Share

Rawi Berselancar

Author: Dara Karinda
last update publish date: 2026-01-15 15:30:56

Pakkk!

Tangan Bapak menepuk pundak Rawi. 

Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum. 

"Ada apa, Pak?" 

"Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.

Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya. 

"Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?" 

"Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya. 

"Itu tadi ... sibuk apa?" 

"Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak." 

"Hmmm ... yakin hanya itu?"

"Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang g****e dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi.

Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan serius. Pencarian pertamanya adalah kekuatan khusus, lalu dia tekan tombol cari. Kemudian muncul penjelasan AI berkaitan dengan hal itu.

"Kekuatan khusus" bisa merujuk pada kemampuan super di fiksi (seperti terbang, kekuatan fisik super), kemampuan militer elit (seperti Kopassus yang ahli intelijen, tempur jarak dekat, dan operasi khusus), kemampuan personal luar biasa (seperti kreativitas, fokus), atau bahkan kemampuan supranatural (melihat gaib, membaca pikiran), tergantung konteksnya, namun intinya adalah kemampuan unik dan luar biasa yang tidak dimiliki kebanyakan orang atau standar.

Lalu di bawahnya muncul beberapa video, beberapa artikel, dan beberapa berita yang berkaitan dengan apa yang dicarinya. 

Rawi membacanya satu per satu, dan akhirnya termenung. Dia kembali teringat akan kekuatannya sendiri. Yang dia ketahui dan dirasakannya adalah dia hanya bisa menahan dan menyerang tanpa kontak fisik secara langsung. Dia merasa ada sebuah tenaga luar biasa melingkupi tubuhnya berupa gelembung putih. 

"Kakak!" Tiba-tiba Rana muncul di hadapannya entah darimana. Adiknya itu masih cemberut,s epertinya masih marah atas kejadian di kamar tadi. 

"Hmmm ... bagaimana, Rana?" 

"Kakak sibuk apa sih? Dari tadi pegang gawai saja. Kakak belum ngobrol sama aku lho," tudingnya. 

"Ini kakak sedang mencari materi kampus di Minggu pertama." 

"Rajin amat jadi mahasiswa baru. Sampai-sampai lupa sama adik sendiri." 

"Hiss ... kamu ini. Biar kakak jadi mahasiswa baru yang oke. Yang jadi juara satu, tahu tidak," jawab Rawi berkelakar. 

"Dasar ambis kakak ini. Malas aku jadinya." Rana pun segera berlalu dari hadapan Rawi. 

Memang sengaja Rawi melakukan itu supaya Rana segera pergi dan dia bisa kembali menekuni apa yang sedang dikerjakannya. 

Dia teringat juga kejadian Rana hari ini. Dia tidak hanya menahan, dan menolakkan serangan. Bahkan dia bisa melakukan serangan tanpa berpindah tempat. 

Wah! Kemajuan ini! Ada perkembangan dalam kekuatanku. Mungkin tenaga dalam di tubuhku sudah ada tanpa aku harus bersusah payah. Lumayan! Rawi mengangguk senang. Dia mulai mengetik lagi dalam pencarian. 

Mengolah Tenaga Dalam, dan klik!

Mengolah tenaga dalam sendiri berfokus pada latihan pernapasan dan meditasi untuk mengonsentrasikan energi tubuh. Teknik dasar melibatkan pernapasan perut atau dada dengan hitungan tertentu, menahan napas, lalu mengeluarkannya perlahan, seringkali diiringi gerakan lembut dan konsentrasi.

Hmmm ... Rawi menghela nafas. Ternyata harus tetap kerja keras untuk mengolah tenaga dalam di tubuhnya.  

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mulai latihan pernafasan besok pagi. Akan lebih baik kalau aku lakukan ketika hari masih gelap sehingga tidak muncul banyak pertanyaan dari Ibu, Bapak, dan Rana," batin Rawi. 

Pagi hari menjelang. Rawi telah menyetting alarm jam paginya pada pukul 04.00 pagi. Dia merapikan tempat tidurnya dan berdoa. Dia membuka lebar-lebar jendela supaya angin pagi yang segar bisa masuk kamar. 

Dia mengambil sikap duduk bersila di atas lantai kamarnya yang dingin. Lantai ubin yang selalu memberikan kesejukan ketika hari mulai panas. Dia memakai kaos warna gelap dan celana training. Dia mulai menutup mata dan meletakkan tangan di atas lututnya. 

Rawi mengambil nafas panjang, pelan. Menahan nafas, lalu melepaskannya perlahan. Dia melakukan hal itu berulang-ulang sampai dia merasa tenang. 

Dia mendengar detak jam di dinding. Dia mendengar desiran angin yang melewati kisi-kisi atas jendelanya. Bahkan, dia mendengar desir lembut dedaunan di luar. Rasanya tenang. 

Dia juga bisa merasakan tenaga berkumpul di dalam tubuhnya. Berputar-putar pelan, tapi pasti. Lama-kelamaan dia merasakan tenaganya membesar. Berputar-putar dalam dadanya, semakin memuncak dan ingin meledak! 

Daaarrr!!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mita Yoo
aku kira apaan ada sensor, ternyata karena nyebut merek
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Pamit

    Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga

  • Rawi, Sang Jejaka Super   H-1

    Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Persiapan Dimulai

    Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Bantuan Teman Baik

    Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Grup PPM

    [Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Respon Pak Bagaskara dan Bu Krisan

    Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kinanthi Datang

    “Rawi! Rawi! Rawi!” suara Kinanthi terdengar panik. Dia menemukan Rawi di pinggir sawah. Di tengah semak belukar lebih tepatnya. Untung saja dia datang tepat waktu sehingga bukan orang lain yang melihat Rawi terlebih dahulu.

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Komplotan Pak Salam

    Pram, Damian, Haris berlari dengan pakaian yang masih basah kuyup menuju tempat mereka bertemu dengan Pak Salam. Tangan mereka masing-masing menggenggam sebuah batu kecil.Sebenarnya mereka juga tidak tahu apa tuj

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Pertanda Kedua

    Malam ini sesudah makan malam, Pak Bagaskara langsung menuju kamarnya. Kata hatinya mengatakan demikian. Segera dia menutup pintu rapat-rapat. Bu Krisan paham akan tindakan suaminya itu. Ketika waktunya Rawi melihat punggung bapaknya berlalu. Tanpa kata, dia segera masuk ke kamar. Rana hanya mema

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Pembelaan Bapak dan Ibu

    “Kalian ini punya anak aneh tetap saja tidak peduli.” Tiba-tiba Mak Kerti berseru kepada Pak Bagaskara dan Bu Krisan yang sedang berada di halaman depan.Pak Bagaskara sedang menyemprot tanaman, sedang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status