenuh hati. Terlebih belajar itu sangat menyenangkan bagiku.

Aku tidak tahu mengapa seseorang bisa dengan mudahnya membolos pelajaran bahkan sekolah itu sendiri. Sebagian besar mereka mengucapkan kalau mereka tidak ingin, tidak suka, ataupun tidak bisa dengan hal tersebut. Bukankah itu membuktikan kalau mereka tidak mampu dan hanya bisa melarikan diri?

Yah, bagaimanapun setiap orang dilahirkan berbeda dan membuktikan kalau diferensiasi sosial akan terus ada.

Aku bisa mengembalikan energi tubuhku saat sedang mandi. Berkat bantuan dari Tuan Air Hangat yang mengalir ke tubuhku. Itu membuat keadaan mataku juga lebih baik.

Tapi itu belum cukup untuk mengembalikan energi tubuhku seperti biasa. Itu terasa saat aku sedang sarapan. Rasanya berbeda dari kemarin.

Padahal, aku membuat porsi yang lebih besar dan memasukkan beberapa penyedap rasa, tapi aku sama sekali tidak merasa kenyang dan menikmati sarapanku sendiri.

Apakah itu disebabkan aktivitasku kemarin bersama Bu Annisa? Atau mungkin karena ini adalah hari Jum’at? Hari di mana aku harus bertemu dengan Kak Clarrisa.

Dan sekarang, aku sedang berada di atap sekolah. Tempat di mana aku dan Kak Clarrisa berjanji untuk bertemu.

Meskipun memiliki perlindungan dari teriknya sinar matahari di siang hari, tempat duduk yang aku duduki saat ini membuat energiku habis. Karena saat ini, aku sedang duduk bersebelahan dengan Kak Clarrisa.

“Jwadwi apwakwah kwu swdah—“

“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, jadi bisakah kau habiskan dulu makananmu, Kak?!”

Yang dimakan oleh Kak Clarrisa adalah roti isi daging. Itu adalah Set A yang Kak Clarrisa minta padaku kemarin lusa. Isinya adalah memilih satu roti isi berisi apa pun dengan satu botol teh.

Keadaan pada jam istirahat kedua di atap sekolah saat ini benar-benar sepi. Dan meskipun banyak angin yang berembus, itu sama sekali tidak memperbaiki suasana, yang ada adalah kebalikannya. Itu membuat keadaan di sini menjadi canggung.

“Jadi, apakah kau sudah memutuskan pilihanmu, Raihan?”

Hari ini adalah hari di mana aku harus memberikan jawabanku untuk menerima tawarannya atau tidak. Karena aku mendapatkan beberapa informasi, aku ingin menanyakan beberapa hal padanya terlebih dahulu.

Dan jawabanku adalah tergantung dari bagaimana ia menjawab beberapa pertanyaanku.

“Tentu, Kak. Tapi sebelum itu, bisakah aku menanyakan beberapa hal kepadamu?”

“Tentu, tanyakan apa saja yang kau butuhkan, Raihan.”

Aku tidak tahu mengapa, tapi aku menelan ludahku sendiri. “Kalau begitu, untuk yang pertama. Kenapa Kakak bersikeras untuk menginginkanku sebagai wakil?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa maksudnya?”

“Maksudnya adalah itu, Raihan. Mungkin saja itu adalah sebuah kebetulan; kebetulan kita bertemu, kebetulan aku menganggapmu cocok. Itu saja.”

Itu adalah jawaban yang aku tidak tahu bagaimana meresponsnya. Ya, itu lebih baik daripada menerima sebuah jawaban klise seperti, “B-bukannya aku menginginkanmu untuk menjadi w-wakilmu, ya! J-jangan salah paham, dasar bodoh! Hmmph!”.

Jawaban seperti itu akan membuat energiku semakin habis.

“Kalau bisa kujelaskan, yah, mungkin aku dan kau 'satu frekuensi', Raihan. Saat pertama kali bertemu, aku merasa kau cocok dan benar saja. Dan itu adalah sebuah kebetulan kita bisa bertemu dan berbicara sampai saat ini.”

“Hanya itu saja?”

“Ya, kurasa begitu.”

Aku tidak tahu harus meresponsnya bagaimana, tapi aku dapat menerima hal itu. Dia juga tak terlihat seperti menutupi itu.

Akhirnya aku hanya mengangguk saja.

“Kalau begitu selanjutnya. Mengapa kau menerima posisi sebagai ketua OSIS ini? Aku mendengar dari Bu Annisa dan yang lainnya bahwa sebenarnya kau tidak menginginkan itu.”

Kak Clarrisa diam sebentar. “Begitu.” lalu berdiri menuju pagar pembatas yang jaraknya tak begitu jauh dari kursi yang kita berdua duduki.

“Dari mana aku harus memulainya, ya?... Mungkin dari akar permasalahannya. Kau tahu bahwa ketua OSIS sebelumnya bermasalah bukan? Semenjak itu aku selalu saja 'dipaksa' oleh pihak sekolah untuk mengisi kekosongan posisi tersebut. Tentunya saja aku sudah menolak itu, tapi itu datang terus menerus dan membuatku lelah.”

“Jadi karena kau sudah merasa pihak sekolah tidak akan menyerah kau menerima posisi tersebut?”

“Tidak benar juga tidak salah, Raihan. “

Aku mengangguk agar Kak Clarrisa dapat melanjutkannya.

“Memang benar aku sudah tidak tahan dan pasrah dengan pihak sekolah, namun yang membuat aku menerima posisi ketua OSIS adalah karena Bu Annisa.”

“Bu Annisa? Ada apa dengan Bu Annisa?”

“Dari yang aku dengar dari berbagai mulut di sekolah ini, setelah ketua OSIS sebelumnya diberi hukuman, pihak sekolah langsung mengadakan rapat akan hal itu. Dan karena mereka tak ingin membuang waktu di sana serta menjaga nama baik sekolah, mereka memutuskan untuk memilih 'yang terbaik' untuk dijadikan sebagai ketua.

Itu adalah permulaan bagaimana mereka terus ‘memaksaku'.

Pada awalnya mereka hanya berbicara dengan lembut, meminta bantuan, dan semacamnya. Tapi semakin banyak aku menolak mereka, cara yang mereka gunakan semakin mengganggu aktivitasku sehari-hari.”

“Dan apa itu?”

“Pihak sekolah menggunakan cara yang lebih untuk membuatku menjadi ketua. Mereka menggunakan kekuasaan mereka sebagai alasan bertindak. Membuat sebuah alasan yang tidak masuk akal untuk memaksaku.

Dimulai dari menemuiku saat jam istirahat hingga memberikan ancaman nilai yang kurang kepadaku nanti di rapor. Aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi, terlebih aku juga tidak begitu peduli jika memang nilaiku lebih rendah dari yang lain.

Kau bertanya kenapa? Karena mereka tidak mungkin akan menurunkan nilaiku sangat jauh karena akan menyusahkan mereka sendiri.

Tapi untung saja di saat-saat seperti itu tidak ada yang berani menyentuhku. Aku berterima kasih apa yang sudah dilakukan oleh menteri pendidikan pada akhir tahun 2021  lalu.”

“Kau membuat pihak sekolah terdengar buruk.”

“Kau salah, Raihan. Mereka sudah buruk karena memaksaku untuk menjadi ketua. Yah, itu semua tidak akan terjadi dan aku tidak akan berkomentar negatif jika mereka membuat keputusan yang lain. Itu akan membuat banyak waktu pada mereka juga.”

Yang dikatakan oleh Kak Clarrisa itu benar. Apa yang mereka harapkan dengan keputusan yang mereka buat berbanding terbalik 180°. Andai saja mereka menyerah dengan Kak Clarrisa, pihak MPK mungkin saja bisa membantu mereka.

“Lalu, bagaimana dengan Bu Annisa?”

“Setelah semua itu terjadi, Bu Annisa membuka suaranya di depan semua guru. Karena ia bersuara dan menentang perbuatan pihak sekolah yang sudah terlalu jauh, akhirnya Bu Annisa harus menggantikan posisi pembina OSIS sebelumnya.

Tentu dia menginginkanku menjadi ketua, tapi caranya membujukku adalah yang paling membuatku tenang.”

“Tunggu, Kakak mendapatkan info itu dari mana? Kau terlihat sangat yakin mengatakan itu.”

“Kebetulan saat itu terjadi, aku sedang melewati ruang guru dan sebuah kebetulan juga, pintu dari ruang guru itu sedikit terbuka. Karena hal itu aku dapat mengetahuinya.”

Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa.

“Aku mengerti. Alasan mengapa Kak Clarrisa menerima posisi sebagai ketua adalah karena Bu Annisa. Lalu bagaimana dengan wakil Kakak sebelumnya? Apa yang terjadi pada wakil Kakak sebelumnya dan mengapa Kakak sampai sekarang masih belum mendapatkan wakil Kakak?”

“Aku belum menemukan yang cocok.”

“...”

“...”

“Eh, itu saja?”

“Itu saja.”

“Apa yang kau harapkan, Raihan? Mereka yang direkomendasikan maupun mengajukan diri mereka akan mengundurkan diri setelah 3 hari aku memberikan mereka pekerjaan.

Terutama dari yang mengajukan diri mereka, mereka mempunyai motif tersendiri untuk menjadi wakil ketua.”

“Motif tersendiri?”

“Kau tahu, senior dari sebuah klub basket yang menjadi bintang dan disukai oleh sekolah terutama para wanita—“

“Aku mengerti aku mengerti jadi tolong hentikan penggambaran karakter menjijikan itu, Kak.”

Kak Clarrisa melirik kepadaku, “Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi, Raihan?”

“Ah, ya. Ada. Mungkin ini terlalu berlebihan untukku mengatakannya. Tapi apakah Kakak sangat perlunya membuat sebuah ruang tersendiri hingga memberi efek yang buruk kepada sekitar?”

“Kau membuatku terlihat buruk, Raihan. Kau seharusnya mengatakan “sebuah percobaan sosial antara individu dengan individu lain. Namun karena ketidakmampuannya individu tersebut ia membuat sebuah situasi di mana individu yang dimaksud tertelan oleh situasi yang sudah dibuatnya”. Bukankah kau lebih mengerti itu dari siapapun, Raihan?”

 Aku mengerti apa yang Kak Clarrisa ucapkan. Itu adalah sebuah situasi sosial di mana sang individu tersebut tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengerti suatu hal sehingga ia menciptakan situasi di mana ia bisa mengerti hal itu, meskipun kebanyakan salah dan merugikan banyak orang.

Contoh paling dekatnya adalah sebuah kisah cinta. Ketika seseorang ditolak cintanya hingga depresi, terkadang orang tersebut akan mulai mengkhayalkan kalau cintanya tersebut diterima. Ataupun contoh lainnya mereka menyebarkan rumor yang buruk kepada orang tersebut.

Jika aku boleh menjawabnya kenapa, jawabannya sangat sederhana. Mereka tidak ingin memenuhi kepala mereka dengan sebuah ilmu sehingga mereka menciptakan dunia mereka sendiri dan menganggap yang benar adalah salah dan yang salah adalah benar.

Orang-orang tersebut akan terus ada, dan yang hanya bisa kita lakukan adalah membuat sebuah pembatas pada mereka. Itulah yang dilakukan oleh Kak Clarrisa.

“Tapi kau menggunakan itu untuk kepentingan dirimu yang memang kau mempunyai masalah dalam berinteraksi, bukan?”

“Kau mulai pintar berbicara, Raihan. Aku tidak menyangkal hal itu. Kau juga sama seperti itu, bukan?”

“Yah, tidak dalam semua aspek.”

“Kau akan mendapatkan hal itu ketika kau sudah menginjak seusiaku, Raihan.”

“Kita hanya beda satu tahun dan itu tidak akan menyebabkan perbedaan yang berarti.”

Kak Clarrisa hanya diam dan menatap panorama yang ia lihat dari atap sekolah.

Kurasa sudah cukup, waktunya mengakhiri hal ini.

“Kalau begitu, ini adalah pertanyaan terakhir. Apa alasan yang sebenarnya Kakak menginginkanku sebagai wakil?”

Kak Clarrisa membalikkan badannya ke arahku, “Entahlah~ kau bebas menyimpulkan hal itu di kepalamu.”

“Kalau begitu, aku terima tawaranmu.”

Setelah mendengar itu dariku, disertai embusan angin, senyum Kak Clarrisa yang ia perlihatkan sangat indah di mataku.

“Begitu.” Katanya. Lalu pergi menuju pintu atap sekolah, “Sebaiknya kita bergegas kembali, Raihan. Kau tidak ingin meninggalkan kelas, bukan?”

Aku pun tersenyum kecil, “Yah, kau benar.”  Lalu aku mengikuti Kak Clarrisa dari belakang.

Baiklah, aku tidak tahu masalah apa yang akan datang. Tapi aku sudah siap akan hal itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rasa Dari Keremajaan   Pidato Terakhir Dan Bunga Mawar Hitam

    Satu hari sebelum hari H. Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah. Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang. Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana. Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu. Kak Clarissa. Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh. Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya per

  • Rasa Dari Keremajaan   Pidato Terakhir Dan Bunga Mawar Hitam

    Satu hari sebelum hari H.Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah.Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang.Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana.Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu.Kak Clarissa.Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh.Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya percaya di

  • Rasa Dari Keremajaan   Transisi Musim

    Minggu-minggu menjelang Ujian Nasional (atau asesmen penggantinya) adalah masa-masa tergelap bagi siswa kelas 3, dan masa-masa tersunyi bagi siswa kelas 1 dan 2 karena kakak kelas mereka menghilang ditelan Try Out. Aku menyibukkan diri dengan program kerja baru. Digitalisasi perpustakaan, perbaikan sanitasi toilet (janji kampanye yang paling ditunggu siswa putri), dan restrukturisasi ulang sistem poin pelanggaran. Aku bekerja seperti mesin. Efisien. Cepat. Tanpa ampun. "Raihan, istirahatlah," tegur Shinta suatu sore. "Matamu sudah seperti panda. Kau mau menyaingi rekor begadang mantan ketua OSIS yang dikeluarkan itu?" "Aku baik-baik saja, Shinta. Masih banyak yang harus diurus." "Kau tidak baik-baik saja," Fachri menimpali sambil melempar bola basket ke arahku (yang untungnya berhasil kutangkap, refleksku membaik). "Kau merindukan Kak Clarissa, kan?" "Jangan bicara sembarangan." "Kelihatan jelas, Bung. Kau jadi lebih galak dari biasanya. Kemarin kau memarahi ketua ekskul Paskib

  • Rasa Dari Keremajaan   Residu Pesta

    Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat berubah bentuk.Aku berdiri di tengah lapangan sekolah yang sunyi pada pukul tujuh pagi di hari Minggu. Sampah plastik bekas botol minuman, sisa-sisa konfeti, dan jejak lumpur kering memenuhi aspal yang kemarin malam dipadati ribuan manusia.Energi euforia semalam kini telah berubah bentuk menjadi energi kinetik yang harus kami keluarkan untuk menyapu semua kekacauan ini."Kenapa..." Fachri merengek sambil menyeret kantong sampah hitam besar di belakangnya. "...kenapa bagian terburuk dari pesta selalu jatuh pada panitia inti?""Karena kita adalah pemimpin, Fachri," jawab Shinta yang sedang memungut sampah dengan penjepit besi, lengkap dengan sarung tangan karet dan masker medis (dia terlihat seperti tim forensik CSI). "Pemimpin yang baik tidak meninggalkan kotorannya untuk orang lain.""Teori yang bagus," gumamku sambil melipat terpal bekas stan Pak Wijaya. "Tapi secara praktis, ini nam

  • Rasa Dari Keremajaan   Panggung yang sesungguhnya

    Hari H.Kekacauan adalah kata yang terlalu halus. Ini adalah zona perang.Sejak gerbang dibuka pukul 8 pagi, ribuan siswa dan pengunjung umum membanjiri area sekolah. Musik berdentum keras. Stan makanan dipenuhi antrean. Dan stan properti Pak Wijaya?Ramai. Sangat ramai.Strategi booth foto instagramable berhasil total. Tia mendesain backdrop foto yang luar biasa estetik, membuat para siswa rela mengantre demi konten media sosial. Dan syaratnya? Follow akun dan isi data. Staf Pak Wijaya terlihat kewalahan namun tersenyum lebar melihat tumpukan data calon pembeli.Aku berdiri di ruang kontrol (sebenarnya cuma tenda kecil di samping panggung) sambil memegang walkie-talkie."Cek, Raihan. Stok konsumsi panitia menipis. Anak basket makan seperti monster," suara Shinta terdengar di earpiece."Kirim Fachri untuk beli nasi padang di depan. Pakai dana darurat. Jangan biarkan mereka kelaparan atau mereka akan memakan pengunjung," instruksiku."Copy that."Aku menghela napas lega. Sejauh ini, se

  • Rasa Dari Keremajaan   Diplomasi Meja Hijau

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah ventilasi ruang kesiswaan, menciptakan garis-garis cahaya yang menyinari debu-debu beterbangan. Tapi bagi diriku yang sedang duduk di kursi kayu keras ini, sinar itu terasa seperti lampu interogasi polisi.Di hadapanku duduk Pak Teguh. Pria paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi ciri khas kedisiplinannya. Di meja, tergeletak proposal revisi dan fotokopi cek senilai 30 juta rupiah yang baru saja kuserahkan.Di sudut ruangan, duduk Bu Annisa yang sedang pura-pura sibuk membaca koran, namun aku tahu telinganya terpasang tajam. Dan di sampingku—berdiri dengan pose santai seolah ini adalah rumah neneknya—adalah Kak Clarissa."Raihan," suara Pak Teguh berat, menekan setiap suku kata. "Bisa kau jelaskan apa arti dari 'Stan Promosi Eksklusif' dan 'Pengumpulan Data Wali Murid' ini? Sejak kapan sekolah kita menjadi agen pemasaran properti?""Sejak Bapak menantang saya untuk mengadakan acara megah tanpa anggaran sekolah, Pak," jawabku tenang. Seti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status