Share

Bab 2

Author: Muriaz
"Yang Mulia sudah dengar, 'kan?"

Dia menggertakkan gigi, seolah sedang berusaha keras meredam amarah yang membara di dadanya.

"Laras sudah mengalah sampai sejauh ini. Mengapa Yang Mulia masih terus mendesaknya?"

"Yang Mulia adalah putri yang begitu tinggi kedudukannya. Apa Yang Mulia bahkan tidak memiliki kelapangan hati untuk menerima seorang wanita lemah?"

Aku menatap pasangan yang sedang mempertontonkan drama pilu di depan kereta kencanaku ini.

Anehnya, hatiku tak terusik sedikit pun. Yang kurasakan hanyalah betapa gilanya semua ini.

"Rangga, apa kamu terlalu banyak menelan pasir di perbatasan hingga otakmu ikut rusak?"

Aku sedikit condong ke depan, menyibak tirai manik-manik kereta kencanaku, lalu memandangnya dari atas.

"Aku adalah penguasa, sedangkan kamu adalah bawahan."

"Kamu membiarkan seorang wanita simpanan tanpa ikatan pernikahan yang sah, menangis dan membuat onar di depan kereta kencanaku."

"Lalu, kamu masih berani menuduhku tidak berlapang dada?"

Rangga sedikit tersentak mundur, seolah tertusuk oleh tatapan dinginku.

Namun, para prajurit perbatasan di belakangnya tidak tinggal diam.

Mereka adalah prajurit kasar yang telah bersama Rangga menghadapi maut, mana mengerti tata krama antara penguasa dan bawahan.

Di mata mereka, Rangga adalah segalanya dan Laras adalah penyelamat sang jenderal.

"Yang Mulia! Jenderal kami telah mempertaruhkan nyawa dan menumpahkan darah demi Negeri Mandala!"

Seorang wakil jenderal dengan wajah penuh bekas luka pedang tiba-tiba bangkit berdiri, sambil berteriak lantang.

"Jenderal kami hanya ingin memberikan status yang sah bagi wanita dan anak kandungnya, apa salahnya?"

"Meskipun Yang Mulia berstatus kerabat kerajaan, tidak sepantasnya Yang Mulia mengecewakan hati para prajurit seperti ini!"

Begitu dia mengambil inisiatif, para prajurit yang berlutut serentak meninggikan suara.

"Mohon Yang Mulia bermurah hati! Terimalah Nona Laras!"

Lebih dari seratus prajurit berzirah besi berteriak serempak, suara mereka menggelegar membelah angkasa.

Ini sama sekali bukan permohonan belas kasihan, melainkan pemaksaan terang-terangan.

Rangga berdiri di barisan paling depan, postur tubuhnya tegak sempurna.

Dia menatapku, sorot matanya memancarkan kepuasan dan keyakinan yang tersembunyi.

Seolah-olah dia berkata, “Lihatlah, inilah kehendak banyak orang. Selain berkompromi, kamu tak punya pilihan lain.”

Perlahan kutarik kembali pandanganku, lalu menurunkan tirai manik-manik, memisahkan diri dari hiruk-pikuk di luar.

"Kembali ke istana."

Aku menatap sang kusir, melontarkan sebuah kalimat dengan nada datar.

Sang kusir segera mengangkat cambuknya, bersiap memutar arah kereta.

Namun, tepat pada saat itu, sebuah tongkat berkepala naga yang berat menghantam tanah tepat di depan kaki kuda.

"Aku ingin lihat siapa yang berani membawa sang Putri pergi hari ini!"

Nyonya Besar Keluarga Baskoro, dengan ditopang oleh dua dayang, berdiri gemetar menghalangi jalan di depan kereta kencana.

Meski rambutnya telah beruban, sepasang matanya yang menyorot tajam memancarkan ketajaman akal dan sikap ketus yang tak ditutup-tutupi.

Dia adalah perempuan gagah yang dahulu turut serta mengikuti Raja Pendiri menunggang kuda menaklukkan dunia.

Berkat jasa tersebut, dia selalu bertindak sewenang-wenang di ibu kota.

Bahkan ketika Ayahanda masih berkuasa, beliau pun masih harus segan kepadanya.

"Yang Mulia, kalau hari ini Yang Mulia bertindak seenaknya, mau diletakkan di mana martabat keluarga kerajaan?"

Nyonya Besar bertumpu pada tongkatnya, wajah keriputnya menegang.

Nadanya tak mengandung sedikit pun rasa hormat, melainkan hanya sikap menggurui yang penuh superioritas.

"Keluarga Baskoro ini adalah keluarga panglima yang sudah berdiri ratusan tahun, dan Rangga adalah pilar utama kerajaan."

"Kereta kencana pengantin Yang Mulia sudah sampai di depan gerbang. Semua pejabat dan bangsawan ibu kota sedang melihat dari dalam kediaman ini."

"Sekarang, Yang Mulia mau membatalkan pernikahan begitu saja. Apa Yang Mulia ingin mempermalukan Keluarga Baskoro, atau justru mempermalukan Baginda Raja?"

Setiap patah kata yang diucapkannya tak lain adalah tudingan yang dilemparkan kepadaku.

Seolah-olah jika hari ini aku berani pergi, aku akan menjadi pendosa besar bagi Negeri Mandala.

Melihat neneknya turun tangan membela, nyali Rangga kian besar.

Dia melangkah maju sekali lagi, nadanya agak lembut, tetapi ancaman di balik kata-katanya tak sedikit pun berkurang.

"Yang Mulia, Nenek benar. Sebaiknya Yang Mulia tidak bertindak gegabah."

"Pernikahan ini adalah titah mendiang Raja. Kalau Yang Mulia pergi karena marah hari ini …."

"Besok seluruh pelosok ibu kota akan gempar oleh kabar buruk kalau Yang Mulia adalah wanita pencemburu yang tidak lapang dada."

"Kalau nama baik Yang Mulia sudah hancur, bagaimana Yang Mulia bisa bertahan di ibu kota ini?"

Aku duduk dengan tenang di dalam kereta kencana, mendengarkan nenek dan cucu ini saling bersahutan melancarkan tekanan moral.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 12

    Petasan meledak bersahutan, sementara tabuhan gong dan genderang menggema memenuhi angkasa.Arya turun dari kudanya, lalu melangkah cepat menuju pintu tandu dan mengetuknya pelan dengan ujung kakinya.Tirai tandu tersingkap, dan tangannya yang beruas-ruas tegas kembali terulur di hadapanku."Wanda, kita sudah sampai di rumah."Suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari sosok Raja Neraka yang masih bernapas dan tak kenal ampun seperti biasanya.Kuletakkan tanganku di telapak tangannya, membiarkan dia menuntunku melangkah perlahan melewati perapian bara yang melambangkan kedamaian dan kelancaran.Tiada lagi tekanan moral yang menjijikkan, tiada lagi selingkuhan yang membawa anak haram untuk memblokade pintu, pun tiada lagi intrik-intrik busuk yang menyesakkan.Yang ada hanyalah ucapan selamat dari seluruh hadirin, dan pria di hadapanku yang tatapannya sepenuhnya tertuju padaku.Setelah pernikahan agung itu, Keluarga Baskoro benar-benar lenyap dari ibu kota.Konon, Nyonya Besar Baskoro tak

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 11

    Kini dia berakhir dengan nama baik yang hancur dan ditinggalkan semua orang. Bukankah ini memang balasan karma?"Rangga, nikmatilah sisa hidupmu."Melihatnya hidup dalam keadaan yang lebih buruk daripada mati, keterikatan terakhir di dalam hatiku akhirnya lenyap tanpa sisa."Besok saat tengah hari, seluruh sembilan klan Keluarga Baskoro akan dibuang ke wilayah selatan yang terpencil.""Sedangkan kamu, tinggallah di sel air ini, dan tebuslah dosamu perlahan-lahan."Aku berbalik tanpa menoleh lagi, lalu melangkah keluar dari penjara bawah tanah."Wanda! Wanda, jangan pergi!"Di belakangku terdengar teriakan putus asa Rangga."Aku salah! Aku sungguh sadar aku salah! Beri aku satu kesempatan lagi, kumohon!""Bahkan kalau kamu menyuruhku menjadi sapi atau kuda bagimu, asalkan aku boleh tetap berada di sisimu, aku rela melakukan apa saja!"Rantai besi berdering keras saat dia menariknya. Suara permohonannya yang putus asa bagaikan raungan terakhir seekor binatang buas yang terperangkap.Namu

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 10

    "Rangga, apa kamu pernah berkaca?"Aku berdiri di lantai yang kering, menatap dingin ke arahnya yang masih terendam dalam air kotor. "Dengan keadaanmu saat ini, bahkan anjing di kediamanku pun lebih berharga darimu. Mana mungkin aku masih memiliki perasaan untukmu?"Pancaran cahaya di mata Rangga seketika padam.Dia batuk hebat. Setiap kali batuk, dia memuntahkan darah dalam jumlah banyak. "Mengapa ... Wanda, mengapa kamu begitu kejam?"Dia bergumam tak keruan di sela-sela batuknya."Aku adalah pahlawan berjasa Negeri Mandala. Aku telah memenangkan begitu banyak pertempuran untukmu, mana mungkin kamu memperlakukanku seperti ini?""Menang perang?"Aku menatapnya seolah dia seorang idiot."Rangga, kamu sungguh mengira dirimu tak terkalahkan di perbatasan?""Kalau bukan karena Arya yang diam-diam mengirim perbekalan dan membereskan semua kekacauanmu ….""Hanya bermodalkan ilmu perang setengah matangmu itu, kamu sudah lama mati terkubur di hamparan pasir gurun utara!"Rangga seketika mem

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 9

    Dia mengira orang yang menyelamatkan nyawanya adalah seorang dayang yang telah lama meninggal. Dengan enaknya, dia menikmati segala pengorbananku, tetapi di saat yang sama membenci statusku yang begitu tinggi. "Aku tidak hanya tahu itu, aku juga tahu alasan kamu buru-buru membawa wanita simpanan ini masuk ke rumah sama sekali bukan demi meneruskan keturunan."Aku menatapnya dengan sorot merendahkan, mengoyak topeng terakhirnya kata demi kata. "Itu karena kamu menderita luka parah di perbatasan, dan seumur hidupmu takkan pernah bisa menghasilkan keturunan lagi.""Kamu takut setelah aku masuk ke rumah dan mengetahui kebenarannya, Keluarga Baskoro akan kehilangan penerus, makanya kamu buru-buru mencari anak haram untuk kamu akui sebagai anakmu sendiri!"Begitu ucapan itu terdengar, suasana seketika hening mencekam. Semua orang menatap Rangga dengan tatapan aneh.Impoten.Bagi seorang putra keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi kelangsungan garis keturunan, kenyataan ini bahkan lebih

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 8

    "Ini sungguh lelucon terbesar di muka bumi!"Tawa ejekan dan makian pun bergulung bagai ombak.Wajah Laras seketika pucat pasi. Dia memeluk anaknya erat-erat sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Aku bukan seperti itu! Kalian bohong!"Dia berbalik dan menerjang ke arah Rangga, mencengkeram erat lengan pria itu. "Kak Rangga, percayalah! Bayu benar-benar darah dagingmu!"Rangga menoleh dengan tatapan kosong, menatap wanita yang dulu begitu dicintainya sepenuh hati. Cinta yang selama ini dia banggakan, "cinta sejati" yang bahkan rela dia pertahankan dengan menentang kekuasaan kerajaan. Ternyata semua itu hanyalah sebuah tipu muslihat yang sempurna dari awal hingga akhir."Enyah!" Rangga tiba-tiba meraung seperti binatang buas, lalu menampar wajah Laras dengan sangat keras.Laras terpental ke udara dan menghantam undakan batu dengan keras. Anak yang ada dalam dekapannya ikut terlempar ke samping dan langsung menangis keras."Perempuan jalang! Beraninya kamu menipuku!"Rangga menerjang sepe

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 7

    "Plakat ini diserahkan ayahandaku menjelang ajalnya."Aku menatapnya dari atas, suaraku dingin hingga menusuk ke tulang. "Beliau bilang, Sang Putri Agung Negeri Mandala takkan pernah berbagi suami dengan wanita mana pun.""Titah pernikahan ini sejatinya hanyalah untuk menguji kesetiaan Keluarga Baskoro.""Sayangnya, kamu tak hanya gagal membuktikannya, tapi kamu juga cukup bodoh hingga menyeret seluruh sembilan klanmu ikut hancur."Rangga menatap lekat plakat emas itu. Bibirnya gemetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama ini dia mengira aku hanyalah pajangan istana tanpa kuasa apa-apa.Padahal, yang kugenggam di tanganku adalah kekuasaan tertinggi di seluruh Negeri Mandala."Yang Mulia …. Hamba bersalah ...."Akhirnya, dia menundukkan kepalanya yang selama ini begitu angkuh, mengabaikan rasa perih yang luar biasa di dadanya, lalu berusaha bangkit, lalu bersujud dengan membenturkan dahinya ke tanah berkali-kali."Hamba benar-benar telah gelap mata. Mohon Yang Mulia menginga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status