LOGINAAAAAAAAA!
Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar.
Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan. Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya.
Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya.
“Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar.
"Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa.
“Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kaget." Rawi pura-pura memberengut.
“Enak saja minta maaf. Kalau aku jantungan gara-gara kamu, bagaimana? Mau tanggung jawab?” ancamnya.
“Tapi Mak Kerti baik-baik saja, kan?”
“Menurutmu? kalau aku masih berdiri sambil memarahi kamu itu berarti apa? Untung saja jantungku tergolong kuat untuk orang seusiaku.”
“Berarti aman kan, Mak?
“Aman … aman. Kamu kira jantungku ini minimarket yang dijaga satpam! Untung saja jantungku kuat jadi tentu saja aman sentosa.” Mak Kerti tetap saja mengomel.
Rawi tersenyum mendengarnya.
“Yang suruh kamu senyum siapa? Lagian kamu tadi sedang apa, hah? Kok sampai ada asap putih muncul di depan jendelamu. Main api, ya?”
“Bukan … bukan, Mak.”
“Lalu apa?”
“Buat petasan sendiri ya! Hati-hati kamu. Jangan main hal yang berbahaya!”
“Bukan juga, Mak.”
“Ini bukan, itu bukan. Lalu apa yang kamu lakukan? Jangan-jangan kamu melakukan sesuatu yang melanggar hukum?”
“Mana aku berani, Mak. Mak Kerti kan sudah tahu dari tadi aku seperti apa anaknya.”
“Halah … orang bisa berubah. Yang awalnya alim bisa berubah brutal, yang tadinya kalem bisa juga menjadi beringas. Dan kamu … masih dalam masa itu. Masa Perubahan. Masa pencarian jati diri. Iya, kan?” Mata Mak Kerti memincingkan matanya.
“Ya, Masak Rawi harus kecil terus, Mak. Setiap hari makan, setiap hari jajan, jadi harus bertumbuh dong.” Rawi mencoba menetralkan keadaan.
“Semakin pandai berkata-kata rupanya kamu ya. Apa yang sedang coba kamu lakukan, hmmm?”
Mak Kerti berjalan perlahan mendekati Rawi yang masih ada di depan jendela.
“Jangan, Mak!” Teriakan Rawi semakin menambah penasaran Mak Kerti.
“Kenapa kamu melarang aku mendekat?”
“Kamar lagi berantakan, Mak. Biasa kamar anak laki-laki. Tidak rapi.”
“Harusnya ya dirapikan. Sekarang kamu sudah jadi jejaka. Kalau kamu malas, siapa yang mau sama kamu nantinya. Terakhir kali aku bertanya, kamu sedang mengerjakan apa?” Mak Kerti mendesak Rawi.
“Hmmm ….,” Rawi terdiam. Dia bingung mau menjawab apa. Menyampaikan yang sebenarnya, mana mungkin Mak Kerti paham. Menjawab yang lain berarti dia berbohong.
Dia juga takut nanti Mak Kerti melihat kamarnya yang berantakan akibat ledakan tenaga dalamnya tadi. Walaupun juga dia sendiri terkejut tentang hal apa yang dia bisa. Tanpa sadar Rawi menggaruk rambutnya.
“Heh! Malah garuk-garuk rambut. Jawab pertanyaan saya!”
“Tadi sedang latihan, Mak.”
“Latihan apa? Mau perang ke negara lain ya? Latihan kok bajunya sobek-sobek.”
Rawi baru tersadar baju yang dia pakai ternyata sudah sobek. Lho kok bisa? Tadi waktu dia memulai latihan, baju masih rapi. Namun, ini kok seperti compang-camping seperti ini.
“Bukan, Mak. Mana mungkin Rawi ikut perang.” Rawi menggoyangkan kedua tangannya untuk menambah rasa percaya Mak Kerti, tetangganya yang selalu kepo pada kehidupan keluarganya.
Mata Mak Kerti sekali lagi menyelidik Rawi dan dia diam beberapa saat. Akhirnya dia setuju dengan perkataan Rawi.
“Iya. Tidak mungkin. Kamu kan anaknya kalem. Tidak pernah macam-macam. Tapi juga aneh. Kamu itu aneh sedari kecil.”“Aku aneh? Maksud Mak Kerti apa?”
Mak Kerti tampak sedikit tergagap mendengar pertanyaan Rawi.
“Aneh ya aneh. seperti itu saja masih bertanya. Katanya sudah kuliah di Universitas terbaik, masalah yang berhubungan sama diri sendiri tidak paham. Itu aneh tidak?” Mak Kerti membalik pertanyaan Rawi.
“Ha??? Bagaimana, Mak. Aku semakin bingung.”
“Ckckck … sepertinya sia-sia bapakmu membiayai sekolahmu kalau daya pahammu hanya selevel ini. Lebih baik ikut aku ke pasar.”
“Buat apa Rawi ikut Mak Kerti ke pasar?”
“Yaaa … belanja buat ibumu. Urusan ke pasar kok juga tidak tahu, Rawi … Rawi. Sekali aneh tetap aneh.”
Mak Kerti segera berlalu dari hadapan Rawi meninggalkan jejak tanya yang semakin membuat Rawi geleng-geleng kepala.
Sayup-sayup, Rawi mendengar suara Mak Kerti yang lantang menyapa bapak dan ibunya yang berada di depan rumah. Mak Kerti berbasa-basi mengenai kejadian yang mengejutkan dirinya tadi dan kembali mengungkit keanehan-keanehan pada Rawi.
Rawi terkesiap.
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
Rawi berlari cepat-cepat ketika mendengar peluit pendek-pendek ditiup berulang kali. Itu tandanya semua mahasiswa baru diminta berkumpul. Tanpa sadar Rawi menabrak salah satu kakak angkatan yang juga panitia penerimaan mahasiswa baru. Mereka berdua sama-sama berhenti dan saling mengamati. Setelah
Pram, Damian, Haris berlari dengan pakaian yang masih basah kuyup menuju tempat mereka bertemu dengan Pak Salam. Tangan mereka masing-masing menggenggam sebuah batu kecil.Sebenarnya mereka juga tidak tahu apa tuj
Malam ini sesudah makan malam, Pak Bagaskara langsung menuju kamarnya. Kata hatinya mengatakan demikian. Segera dia menutup pintu rapat-rapat. Bu Krisan paham akan tindakan suaminya itu. Ketika waktunya Rawi melihat punggung bapaknya berlalu. Tanpa kata, dia segera masuk ke kamar. Rana hanya mema
“Kalian ini punya anak aneh tetap saja tidak peduli.” Tiba-tiba Mak Kerti berseru kepada Pak Bagaskara dan Bu Krisan yang sedang berada di halaman depan.Pak Bagaskara sedang menyemprot tanaman, sedang







