เข้าสู่ระบบPakkk!
Tangan Bapak menepuk pundak Rawi.
Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum.
"Ada apa, Pak?"
"Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.
Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya.
"Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?"
"Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya.
"Itu tadi ... sibuk apa?"
"Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak."
"Hmmm ... yakin hanya itu?"
"Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang g****e dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi.
Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan serius. Pencarian pertamanya adalah kekuatan khusus, lalu dia tekan tombol cari. Kemudian muncul penjelasan AI berkaitan dengan hal itu.
"Kekuatan khusus" bisa merujuk pada kemampuan super di fiksi (seperti terbang, kekuatan fisik super), kemampuan militer elit (seperti Kopassus yang ahli intelijen, tempur jarak dekat, dan operasi khusus), kemampuan personal luar biasa (seperti kreativitas, fokus), atau bahkan kemampuan supranatural (melihat gaib, membaca pikiran), tergantung konteksnya, namun intinya adalah kemampuan unik dan luar biasa yang tidak dimiliki kebanyakan orang atau standar.
Lalu di bawahnya muncul beberapa video, beberapa artikel, dan beberapa berita yang berkaitan dengan apa yang dicarinya.
Rawi membacanya satu per satu, dan akhirnya termenung. Dia kembali teringat akan kekuatannya sendiri. Yang dia ketahui dan dirasakannya adalah dia hanya bisa menahan dan menyerang tanpa kontak fisik secara langsung. Dia merasa ada sebuah tenaga luar biasa melingkupi tubuhnya berupa gelembung putih.
"Kakak!" Tiba-tiba Rana muncul di hadapannya entah darimana. Adiknya itu masih cemberut,s epertinya masih marah atas kejadian di kamar tadi.
"Hmmm ... bagaimana, Rana?"
"Kakak sibuk apa sih? Dari tadi pegang gawai saja. Kakak belum ngobrol sama aku lho," tudingnya.
"Ini kakak sedang mencari materi kampus di Minggu pertama."
"Rajin amat jadi mahasiswa baru. Sampai-sampai lupa sama adik sendiri."
"Hiss ... kamu ini. Biar kakak jadi mahasiswa baru yang oke. Yang jadi juara satu, tahu tidak," jawab Rawi berkelakar.
"Dasar ambis kakak ini. Malas aku jadinya." Rana pun segera berlalu dari hadapan Rawi.
Memang sengaja Rawi melakukan itu supaya Rana segera pergi dan dia bisa kembali menekuni apa yang sedang dikerjakannya.
Dia teringat juga kejadian Rana hari ini. Dia tidak hanya menahan, dan menolakkan serangan. Bahkan dia bisa melakukan serangan tanpa berpindah tempat.
Wah! Kemajuan ini! Ada perkembangan dalam kekuatanku. Mungkin tenaga dalam di tubuhku sudah ada tanpa aku harus bersusah payah. Lumayan! Rawi mengangguk senang. Dia mulai mengetik lagi dalam pencarian.
Mengolah Tenaga Dalam, dan klik!
Mengolah tenaga dalam sendiri berfokus pada latihan pernapasan dan meditasi untuk mengonsentrasikan energi tubuh. Teknik dasar melibatkan pernapasan perut atau dada dengan hitungan tertentu, menahan napas, lalu mengeluarkannya perlahan, seringkali diiringi gerakan lembut dan konsentrasi.
Hmmm ... Rawi menghela nafas. Ternyata harus tetap kerja keras untuk mengolah tenaga dalam di tubuhnya.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mulai latihan pernafasan besok pagi. Akan lebih baik kalau aku lakukan ketika hari masih gelap sehingga tidak muncul banyak pertanyaan dari Ibu, Bapak, dan Rana," batin Rawi.
Pagi hari menjelang. Rawi telah menyetting alarm jam paginya pada pukul 04.00 pagi. Dia merapikan tempat tidurnya dan berdoa. Dia membuka lebar-lebar jendela supaya angin pagi yang segar bisa masuk kamar.
Dia mengambil sikap duduk bersila di atas lantai kamarnya yang dingin. Lantai ubin yang selalu memberikan kesejukan ketika hari mulai panas. Dia memakai kaos warna gelap dan celana training. Dia mulai menutup mata dan meletakkan tangan di atas lututnya.
Rawi mengambil nafas panjang, pelan. Menahan nafas, lalu melepaskannya perlahan. Dia melakukan hal itu berulang-ulang sampai dia merasa tenang.
Dia mendengar detak jam di dinding. Dia mendengar desiran angin yang melewati kisi-kisi atas jendelanya. Bahkan, dia mendengar desir lembut dedaunan di luar. Rasanya tenang.
Dia juga bisa merasakan tenaga berkumpul di dalam tubuhnya. Berputar-putar pelan, tapi pasti. Lama-kelamaan dia merasakan tenaganya membesar. Berputar-putar dalam dadanya, semakin memuncak dan ingin meledak!
Daaarrr!!!
Pak Bagaskara. Bu Krisan, Rawi, Rana, dan Mak Kerti duduk mengelilingi meja makan. Pemandangan yang tidak biasa, tapi suasana seperti ini adalah yang paling nyaman selama Rawi tinggal di desa ini. Biasanya mereka merasa was-was tentang apa saja, bahkan akhir-akhir ini banyak suara-suara barang dilempar mengenai atap atau dinding rumah. Hal itu membuat mereka serumah tegang terus menerus. “Enak tidak masakan ibuku, Mak?” Rana memulai percakapan dengan Mak kerti. “Ha ha ha … dari dulu aku tahu kalau masakan ibumu itu enak, Rana. Selalu jempol!” jawab Mak Kerti terkekeh sambil menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. “Terima kasih ya, Bagaskara dan Krisan. Aku boleh menikmati makan bersama kalian. Selama ini aku kesepian.” Wajahnya tiba-tiba meredup. Senyum yang baru saja merekah pun menghilang dari wajah keriputnya. “Sama-sama, Mak. Kami juga senang karena Rawi dan Rana sekarang punya pengganti nenek mereka yang sudah meninggal,” jawab Bu Krisan. “Tapi ada syaratnya, Mak!”
“Mak! Mak, sadar! Kami berjanji tidak akan seperti itu!” bisik Bu Krisan pelan. Dia memeluk erat Mak Kerti supaya dia tidak melakukan hal-hal di luar nalar. Bu Krisan memberi tanda pada Pak Bagaskara, Rawi, dan Rana untuk ikut memberi motivasi pada Mak Kerti. Satu per satu keluarga Bagaskara mendekati dan ikut memeluk Mak Kerti. Merasakan kehangatan pelukan keluarga membuat Mak Kerti semakin histeris. Semua warga terhenyak melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka keluarga Bagaskara akan memberi kehangatan pada orang yang sudah menganiaya mereka selama ini. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Maafkan aku, Bagaskara! Maafkan aku yang selalu iri dengan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga kalian. Sudah dari dulu perasaan ini kupendam, tapi ternyata tahun-tahun belakangan ini tidak bisa kutahan lagi … hiks hiks hiks!” Semua orang yang mendengar itu merasa kecut hatinya. “Wah kita benar-benar diperalat untuk menuntaskan rasa dendamnya sendiri.”“Menyesal aku selalu memba
Semua orang dikejutkan dengan teriakan histeris Mak Kerti. Mereka semua menoleh ke arahnya. Mak kerti jongkok dan menutupi kedua telinganya. Dia menjerit sekeras yang dia bisa untuk meluapkan perasaannya. Salah seorang dari mereka mendekat dan menenangkannya. Orang itu memegang pundaknya “Mak! Sadar, Mak! Sudah selesai semuanya!” Mak Kerti mendongak perlahan melihat pada orang yang menaruh tangan hangat di pundak. Matanya yang kecil penuh dengan air mata. Wajahnya merah padam menahan sesak yang dirasa. “Haaaa … haaaa … haaaaa .” Tangis kembali terdengar. Dia melihat ke sekelilingnya. Tatapan mata menuduh tersampaikan tanpa basa-basi di setiap sorot mata yang lekat kepadanya. “Tidak perlu menangis, Mak,” kata yang lain. “Sampaikan dengan besar hati. Mungkin keluarga Pak Bagaskara akan memaafkan dan tidak mengungkit masalah ini di masa depan,” sahut yang lain menambah. Mak Kerti melirik ke arah keluarga Bagaskara yang saat ini masih berdiri tegak di depan pintu, dan memandangnya
“Baiklah. Aku akan permudah semuanya. Dengarkan baik-baik perkataanku.”Rawi kembali berkata. “Mau mengatakan apa lagi?” Orang-orang bertambah tidak sabar. “Semua hal yang sudah kalian sampaikan tadi akan aku patahkan dengan pembelaanku. Aku juga akan memberi tahu siapa dalang dari semua ini.” “Omong kosong kamu! Langsung saja tidak perlu bertele-tele!” Banyak orang kembali bersorak-sorak menuntut jawaban. “Pertama, bapakku memang hanya buruh tani tetapi untuk biaya kuliahku beliau tidak mengeluarkan sepeserpun karena aku memperoleh beasiswa dari Universitas Manunggal selama aku kuliah di sana!” Penjelasan pertama Rawi direspon dengan sorak sorai. “Huuuuu … !”“Kedua, Universitas Manunggal lumayan jauh dari desa ini maka aku memutuskan untuk kos di sana sehingga perjalananku tidak memakan banyak waktu. Aku akan pulang seminggu sekali dan selama liburan aku mengunjungi pakdhe di desa lain. Apa itu salah?” Kali ini tidak ada respon. Mereka diam memikirkan jawaban Rawi selanjutny
“Nah, ini dia yang kita tunggu. Akhirnya dia muncul,” seru seseorang di antara keramaian. Baju mereka sudah mulai basah oleh keringat karena saling berdesakan. Terkadang juga tangan satu mengenai badan yang lain. “Baiklah. Aku sudah berdiri di sini.”Rawi berkata dengan tegas tanpa rasa takut sedikitpun. Dia berharap dengan melakukan ini masalah ini bisa teratasi dengan cepat. Dia sudah mempunyai bekal bagaimana mengatasi kericuhan ini. “Desa kami ini desa bersih. Bukan hanya lingkungannya, tetapi juga manusianya,” sorak yang lain.Rawi tersenyum melihat orang banyak mengangguk sepakat dengan kalimat yang baru saja terucap.“Bersih? Apa maksudmu dengan manusianya bersih?”“Yaaa … kami selalu taat beragama. Kami tidak mencari Allah lain selain yang kami sembah. Kami memperdalam ilmu sesuai dengan agama dan kepercayaan kami.”“Kami juga selalu memperhatikan lingkungan sekitar kami. Kami peduli terhadap orang-orang di desa ini,” tambah yang lain. “Hanya melakukan seperti itu lalu kali
“Bapak dan Ibu, aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong lepaskan dulu Rana. Kasihan dia!” pinta Bu Krisan.“Tidak bisa! Nanti kalau kami lepaskan, kalian bisa saja langsung masuk ke rumah dan tidak akan keluar lagi!” teriak mereka lagi. “Benar itu. Jangan sampai mereka memperdaya kita.” “Ya ya ya!” Mereka tetap saja tidak percaya. “Atau mungkin ada beberapa perwakilan dari Bapak dan Ibu sekalian bisa masuk ke rumah dan kita bicarakan secara baik-baik dan Rana bisa istirahat. Dia baru saja pulang sekolah. Apa kalian tidak kasihan pada Rana?” Pak Bagaskara membuat penawaran sekaligus memancing empati warga desa yang ada di depan rumah mereka. “Tidak sudi aku masuk rumah kalian. Jangan-jangan di dalamnya banyak barang pesugihan yang nantinya akan mencelakai kami,” ungkap salah satu dari mereka. “Iya, rumah sarang ilmu hitam. Pasti banyak ranjaunya.”“Rumah kami bersih. Tidak ada barang apapun berhubungan dengan ilmu hitam seperti yang kalian sangka!” Rana pun ikut memberi pembe







