Home / Romansa / Rasa Dari Keremajaan / Mencari Kebenaran Ketua OSIS (3)

Share

Mencari Kebenaran Ketua OSIS (3)

Author: JayK
last update Last Updated: 2021-11-04 15:15:34

Seperti yang sudah dikatakan oleh Bu Annisa kemarin, saat ini aku sedang menunggu Bu Annisa di tempat parkir sekolah yang letaknya berada di bawah sekolah. Mungkin lebih tepatnya lantai 1 sekolah ini adalah tempat parkir.

Ada apa denganku sebenarnya sehingga bisa meninggikan suara kepada seorang guru? Padahal dari dulu kau tidak banyak berbicara.

Aku mengistirahatkan punggungku di sebuah tembok penahan bangunan dan menutup mataku, berharap semua akan baik-baik saja.

Tak lama, smartphone yang aku simpan di saku celanaku bergetar. Aku lalu memeriksa layar smartphone milikku. Ada notifikasi pesan dari Bu Annisa.

“Apakah kau sudah berada di sana? Jika iya tunggu ibu di sana. Ibu sedang turun dari tangga.”

Tidak ingin dimarahi lebih lanjut, aku segera membalas pesan dari Bu Annisa.

“Iya, Bu. Berhati-hatilah.”

Aku mengatakan Bu Annisa untuk berhati-hati agar dia tidak jatuh dari tangga saat memegang smartphonenya.

Setelah membalas dan terbaca oleh Bu Annisa, aku kembali meletakkan smartphoneku di saku celana lalu melihat ke arah halaman sekolah yang luas. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ini benar-benar sekolah atau sebuah stadion sepakbola?

Meskipun sudah sore, langit masih terlihat sangat cerah tanpa adanya warna oranye yang aku lihat seperti kemarin.

Angin sore yang saat ini sedang sering menampakkan keberadaannya juga semakin nyaman untuk dinikmati. Pohon serta rumput yang berada di halaman sekolah juga serta ikut menari-nari alunan yang dibawa oleh sang angin.

Saat aku masih memandang halaman sekolah, aku melihat siluet seseorang datang dari arah depan gerbang masuk tempat parkir.

Dia menggantungkan jasnya menjadi seperti jubah. Rambutnya diikat menjadi ponytail, dan memegang sebatang rokok.

Aku kembali membenarkan posisiku lalu berjalan bersama dengannya.

“Apakah tidak apa-apa berpenampilan seperti itu, Bu? Terlebih merokok, apakah itu tidak apa-apa kau tunjukkan langsung ke seorang murid?”

“Apa kau tidak suka dengan asap rokok, Raihan? Maaf, ya. Sebenarnya aku sudah berhenti, tapi karena pekerjaan yang berat itu sudah selesai, aku hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.”

“Untuk yang kemarin-“

“Ah!” Bu Annisa langsung memotong perkataanku, “Pertama-tama ikut saja aku terlebih dahulu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Masuklah.”

Bu Annisa menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya. Atau mobil orang lain? Apakah ini benar mobilnya Bu Annisa?

“Ada apa? Kau tidak naik?”

Bu Annisa menyuruhku untuk menaiki mobil sports berwarna merah miliknya. Hanya saja, aku tidak tahu haru berbuat apa saat ini. Ini adalah pertama kalinya aku menaiki mobil sports, terlebih itu adalah milik guruku sendiri. Aku benar-benar bingung harus bagaimana bereaksi.

“Tidak... Hanya saja, apakah benar pekerjaan Ibu adalah seorang guru?”

“Aku guru yang terdaftar... Jadi, kau ingin masuk atau tidak? Jika tidak kau harus menemuiku jalan kaki.”

“Aku naik, aku naik.”

Dengan panik, aku bergegas untuk masuk ke dalam mobil milik Bu Annisa.

Setelah memastikan aku masuk dan memakai sabuk pengaman, Bu Annisa langsung menancapkan gasnya dan pergi dari parkir sekolah menuju jalanan kota.

Namun belum sampai keluar sekolah, di dalam pun mobil milik Bu Annisa sudah menarik banyak perhatian. Tapi tidak sedikit juga yang tidak tertarik dengan mobil ini. Aku berani bertaruh mereka bukan murid kelas satu.

Setelah keluar dari lingkungan sekolah, Bu Annisa menambah kecepatan mobilnya. Dalam keadaan seperti ini, bukan polisilah yang aku takutkan melainkan beberapa hal yang membuatku menderita PTSD dengan sebuah mobil sports.

Tapi Bu Annisa dengan santainya mengendarai mobil ini sambil merokok.

Sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu berpikir terlalu berat walaupun belum mengetahui jawabannya. Itu sangat melelahkan.

Aku menjatuhkan badanku sepenuhnya ke kursi ini dan menutup mataku, mencoba membuang semua kekhawatiran yang akhir-akhir ini membuatku tidak nyaman.

“Bagaimana menurutmu, Raihan? Apakah terasa nyaman?”

Aku menjawab dengan posisi yang sama, “Ya, ini sangat nyaman, Bu.”

“Bukankah perilaku yang kau tunjukkan ini berkebalikan?”

“Apakah aku harus menggantikan Ibu untuk menyetir?”

“SIM-mu?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu sayang sekali tidak bisa.”

“Bahkan dengan SIM-pun Ibu akan tetap menolaknya, bukan?” Kataku sambil melihat ke arah Bu Annisa.

Tidak ada jawaban darinya. Tapi melihat Bu Annisa dengan rambutnya yang tertiup angin dari sudut seperti ini membuat sosok dewasanya sangat mengagumkan.

Aku kembali melihat pemandangan kota dari dalam mobil ini. Aku tidak tahu apa yang membebani pikiranku akhir-akhir ini. Jujur saja, mungkin aku sudah mencapai batas untuk hal-hal seperti ini.

“Ada apa? Kau tidak seperti biasanya, Raihan. Apa kau baru saja putus dengan kekasihmu?”

“Aku yang seperti ini sangat mustahil untuk mendapatkan hal yang luar biasa seperti itu.”

“Apa kau benar-benar sudah SMA? Kau belum pernah sekalipun mendapatkan kekasih? Apa kau ingin menjadi perjaka seumur hidup, Raihan?”

“Aku tidak berminat, terima kasih atas sindirannya, Bu. Lalu apakah tidak apa-apa Ibu berperilaku seperti itu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Maka dari itu aku bertanya kepadamu, apakah kau benar-benar sudah SMA?”

Aku ingin sekali menjawab, namun aku tidak tahu harus membalas dengan seperti apa.

“Apa kau lapar, Raihan?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu kita berhenti di sini mencari sesuatu yang lezat.”

Bu Annisa langsung membelokkan mobilnya di suatu tempat. Setelah diparkirkan, aku melihat ke sekeliling.

“Minimarket?”

Sambil melepaskan sabuk pengamannya Bu Annisa menjawab “Apa kau tidak menyukai makanan berat dari minimarket, Raihan? Maaf, ya. Ibu hanyalah seorang guru.” Lalu Bu Annisa keluar dan langsung menutup pintunya.

Aku hanya bisa terdiam. Sungguh aku tidak tahu harus bertingkah bagaimana di depannya.

Setelah menunggu beberapa menit di dalam mobil, aku melihat Bu Annisa keluar dari pintu minimarket dan langsung masuk ke dalam mobil dengan beberapa kantung plastik yang penuh ditangannya.

“Maaf tidak membantu.” Kataku setelah Bu Annisa sudah memasuki mobil.

“Tenang saja, ibu tidak menyuruhmu juga... Apakah di rumah ibu baik-baik saja?”

“Apanya?”

“Makan malam.”

Sebelum aku menjawab, Bu Annisa langsung membawa mobilnya ke jalanan. Sepertinya jawaban di sini sudah jelas bahwa aku tidak bisa menolak.

Beberapa menit berlalu. Aku dan Bu Annisa berjalan-jalan di kota menggunakan mobil dan sekarang sedang berhenti di sebuah apartemen yang cukup besar, terlihat seperti sebuah hotel menurutku.

“Apakah Ibu tinggal di sini?”

“Tenang saja, dalamnya tidak terlalu mewah seperti yang kau bayangkan.”

“Mengapa Ibu bisa menebak pikiranku?”

“Kita lanjutkan saja nanti di dalam... Tolong bawa juga belanjaan yang tadi.”

“Baik.”

Aku mengambil 4 kantong plastik yang di bawa oleh Bu Annisa dari minimarket lalu membawanya ke dalam apartemennya.

Untung saja ada lift di sini, jika saja aku harus menaiki tangga ke lantai 16 aku mungkin bisa mati, terlebih bagi tubuhku yang jarang berolahraga ini.

Aku memasuki ruangan apartemen Bu Annisa bersamaan dengannya. Aku melihat-lihat sekeliling, ruangan apartemen ini tidak terlalu bagus, sama seperti apa yang Bu Annisa katakan.

Namun yang membuat mataku senang untuk melihat-lihat adalah karena Bu Annisa dapat menata ruangan ini dengan sangat indah.

Apakah karena Bu Annisa adalah seorang perempuan? Jawaban itu sepertinya tidak tepat.

Aku simpulkan saja Bu Annisa memang mempunyai selera yang bagus, itu adalah kesimpulan yang sederhana namun bagus.

“Taruh saja itu di atas meja, Raihan.”

“Ah, un.”

Aku menaruh kantung plastik di atas meja ruang tamu dan meletakkannya dengan hati-hati agar tidak jatuh berhamburan.

“Sudah, Bu.” Kataku sambil melihat sekitar. Ke mana Bu Annisa pergi?

“Kalau begitu masuklah ke kamar.”

“Baik.”

Aku lalu pergi berjalan menuju sumber suara yang aku yakini adalah kamar yang di bilang oleh Bu Annisa.

 Setelah sampai di depan pintu ruangan, aku memegang daun pintu lalu mendorongnya.

Aku melihat Bu Annisa sedang mengikat kembali rambutnya yang masih menggunakan baju yang sama ketika Bu Annisa tadi gunakan.

“Ada apa?”

Aku menggelengkan kepalaku, “aku pikir aku akan melihat beberapa warna yang lebih feminin di sini.”

“Duduklah, aku akan menggantikan pakaian terlebih dahulu.”

Aku mengangguk dan Bu Annisa langsung pergi ke ruangan yang ada di dalam kamarnya.

Tak menunggu lama, Bu Annisa muncul dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Saat ini dia sedang memakai pakaian olahraga dan jaketnya dengan membawa tumpukkan kertas.

Bu Annisa duduk samping meja lalu menaruh tumpukan kertas yang di bawanya. Aku hanya diam melihat tumpukan kertas itu diletakkan tepat di atas mejaku. Aku lalu mengambil satu kertas dari tumpukan itu. Itu adalah lembar soal matematika.

“Kau ingin menemui Ibu untuk meminta maaf, bukan? Ibu akan maafkan jika kau menyelesaikan itu semua.”

“Baik.” Jawabku lemas.

“Jangan bersedih seperti itu, ibu juga akan membantu.” Kata Bu Annisa sambil meletakkan beberapa alat tulis di meja.

Aku tidak punya pilihan lain, aku lalu mengambil beberapa lembar soal dan juga jawaban dari Bu Annisa untuk memeriksa, memberi tanda, lalu memberi nilai sesuai jawaban.

Kertas-kertas ini adalah hasil gabungan dari semua kelas 1 di sekolah, termasuk milik kelas 1-B. Namun lembar soal milik kelas 1-B lebih sedikit dari kelas lainnya. Apakah ini karena aku yang selalu dimintai bantuan oleh Bu Annisa? Aku pikir Shinta juga ikut membantu.

Beberapa waktu sudah berlalu dan tumpukan kertas yang terlihat seperti kertas laporan ilmiah tingkat SMP.

“Aku akan membuat makanan. Urus sisanya, ok?”

“Baik.”

Aku kembali melanjutkan memeriksa kertas-kertas ini sampai selesai.

Tak lama aku menyelesaikan tugasku, Bu Annisa membuka pintu dengan membawa dua buah makanan dengan alas plastik. Jadi itu artinya membuat makanan? Bu Annisa hanya menghangatkan makanan yang tadi dibeli di minimarket.

“Terima kasih, Bu.” Kataku sambil menerima makanan yang dibawa oleh Bu Annisa.

“Maaf, ya. Pasti berat untukmu untuk menyelesaikan itu semua.”

“Benar-benar tidak apa-apa, Bu. Jika itu bisa meringankan Bu Annisa maka itu tidak masalah.”

“Kalau begitu makanlah, lain kali ibu ajak kamu ke sebuah restoran.”

Aku hanya tersenyum.

Melihat Bu Annisa memakan makanannya, aku pun mengikuti untuk memakan makanan yang sudah diberi oleh Bu Annisa.

Ah, benar juga. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan sesuatu tentang OSIS.

“Ummm, Bu? Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Apa?”

“Apakah benar ibu adalah guru pembimbing untuk OSIS tahun ini?”

“Ya, memang benar. Ada apa memangnya?”

“Apakah aku boleh menanyakan sesuatu yang terkait dengan OSIS?”

“Tentu.”

“Apakah benar Ketua OSIS tahun ini tidak mempunyai wakil?”

“Ya.”

“Yang ingin aku tanyakan adalah, mengapa ketua OSIS tidak mempunyai wakil dan di mana wakil sebelumnya?”

“Ada apa, Raihan? Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Kau tidak bisa bertanya seperti itu jika kau tidak ada dalam sebuah organisasi.”

“Apakah Ibu tidak mengingat kata apa yang aku ucapkan kemarin sehingga aku harus meminta maaf kepada Ibu?”

Bu Annisa terdiam, terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Aaah... Kau mengatakan “tentu aku ada hubungannya” sesuatu seperti itu?”

Aku mengangguk, “Sebenarnya Kak Clarrisa memaksaku untuk menjadikan wakilnya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak tes ulang.”

Bu Annisa mengeluarkan napasnya.

“Mengapa kau tidak memberitahu Ibu sejak awal?”

“Aku pikir itu hanyalah sebuah lelucon sampai pada akhirnya Kak Clarrisa melakukan hal itu terus-menerus dan itu membuatku gelisah.”

“Jadi? Ibu harus memberitahu kau apa?”

“Aku ingin mengetahui mengapa semua hal itu bisa terjadi.”

Bu Annisa meminum minumannya lalu berkata, “Ketua sebelumnya diturunkan dan dikeluarkan oleh sekolah dan Clarrisa yang menggantikan posisi tersebut.”

“Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Aku bertanya kepadamu, Raihan. Tindakan apa menurutmu yang membuat sekolah langsung turun tangan terhadap sesuatu seperti ini?”

“Tidak menjalankan tugas dengan baik?”

“Bukan.”

“Terlibat dalam kekerasan?”

“Tidak.”

“Apakah mungkin... Ketua yang sebelumnya melakukan tindak kejahatan yang dilanggar sekolah?”

“Sedikit lagi. Yang benar adalah bolos, Raihan.”

Aku diam, mengisyaratkan Bu Annisa untuk melanjutkan perkataannya. Karena aku tidak tahu harus apa setelah mendengar hal itu.

“Ketua OSIS yang dahulu tidak pernah terlihat di sekolah selama 2 bulan. Pihak sekolah berpikir bahwa dia sedang sakit atau dalam keadaan yang sangat menghawatirkan. Namun seorang guru melihat ia sedang berada di warnet dengan kantung mata yang sangat tebal.

Pihak sekolah tidak melarang ataupun membatasi para siswanya melakukan hobi yang disukai. Namun jika itu sampai melupakan kewajiban sebagai seorang pelajar, tentu sekolah akan bertindak.”

Aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang aku tunjukkan saat ini. Ini benar-benar di luar dugaanku.

“Sekolah tidak tahu harus berbuat apa dan tidak bisa melakukan pemilihan ulang karena waktu tes akhir sudah dekat. Maka pada akhirnya sekolah memutuskan seseorang yang mempunyai prestasi yang baguslah yang menggantikan posisi itu.”

“Jadi pada intinya Kak Clarrisa hanya terseret dalam kasus ini dan tidak tahu apa-apa, bukan begitu, Bu?”

“Mungkin.”

“Lalu mengapa Kak Clarrisa tidak menolaknya? Yang aku tahu Kak Clarrisa bukanlah orang yang akan menerima sesuatu yang sulit baginya.”

“Kalau itu aku juga tidak tahu. Kau harus bertanya hal itu langsung.”

Saat ini aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Masih terlalu banyak teka-teki yang belum selesai. Tapi walau begitu, ini sudah cukup untuk aku jadikan jawaban besok saat bertemu dengan Kak Clarrisa di sekolah.

“Terima kasih banyak, Bu. Aku sudah paham sekarang.”

“Ya... Ngomong-ngomong, Raihan. Apa hubunganmu dengan Clarrisa? Apakah kalian berdua saat ini sedang menjalin hubungan?”

“Hubungan? Ya, tentu. Aku dan Kak Clarrisa adalah teman yang berbeda angkatan.”

“Bukan itu yang aku maksud, Bocah. Kau mengetahui Clarrisa tidak akan menerima sesuatu yang sulit dari dirinya bukan? Tapi mengapa ia selalu memaksamu untuk menjadikanmu wakilnya? Apa yang telah kau perbuat, Raihan?”

Jika dipikir-pikir, itu ada benarnya juga. Mengapa Kak Clarrisa melakukan hal ini?

“Kalau itu... Aku juga tidak tahu harus menjawab apa?”

“Apa itu? Sangat membosankan.”

“Lalu apakah kau tertarik dengan OSIS?”

“Hmmm... Tidak tahu juga.”

“Jika kau bergabung dengan OSIS, kau pasti akan menemukan sesuatu yang menyenangkan.”

“Ibu hanya ingin agar aku dapat membantu pekerjaan Ibu saja, bukan?” 

Tidak ada jawaban dari Bu Annisa.

“Kalau begitu aku pamit untuk pulang, Bu. Hari sudah malam, Ibu tidak ingin salah satu muridnya terlambat bukan? Aku akan membantu membereskan ini.”

“Kalau begitu tolong ya, Raihan.”

Aku mengangguk lalu berdiri dan mulai merapikan kertas dan alat tulis yang berserakan di meja. Setelah selesai aku juga membereskan sisa-sisa makanan lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di dapur.

“Aku pamit dulu, Bu.”

“Kau tidak ingin diantar pulang oleh Ibu?”

“LRT masih beroperasi jam 8 malam, seharusnya aku bisa sampai di rumah sebelum pukul 10.”

“Begitu? Hati-hati di jalan, Raihan.”

“Ah, satu lagi. Walaupun aku tidak masuk OSIS, jika Ibu membutuhkan bantuanku aku tidak keberatan untuk selalu membantu. Kalau begitu permisi.” Kataku membungkukan badanku lalu pergi menjauh dari pintu apartemen milik Bu Annisa.

“Jangan berlagak sok keren, dasar bocah.” Terdengar suara pintu tertutup setelahnya.

Jika kau ingin mengumpatku, tolong kecilkan lagi suaramu, Bu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rasa Dari Keremajaan   Kandidat Realist

    Malam itu, kamarku yang biasanya sunyi senyap berubah menjadi markas komando darurat. Di layar laptop, kursor berkedip-kedip di atas halaman kosong Microsoft Word. Di sampingnya, tumpukan kertas berisi draf pidato yang ditulis Shinta tergeletak begitu saja.Isinya bagus. Sangat bagus, malah. Penuh dengan kata-kata mutiara seperti "bersinergi," "inovatif," dan "menjunjung tinggi solidaritas." Masalahnya satu: itu bukan aku. Itu adalah kata-kata yang akan diucapkan oleh Kevin."Jadilah anti-hero yang cerdas."Suara bisikan Clarissa di tangga tadi sore masih terngiang, bersaing dengan suara detak jarum jam dinding.Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik. Bukan dengan bahasa birokrasi yang kaku, tapi dengan bahasa yang ada di kepalaku. Bahasa kejujuran yang menyakitkan.Keesokan paginya, sekolah gempar.Penyebabnya bukan tawuran atau razia mendadak, melainkan poster-poster kampanye yang ditempel di mading utama.Di sisi kiri, ada poster Kevin. Foto dirinya sedang tersenyum lebar d

  • Rasa Dari Keremajaan   Tim Sukses

    Membentuk tim sukses adalah satu hal. Membuat tim itu bekerja secara kohesif adalah hal lain yang jauh lebih rumit. Rumus matematikanya tidak sesederhana A tambah B sama dengan C. Ada terlalu banyak variabel emosi di sini.Sepulang sekolah, kami membajak salah satu meja bundar di perpustakaan—tempat yang menurutku paling kondusif karena Fachri tidak akan berani berteriak di sini. Penjaga perpustakaan, Bu Rina, sempat melirik curiga melihat komposisi kami, tapi membiarkannya setelah melihat Shinta ada di sana. Kekuatan "murid teladan" memang mengerikan."Jadi," Shinta membuka buku catatannya, mengetukkan pulpen ke meja dengan ritme yang membuatku sedikit gugup. "Langkah pertama adalah branding. Kita harus memutuskan image apa yang ingin kau tampilkan, Raihan.""Image 'korban pemaksaan sistem'?" usulku datar."Ditolak," potong Shinta cepat. "Itu terlalu menyedihkan. Kita butuh sesuatu yang kuat. Cerdas. Revolusioner.""Bagaimana kalau 'Sang Jenius yang Turun Gunung'?" Fachri menyambar d

  • Rasa Dari Keremajaan   Pilihan Dilema

    Keesokan paginya, langit di atas SMA Fortuna Negara terlihat mendung, seolah mendukung suasana hatiku yang sedang kelabu. Batas waktu untuk memberikan jawaban kepada Bu Annisa adalah sore ini.Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah berat, seakan ada pemberat besi yang terikat di pergelangan kakiku. Namun, sebelum aku sempat mencapai tempat perlindunganku (baca: kelas), sebuah tangan halus namun tegas menarik kerah belakang seragamku."Ara, mau kemana terburu-buru begitu, Tuan Telmi?"Suara itu. Suara yang tenang, sedikit serak khas bangun tidur, namun mengandung ketajaman yang bisa mengiris mental seseorang. Aku menoleh perlahan dan mendapati Kak Clarissa berdiri di sana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, kontras dengan tatapan matanya yang sayu namun mengintimidasi."Kak Clarissa? Ini masih pagi, tumben Kakak sudah aktif?""Jangan salah sangka. Nyawaku masih tertinggal setengah di tempat tidur," jawabnya sambil menutup mulut dengan punggung tangan, menahan u

  • Rasa Dari Keremajaan   Tawaran Mendadak

    Pada akhirnya, apa yang aku dapat hari ini setelah mengetahui Tia memiliki banyak teman?Jawabannya mungkin hanya satu: prasangka itu menakutkan. Aku yang selama ini mengira Tia adalah sesama penghuni gua yang hanya berteman dengan tabel periodik dan reaksi kimia, ternyata memiliki kehidupan sosial yang jauh lebih berwarna daripadaku. Bahkan, dia memiliki "pasukan" teman di dunia maya yang nyata adanya.Aku menghela napas panjang, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat di depanku. Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu rumahku, menggantikan suara tawa Fachri, omelan Shinta, dan isak tangis Tia yang dramatis tadi."Hah... Melelahkan," gumamku pelan sambil memungut bantal sofa yang tadi sempat menjadi senjata Tia.Aku berjalan menuju dapur, mencuci beberapa gelas bekas minum mereka. Suara air keran yang mengalir deras seolah menjadi musik latar untuk pikiranku yang mulai berkelana. Efek The Village Effect yang dibicarakan Shinta dan Fachri tadi... apakah benar-benar bekerja pada

  • Rasa Dari Keremajaan   Mempersiapkan UAS Tapi Kenapa Jadi Galge?

    Siang ini seperti biasa aku mendengar penjelasan dari Bu Annisa dengan mata pelajaran matematikanya. Jika bertanya apakah itu adalah hal yang sulit? Dengan sombong akan aku jawab: tentu saja tidak. Aku dapat mudah mengerti materi yang sedang Bu Annisa utarakan. Baik itu hari ini atau pun di masa depan, memahami pelajaran adalah hal yang mudah bagiku. Terdengar sombong memang. Tapi akan aku katakan sekali lagi, menyombongkan diri dengan kemampuan yang diasah sendiri adalah hal yang bagus. Orang-orang yang berusaha menghindari kewajibannya seperti bolos kelas adalah orang yang tidak mampu mengatasi dirinya sendiri, dan aku sama sekali tidak mengerti cara berpikir orang-orang yang seperti itu. Katakan saja, bukankah seharusnya mereka itu malu menunjukkan betapa ke tidak kompetennya mereka, bukan? Dan seperti yang sudah aku bilang juga sebelumnya, belajar di kelas itu bagaikan auto correct untuk kesalahan yang tidak aku ketahui selama belajar di rumah. Seperti halnya sekarang, deng

  • Rasa Dari Keremajaan   Bukannya Kebalik?

    Kak Clarissa: Apa kau ada di rumah, Raihan? Notifikasi pesan tiba-tiba muncul dari layar ponselku. Itu berasal dari aplikasi berbalas pesan MINE yang sudah tidak asing lagi di telinga. Me: Aku ada di rumah. Apa Kakak memerlukan sesuatu? Kak Clarissa: Apakah aku bisa menemuimu? Seketika aku langsung mendapat balasan secara instan. Jari-jarinya memang tidak bisa diremehkan, dan aku tahu Kak Clarissa tidak akan melakukan trik copy paste. Me: Tentu. Aku pikir tidak ada masalah. Kira-kira ada apa dengan Kak Clarissa? Apakah dia sedang membutuhkan sesuatu? Sangat jarang melihat dia meminta langsung seperti itu. Mengingat tipenya yang menjaga jarak dengan orang lain. Tapi meminta bertemu langsung seharusnya bukan hal yang aneh. Kak Clarissa: Kalau begitu buka pintunya. Aku tarik kembali kata-kataku tadi. Ada apa ini? Mengapa perasaanku langsung menjadi tidak enak, ya? Me: Maaf? Kak Clarissa: ... Kak Clarissa: Karena ini berbentuk tulisan aku tidak perlu mengetik ulang, bukan? Kak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status