LOGINLiburan musim panas kali ini, Ayers memilih berkunjung ke sebuah desa kecil bernama Mittelbergheim di Alsace, Prancis. Untuk merasakan langsung kehidupan pada abad pertengahan, Ayers menyewa salah satu rumah penduduk desa, di mana dirinya selalu mendengar suara nyanyian dari seorang gadis yang tinggal di sebelah rumah tersebut. Suaranya bagus dan Ayers sangat menyukainya. Tapi anehnya gadis itu tidak pernah kelihatan saat siang hari. Dia hanya muncul saat malam untuk bernyanyi di depan jendela kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Ayers. Beberapa kali Ayers menyapanya, namun jangankan merespons, melihat Ayers saja pun gadis itu enggan. Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa dia tidak pernah keluar rumah seakan tak ada yang boleh melihat dirinya, dan kenapa dia selalu mengabaikan Ayers?
View More“Miss Wright, the Bennett family is offering you one million dollars as compensation for the divorce. The money is on this card.”
Benjamin Carter said as he handed Elena Wright a bank card on the street,
Elena Wright looked at the card, feeling a mixture of emotions.
Two years ago, following her grandfather’s last will, Elena married Asher Bennett
But Asher had never wanted the marriage, so he never returned home,not even once.
Throughout those two years, Elena had seen her husband only on television.
She had never seen him at home. It seemed like some kind of joke, but it was the absolute truth.
In the end, they decided to get divorced.
Asher had not attended the divorce proceedings, just as he had not attended the wedding proceedings. Instead, he had entrusted Benjamin, the Bennett family’s head butler, with handling everything on his behalf.
Elena looked at the card Benjamin had given her and shook her head.
“Thank you, but I don’t need any compensation.”
She then walked toward the curb and got into a black Bently that was waiting for her.
She had two older brothers: the eldest, Jonathan Blake, and the younger one, Elliot Spencer.
Elena looked at them and laughed.
“It’s just a divorce. Why are you two so worried?”
“Elena, did you really get divorced?”
Elliot, who was driving, turned toward her in disbelief.
Elena raised the divorce papers with a smile.
“Of course. I’m officially divorced.”
Elliot laughed.
“You should have gotten divorced a long time ago. In fact, you two should never have gotten married in the first place.”
Elena shot him a look and quickly said,
“Elliot, focus on driving. I don’t want us to get into an accident. And why are you so happy about this? Divorce isn’t something to celebrate.”
She felt as though Jonathan and Elliot had been eagerly waiting for her divorce.
Elliot nodded.
“Oh, it absolutely deserves to be celebrated.”
Then he glanced at Jonathan, who was sitting in the back seat, and added,
“And I think Jonathan is happy too.”
Jonathan nodded.
“I agree with him. You two never should have gotten married.”
Elena sighed helplessly.
“It was my grandfather’s wish. You both know I couldn’t go against it.”
Silence filled the car for a moment before Elliot said resentfully,
“I don’t know what Grandpa was thinking when he forced you to marry that idiot, Asher. How could he dare ignore you for two whole years?”
If Elena hadn’t stopped him, he would have taught Asher a lesson himself.
Elena, however, remained calm.
“But there was one good thing about it. He never interfered in my life. He never even visited the Bennett residence once. He probably doesn’t even know what I look like.”
It was almost laughable,a married couple who were supposed to be the closest people to each other had not even met once in two years.
But Elena held no resentment in her heart.
She hadn’t wanted the marriage either. She had only agreed to it to fulfill her grandfather’s dying wish, while Asher had been forced into it as well.
Neither of them had been happy.
Elliot spoke again.
“If I had known he was this terrible, I never would have let you marry him.”
Then he added jokingly,
“Grandpa should have married you to someone better... like me. Or Jonathan. We’re both much more reliable than that idiot.”
Elena laughed.
“Come on, who marries their own brother?”
Elliot replied,
“We’re not blood-related.”
Elena rolled her eyes. It was true that Jonathan and Elliot had been adopted by her grandfather, but they had grown up with her since childhood, which was why she considered them her real brothers.
She said firmly,
“Enough, both of you. I only see you as my elder brothers.”
Elliot was only joking, so she didn’t take his words seriously.
However, when he suggested that she marry either of them, Jonathan’s gaze unconsciously shifted toward Elena.
When she made it clear that she saw him only as a brother, the light in his eyes dimmed for a moment before he quickly regained his composure.
It was obvious that Jonathan secretly harbored feelings for Elena.
Yet he had concealed his emotions so skillfully over the years that neither Elliot nor Elena had noticed anything.
Finally, Jonathan spoke in his warm voice.
“Anyway, it all worked out in the end. What are your plans now? You distanced yourself from everyone for the sake of your marriage and disappeared for two years. A lot of people have missed you.”
Elena sighed nostalgically.
“Two years have passed... I wonder if anyone still remembers Dr. Wright.”
Jonathan smiled.
“Of course. You’re one of the most famous neurosurgeons in the world. No matter how long you’ve been gone, no one could possibly forget you.”
Elena smiled, excitement shining in her eyes.
“Then wish me luck, because I’m going back to the operating room.”
Sepi.Tidak ada lagi suara keramaian yang pendengaran Kyran tangkap seperti beberapa saat yang lalu. Genggaman tangannya di lengan Ayers pun perlahan mengendur."Ah, suasana pedesaan yang tenang memang yang terbaik," celetuk Ayers. "Bukan begitu, Kyran?"Kyran hanya mengangguk. Tak tahu di mana mereka sekarang berada. Yang bisa Kyran rasakan, udara di sini lebih sejuk, panas terik matahari seakan membakar kulitnya, namun ada semilir angin dingin yang meredakan. Entahlah, Kyran belum pernah merasakan suasana seperti ini sebelumnya.Ayers berhenti, otomatis Kyran pun mengikut. "Ayers ... seperti apa pemandangan di sekitar kita?" tanya Kyran penasaran."Baiklah." Ayers melepaskan tangan Kyran, lalu memutar tubuh gadis itu menghadap ke kiri. "Di belakangmu ada ladang anggur yang sangat luas. Sementara di depanmu ada wilayah pegunungan, dan tepat di atasnya matahari terik sekali. Di kaki gunung tersebut ada pepohonan yang rimbun, namun beberapa meter ke sini, hanya ada rerumputan, keduanya
Paginya Ayers sibuk mengamati dirinya di depan cermin, memastikan tidak ada sedikit pun yang kurang dari penampilannya. Selanjutnya ia memutar tubuh ke arah Arcy yang sejak tadi menyandar di depan pintu kamarnya."Bagaimana? Apa aku sudah kelihatan sempurna?" tanyanya pada pria itu.Arcy tidak langsung menjawab, menghela napas pelan sebelum menegakkan tubuh. "Ayers ... sebagus apa pun penampilanmu, Kyran tidak akan bisa melihatnya."Ucapan sang Kakak membuat Ayers terdiam seketika. "Ya ... kau benar," gumamnya begitu pelan. Ada rasa perih di dada saat mengingat jika orang yang ia cintai tidak bisa melihatnya."Sayang sekali, padahal aku sangat tampan, tapi Kyran tidak mengetahuinya," lanjut Ayers, terkekeh miris.Arcy mengulum bibir, tidak berniat ikut tertawa atas candaan Adiknya. "Pakai saja apa yang membuatmu nyaman, tidak usah berlebihan."Ayers menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Kalau begitu aku pergi dulu.""Hari ini aku akan pulang." Kalimat Arcy menghentikan la
"Kyran, are you okay?"Arcy menghentikan langkahnya di depan tangga setelah mendengar suara Ayers di kamarnya. Ia kemudian mendekati pintu kamar yang terbuka—mengintip ke dalam. Di sana Ayers tengah berdiri menghadap dinding. Mulutnya terus melontarkan begitu banyak pertanyaan dengan nada khawatir, sesekali nama Kyran terdengar.Arcy membuka lebih lebar pintu kamar tersebut. "Ayers, kau sedang apa?"Ayers menoleh. "Bicara pada Kyran."Arcy mengerutkan kening. "Melalui dinding?""Ya, aku selalu melakukan ini setiap malam," jawab Ayers lugas. Arcy menghela napas berat. "Kau mau apa?" tanya pria itu."Makan malam sudah siap."Ayers bejalan mendekat, sebelah alisnya terangkat ke atas. "Kau masak?""Ya.""Sejak kapan?" tanya Ayers seraya mendahului Arcy turun.Arcy tersenyum miring. "Kau memang tidak pernah mengenalku."Sampai di bawah, Ayers langsung duduk di meja makan yang di atasnya sudah tersedia dua piring spaghetti dan sebotol wine. "Kau yang masak spaghetti ini?""Apa kau melihat o
Ayers bersimpuh di depan Kyran, menggenggam tangan gadis yang saat ini sedang duduk di tempat tidurnya. "Jangan menangis lagi, kau sudah aman sekarang."Ayers memeriksa tangan dan kaki Kyran, tidak ada luka serius, kecuali di pergelangan tangan dan kakinya yang memang bekas rantai dan pasung. "Kyran, sejak kapan mereka melakukan ini padamu?" Kyran tidak menjawab, hingga Ayers menaikkan pandangannya. "Katakan saja, tidak perlu takut.""Ayers, sebaiknya biarkan dia istirahat dulu." Arcy yang sedari tadi berdiri di dekat pintu, menyela. "Aku menunggumu di bawah, ada hal yang harus kita bicarakan." Setelahnya Arcy berjalan keluar.Ayers berdiri, lalu mencium puncak kepala Kyran. "Istirahatlah.""Ayers ...."Ayers mendudukkan dirinya di samping gadisnya, menyunggingkan senyum meski tahu gadis itu tidak dapat melihatnya. "Kau ingin mengatakan sesuatu?""Kenapa kau membawaku ke rumahmu? Paman dan Bibi pasti akan sangat marah.""Mereka tidak akan bisa marah selama aku bersamamu."Kyran menela
Ayers berdiri di depan jendela kamarnya. Sesekali dirinya menoleh ke kamar sebelah. Ingin rasanya ia lompat ke seberang dan masuk ke dalam kamar tersebut untuk memastikan sendiri makhluk apa yang ada di dalam sana. Karena sebenarnya Ayers masih memiliki keyakinan besar jika gadis itu bukan hantu.S
Paginya Ayers sudah bersiap untuk bertamu di rumah tetangganya, yang mana tujuannya hanyalah menemui gadis pemilik suara merdu yang berhasil membuatnya penasaran dengan sosok misteriusnya. Ayers ingin tahu, gadis itu memang ingin mengabaikannya atau sengaja bersikap demikian agar bisa menarik perha
"Kyran ...." panggil Ayers untuk yang kesekian kalinya.Hening.Ayers duduk di lantai dengan posisi menyandar di tembok pembatas kamarnya dan kamar Kyran. Semenjak kedatangannya ke rumah Isabelle tiga hari lalu, Kyran tidak pernah lagi muncul untuk bernyanyi.Kepala Ayers bergerak ke samping kanan,
Setelah makan malam, Ayers memutuskan duduk di depan laptop untuk memeriksa semua hasil jepretannya. Di samping itu, pikirannya justru melayang ke mana-mana. Tidak biasanya ia tidak fokus pada apa yang dikerjakannya.Jam dinding berbunyi, tanda sudah tengah malam. Ayers pun meregangkan otot-ototnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.