เข้าสู่ระบบ“Kalian ini punya anak aneh tetap saja tidak peduli.” Tiba-tiba Mak Kerti berseru kepada Pak Bagaskara dan Bu Krisan yang sedang berada di halaman depan.
Pak Bagaskara sedang menyemprot tanaman, sedangkan Bu Krisan mengumpulkan dedaunan yang kering. Mereka berdua berpandangan.
“Selamat pagi, Mak. Mau ke pasar, ya?” sapa Pak Bagaskara sambil tersenyum tanpa merespon perkataan Mak Kerti sebelumnya.
“Tidak perlu basa-basi yang konyol. Setiap hari, bahkan setiap jam kita bisa bertemu jadi tak perlu basa-basi yang takperlu ini.” Mak Kerti mengibaskan tangannya tanda tak peduli akan sapaan Pak Bagaskara.
“Ya harus kita sapa, dong. Tetangga terdekat kok tidak disapa,” tambah Bu Krisan ramah.
“Suami, istri, anak, sama saja …. aneh. Untung saja cuma Rawi, atu jangan-jangan Rana juga aneh?" Mak Kerti memandang mereka berdua penuh selidik.
Pak Bagaskara dan Bu Krisan mencoba tetap tersenyum ramah pada tetangga mereka yang satu ini.
“Jangan bawa anak-anak, Mak. Kasihan. Kami yakin kok mereka anak-anak yang baik. tapi juga pasti punya kelebihan dan kekurangan.”
“Pak Bagas ini terlalu memanjakan Rawi dan Rana. Jangan-jangan Pak Bagas tidak tahu kejadian pagi ini, ya?”
Pak Bagaskara dan Bu Krisan kembali berpandangan.
“Ada apa ya, Mak? Pagi-pagi Mak Kerti sudah bawa berita penting sepertinya.”
“Oh ya … pasti. Apalagi beritanya tentang anak kalian, Rawi.” Kata-katanya berjeda sehingga memberikan efek yang luar biasa untuk pasangan itu.
“Ra .. Rawi? Ada apa dengan Rawi, Mak?” Bu Krisan gagap meminta penjelasan pada Mak Kerti.
“Tadi pas aku lewat dekat jendela kamar Rawi, tiba-tiba muncul ledakan diikuti kepulan asap putih keluar dari sana. Pakaian Rawi juga compang-camping. Apalagi, kamarnya. Kamarnya berantakan seperti daerah sesudah terkena bom.”
Pasangan itu melongo mendengar jawaban Mak Kerti. Mereka Terdiam.
“Hmmm … mungkin Rawi sedang berlatih untuk drama di kampus, Mak. Bajunya mungkin hanya properti yang sedang dia coba. Untuk keadaan kamarnya, ya … Mak Kerti tahu sendirilah kamar anak laki-laki seperti apa … hehehe,” sahut Bu Krisan membela.
“Latihan drama? Pagi-pagi begini? Yang benar saja. Tidak ada waktu lain atau bagaimana?” Mak Kerti masih bersikeras dengan ceritanya.
“Ya kan bisa saja untuk mendalami peran seorang pengemis yang bajunya seadanya dan kondisi rumah yang juga ala kadarnya,” tambah Bu Krisan lagi.
“Kamu, ibunya, pasti membela. Kamu masih ingat kan kejadian di sekolah waktu dia kecil. Katanya ada yang terkena pukulan sampai lebam ketika mencoba merebut bangku Rawi.”
“Aahh … itu masa lalu, Mak. Mungkin juga anak itu menyenggol salah satu lemari sehingga seperti terkena pukulan. Bisa saja, kan?” Pak Bagaskara kali ini yang menjawab.
“Tidak masuk akal. Menyenggol lemari kok bentuk lebam seperti kepalan tangan. Orang lain bisa kalian bodohi, tapi Mak Kerti tidak akan tertipu dengan cerita konyol kalian itu.”
“Mak Kerti memang tetangga paling oke pokoknya,” sahut Bu Krisan cepat.
“Jelas. Bu Krisan tidak perlu mengubah alur pembicaraan ya. Kita ini sedang membicarakan Rawi, bukan aku. Soal aku semua orang di desa kita sudah tahu semua, tapi tentang Rawi itu masih misteri. Masih menjadi bahan perbincangan yang tidak ada hentinya sejak kejadian itu.”
“Mak Kerti tidak perlu bicara seperti itu. Nanti terdengar Rawi dan Rana, tidak enak jadinya.” Pak Bagaskara berusaha mengerem kata-kata Mak Kerti yang mulai membabi buta.
“Bukannya itu semakin baik. Rawi dan Rana mendengar dan ambil sikap untuk menghadapinya. Jangan sampai mereka tidak tahu apa-apa, lalu menjadi bahan perundungan teman-temannya. Paling apes nanti menjadi kambing hitam dari sebuah kejadian. Kalian mau Rawi dan Rana diperlakukan seperti itu?” tantang Mak Kerti.
“Aduduh … Mak Kerti ini serius sekali ngobrolnya. Bukannya tadi mau ke pasar ya, Mak? Nanti sayur-sayur segarnya sudah habis, lho!” kata Pak Bagaskara tiba-tiba.
“Waduh … ini pengusiran halus namanya,” sergah Mak Kerti.
“Bu, tadi sedang merebus air, kan? Sudah mendidih belum? Bapak ingin kopi pagi seperti biasa,” kata Pak Bagaskara mengingatkan istrinya.
“Oh iya, Pak. Ibu lupa. Sebentar, ya Mak,” jawab Ibu segera berlalu dari hadapan Mak Kerti.
Pak Bagaskara serta merta mengikuti langkah istrinya ke dalam rumah. Mak Kerti mau tidak mau mulai berjalan meninggalkan halaman rumah keluarga Bagaskara.
Langkah mereka terhenti ketika mereka melihat Rawi sudah ada di ruang tamu menyambut mereka.
“Pak, Bu … apa benar kata Mak Kerti kalau aku aneh?”
Pak Bagaskara dan Bu Krisan terdiam.
“Setiap orang itu unik, begitu juga kamu,” kata Bapak pelan.
“Rawi tahu, Pak. Tapi Rawi itu unik yang baik, atau unik yang aneh?” tuntut Rawi.
Bapak dan Ibu sama-sama menghela nafas. Bu Krisan menggerakkan kakinya ke arah dapur. Bukan hanya untuk membuatkan suaminya secangkir kopi hangat, melainkan juga menghindari pertanyaan Rawi.
“Mengapa Bapak dan Ibu begitu membelaku di hadapan Mak Kerti?”
“Bapak dan Ibu hanya menjalankan peran kami. Apapun akan kami hadapi untuk melindungi anak-anak kami. Semua orang tua pasti melakukan hal yang sama,” jawab Bapak lagi.
Setelah berkata demikian, Bapak menepuk pundak Rawi pelan dan melangkah menyusul istrinya ke dapur.
Sedangkan Rawi masih berdiri mematung di ruang tamu dengan berjuta pertanyaan yang berputar di otaknya. Seaneh itukah dirinya sehingga bapak dan ibunya hanya diam saja?
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
“Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia t
Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasuk
Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memu
Rawi berlari cepat-cepat ketika mendengar peluit pendek-pendek ditiup berulang kali. Itu tandanya semua mahasiswa baru diminta berkumpul. Tanpa sadar Rawi menabrak salah satu kakak angkatan yang juga panitia penerimaan mahasiswa baru. Mereka berdua sama-sama berhenti dan saling mengamati. Setelah







