Share

Bab 5: Pulang ke Rumah

Penulis: Ann Soe
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 07:16:47

Akhir pekan datang dengan cepat. Setelah menempuh perjalanan empat jam naik bus, Lia sampai di kota kelahirannya, Kota Marta. Selanjutnya, butuh 15 menit perjalanan untuk sampai ke rumah dengan naik ojek.

Jumat malam Lia sampai di rumah dan mengejutkan orangtuanya. Mamanya, Esti menyambut dengan gembira kedatangan Lia sementara ayahnya, Pandu, bersikap tenang seperti biasa.

“Kamu nggak bilang-bilang mau pulang. Mama jadi nggak nyiapin apa-apa.”

Meski Mama berkata begitu, tapi meja makan penuh dengan makanan kesukaan Lia. Ayam balado, sayur pare, sampai kentang mustofa dengan toples yang masih bersegel ada di atas meja. Terlihat seperti orangtua Lia memang sudah siap menyambut kedatangannya malam ini.

“Besok aku mau ke tempat Fahmi, Ma,” kata Lia di sela makan malam.

“Ada urusan apa?” tanya Papa.

Lia lalu menceritakan mengenai Fahmi yang ingin memesan suku cadang motor padanya.

“Oh, jadi kamu pulang karena kerjaan.” Perkataan Papa membuat ulu hati Lia seperti ditinju.

“Nggak juga, aku pulang karena kangen Papa Mama juga,” sahut Lia sedikit berbohong. Meskipun kangen orangtuanya, Lia memang tidak berniat pulang. Jika bukan karena Fahmi, akhir pekan ini akan Lia habiskan ikut showroom event untuk mendongkrak penjualan.

“Nggak papa sambil kerja yang penting pulang,” kata Mama mencoba memperbaiki situasi tegang antara Lia dan Papa. “Besok bareng Mama ya ke rumah Fahmi. Sekalian datang ke acara selamatan rumah barunya Fahmi. Kamu dandan yang cantik.”

Kalimat terakhir mamanya membuat Lia bingung. “Kenapa harus dandan cantik segala, Ma?”

Mama tergagap ketika menjawab, “Supaya kelihatan cantik. Kamu jarang datang ke acara keluarga, sekali muncul harus cetar membahana. Biar orang-orang tahu Mama punya anak yang cantik jelita.”

Perkataan mamanya yang lebay membuat Lia geli, tapi diiyakannya saja.

Keesokan harinya, Lia bangun pagi dan memasak roti lapis untuk sarapan.

“Wah, anak Mama sudah bangun, sudah masak pula,” ujar Mama yang datang ke dapur setelah Lia selesai membuat tiga roti lapis.

“Kebiasaan bangun pagi, Ma,” kata Lia. Setelah merantau dan hidup sendiri, Lia memang jadi lebih mandiri. Apalagi semenjak menargetkan menjadi sales terbaik, Lia selalu bangun pagi bahkan di akhir pekan.

“Sudah bisa nih jadi istri orang,” ujar Mama bercanda.

“Mama apaan sih, Lia masih mau ngejar karier. Mau jadi sales terbaik,” sahut Lia. Ia benar-benar canggung jika membicarakan tentang pernikahan.

“Karier boleh dikejar, tapi nikah juga harus dipikirkan. Apalagi kamu sudah dua puluh tujuh tahun. Wajarlah umur segitu udah mulai cari pasangan,” kata Mama menasehati, tapi Lia tidak terlalu mendengarkan.

Hal paling penting bagi Lia sekarang bisa jadi sales terbaik dan menunjukkan pada orangtuanya, terutama ayahnya bahwa Lia bisa memiliki karier yang bagus di dunia marketing.

“Lia, kalau Mama ngomong didengerin,” tegur Mama dengan sayang.

“Iya, Ma,” jawab Lia, tapi ia tidak bisa memikirkan tentang pernikahan sekarang apalagi calonnya juga belum siap.

“Abis sarapan kita pergi nyari hadiah buat Fahmi ya. Nggak enak nggak bawa apa-apa di acara selamatan rumah baru dia,” kata Mama.

“Iya, Ma,” jawab Lia sambil berpikir hadiah apa yang cocok. “Kita bisa pergi ke toko peralatan rumah tangga, beliin lampu atau hiasan meja.”

“Itu juga boleh,” kata Mama sambil membuat dua gelas susu.

“Mama sekarang minum susu?” Lia agak kaget, seingatnya Mama paling tidak suka susu.

“Iya, disarankan dokter buat memperkuat tulang,” jawab Mama sambil meletakkan dua gelas susu ke dalam nampan. 

Lia terdiam, lalu bertanya hati-hati. “Mama sakit?”

Akhir-akhir ini Lia jarang pulang. Ia terlalu sibuk dengan karier dan pembuktian diri sehingga lupa menanyakan kabar orangtuanya.

“Nggak kok, cuma kadang lutut Mama sakit,” jawab Mama berusaha menenangkan Lia.

Namun, ucapan Papa yang muncul tiba-tiba menohok di dada Lia.

“Itulah, kamu sibuk ngejar karier sampai lupa sama orangtua. Jangankan pulang, tanya kabar saja jarang. Ini juga kamu pulang karena mau prospek Fahmi, kan?”

“Sudah, Pa. Sudah tahu anak jarang pulang, malah diomelin.” Mama berusaha menengahi agar Lia dan Papa tidak bertengkar. 

Papa tidak menjawab dan berlalu dari dapur. Mama langsung berkata lembut pada Lia, “Jangan dianggap omongan Papamu. Papa cuma kangen, karena kamu jarang pulang.”

Lia merasa bersalah karena kurang perhatian pada orangtuanya. “Maaf ya, Ma,” ucap Lia sambil berjanji akan lebih sering menelepon dan menyempatkan diri untuk pulang lebih sering.

“Mama maafin kalo Lia mau cepat nikah,” ujar Mama dengan nada bercanda.

Namun, bagi Lia candaan Mama cukup menohok. Meskipun sibuk mengejar karier, tapi Lia juga punya harapan bisa segera menikah. Hanya saja, Milan belum siap, bahkan untuk datang berkenalan dengan orangtua Lia saja pria itu terus menunda-nunda.

“Kalau gitu, Lia nggak bakal dimaafin dong. Soalnya, Lia kan belum mau nikah.”

“Belum mau karena nggak ada calonnya?” Mama menatap Lia dengan intens, membuat Lia salah bingung harus memberi jawaban apa.

Lia hanya tersenyum kecut. Calon sebenarnya sudah ada, tapi belum siap. Lia ingin mendesak, tapi ia pun masih belum siap.

“Ada nggak calonnya, Nak?” Mama bertanya lagi dan Lia hanya bisa menggeleng.

“Nggak papa, nanti juga ketemu,” ujar Mama. “Yuk, sarapan dulu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 36: Hampir Ketahuan

    “Farah!”Lia terkejut menemukan sahabat sekaligus rekan kerjanya berdiri di depannya.“Iya, aku Farah. Kamu nggak usah kaget gitu, kayak ngeliat hantu aja,” ujar Farah.Lia hanya bisa menyengir kaku menanggapi Farah. Karena ia sekarang panik karena bertemu Farah tiba-tiba.“Kok bisa ada di sini?” tanya Lia sambil mencari-cari keberadaan Elvan. Semoga saja, Elvan masih menunggu makanan sehingga tidak segera datang. Jadi, Lia sempat mengirim pesan pada pria itu agar menghindar sehingga mereka tidak ketahuan Farah.“Mau apa lagi di food court kalau nggak makan,” ujar Farah. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Farah balas bertanya.“Ya mau makan lah, sama kayak kamu,” sahut Lia.“Pertanyaan bodoh, sorry … sorry. Maksudku, ngapain kamu di supermarket bahan bangunan?” Farah mengganti pertanyaan yang membuat Lia bingung bagaimana menjawab.Lia berusaha menemukan alasan yang terdengar masuk akal, setelah berpikir sesaat ia menjawab, “Jalan-jalan aja sih, sekalian lihat-lihat hiasan dinding. Ada s

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 35: Bertemu Farah

    Kencan di supermarket bahan bangunan memang bukan hal yang biasa Lia lakukan, bahkan belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bersama Milan, Lia biasanya pergi ke tempat-tempat yang memang umum dituju orang untuk berkencan. Seperti mal, restoran, kafe, atau nonton film.Bersama Milan, Lia jarang sekali diajak kencan receh seperti makan di warung pinggir jalan atau sekadar naik motor berkeliling kota untuk melepas jenuh. Milan tidak pernah mengajak Lia naik motor karena pria itu tidak ingin Lia kepanasan atau kehujanan maupun sakit kena angin malam.Intinya, bersama Milan membuat Lia merasa sangat diperhatikan dan dimanjakan. Minusnya, tidak ada kepastian. Itulah yang membuat hubungan mereka kandas beberapa waktu lalu.Bersama Elvan, Lia selalu mendapatkan pengalaman berbeda. Seperti yang saat ini terjadi, berkencan di supermarket bahan bangunan yang ternyata tidak buruk juga.“Kamu mau warna apa untuk ruang santai?” tanya Elvan ketika mereka berdiri di bagian yang menjual berbagai wallpa

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 34: Kencan?

    Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 33: Pengakuan Elvan

    “Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 32: Sisi Lain Elvan

    “Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 31: Terjebak Masalah

    Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status