Share

Mak Kerti Kaget

Penulis: Dara Karinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 13:11:49

AAAAAAAAA!

Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar. 

Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan.  Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya. 

Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya.  

“Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar. 

"Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa. 

“Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kaget." Rawi pura-pura memberengut. 

“Enak saja minta maaf. Kalau aku jantungan gara-gara kamu, bagaimana? Mau tanggung jawab?” ancamnya. 

“Tapi Mak Kerti baik-baik saja, kan?”

“Menurutmu? kalau aku masih berdiri sambil memarahi kamu itu berarti apa? Untung saja jantungku tergolong kuat untuk orang seusiaku.”

“Berarti aman kan, Mak? 

“Aman … aman. Kamu kira jantungku ini minimarket yang dijaga satpam! Untung saja jantungku kuat jadi tentu saja aman sentosa.” Mak Kerti tetap saja mengomel.  

Rawi tersenyum mendengarnya.

“Yang suruh kamu senyum siapa? Lagian kamu tadi sedang apa, hah? Kok sampai ada asap putih muncul di depan jendelamu. Main api, ya?”

“Bukan … bukan, Mak.”

“Lalu apa?” 

“Buat petasan sendiri ya! Hati-hati kamu. Jangan main hal yang berbahaya!”

“Bukan juga, Mak.”

“Ini bukan, itu bukan. Lalu apa yang kamu lakukan? Jangan-jangan kamu melakukan sesuatu yang melanggar hukum?”

“Mana aku berani, Mak. Mak Kerti kan sudah tahu dari tadi aku seperti apa anaknya.” 

“Halah … orang bisa berubah. Yang awalnya alim bisa berubah brutal, yang tadinya kalem  bisa juga menjadi beringas. Dan kamu … masih dalam masa itu. Masa Perubahan. Masa pencarian jati diri. Iya, kan?” Mata Mak Kerti memincingkan matanya. 

“Ya, Masak Rawi harus kecil terus, Mak. Setiap hari makan, setiap hari jajan, jadi harus bertumbuh dong.” Rawi mencoba menetralkan keadaan. 

“Semakin pandai berkata-kata rupanya kamu ya. Apa yang sedang coba kamu lakukan, hmmm?” 

Mak Kerti berjalan perlahan mendekati Rawi yang masih ada di depan jendela. 

“Jangan, Mak!” Teriakan Rawi semakin menambah penasaran Mak Kerti.

“Kenapa kamu melarang aku mendekat?” 

“Kamar lagi berantakan, Mak. Biasa kamar anak laki-laki. Tidak rapi.” 

“Harusnya ya dirapikan. Sekarang kamu sudah jadi jejaka. Kalau kamu malas, siapa yang mau sama kamu nantinya. Terakhir kali aku bertanya, kamu sedang mengerjakan apa?” Mak Kerti mendesak Rawi. 

“Hmmm ….,” Rawi terdiam. Dia bingung mau menjawab apa. Menyampaikan yang sebenarnya, mana mungkin Mak Kerti paham. Menjawab yang lain berarti dia berbohong. 

Dia juga takut nanti Mak Kerti melihat kamarnya yang berantakan akibat ledakan tenaga dalamnya tadi. Walaupun juga dia sendiri terkejut tentang hal apa yang dia bisa.  Tanpa sadar Rawi menggaruk rambutnya. 

“Heh! Malah garuk-garuk rambut. Jawab pertanyaan saya!”

“Tadi sedang latihan, Mak.”

“Latihan apa? Mau perang ke negara lain ya? Latihan kok bajunya sobek-sobek.”

Rawi baru tersadar baju yang dia pakai ternyata sudah sobek. Lho kok bisa? Tadi waktu dia memulai latihan, baju masih rapi. Namun, ini kok seperti compang-camping seperti ini. 

“Bukan, Mak. Mana mungkin Rawi ikut perang.” Rawi menggoyangkan kedua tangannya untuk menambah rasa percaya Mak Kerti, tetangganya yang selalu kepo pada kehidupan keluarganya. 

Mata Mak Kerti sekali lagi menyelidik Rawi dan dia diam beberapa saat. Akhirnya dia setuju dengan perkataan Rawi.

“Iya. Tidak mungkin. Kamu kan anaknya kalem. Tidak pernah macam-macam. Tapi juga aneh. Kamu itu aneh sedari kecil.” 

“Aku aneh? Maksud Mak Kerti apa?”

Mak Kerti tampak sedikit tergagap mendengar pertanyaan Rawi. 

“Aneh ya aneh. seperti itu saja masih bertanya. Katanya sudah kuliah di Universitas terbaik, masalah yang berhubungan sama diri sendiri tidak paham. Itu aneh tidak?” Mak Kerti membalik pertanyaan Rawi. 

“Ha??? Bagaimana, Mak. Aku semakin bingung.”

“Ckckck … sepertinya sia-sia bapakmu membiayai sekolahmu kalau daya pahammu hanya selevel ini. Lebih baik ikut aku ke pasar.” 

“Buat apa Rawi ikut Mak Kerti ke pasar?” 

“Yaaa … belanja buat ibumu. Urusan ke pasar kok juga tidak tahu, Rawi … Rawi. Sekali aneh tetap aneh.” 

Mak Kerti segera berlalu dari hadapan Rawi meninggalkan jejak tanya yang semakin membuat Rawi geleng-geleng kepala. 

Sayup-sayup, Rawi mendengar suara Mak Kerti yang lantang menyapa bapak dan ibunya yang berada di depan rumah. Mak Kerti berbasa-basi mengenai kejadian yang mengejutkan dirinya tadi dan kembali mengungkit keanehan-keanehan pada Rawi. 

Rawi terkesiap. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Malam Bahagia

    Pak Bagaskara. Bu Krisan, Rawi, Rana, dan Mak Kerti duduk mengelilingi meja makan. Pemandangan yang tidak biasa, tapi suasana seperti ini adalah yang paling nyaman selama Rawi tinggal di desa ini. Biasanya mereka merasa was-was tentang apa saja, bahkan akhir-akhir ini banyak suara-suara barang dilempar mengenai atap atau dinding rumah. Hal itu membuat mereka serumah tegang terus menerus. “Enak tidak masakan ibuku, Mak?” Rana memulai percakapan dengan Mak kerti. “Ha ha ha … dari dulu aku tahu kalau masakan ibumu itu enak, Rana. Selalu jempol!” jawab Mak Kerti terkekeh sambil menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. “Terima kasih ya, Bagaskara dan Krisan. Aku boleh menikmati makan bersama kalian. Selama ini aku kesepian.” Wajahnya tiba-tiba meredup. Senyum yang baru saja merekah pun menghilang dari wajah keriputnya. “Sama-sama, Mak. Kami juga senang karena Rawi dan Rana sekarang punya pengganti nenek mereka yang sudah meninggal,” jawab Bu Krisan. “Tapi ada syaratnya, Mak!”

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kita Semua Bersaudara

    “Mak! Mak, sadar! Kami berjanji tidak akan seperti itu!” bisik Bu Krisan pelan. Dia memeluk erat Mak Kerti supaya dia tidak melakukan hal-hal di luar nalar. Bu Krisan memberi tanda pada Pak Bagaskara, Rawi, dan Rana untuk ikut memberi motivasi pada Mak Kerti. Satu per satu keluarga Bagaskara mendekati dan ikut memeluk Mak Kerti. Merasakan kehangatan pelukan keluarga membuat Mak Kerti semakin histeris. Semua warga terhenyak melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka keluarga Bagaskara akan memberi kehangatan pada orang yang sudah menganiaya mereka selama ini. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Maafkan aku, Bagaskara! Maafkan aku yang selalu iri dengan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga kalian. Sudah dari dulu perasaan ini kupendam, tapi ternyata tahun-tahun belakangan ini tidak bisa kutahan lagi … hiks hiks hiks!” Semua orang yang mendengar itu merasa kecut hatinya. “Wah kita benar-benar diperalat untuk menuntaskan rasa dendamnya sendiri.”“Menyesal aku selalu memba

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Sedu Sedan Mak Kerti

    Semua orang dikejutkan dengan teriakan histeris Mak Kerti. Mereka semua menoleh ke arahnya. Mak kerti jongkok dan menutupi kedua telinganya. Dia menjerit sekeras yang dia bisa untuk meluapkan perasaannya. Salah seorang dari mereka mendekat dan menenangkannya. Orang itu memegang pundaknya “Mak! Sadar, Mak! Sudah selesai semuanya!” Mak Kerti mendongak perlahan melihat pada orang yang menaruh tangan hangat di pundak. Matanya yang kecil penuh dengan air mata. Wajahnya merah padam menahan sesak yang dirasa. “Haaaa … haaaa … haaaaa .” Tangis kembali terdengar. Dia melihat ke sekelilingnya. Tatapan mata menuduh tersampaikan tanpa basa-basi di setiap sorot mata yang lekat kepadanya. “Tidak perlu menangis, Mak,” kata yang lain. “Sampaikan dengan besar hati. Mungkin keluarga Pak Bagaskara akan memaafkan dan tidak mengungkit masalah ini di masa depan,” sahut yang lain menambah. Mak Kerti melirik ke arah keluarga Bagaskara yang saat ini masih berdiri tegak di depan pintu, dan memandangnya

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Mak Kerti Terdesak

    “Baiklah. Aku akan permudah semuanya. Dengarkan baik-baik perkataanku.”Rawi kembali berkata. “Mau mengatakan apa lagi?” Orang-orang bertambah tidak sabar. “Semua hal yang sudah kalian sampaikan tadi akan aku patahkan dengan pembelaanku. Aku juga akan memberi tahu siapa dalang dari semua ini.” “Omong kosong kamu! Langsung saja tidak perlu bertele-tele!” Banyak orang kembali bersorak-sorak menuntut jawaban. “Pertama, bapakku memang hanya buruh tani tetapi untuk biaya kuliahku beliau tidak mengeluarkan sepeserpun karena aku memperoleh beasiswa dari Universitas Manunggal selama aku kuliah di sana!” Penjelasan pertama Rawi direspon dengan sorak sorai. “Huuuuu … !”“Kedua, Universitas Manunggal lumayan jauh dari desa ini maka aku memutuskan untuk kos di sana sehingga perjalananku tidak memakan banyak waktu. Aku akan pulang seminggu sekali dan selama liburan aku mengunjungi pakdhe di desa lain. Apa itu salah?” Kali ini tidak ada respon. Mereka diam memikirkan jawaban Rawi selanjutny

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Alasan Pengusiran

    “Nah, ini dia yang kita tunggu. Akhirnya dia muncul,” seru seseorang di antara keramaian. Baju mereka sudah mulai basah oleh keringat karena saling berdesakan. Terkadang juga tangan satu mengenai badan yang lain. “Baiklah. Aku sudah berdiri di sini.”Rawi berkata dengan tegas tanpa rasa takut sedikitpun. Dia berharap dengan melakukan ini masalah ini bisa teratasi dengan cepat. Dia sudah mempunyai bekal bagaimana mengatasi kericuhan ini. “Desa kami ini desa bersih. Bukan hanya lingkungannya, tetapi juga manusianya,” sorak yang lain.Rawi tersenyum melihat orang banyak mengangguk sepakat dengan kalimat yang baru saja terucap.“Bersih? Apa maksudmu dengan manusianya bersih?”“Yaaa … kami selalu taat beragama. Kami tidak mencari Allah lain selain yang kami sembah. Kami memperdalam ilmu sesuai dengan agama dan kepercayaan kami.”“Kami juga selalu memperhatikan lingkungan sekitar kami. Kami peduli terhadap orang-orang di desa ini,” tambah yang lain. “Hanya melakukan seperti itu lalu kali

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Datang

    “Bapak dan Ibu, aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong lepaskan dulu Rana. Kasihan dia!” pinta Bu Krisan.“Tidak bisa! Nanti kalau kami lepaskan, kalian bisa saja langsung masuk ke rumah dan tidak akan keluar lagi!” teriak mereka lagi. “Benar itu. Jangan sampai mereka memperdaya kita.” “Ya ya ya!” Mereka tetap saja tidak percaya. “Atau mungkin ada beberapa perwakilan dari Bapak dan Ibu sekalian bisa masuk ke rumah dan kita bicarakan secara baik-baik dan Rana bisa istirahat. Dia baru saja pulang sekolah. Apa kalian tidak kasihan pada Rana?” Pak Bagaskara membuat penawaran sekaligus memancing empati warga desa yang ada di depan rumah mereka. “Tidak sudi aku masuk rumah kalian. Jangan-jangan di dalamnya banyak barang pesugihan yang nantinya akan mencelakai kami,” ungkap salah satu dari mereka. “Iya, rumah sarang ilmu hitam. Pasti banyak ranjaunya.”“Rumah kami bersih. Tidak ada barang apapun berhubungan dengan ilmu hitam seperti yang kalian sangka!” Rana pun ikut memberi pembe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status