Share

07. Rasa yang terpendam

"Kyran ...." panggil Ayers untuk yang kesekian kalinya.

Hening.

Ayers duduk di lantai dengan posisi menyandar di tembok pembatas kamarnya dan kamar Kyran. Semenjak kedatangannya ke rumah Isabelle tiga hari lalu, Kyran tidak pernah lagi muncul untuk bernyanyi.

Kepala Ayers bergerak ke samping kanan, memandang langit melalui jendela kamarnya yang terbuka lebar. "Kau tahu, malam ini langit sangat cerah. Bulan dan ribuan bintang di atas sana bersinar terang. Lihatlah, mereka begitu indah. Apa kau tidak berniat keluar dan menghibur mereka dengan nyanyianmu? Mereka merindukanmu ... sama sepertiku."

Ayers menelan kuat salivanya, bibirnya melengkung tipis. "Benar, aku merindukanmu. Aku merindukan suara indahmu dan juga merindukan sosok cantikmu ... aku selalu menunggumu, tapi kau tak kunjung keluar."

"Apa kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir, aku takut mereka melakukan sesuatu padamu." Ayers menunduk sedih. "Kau tahu kenapa aku tidak pernah menyerah untuk bisa bicara denganmu, meski aku tahu kecil kemungkinan kau akan membalasnya  ... itu karena aku sudah jatuh cinta padamu."

Ayers terkekeh. "Ini memang tidak masuk akal. Aku mencintai seorang gadis yang belum pernah aku ajak bicara sekalipun, dan bahkan belum pernah aku tatap langsung matanya. Mau bagaimana lagi, aku sendiri juga tidak bisa mengatur harus dengan siapa aku jatuh cinta ...."

"Tapi jujur saja kalau ini adalah jatuh cinta yang paling menyakitkan bagiku, aku selalu merasa tersiksa setiap kali aku memikirkanmu. Aku seolah-olah merasakan apa yang kau rasakan di dalam sana. Kau kesepian, begitupun diriku. Kau membutuhkan seseorang, begitu juga denganku yang membutuhkanmu."

Jantung Ayers berdetak nyeri—membayangkan banyak kemungkinan buruk yang terjadi pada gadis yang dicintainya.

"Aku ingin selalu bersamamu, supaya kau tidak sendirian lagi. Menggenggam tanganmu untuk memberikanmu kekuatan dan perlindungan. Aku ingin melakukan semua itu, karena aku benar-benar sangat mencintaimu."

Terdengar suara tangisan dari kamar Kyran. Suara yang dulu mengalun merdu, kini berubah menjadi isakan pilu. Ayers memejamkan mata, ia tahu Kyran pasti mendengarnya, gadis itu ingin bicara padanya, tapi sesuatu menghalangi.

"Menangislah, Kyran. Menangislah sekeras mungkin. Lampiaskan semua yang mengganjal di hatimu."

Tangisan Kyran semakin menyayat hati. Sakit. Ayers juga merasakannya. Gadisnya menderita—sangat.

Ayers jadi teringat dengan wajah orang tua dan Kakaknya. Dirinya memang tidak mendapat kasih sayang seperti yang didapat sang Kakak. Namun, kebebasan dan fasilitas yang diterimanya sebanding dengan yang Arcy punya. Harusnya ia bersyukur. Sementara Kyran ... Ayers sendiri mungkin tidak akan sanggup jika harus berada di posisi gadis itu.

Prangg!!!

Ayers tersentak mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari kamar Kyran. Setelah itu semuanya hening, tidak ada lagi suara tangisan Kyran.

"Kyran! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?"

Ayers beranjak dari duduknya. Rasa takut dan khawatir mulai menyelimuti. "Kyran!!" panggilnya sedikit keras.

Pria itu diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari rumah. Ia berjalan cepat ke rumah Isabelle. Mengetuk pintu dengan tidak sabaran. Tak lama dari itu seorang wanita muncul dari dalam. Wajahnya terlihat garang—seperti tak menyukai kedatangan Ayers.

"Mau apa lagi kau?" tanya Jane ketus.

"Bibi, aku mendengar suara keributan di kamar Kyran—"

"Lalu apa urusannya denganmu?" potong Jane.

"Aku hanya ingin memastikan Kyran baik-baik saja."

"Dia baik, kau boleh pergi sekarang." Cepat Ayers menahan pintu saat Jane hendak menutupnya. Wanita itu sontak melotot. "Beraninya kau!"

"Bibi, izinkan aku melihatnya sekali saja, aku tidak akan bisa tenang jika tidak melihatnya langsung," pinta Ayers penuh permohonan. Ia masih berusaha bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Walaupun sekarang ini dirinya ingin sekali memukul wajah menyebalkan Jane.

"Tidak bisa!!"

"Bibi ...." Ayers semakin mengeluarkan tenaganya untuk menahan pintu.

"Ibu!" Isabelle datang. "Ibu, biar aku yang bicara pada Ayers."

Jane menatap tajam Isabelle dan Ayers secara bergantian. "Ya, bicaralah pada pemuda keras kepala ini! Beritahu dia untuk tidak mengurusi Kyran lagi!" Setelahnya wanita itu melenggang pergi.

Isabelle keluar, menutup pintu rumahnya agar orang tuanya tidak mendengar percakapan mereka.

"Isabelle, kau juga mendengar ada suara keributan di kamar Kyran, kan?" Ayers masih dengan raut khawatirnya bertanya.

"Ayers, aku tidak mendengar apa pun."

"Tapi, aku mendengarnya dengan sangat jelas." Ayers menjeda. "Pasti terjadi sesuatu padanya, aku mohon biarkan aku melihat Kyran."

"Ayers, berhenti mengganggunya. Biarkan hidupnya tenang seperti dulu."

Ayers diam.

"Aku dengar setiap malam kau mencoba bicara padanya. Asal kau tahu saja, Ayers. Apa yang kau lakukan itu membuatnya tidak nyaman."

"Memangnya kau tahu dari mana?" sergah Ayers. "Kau tahu dari mana jika dia tidak merasa nyaman? Apa kau pernah bicara padanya? Apa kau pernah peduli padanya?"

"Aku selalu bicara padanya, aku dan keluargaku peduli dengannya."

"Jika memang benar, dia tidak akan menangis sekeras itu tadi! Seakan beban penderitaannya begitu banyak! Sebenarnya apa yang kalian lakukan padanya?!" seru Ayers, menatap geram gadis di depannya.

Isabelle menautkan alis. "Apa yang kau bicarakan? Kami selalu memperlakukannya dengan baik."

"Kalau begitu tunjukkan padaku," tantang Ayers. Isabelle bungkam. "Tidak berani?" Ayers tertawa sinis.

Isabelle menunduk, lalu mengangkat kepalanya kembali. Matanya menatap lekat Ayers. "Ayers ... berhentilah mencampuri urusan keluarga kami. Kau tidak memiliki hak untuk tahu tentang Kyran."

Mendengar hal itu, tangan Ayers langsung mengepal kuat. "Aku bersumpah akan mengambilnya dari kalian. Ingat itu!" Pria itu lalu pergi meninggalkan Isabelle yang mematung di tempat.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status