Share

Bab 3

Author: Muriaz
Rasa dingin yang tertahan di dada mulai merambat sedikit demi sedikit.

"Nama baik hancur?"

Aku terkekeh pelan, suara tawa itu terdengar begitu mencolok di dalam kereta kencana yang sunyi.

"Rangga, kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri."

"Nama baikku belum perlu dikhawatirkan oleh seorang pengecut yang menjadikan wanita sebagai tameng seperti dirimu."

Raut wajah Rangga seketika berubah, bagaikan seekor kucing yang ekornya terinjak.

"Kamu barusan memanggilku apa?!"

Dia yang notabene adalah sang Dewa Perang, ternyata harus dimaki sebagai pengecut di depan umum oleh tunangannya sendiri.

Baginya, ini jauh lebih menyakitkan daripada dibunuh.

"Kak Rangga, jangan marah ...."

Entah sejak kapan Laras sudah bangkit dari tanah. Dengan langkah terhuyung-huyung, dia langsung menerjang ke dalam pelukan Rangga.

Satu tangannya mendekap sang bayi, sementara tangan lainnya mencengkeram erat kerah baju Rangga.

"Yang Mulia hanya sedang emosi. Beliau tidak sungguh-sungguh memakimu."

"Semua ini salah hamba. Hamba akan pergi sekarang. Hamba tidak akan membuat Kak Rangga berada dalam posisi sulit lagi!"

Meski mulutnya berkata ingin pergi, kakinya seolah berakar menancap di tanah, tak beranjak sedikit pun.

Di balik sepasang matanya yang berkaca-kaca, terpancar rasa pilu dan keengganan untuk berpisah.

Rangga pun benar-benar kehilangan kendali diri melihat rupa memelas itu.

Dia mendorong Laras dengan kasar, lalu berbalik dan membentak ke arah kereta kencana.

"Wanda! Jangan tidak tahu diri!"

Dia bahkan tidak lagi memanggilku Yang Mulia, melainkan langsung menyebut namaku.

"Bisa menikah denganku adalah anugerah terbesar dalam hidupmu!"

"Kamu benar-benar mengira masih menjadi putri kesayangan yang dimanja oleh mendiang Raja?"

"Raja baru sudah bertahta. Kamu, putri peninggalan dinasti sebelumnya, tak lebih dari sekadar hiasan yang hanya menyandang gelar kosong!"

Begitu kata-kata itu terucap, suasana seketika hening mencekam.

Semua orang terkesiap menahan napas.

Tak seorang pun yang menyangka Rangga berani merobek tabir rahasia yang selama ini hanya dipahami dalam diam, tepat di hadapan khalayak ramai.

Nyonya Besar yang berdiri di sampingnya sama sekali tidak berusaha mencegahnya. Dia justru menyunggingkan senyum dingin penuh kepuasan.

Jelas sekali, itu pula yang ada di benaknya.

Di mata mereka, aku hanyalah burung phoenix yang kehilangan sandaran dan kini jatuh terpuruk.

Yang hanya bisa pasrah dan membiarkan Keluarga Baskoro memperlakukannya sesuka hati.

"Rangga tidak salah."

Nyonya Besar mengentakkan tongkatnya keras-keras ke tanah seraya mengangkat dagunya.

"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia segera sadar diri."

"Begitu masuk ke Keluarga Baskoro, Yang Mulia harus menaati aturan keluarga kami."

"Hari ini, Yang Mulia harus menerima keberadaan istri pendamping ini, suka ataupun tidak"

Begitu ucapan itu usai, para prajurit Keluarga Baskoro di sekeliling serentak melangkah maju mengepung.

Suara gesekan pedang yang terhunus terdengar begitu menusuk telinga.

Ratusan prajurit berzirah besi itu mengepung kereta kencanaku hingga rapat tanpa celah.

Sikap mereka seolah menyatakan, jika aku tidak mengangguk setuju, jangan harap bisa beranjak dari sini.

Wakil jenderal berbekas luka di wajah yang memimpin mereka bahkan menatap sang kusir dengan tatapan tak bersahabat. Seolah jika sang kusir berani bergerak sedikit saja, dia akan langsung menebasnya dari atas kuda.

"Yang Mulia, silakan turun dari kereta."

Rangga merapikan jubah pengantinnya yang kusut akibat cengkeraman Laras, lalu kembali memasang sikap congkak.

"Waktu baik sudah hampir lewat. Jangan sampai membuat para tamu menunggu terlalu lama."

Suasana dipenuhi tekanan yang menyesakkan. Para prajurit Keluarga Baskoro bagaikan tembok besi yang tak tembus, menutup rapat semua jalan lariku. Sang kusir gemetar ketakutan, mencengkeram erat cambuk di tangannya, bahkan tak berani bernapas.

Inilah keluarga bangsawan berjasa di Negeri Mandala. Inilah pria "idaman" yang dipilih dan dipaksakan oleh Ayahanda tercinta untuk menjadi suamiku.

Menatap bilah-bilah pedang yang berkilau di luar jendela, aku hanya merasa semua ini sangat konyol.

"Rangga." Aku perlahan membuka suara. Suaraku tak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke telinga setiap orang.

"Kamu sungguh berpikir, cuma dengan beberapa ratus prajuritmu, kamu bisa mengurungku?"

Rangga mengernyit, tampak sangat tidak suka dengan sikapku yang masih keras kepala meski sudah terpojok.

"Yang Mulia, semua ini kulakukan demi kebaikan Yang Mulia."

Dia menghela napas, memasang raut wajah seolah sedang menasihati dengan tulus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 12

    Petasan meledak bersahutan, sementara tabuhan gong dan genderang menggema memenuhi angkasa.Arya turun dari kudanya, lalu melangkah cepat menuju pintu tandu dan mengetuknya pelan dengan ujung kakinya.Tirai tandu tersingkap, dan tangannya yang beruas-ruas tegas kembali terulur di hadapanku."Wanda, kita sudah sampai di rumah."Suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari sosok Raja Neraka yang masih bernapas dan tak kenal ampun seperti biasanya.Kuletakkan tanganku di telapak tangannya, membiarkan dia menuntunku melangkah perlahan melewati perapian bara yang melambangkan kedamaian dan kelancaran.Tiada lagi tekanan moral yang menjijikkan, tiada lagi selingkuhan yang membawa anak haram untuk memblokade pintu, pun tiada lagi intrik-intrik busuk yang menyesakkan.Yang ada hanyalah ucapan selamat dari seluruh hadirin, dan pria di hadapanku yang tatapannya sepenuhnya tertuju padaku.Setelah pernikahan agung itu, Keluarga Baskoro benar-benar lenyap dari ibu kota.Konon, Nyonya Besar Baskoro tak

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 11

    Kini dia berakhir dengan nama baik yang hancur dan ditinggalkan semua orang. Bukankah ini memang balasan karma?"Rangga, nikmatilah sisa hidupmu."Melihatnya hidup dalam keadaan yang lebih buruk daripada mati, keterikatan terakhir di dalam hatiku akhirnya lenyap tanpa sisa."Besok saat tengah hari, seluruh sembilan klan Keluarga Baskoro akan dibuang ke wilayah selatan yang terpencil.""Sedangkan kamu, tinggallah di sel air ini, dan tebuslah dosamu perlahan-lahan."Aku berbalik tanpa menoleh lagi, lalu melangkah keluar dari penjara bawah tanah."Wanda! Wanda, jangan pergi!"Di belakangku terdengar teriakan putus asa Rangga."Aku salah! Aku sungguh sadar aku salah! Beri aku satu kesempatan lagi, kumohon!""Bahkan kalau kamu menyuruhku menjadi sapi atau kuda bagimu, asalkan aku boleh tetap berada di sisimu, aku rela melakukan apa saja!"Rantai besi berdering keras saat dia menariknya. Suara permohonannya yang putus asa bagaikan raungan terakhir seekor binatang buas yang terperangkap.Namu

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 10

    "Rangga, apa kamu pernah berkaca?"Aku berdiri di lantai yang kering, menatap dingin ke arahnya yang masih terendam dalam air kotor. "Dengan keadaanmu saat ini, bahkan anjing di kediamanku pun lebih berharga darimu. Mana mungkin aku masih memiliki perasaan untukmu?"Pancaran cahaya di mata Rangga seketika padam.Dia batuk hebat. Setiap kali batuk, dia memuntahkan darah dalam jumlah banyak. "Mengapa ... Wanda, mengapa kamu begitu kejam?"Dia bergumam tak keruan di sela-sela batuknya."Aku adalah pahlawan berjasa Negeri Mandala. Aku telah memenangkan begitu banyak pertempuran untukmu, mana mungkin kamu memperlakukanku seperti ini?""Menang perang?"Aku menatapnya seolah dia seorang idiot."Rangga, kamu sungguh mengira dirimu tak terkalahkan di perbatasan?""Kalau bukan karena Arya yang diam-diam mengirim perbekalan dan membereskan semua kekacauanmu ….""Hanya bermodalkan ilmu perang setengah matangmu itu, kamu sudah lama mati terkubur di hamparan pasir gurun utara!"Rangga seketika mem

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 9

    Dia mengira orang yang menyelamatkan nyawanya adalah seorang dayang yang telah lama meninggal. Dengan enaknya, dia menikmati segala pengorbananku, tetapi di saat yang sama membenci statusku yang begitu tinggi. "Aku tidak hanya tahu itu, aku juga tahu alasan kamu buru-buru membawa wanita simpanan ini masuk ke rumah sama sekali bukan demi meneruskan keturunan."Aku menatapnya dengan sorot merendahkan, mengoyak topeng terakhirnya kata demi kata. "Itu karena kamu menderita luka parah di perbatasan, dan seumur hidupmu takkan pernah bisa menghasilkan keturunan lagi.""Kamu takut setelah aku masuk ke rumah dan mengetahui kebenarannya, Keluarga Baskoro akan kehilangan penerus, makanya kamu buru-buru mencari anak haram untuk kamu akui sebagai anakmu sendiri!"Begitu ucapan itu terdengar, suasana seketika hening mencekam. Semua orang menatap Rangga dengan tatapan aneh.Impoten.Bagi seorang putra keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi kelangsungan garis keturunan, kenyataan ini bahkan lebih

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 8

    "Ini sungguh lelucon terbesar di muka bumi!"Tawa ejekan dan makian pun bergulung bagai ombak.Wajah Laras seketika pucat pasi. Dia memeluk anaknya erat-erat sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Aku bukan seperti itu! Kalian bohong!"Dia berbalik dan menerjang ke arah Rangga, mencengkeram erat lengan pria itu. "Kak Rangga, percayalah! Bayu benar-benar darah dagingmu!"Rangga menoleh dengan tatapan kosong, menatap wanita yang dulu begitu dicintainya sepenuh hati. Cinta yang selama ini dia banggakan, "cinta sejati" yang bahkan rela dia pertahankan dengan menentang kekuasaan kerajaan. Ternyata semua itu hanyalah sebuah tipu muslihat yang sempurna dari awal hingga akhir."Enyah!" Rangga tiba-tiba meraung seperti binatang buas, lalu menampar wajah Laras dengan sangat keras.Laras terpental ke udara dan menghantam undakan batu dengan keras. Anak yang ada dalam dekapannya ikut terlempar ke samping dan langsung menangis keras."Perempuan jalang! Beraninya kamu menipuku!"Rangga menerjang sepe

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 7

    "Plakat ini diserahkan ayahandaku menjelang ajalnya."Aku menatapnya dari atas, suaraku dingin hingga menusuk ke tulang. "Beliau bilang, Sang Putri Agung Negeri Mandala takkan pernah berbagi suami dengan wanita mana pun.""Titah pernikahan ini sejatinya hanyalah untuk menguji kesetiaan Keluarga Baskoro.""Sayangnya, kamu tak hanya gagal membuktikannya, tapi kamu juga cukup bodoh hingga menyeret seluruh sembilan klanmu ikut hancur."Rangga menatap lekat plakat emas itu. Bibirnya gemetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama ini dia mengira aku hanyalah pajangan istana tanpa kuasa apa-apa.Padahal, yang kugenggam di tanganku adalah kekuasaan tertinggi di seluruh Negeri Mandala."Yang Mulia …. Hamba bersalah ...."Akhirnya, dia menundukkan kepalanya yang selama ini begitu angkuh, mengabaikan rasa perih yang luar biasa di dadanya, lalu berusaha bangkit, lalu bersujud dengan membenturkan dahinya ke tanah berkali-kali."Hamba benar-benar telah gelap mata. Mohon Yang Mulia menginga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status