LOGINLutut Broto terperosok ke dalam kubangan lumpur kotoran sapi sedalam lima sentimeter.Pria tambun itu menatap nanar tubuh Brahma yang tergeletak kaku. Otot rahangnya bergetar tidak terkendali melihat kegagalannya.Senjata pemusnah utamanya takluk oleh satu tusukan jarum perak.Suara sirine mobil patroli terdengar meraung nyaring dari arah jalan aspal utama peternakan.Tiga unit kendaraan baja milik kepolisian distrik barat menerobos masuk melewati gerbang yang terbuka lebar."Waktumu sudah habis, Broto," ucap Leo menatap pria yang telah kehilangan seluruh kekuasaannya itu.Mobil polisi tersebut melaju cepat dan berhenti mengepung area kandang isolasi.Lima petugas berseragam hitam turun membawa senapan laras panjang. Komandan regu berjalan lurus mendekati posisi Broto."Borgol pria ini sekarang juga," perintah sang komandan menunjuk Broto. "Data transaksi steroid ilegalnya sudah diverifikasi oleh tim forensik pa
Ban bergerigi Jeep hitam menggilas pelataran Peternakan Lembu Putih pada pukul tujuh pagi.Leo turun dari kursi kemudi membawa sebuah map plastik bening di tangan kanannya.Pria itu mengenakan jas putih medisnya, kontras dengan kubangan lumpur dan kotoran basah sapi di bawah kakinya.Sekar melangkah turun dari pintu penumpang. Wanita itu memegang papan akrilik berisi daftar kalkulasi aset dan jadwal distribusi.Puluhan pekerja peternakan menghentikan rutinitas memerah susu pagi mereka. Mereka menatap kedatangan dua tamu tersebut dengan wajah tegang.Leo berjalan lurus mendekati bangunan kayu dua lantai yang menjadi kantor pengawas.Pria itu melemparkan map plastik beningnya ke atas tong drum besi penyimpan air. Bunyi tamparan plastik beradu dengan logam memecah keheningan pagi."Buka salinan dokumen itu, Broto," perintah Leo menatap sang juragan yang baru saja keluar dari pintu kantornya.Broto melangkah menurun
Pintu kaca buram itu hancur berkeping-keping menerima hantaman bahu sang penjaga.Pecahan kaca berhamburan ke atas lantai keramik laboratorium. Anjing herder langsung melompat masuk mengendus kegelapan.Leo berdiri tegak menyembunyikan Widya di balik punggung lebar jas kulit hitamnya.Pria itu mengeluarkan sebotol alkohol medis kadar tinggi dari saku dan melemparkannya tepat ke lantai di depan moncong anjing tersebut.Prang!Botol kaca itu pecah menyebarkan uap alkohol pekat yang seketika membutakan indra penciuman sensitif hewan pelacak.Anjing herder itu melolong kesakitan sambil menggosokkan hidungnya ke lantai, kehilangan kemampuan melacak jejak.Broto melangkah masuk menyalakan senter besarnya. Sorot cahayanya menembus tirai plastik yang sudah terkoyak."Kau!" geram Broto mengenali postur Leo dari siang tadi. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!""Pintu belakangmu tidak pernah dirancang untuk menghentikan ahli anatomi," jawab Leo santai.Sang juragan sapi mengarahkan senternya pad
Jari tangan Widya bergetar parah saat menyentuh kancing jas putihnya.Wanita itu menarik napas panjang. Akal sehatnya menolak instruksi tersebut, namun rasa kebas yang menjalar di pergelangan tangannya menjadi bukti mutlak kematian sel jaringan ototnya.Kain bernoda lumpur itu jatuh ke atas permukaan meja bedah baja. Kemeja katun tipis yang ia kenakan menyusul terlepas dan menumpuk di sisi pinggiran logam.Wanita itu memeluk dadanya sendiri menyembunyikan pakaian dalamnya. Matanya menatap waspada ke arah pria berjas hitam di depannya."Turunkan tanganmu," instruksi Leo melangkah maju merapatkan posisinya ke sela lutut Widya. "Proses pembuangan racun ini tidak bisa terhalang kain apa pun."Widya menurut dengan napas tersengal. Kedua tangannya perlahan turun meremas erat pinggiran meja logam dingin tersebut.Permukaan baja anti karat itu bergesekan langsung dengan kulit belakang pahanya.Leo meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas pangkal bahu kanan Widya yang membengkak parah.
Ujung obeng minus mencongkel engsel jendela kaca nako di lantai dua bangunan laboratorium hewan.Logam tipis itu memutar sekrup karatan tanpa menimbulkan suara gesekan keras.Leo mendorong kaca jendela hingga terbuka selebar bahu.Pria itu melompat masuk ke dalam ruangan gelap tepat pada pukul sebelas malam. Sepatu pantofelnya mendarat mulus di atas lantai keramik putih tanpa menimbulkan gema.Deretan lemari pendingin berbahan stainless steel berdiri berjejer di sisi kiri ruangan. Sinar bulan menembus kaca jendela memberikan pencahayaan minim. Bau alkohol medis bercampur aroma pakan ternak menguasai ventilasi udara.Langkah kaki Leo mendekati lemari pendingin nomor tiga. Tangannya menarik tuas pintu yang hanya dikunci menggunakan kait mekanis sederhana.Puluhan botol kaca berisi cairan kekuningan tanpa label tersusun rapi di rak pendingin. Embun dingin menetes dari permukaan kaca tersebut."Dosis tinggi testosteron dan hormon pertumbuhan sintetik sapi," catat Leo mengambil dua botol k
Palu godam baja seberat sepuluh kilogram itu melesat membelah udara pagi.Genggaman dua tangan sang algojo raksasa menyalurkan seluruh tenaga ototnya untuk menghancurkan sendi lutut target. Angin berdesir keras mengiringi lintasan senjata tumpul pematah tulang hewan tersebut.Leo tidak memundurkan kakinya untuk mencari jarak aman dari jangkauan palu. Pria itu justru melompat ringan satu langkah ke depan, masuk ke dalam area titik buta ayunan sang algojo.Tangan kiri Leo melesat menembus celah pertahanan lawan yang terbuka lebar saat sedang mengayunkan senjata berat.Empat ujung jari Leo menekan dengan kekuatan konstan menembus lapisan otot tebal di pergelangan tangan kanan algojo raksasa tersebut. Tekanan presisi itu menghantam langsung simpul saraf radialis yang mengendalikan fungsi motorik jari.Genggaman tangan kanan algojo itu merenggang seketika di luar kendali sadarnya.Kehilangan setengah titik tumpuan membuat ayunan palu godam itu melenceng jauh dari sasaran. Kepala baja palu
Deru mesin Jeep rampasan itu kembali membelah jalanan tanah menuju pusat desa. Setelah meninggalkan teror absolut di pabrik kecamatan, Leonardo Xaverius pulang dengan wibawa seorang kaisar yang baru saja memperluas wilayah taklukannya.Begitu Jeep berhenti di halaman balai desa, Pak Joko langsung b
Kilatan bilah pisau lipat itu memantulkan cahaya lampu ruang direktur. Preman berotot di sebelah kanan Beni menerjang maju dengan kecepatan penuh, berniat merobek dada sang dewa bedah yang dianggapnya hanya seorang dokter kampung."Mati kau, Dokter sialan!" raung preman itu, mengayunkan pisaunya se
Ruang direktur utama itu kini terasa jauh lebih luas dan berwibawa setelah patung-patung murahan milik Darmo disingkirkan. Leonardo Xaverius duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya, memancarkan aura seorang kaisar yang baru saja naik takhta."Semua dokumen pemecatan Hasan dan antek-anteknya sud
Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil